Saturday, 14 March 2015

MAKALAH GADAI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam syari’at bermuamalah, seseorang tidaklah selamanya mampu melaksanakan syari’at tersebut secara tunai dan lancar sesuai dengan syari’at yang ditentukan. Ada kalanya suatu misal ketika sedang dalam perjalanan jauh seseorang kehabisan bekal, sedangkan orang tersebut tidaklah mungkin kembali ke tempat tinggalnya untuk mengambil perbekalan demi perjalanan selanjutnya.
Selain daripada itu, keinginan manusia untuk memnuhi kebutuhannya, cenderung membuat mereka untuk saling bertransaksi walaupun dengan berbagai kendala, misalnya saja kekurangan modal, tenaga dsb. maka dari itu, dalam islam diberlakukan syari’at gadai. Adapun pengertian, hukum, dan syaratnya, serta bagaimana penggunaannya akan dibahas dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah pengertian rahn (gadai)?
2.      Bagaimana rukun gadai?
3.      Bagaimana syarat gadai?
4.      Bagaimana hukum gadai?
5.      Bagaimana pemanfaatan gadai?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mahasiswa/i dapat memahami pengertian rahn (gadai).
2.      Mahasiswa/i dapat memahami rukun gadai.
3.      Mahasiswa/i dapat memahami syarat gadai.
4.      Mahasiswa/i dapat memahami hukum gadai.
5.      Mahasiswa/i dapat memahami pemanfaatan gadai?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Rahn (Gadai)
Kata rahn  dalam bahasa arab memiliki pengertian “ tetap dan penahan” dikatakan الماء الراهن apabila tidak mengalir dan kata نعمة راهنة  berarti nikmat yang tidak putus ada yang mengatakan bahwa “rahn” bermakna “tertahan” dengan dasar firman Allah.
@ä. ¤§øÿtR $yJÎ/ ôMt6|¡x. îpoYÏdu ÇÌÑÈ  
Artinya: “tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya[1]

Menurut Istilah, yaitu menjadi harta benda sebagai jaminan utang sehingga utang dilunasi dengan menggunakan jaminan tersebut, ketika orang yang berutang tidak mampu melunasi utangnya.[2]
Menurut Ulama Syafi'iyah, Rahn adalah: "Menjadikan suatu benda sebagai jaminan utang yang dapat dijadikan pembayar ketika berhalangan dalam membayar utang."
Menurut Ulama Hanabilah: "Harta yang dijadikan jaminan utang sebagai pembayar harga (nilai) utang ketika berutang berhalangan (tak mampu) membayar utangnya kepada pemberi pinjaman."
Gadai adalah perjanjian (akad) pinjam meminjam dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan utang.[3]
Sehingga dapat disimpulkan gadai adalah menjadikan suatu benda itu berharga sebagai jaminan sebagai tanggungan utang berdasarkan perjanjian (akad) antara orang yang memiliki hutang dengan pihak yang memberi hutang.


B.     Rukun Gadai
Gadai mempunyai 3 rukun:
1.      Akad, yang digunakan kedua belah pihak, yaitu memiliki uang dengan orang yang berhutang yang menyerahkan suatu jaminan atas pinjamannya.
2.      Ada objek (barang) yang digadai, yaitu pinjaman dan barang yang digadaikan.
3.      Shighat (lafal).[4] seperti seseorang berkata “aku gadaikan mejaku ini dengan harga Rp.10.000”, dan yang satu lagi menjawab “aku terima gadai mejamu seharga Rp.10.000”, atau bisa pula dilakukan selain dngan kata-kata, seperti dengan surat, isyarat atau yang lainnya.

Menurut ulama Hanafiyah rukun rahn adalah ijab dan qabul dari rahin dan murtahin, sebagaimana pada akad yang lain. Akan tetapi, akad dalam rahn tidak akan sempurna sebelum adanya penyerahan barang. Adapun menurut ulama selain Hanafiyah, rukun rahn adalah shighat, aqid (orang yang akad), marhun, dan marhun bih.

