Wednesday, 17 December 2014

MAKALAH KONSEP ASURANSI SYARIAH





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Asuransi adalah perjanjian antara penanggung (dalam hal ini perusahaan asuransi atau reasuransi) dengan tertanggung (peserta asuransi) di mana penanggung menerima pembayaran premi dari tertanggung. Secara historis kajian tentang asuransi telah dikenal sejak zaman dahulu. Ini dikarenakan nilai dasar penopang dari konsep asuransi yang terwujud dalam bentuk tolong-menolong sudah ada bersama dengan adanya manusia.
Asuransi Islam adalah asuransi yang bersumber hokum, akad, jaminan (risiko), pengelolaan dana, investasi, kepemilikan, dan lain sebagainya berdasarkan atas nilai dan prisip wilayah.
Konsep asuransi sebenarnya sudah dikenal sejak zaman sebelum Masehi di mana manusia pada masa itu telah menyelamatkan jiwanya dari berbagai ancaman, antara lain kekurangan bahan makan, seperti cerita mengenai kekurangan bahan makanan yang terjadi pada zaman Mesir Kuno semasa Raja Fir’aun berkuasa.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari asuransi syariah?
2.      Bagaimana asal-usul asuransi syariah?
3.      Apa saja prinsip-prinsip dari asuransi syariah?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mahasiswa/i dapat memahami pengertian dari asuransi syariah.
2.      Mahasiswa/i dapat mengetahui asal-usul dari asuransi syariah.
3.      Mahasiswa/i dapat memahami apa saja prinsip-prinsip dari asuransi syariah.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengetian Asuransi Syariah
Dalam bahasa Belanda, kata asuransi disebut assurantie yang terdiri dari asal kata “assaradeur”yang berarti penanggung dan “geassureede” yang berarti tertanggung, kemmudian dalam bahsa Perancis disebut “assurance” yang berarti menanggung sesuatu yang pasti terjadi. Adapun dalam bahasa Latin disebut “assecurare” yang berarti meyakinkan orang. Selanjutnya dalam bahasa Inggris kata asuransi disebut “insurance” yang berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi dan assurance yang berarti menanggung sesuatu yang pasti terjadi[1].
Asuransi adalah perjanjian antara penanggung (dalam hal ini perusahaan asuransi atau reasuransi) dengan tertanggung (peserta asuransi) di mana penanggung menerima pembayaran premi dari tertanggung.
Menurut Dr. H. Hamzah Ya’cub dalam buku Kode Etik Dagang  Menurut Islam, menyebut bahawa asuransi berasal dan dari kata dalam bahasa Inggris insurance atau assurance yang berarti jaminan. Dalam pasal 246 Kitab Undang – undang Hukum Dagang (KUHD) dijelaskan bahwa asuransi adalah :
“ Suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang dihaerapkan, yang mungkin akan dideritanya kerena suatu peristiwa yang tak  tertentu”.[2]
            Menurut pasal 1 undang-undang No. 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian, asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikat diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum pada pihak ketiga yang mungkin ada diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.[3]
Menurut bahasa Arab, istilah asuransi adalah at-ta’min diambil dari kata amana memiliki arti memebri perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan beban dari rasa takut. Asuransi itu dinamakan at-ta’min telah disebabkan pemegang polis sedikit banyak teah merasa aman begitu mengikat dirinya sebagai anggota atau nasabah asuransi. Pengertian yang lain dari at-ta’min adalah seseorang membayar atau menyerahkan uang cicilan agar pemegang polis atau ahli warisnya mendapatkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati, atau untuk mendapatkan ganti rugi terhadap hartanya yang hilang.[4]
Istilah lain yang sering digunaka untuk asuransi Syariah adalah tafakul yang berasal dari kata kafala yang berarti menanggung, menjamin; yakfulu, kuflan, seperti QS. Ali Imran: 44:
y7Ï9ºsŒ ô`ÏB Ïä!$t7/Rr& É=øtóø9$# ÏmŠÏmqçR y7øs9Î) 4 $tBur |MYä. óOÎg÷ƒt$s! øŒÎ) šcqà)ù=ムöNßgyJ»n=ø%r& óOßgƒr& ã@àÿõ3tƒ zNtƒötB $tBur |MYà2 öNÎg÷ƒys9 øŒÎ) tbqßJÅÁtF÷tƒ ÇÍÍÈ  

“yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.”



