Saturday, 13 December 2014

TAFSIR SURAT AL FUSSILAT AYAT 9-12


“Katakanlah: “Sesungguhnya Patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.”

Tafsir Al-Maraghi
Setelah Allah menyuruh Rasul-Nya agar berkata kepada orang-orang musyrik: Sesungguhnya apa yang aku terima lewat wakyu ialah, bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka murnikanlah untuk-Nya ibadahmu, lalu dilanjutkan dengan keterangan yang menunjukkan atas kesempurnaan kekuasaan dan hikmah-Nya daam menciptakan langit dan bumi pada tahapan tahapan yang berbeda-beda secara berurut-urut,dan Bahwa Dia telah menyempurnakan bagi masing-masing langit itu hal-hal yang mereka siap melaksanakannya, dan Dia menghiasi langit dengan bintang-bintang dan planet-planet, baik yang tetap maupun yang berlayar. Dan itu tidak mengherankan, karena itu semua adalah ketentuan dari Tuhan Yang Maha Perkasa, Yang Maha Menang atas urusan-Nya, lagi Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang ada dilangit maupun dibumi, tidak ada sesuatupun pada keduanya yang tersembunyi bagi Allah. Maka, kamu mudah saja menganggap patung-patung dan berhala-berhala sebagai sekutu-sekutu Allah, padahal patung-patung dan berhala-berhala itu tidak mempunyai sati andil pun dalam menciptakan dan menakdirkan langit dan bumi.
Tuhan yang telah menciptakan bumi dalam dua tahapan itu, yakni setahap dimana Dia menciptakan bumi itu padat setelah asalnya merupakan bola gas, dan tahapan berikutnya Dia menjadikan bumi itu menjadi 26 lapisan dalam 6 periode, sebagaimana diterangkan oleh para ahli geologi. Itulah Tuhan alam semesta, bukan semata-mata Tuhan bumi saja. Karena Dia-lah yang mengasuh makhluk seluruhnya. Jika Allah yang menciptakan bumi dalam dua tahap, maka Dialah yang mengetahui berapa bilangannya. Maka, bagaimanakah sesuatu dari makhluk-makhluk itu bisa menjadi tandingan dan sekutu bagi Allah.
Dan Dia menjadikan pada bumi itu gunung-gunung yang kokoh yang menjulang tinggi di atasnya, sedang pokoknya ada dalam tanah yaitu lapisan batu api. Dari lapisan inilah gunung-gunung muncul. Jadi, gunung-gunung itu pangkalnya jauh ada di dalam tanah, sama melewati semua lapisan hingga sampai ke lapisan yang pertama, yaitu lapisan batu api yang sekiranya tidak ada lapisan ini maka bumi ini takkan menjadi tanah dan tak bisa menjadi tempat tinggal.
Jadi bumi kita ini sebenarnya merupakan bola api yang dibungkus dengan lapisan batu api, kemudian di atasnya terdapat lapisan-lapisan yang lebih lembut, dan disanalah terbentuknya binatang dan tumbuh-tumbuhan setelah melewati masa yang panjang. Gunung-gunung itu merupakan tonjolan-tonjolan yang muncul dari lapisan batu api tersebut, lalu menjulang tinggi di atasnya puluhan ribu kilometer, dan menjadi gudang-gudang air dan bahan-bahan mineral, di samping sebagai rambu-rambu jalan serta pengendali udara dan awan.
Dan Allah menjadikan gunung-gunung itu penuh berkah dengan banyaknya kekayaan di sana karena Allah menciptakan disana bahan-bahan yang bermanfaat. Artinya, bahwa Allah menciptakan gunung-gunung dibumi sebagai pangkal aliran sungai dan gudang bahan-bahan mineral.
Sesungguhnya penciptaan bumi da dijadikannya gunung-gunung padanya dalam dua tahapan, sedang dijadikannya kekayaan-kakayaan bumi yang banyak dan ditentukannnya kadar bahan makanan disana adalah dalam dua tahapan pula. Jadi, seluruhnya dalam 4 tahapan. [ tû,Î#ͬ!$¡¡=Ïj9ä!#uqy : Dalam 4 tahapan yang sempurna sesuai dengan yang dikehendaki oleh pencari bahan makan dan apa saja yang membutuhkannya. Yaitu segala binatang yang ada di atas permukaan bumi, sebagaimana Allah firmankan:
Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadanya. setiap waktu dia dalam kesibukan”.[1]
Jadi manussia dan binatang seluruhnya meminta kepada Tuhan mereka apa yang mereka butuhkan. Dan oleh karena manusia memperhatikan keadaan bumi yang ada di sekelilingnya, maka penyebutan tentang bumi didahulukan, dan Allah terangkan bahwa bumi dengan segala yang ada di atas permukaannya telah Allah ciptakan dalam 4 tahapan: satu tahap untuk memadatkan materi bumi setelah asalnya berupa gas, dan setahap lagi untuk menyempurnakan lapisan-lapisan bumi selebihnya, setahap lagi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan setahap lagi untuk pembentukan binatang.
Penciptaan bumi langit ini tidaklah hanya dalam satu tahap saja, tetapi dalam beberapa tahap sesuai dengan hikmat dan urutan. Sedang sebagai kitab suci, maka Al-Qur’an cukup mengatakan bahwa Allah telah menciptakan bumi dalam dua tahapan sedang menciptakan apa-apa yang ada di atasnya dalam dua tahapan pula, dan begitu pula dalam menciptakan tujuh langit.[2]