C.    Syarat Gadai
Syarat gadai ada 4, yaitu:
1.      Islam
2.      Baligh
3.      Berakal
4.      Mumayiz

Menurut imam malikiah syarat rahn (gadai) ada 4:
·         Harus ada pentakluk anda rahn dan murtahin.
·         Harus ada barang yang menjadi rahn dan hutang (uang yang menjadi pinjaman).
·         Barang yang di rahn itu harus bisa dijual dan dibeli, sama seperti jual beli. Contoh, kereta yang sah untuk dijual dan dibeli. Tiap-tiap barang yang sah untuk dijual beli maka bisa juga untuk digadai.
·         Dan bagi Malikiah, syarat rahn itu mumayiz dan tidak sah orang gila, dan anak bayi. Arti mumayiz pada maliki itu sudah mencakup kepada baligh, berakal, Islam. Karena ia telah mengetahui yang mana benar dan salah.[5] Dan syarat bagi mumayiz dan shafih itu rahn yang ringan seperti handphone, seandainya yang lazim maka harus ada wali, contoh sepeda motor, mobil.

D.    Hukum Gadai
Perjanjian gadai dibenarkan oleh islam, berdasarkan:
a)      Al qur’an surat Al Baqarah ayat:  283
* bÎ)ur óOçFZä. 4n?tã 9xÿy öNs9ur (#rßÉfs? $Y6Ï?%x. Ö`»yd̍sù ×p|Êqç7ø)¨B ( ÷bÎ*sù z`ÏBr& Nä3àÒ÷èt/ $VÒ÷èt/ ÏjŠxsãù=sù Ï%©!$# z`ÏJè?øt$# ¼çmtFuZ»tBr& È,­Guø9ur ©!$# ¼çm­/u 3 Ÿwur (#qßJçGõ3s? noy»yg¤±9$# 4 `tBur $ygôJçGò6tƒ ÿ¼çm¯RÎ*sù ÖNÏO#uä ¼çmç6ù=s% 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÒOŠÎ=tæ ÇËÑÌÈ  

Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh penggadai). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah tuhannya.

b)      Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Nasai, dan Ibnu Majah, dari Anas r.a, yang artinya:”Rosulullah merungguhkan baju besi kepada seorang yahudi di madinah ketika beliau mengutangkan gandum dari seorang yahudi”.[6]

1.      Qabad bagi Murtahin dan Rahn
·         Hukum mengkabad itu boleh dilakukan oleh si murtahin (orang yang menerima rahn), dengan syarat sah mengkabat yaitu harus ada izin dari si rahn. Karena apabila tidak ada izin maka tiada lazim untuk mengkabatnya (menyerahkan rahn kepada orang lain).
·         Dan seandainya si murtahin itu dengan sengaja tidak meminta izin maka tidak ada jenis hukum akannya (tidak sah mengkabat).
·         Dan jikalau memberi izin si rahn tetapi barang tersebut telah ia kabadkan kepada orang lain, kemudian rahn menarik kembali daripada izinnya niscaya hilang untuk hukum izin.
Apa-apa saja yang boleh untuk rahn.
·         Tiap-tiap barang atau sesuatu yang sah untuk jual beli maka bolehlah juga untuk merahnnya, karena maksudnya di sini yang sesuai hutang/uang ambil gadai dengan harga barang yang sesuai.
·         Dan bagi perkongsian sah juga untuk dirahn. Karena dalam suatu benda itu ia memungkinkan untuk menjual barang tersebut disebabkan karena ia mempunyai hak padanya. Contoh, rumah, bumi/tanah, dan kebun.[7]

Imam hanafi mengatakan tidak boleh rahn pada perkongsian, kecuali merahn dari pada si syarek (orang yang berkongsi) meminta izin dari temannya yang berkongsi, karena menurutnya rahn itu adalah sesuatu yang kuat dari jaminan.

2.      Hukum Syarat Pada Rahn[8]
Syarat pada rahn itu sama seperti pada jual beli sebagian hukumnya shahih dan ada juga fasid.
1)      Hukum yang shahih
v  Disyaratkan bahwa merahn itu haruslah di atas 2 tangan yang adil yang pasti akan orangnya.
v  Atau bisa juga di atas 2 tangan yang adil atau banyak sekalipun  pada pendapat ini khilaf, pada demikian itu.
v  Dan jika membeli oleh si murtahin akan barang yang digadai padanya pada saat itu, menurut ahmad dan abu hanafiah itu sah.

2)      Hukum yang fasid
v  Sesuatu barang disyaratkan itu tertegah untuk akad.
v  Tidak boleh membeli barang yang di rahin itu sendiri.
v  Atau tidak melengkapi daripada untung kepada harga (tidak sesuai).