            Selain itu, dalam QS. Thaha: 40:
øŒÎ) ûÓÅ´ôJs? šçG÷zé& ãAqà)tGsù ö@yd ö/ä39ߊr& 4n?tã `tB ¼ã&é#àÿõ3tƒ ( y7»uZ÷èy_tsù #n<Î) y7ÏiBé& ös1 §s)s? $pkß]øtã Ÿwur tbtøtrB 4 |Mù=tGs%ur $T¡øÿtR y7»uZøŠ¤fuZsù z`ÏB ÉdOtóø9$# y7»¨YtGsùur $ZRqçFèù 4 |M÷VÎ7n=sù tûüÏZÅ þÎû È@÷dr& tûtïôtB §NèO |M÷¥Å_ 4n?tã 9ys% 4ÓyqßJ»tƒ ÇÍÉÈ  

“(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. dan kamu pernah membunuh seorang manusia[917], lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; Maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan[918], kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan[919] Hai Musa”,

[917] Yang dibunuh Musa a.s. ini ialah seorang bangsa Qibthi yang sedang berkelahi dengan seorang Bani Israil, sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Al Qashash ayat 15.
[918] Nabi Musa a.s. datang ke negeri Mad-yan untuk melarikan diri, di sana Dia dikawinkan oleh Nabi Syu'aib a.s. dengan salah seorang puterinya dan menetap beberapa tahun lamanya.
[919] Maksudnya: Nabi Musa a.s. datang ke lembah Thuwa untuk menerima wahyu dan kerasulan.

            Dan firman Allah dalam QS. Al-Qashash:12:
* $oYøB§ymur Ïmøn=tã yìÅÊ#tyJø9$# `ÏB ã@ö6s% ôMs9$s)sù ö@yd ö/ä39ߊr& #n?tã È@÷dr& ;MøŠt/ ¼çmtRqè=àÿõ3tƒ öNà6s9 öNèdur ¼çms9 šcqßsÅÁ»tR ÇÊËÈ  

“dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; Maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat Berlaku baik kepadanya?".

            Adapun kata tafakul saling menanggung, yatafakul, takafulan, kafiil penanggung, penjamin seperti terdapat dalam QS. An-Nahl:21:
ìNºuqøBr& çŽöxî &ä!$uŠômr& ( $tBur šcrããèô±o tb$­ƒr& šcqèWyèö7ムÇËÊÈ  

“(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.”

Di dalam hokum perjanjian syariah, kafalah[5] (Penanggungan) sebagai salah satu perjanjian khusus, dan temasuk dalam perikatan menjamin (al-Iltizam bi at-Tautsiq) yang dimaksudkan suatu bentuk perikatan yang objeknya adalah menanggung (menjamin) suatu perikatan. Perikatan yang ditanggung ini terbagi menjadi tiga macam, yaitu perikatan utang (al-kafalah bi ad-dain), perikatan benda (al-kafalah bi al-‘ain) dan perikatan yang berupa penuyerahan orang yang ditanggung dalam akad al-kafalah bi an-nafs (penanggung orang).[6]
Selain dari at-ta’min dan kafalah atau takaful, asuransi juga dikenal dengan nama at-tadhamun yang berarti “solidaritas atau disebut juga saling menanggung hak/kewajiban yang berbalasan.
Asuransi adalah sikap ta'awun yang yang telah diatur dengan sistem yang sangat rapi, antara sejumlah besar manusia. Semuanya telah siap mengantisipasi suatu peristiwa. Jika sebagian mereka mengalami peristiwa tersebut, maka semuanya saling tolong-menolong dalam menghadapi peristiwa tersebut dengan sedikit pemberian (derma) tersebut, mereka dapat menutupi kerugian-kerugian yang dialami oleh peserta yang tertimpa musibah. Dengan demikian asuransi adalah ta'awun yang terpuji, yaitu saling tolong menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa.
Ada beberapa macam pendapat para ulama tentang asuransi diantaranya:
1.      Bahwa asuransi termasuk segala macam bentuk dan cara operasinya hukunya haram. Pandangan ini didukung oleh beberapa ulama antara lain, Yusuf al_Qardhawi, Sayid sabiq, Abdullah al-Qalqili dan Muhammad Bakhit al-Muth’i
a)      Asuransi mengandung unsur perjudian yang dilarang didalam Islam.
b)      Asurnasi mengandung unsur ketidakpastian.
c)      Asuransi mengandung unsur “ Riba” yang dilarang dalam Islam.
d)     Asuransi mengandung unsur eksploitasi yang bersifat menekan.
e)      Asuransi termasuk jual beli atau tukar – menukar mata uang yang tidak secara tunai ( Akad Sharf).
f)       Asuransi obyek bisnisnya digantungkan pada hidup dan matinya seseorang, yang berarti mendahului tak takdir Tuhan.
2.      Bahwa asuransi hukumnya halal atau diperbolehkan dalam islam. Pandangan ini didukung oleh beberapa ulama antara lain, Abdul Wahab Khallaf, Muh. Yusuf Musa, Abdurrahman Isa, Mustafa Ahmad Zarqa dan Muhammad Nejatullah Siddiqi.
a)      Tidak ada ketetapan nas, al – Qur’an maupun al – Hadis yang melarang asuransi.
b)      Terdapat kesepakatan kerelaan dari keuntungan bagi kedua belah pihak baik penanggung maupun tertanggung.
c)      Kemaslahatan dari usaha asuransi lebih besar daripada mudharatnya.
d)     Asuransi termasuk akad mudharatnya roboh atas dasar profit and loss sharing.
e)      Asuransi termasuk kategori koparasi (Syirkah Ta’awuniyah) yang diperbolehkan dalam islam.
3.      Bahwa asuransi yang diperbolehkan adalah asuransi yang bersifat komersial dilarang dalam islam. Pandangan ini didukung oleh beberapa ulama antara lain, Muhammad Abu Zahro dengan alasan bahwa asuransi yang bersifat sosial diperbolehkan karena jenis asuransi sosial tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang didalam islam. Sedangkan asuransi yang bersifat komersial tidak diperbolehkan karena mengandung unsur-unsur yang dilarang didalam islam.
4.      Bahwa hukum asuransi termasuk subhat, karena tidak ada dalil syar’I yang secara jelas mengharamkan atau yang menghalalkan asuransi oleh karena itu kita harus berhati-hati didalam berhubungan dengan asuransi.[7]