Tafsir Ibnu Katsir
Berdasarkan penafsiran Ibnu Katsir ayat 9 merupakan bentuk pengingkaran Allah terhadap orang-orang musyrik yang menyembah selain-Nya, padahal Dia-lah Yang Maha pencipta, Maha memaksa dan Maha menguasai segala sesuatu. Ayat ini mengandung rincian tentang firman Allah Ta’ala:
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.”(QS. Huud: 7). Maka, di dalam ayat ini dirinci apa yang berkenaan khusus dengan bumi dan langit. Dia menyebutkan bahwa pertama kali Dia menciptakan bumi. Karena bumi sebagai asas (pondasi). Persoalan pokok selalu dimulai dengan asas, baru kemudian atap. Dan Allah menciptakan bumi ini dalam dua hari yaitu hari Ahad dan Senin.
Dalam ayat 10 dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan gunung-gunung yang kokoh dan menjadikan bumi penuh dengan berkah yang siap menerima kebaikan, bibit dan tanam-tanaman. Dan Dia telah menentukan apa-apa yang dibutuhkan oleh penghuninya, berupa berbagai rizki dan tempat-tempat yang dapat ditanami dan diolah. Hal tersebut terjadi pada hari Selasa dan Rabu, sehingga kedua hari tersebut dengan dua hari sebelumnya menjadi empat hari. Hal ini dapat menjadi jawaban bagi orang-orang yang bertanya.
Ayat 11 yaitu menuju pada penciptaan langit yang masih berupa asap yaitu asap air yang mengepul katika bumi diciptakan. Kemudian Allah menanyakan kepada langit dan bumi:“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” Artinya, patuhilah perintah-perintah Allah dengan suka hati atau terpaksa.
Pada ayat 12, Dia telah menjadikan tujuh langit dalam dua masa, yaitu masa terakhir, hari Kamis dan hari Jum’at. Kemudian Dia tetapkan ketentuan pada setiap langit apa yang diperlukan, berupa para malaikat dan makhluk-makhluk lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Serta menghiasi langit dengan bintang-bintang yang bersinar terang di atas bumi. “Dan Kami memeliharanya”. Yaitu, menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita alam atas (langit).[3]

Tafsir Al-Mishbah
Dalam ayat 9 dan 10 berisikan proses penciptaan bumi serta memperindahnya dengan gunung-gunung yang kukuh agar bumi yang terus beredar itu tidak oleng. Dan Allah juga melimpahkan aneka kebajikan sehingga bumi dapat berfungsi sebaik mungkin dan dapat menjadi tempat hunian yang nyaman buat manusia dan hewan. Semua itu terlaksana dalam waktu empat hari yang terbagi secara adil yakni dua hari penciptaan bumi dan dua hari sisanya buat pemberkahan dan penyiapan makanan bagi para penghuninya.
Pada ayat 11 dan 12 yaitu pada proses penciptaan langit yang masih berupa dukhan atau asap. Para ilmuan memahami kata dukhan dalam arti satu benda yang terdiri pada umumnya dari gas yang mengandung benda-benda yang sangat kecil namun kukuh. Berwarna hitam atau gelap dan mengandung panas. Sedangkan menurut tafsir ini bahwa sebelum terbentuknya bintang-bintang ada sesuatu yang angkasa raya dipenuhi oleh gas dan asap, dan bahan inilah terbentuk bintang-bintang. Hingga kini, sebagian dari gas dan asap itu masih tersisa dan tersebar diangkasa raya.
Ayat-ayat Al-Qur’an melukiskan adanya enam hari atau periode bagi penciptaan alam raya. Periode dukhan ini menurut ilmuan adalah periode ketiga yang didahului oleh periode kedua yaitu masa terjadinya ledakan dahsyat “Big Bang” dan inilah yang mengakibatkan terjadinya asap itu. Pada periode dukhan inilah tercipta unsur-unsur pembentukan langit yang terjadi melalui gas Hidrogen dan Helium. Pada periode pertama, langit dan bumi merupakan gumpalan yang menyatu yang dilukiskan oleh Al-Qur’an dengan nama ar-ratq. Periode pertama dan kedua itu diisyaratkan oleh QS. Al-Anbiya’ ayat 30.[4]

Tafsir Jalalain
Menurut Tafsir Jalalain, Allah telah menciptakan bumi dalam dua hari yaitu hari Ahad dan hari Senin. Dan Dia telah menjadikan gunung-gunung yang kokoh dan kuat denga air yang banyak dan tanam-tanaman serta pohon-pohon yang banyak pula. Dan Allah telah enetapkan kadar-kadar makanan bagi manusia dan fauna. Sesungguhnya masa penciptaan selama empat hari adalah masa yang paling sempurna. Hal ini dijadikannya pada hari Selasa dan rabu.

Kemudian menuju pada penciptaan langit yang masih berupa asap yang membumbung tinggi. Allah menciptakan langit dalam dua hari yaitu hari Kamis dan Jum’at. Dan pada hari itu juga diciptakan Nabi Adam dan sesuai dengan makna ayat ini, yaitu ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari. Dan Dia perintahkan kepada penduduk yang ada di dalamnya, yaitu taat dan beribadah kepada-Nya. Kemudian dihiasilah langit bintang-bintang yang cemerlang. Dan Allah telah menjaganya dengan meteor-meteor dari setan-setan yang mau mencuri-curi pembicaraan para malaikat. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa di dalam kerajaan-Nya.[5]

[1]Maksudnya: Allah senantiasa dalam keadaan Menciptakan, menghidupkan, mematikan, Memelihara, memberi rezki dan lain lain.
[2] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra), 1989, Hlm……….
[3] DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i), 2005, hlm. 197-200.
[4] M. Quiaish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati), 2002, hlm. 381-390.
[5] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008, hlm. 737-739.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com