3.      Hukum mengambil manfaat si murtahn kepada rahn
Maksudnya mengambil suatu manfaat si murtahin dengan rahin (barang gadaian).
a.       Sesuatu barang yang tidak berhajat kepada belanja.
Contoh: rumah, maksudnya tidak boleh mengambil manfaat pada rumah itu/menempatinya, boleh ia mengmbil manfaat apabila ada izin dari si rahn.
b.      Sesuatu barang yang berhajat kepada belanja.
Contoh: sepeda motor, si rahin memberikan barang tersebut dengan utuh terlengkapi, seandainya si murthin ingin mengambil manfaat padanya maka menurut ada apa tidak izinnya rahin, seandainya si rahin meminta ganti maka si murthin harus menggantinya.[9]

E.     Pemanfaatan Barang Gadai
Dalam pemanfaatan barang gadai, terdapat perbedaan pendapat dalam kalangan ulama’, diantaranya:
1.      Jumhur Fuqoha’ berpendapat bahwa murtahin tidak diperbolehkan memakai barang gadai dikarenakan hal itu sama saja dengan hutang yang mengambil kemanfaatan, sehingga bila dimanfaatkan maka termasuk riba. Berdasar hadits nabi yang artinya: “setiap utang yang menarik manfaat adalah termasuk riba”(HR. Harits Bin Abi Usamah)
2.      Menurut Ulama Hanafi, boleh mempergunakan barang gadai oleh murtahin atas ijin rahin, dan itu bukan merupakan riba, karena kemanfaatannya diperoleh berdasarkan izin dari rahin.
3.      Menurut Mahmud Shaltut, menyetujui pendapat dari Imam Hanafi dengan catatan: ijin pemilik itu bukan hanya sekedar formalitas saja, melainkan benar benar tulus ikhlas dari hati saling pengertian dan saling tolong menolong.
4.      Menurut Imam Ahmad, Ishak, Al Laits Dan Al Hasan, jika barang gadaian berupa barang gadaian yang dapat dipergunakan atau binatang ternak yang dapat diambil susunya, maka murtahin dapat mengambil manfaat dari kedua benda gadai tersebut disesuaikan dengan biaya pemeliharaan yang dikeluarkan selama kendaraan atau binatang ternak itu ada padanya. Sesuai dengan hadits nabi yang artinya:”binatang tunggangan boleh ditunggangi karena pembiayaannya apabila digadaikan, binatang boleh diambil susunya untuk diminum karena pembiayaannya bila digadaikan dagi orang yang memegang yang memegang dan meminumnya  wajib memberikan biaya” (HR.  Bukhari)[10]




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kata rahn  dalam bahasa arab memiliki pengertian “ tetap dan penahan”. Menurut Istilah, yaitu menjadi harta benda sebagai jaminan utang sehingga utang dilunasi dengan menggunakan jaminan tersebut, ketika orang yang berutang tidak mampu melunasi utangnya.
Rukun gadai ada 3, yaitu:
1.      Akad;
2.      Shighat;
3.      Objek (barang yang digadaikan).

Syarat gadai ada 4, yaitu:
1.      Islam
2.      Baligh
3.      Berakal
4.      Mumayiz

Hukum gadai berdasarkan pada Al-qur’an surat Al-baqarah ayat 283 dan hadist Nabi SAW. Dan dalam pemanfaatan barang gadai terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama yaitu diantara jumhur Fuqoha’, Ulama’ Hanafiyah, Mahmud Syaltut dan Imam Ahmad, Ibnu Ishak, Al Laits, dan Al Hasan, yaitu antara memperbolehkan pemanfaatan barang gadai dengan seizin orang yang menggadaikan  dan tidak memperbolehkannya dikarenakan hal itu termasuk riba dalam hutang.
DAFTAR PUSTAKA

Al Jazairi, Abdul Rahman.  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani. Darul Hadits. 2004.

Anwar, Moh.  Fiqh Islam.  Bandung: PT. Al ma’arif. 1998.

Zuhdi, Masyfuk. Masail Fiqhiyah. Jakarta: CV. Haji Masagung. 1997.








[1] QS Al-Muddatsir/74 : 38
[2] Abdul Rahman Al Jazairi,  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani, Darul Hadits, 2004, hl. 248.
[3] Masyfuk zuhdi. Masail fiqhiyah, Jakarta: CV. Haji masagung, 1997, hl.122.
[4] Abdul Rahman Al Jazairi,  hl. 249.
[5] Abdul Rahman Al Jazairi,  hl. 249.
[6] Masyfuk zuhdi, hl.107.
[7] Fiqh Mu’amalah al-‘aliyah, hl. 204
[8] Ibid, hl. 207
[9] Ibid, hl. 208
[10] Moh anwar,  Fiqh islam,  Bandung: PT. Al ma’arif,1998, hl. 58.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com