Dari semua bentuk kata dan pengertian tersebut bahwa maksud dan tujuan dari kata itu adalah sama. Jadi yang dimaksud dengan asuransi syariah adalah asuransi yang sumber hokum, akad, jaminan (risiko), pengelolaan dana, investasi, kepemilikan, dan lain sebagainya berdasarkan atas nilai dan prinsip syariah.
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama lndonesia (DSN-MU) Nomor 21 Tahun 2001 dalam fatwanya tentang pedoman umum asuransi syariah, memberi definisi tentang asuransi. Menurutnya, Asuransi Syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.[8]
Dari definisi di atas tampak bahwa asuransi syariah bersifat saling melindungi dan tolong menolong yang disebut dengan "ta'awuf". Yaitu, prinsip hidup saling melindungi dan saling menolong atas dasar ukhuwah islamiah antara sesama anggota peserta Asuransi Syariah dalam menghadapi malapetaka (resiko).
Oleh sebab itu, premi pada Asuransi Syariah adalah sejumlah dana yang dibayarkan oleh peserta yang terdiri atas Dana Tabungan dan tabarru'. Dana Tabungan adalahdana titipan dari peserta Asuransi Syariah (Life insurance) dana kas mendapat alokasi bagi hasil (al-mudharabah) dari pendapatan investasi bersih yang diperoleh setiap tahun. Dana tabungan beserta alokasi bagi hasil akan dikembalikan kepada peserta apabila peserta yang bersangkutan mengajukan klaim manfaat asuransi.
Dalam perkembangannya di masa modern ini masyarakat umum lebih memilih asuransi konvensional dibandingkan dengan asuransi syariah. Kedua jenis asuransi tersebut memiliki perbedaan.
Perbedaan asuransi syariah dengan asuransi konvensional      
No
Prinsip
Auransi Konvensional
Asuransi Syrai’ah
1.
Konsep
Perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung meningkatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberrikan pergantian kepada tertanggung.
Sekumpulan orang yang saling membantu, saling menjamin danm bekerja sama dengan cara-cara masing-masing mengeluarkan akad tabarru’.
2.
Visi dan Misi
Secara garis besar misi utama dari asuransi konvensional adalah misi ekonomi dan misi social.
Misi yang diemban dalam asuransi syariah adalah misi aqidah, misi ibadah (ta’awun ), misi ekonomi (iqtishod), dan misi pemberdayaan umat (sosial)[9]. Asuransi takaful di Indonesia mempunyai visi sebagai lembaga keuangan yang konsisten menjalankan transaksi asuransi secara islami. Operasional perusahaan dilaksanakan atas dasar prinsip- prinsip syariah yang bertujuan memberikan fasilitas dan layanan terbaik bagi umat islam khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.[10]
3.
Sumber Hukum
Bersumber dari pikiran manusia dan kebudayaan. Berdasarkan hokum positif, hokum alami, dan contoh sebelumnya.
Bersumber dari hokum Allah sumber hokum dalam Syariah Islamadalah al – Qur’an, sunnah, atau kebiasaan Rasul, Ijma’, Fatwa Sahabat, Qiyas, Istihsan, Urf “tradisi”, dan Maslahah Mursalah.
4.
Maghrib
Tidak selaras dengan syariah islam karena adanya maisir, gharar, dan Riba; hal yang di haramkan dalam muamalah
Bersih dari adanya praktek gharar, maisir, dan Riba
5.
DPS
Tidak ada, segingga dalam banyak prakteknya bertentangan dengan kaidah- kaidah syara’
Ada, yang berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan operasional perusahaan agar terbebas dari praktek- praktek muamalah yang bertentangan dengan prinsip- prinsip syariah
6.
Akad
Akad jual beli (akad mu’awadhah, akad idz’aan, akad gharar, dan akad mulzim)
Akad tabarru’ dan akad ijarah (mudharabah, wakalah, wadiah, syirkah, dan sebagainya)
7.
 Jaminan / Risk (Resiko)
Transfer of risk, dimana terjadi transfer resiko dari tertanggung kepada penanggung.
Sharing of risk, dimana terjadi proses saling menanggung antara satu peserta dengan peserta lainnya (ta’awun)
8.
Pengolahan Dana
Tidak ada pemisahan dana, yang berakibat pada terjadinya dana hangus (untuk produk saving - life)
Pada produk- produk saving (life)  terjadi pemisahan dana, yaitu dana tabarru’ derma’ dan dana peserta sehingga tidak mengenal istilah dana hangus. Sedangkan untuk untuk term insurance semuanya bersifat tabarru’
9.
Investasi
Bebas melakukan investasi ndalam batas- batas ketentuan perundang- undangan, dan tidak terbatasi pada halal dan haramnya obyek atau sistem investasi yang digunakan
Dapat melakukan investasi sesuai ketentuan perundang- undangan, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip- prinsip syariah islam. Bebas dari riba dan tempat- tempat investasi yang terlarang.
10.
Kepemilikan Dana
Dana yang terkumpul dari premi peserta seluruhnya menjadi milik perusahaan dan menginvestasikan kemana saja.
Dana yang terkumpul dari peserta dalam bentuk iuran atau kontribusi, merupakan milik peserta (shohibul mal), asuransi syariah hanya sebagai pemegang amanah (mudharib) dalam mengelola dana tersebut.
11.
Keuntungan (proft)
keuntungan yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reansuransi, dan hasil investasi seluruhnya adalah keuntungan perusahaan.
Profit yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reansuransi, dan hasil investasi, bukan seluruhnya menjadi milik perusahaan, tetapi dilakukan        bagi hasil (mudharabah)    dengan peserta[11].           

B.     Asal-usul Asuransi Syariah
Secara historis kajian tentang asuransi telah dikenal sejak zaman dahulu. Ini dikarenakan nilai dasar penopang dari konsep asuransi yang terwujud dalam bentuk tolong-menolong sudah ada bersama dengan adanya manusia.
Konsep asuransi sebenarnya sudah dikenal sejak zaman sebelum Masehi di mana manusia pada masa itu telah menyelamatkan jiwanya dari berbagai ancaman, antara lain kekurangan bahan makan, seperti cerita mengenai kekurangan bahan makanan yang terjadi pada zaman Mesir Kuno semasa Raja Fir’aun berkuasa.
Asuransi merupakan salah satu buah peradaban manusia, diciptakan guna mengatasi kesulitan manusia. Hal tersebut dimulai sebagai suatu gagasan untuk memperoleh proteksi terhadap rasa tidak aman karena ketidakpastian yang selalu mengikutinya. Apabia kepastian sudah diperoleh maka manusia sudah merasa terlindung artinya ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan ialah adanya proteksi.
Dalam beberapa buku dikemukakan bahwa asuransi itu timbul bersamaan dengan lahirnya tingkat perkembangan social tertentu sesuai dengan kebutuhan manusia akan proteksi/perlindungan. Atau pada tingkat perkembangan kegiatan ekonomi tertentu, yang sudah membutuhkan suatu kepastian tingkat keuntungan tertentu, sehingga membutuhkan pula adanya perlindungan tertentu bagi kelangsungan kegiatannya.[12]
Dalam literatur Islam dikenal dengan konsep “aqilah” yang sering terjadi dalam sejarah pra-Islam dan diakui dalam literatur Hukum Islam. Jika ada salah satu anggota suku Arab pra-Islam melakukan pembunuhan, maka dia (si pembunuh) dikenakan diyat dalam bentuk blood money yang dapat ditanggung oleh anggota suku yang lain sebagai kompensasisaudara terdekat dari pembunuh. Saudara terdekat dari pembunuh disebut aqilah. Lalu mereka mengumpulkan dana (al-kanzu) yang mana dana tersebut untuk membantu keluarga yang terlibat dalam pembunuhan tidak sengaja.
عن ابي هريرة [رض] قال: اقتتلت امر أتان من هزيل فرمت إحداهما ألاخرى بحجر فقتلتها و مافي بطنهاز فاختصموا إلى النبي [ص] فقضى أن دية جنينهاغرة أ و وليدة قضى دية المرأ ة على عاقلتها. [رواه البخارى]
Al-muwalat: perjanjian jaminan: penjamin menjamin seseorang yang tidak memiliki waris dan tidak diketahui ahli warisnya. Penjamin setuju untuk menanggung bayaran dia. Jika orang yang dijamin tersebut melakukan jinayah. Apabila orang yang dijamin mati, perjanjian boleh mewarisi hartanyasepanjang tidak ada warisnya.[13]
Pada saat ini perkembangan ekonomi yang berbasis syariah sedang diminati oleh masyarakat karena banyak keuntungan yang didapat, maka dari itu didirikanlah asuransi-asuransi syariah sebagai bentuk partisipasi dalam membangun perkembangan ekonomi syariah.
Sampai saat ini asuransi syariah berkembang sangat pesat. Banyak asuransi konvensioanal yang melahirkan unit atau cabang yang berbasis syariah dan beberapa perusahaan yan sedang dalam persiapan untuk mendirikan asuransi islam baru.[14]
Beriringan dengan perkembangan tersebut, perusahaan syariah yang telah ada saat ini pada tanggal 14 Agustus 2003 yang lalu kemudian membentuk suatu wadah perkumpulan atau asosiasi yaitu Asosiasi Asuransi Islam Indonesia (AASI). AASI dibentuk selain sebagai media komunikasi sesama anggota, juga secara eksternal sebagai wadah resmi untuk mewakili asuransi islam baik kepada pemerintah, legislatif, maupun keluar negeri.

C.    Prinsip-prinsip Asuransi Syariah
Dalam hal ini, prinsip dasar asuransi sayri’a ada sembilan macam, yaitu : tauhid, keadilan, tolong-menolong, kerja sama, amanah, kerelaan, larangan riba, larangan judi, dan larangan gharar.
1.      Tauhid (unity)
Prinsip tauhid adalah dasar utama dari setiap bentuk tabungan yang ada dalam syari’ah islam. Setiap bangunan dan  aktivitas kehidupan manusia harus didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan.
Dalam berasuransi ytang harus diperhatikan adalah bagaimana sehartusnya menciptakan suasana dan kondisi bermuamalah yang tertuntun oleh nilai-nilai ketuhananpaling tidak dalan setiap melakukan aktivitas berasuransi ada semacam keyakinan dalam hatio bahwa Allah SWT selalu mengawasi seluruh gerak langkah kita dan selalu berada bersama kita.
2.      Keadilan (justice)
Prinsip kedua dalam berasuranasi adalah terpenuhinya niulai-nilai keadilan antara pihak-pihak yang terkait dengan akad asuransi. Keadilan dalam hal ini dipahami sebagai upaya dalam menempatkan hak dan kewajiban anatara nasabah dan perusahaan asuransi.
Di sisi lain,, keuntungan yang dihasilakan oleh perusahaan dari hasil investasi dana nasabah harus dibagai sesuai dengan akad yangb disepakati sejak awal. Jika nisbah yang disepakati anatara kedua belah pihak 40:60, maka realita pembagian keuntungan juga harus mengacu pada keuntungan tersebut.
3.      Tolong menolong (ta’awun)
Prinsip dasar yang lain dalam melkasnakan kegiatan  berasuransi harus didasari dengan adanya rasa tolong menolong antara anggota. Praktik tolong menolong dalam asuransi adalah unsur utama pembentuk (DNA-Chromosom) bisnis transkasi.
4.      Kerja sama (cooperation)
Prinsip kerja sama merupakan prinsip universal yang selalu ada dalam literatur ekonomi islami. Kerja sama dalam bisnis asuransi dapat berwujud dalam bentuk akad yang dijadikan acuan antara kedua belah pihak yang terlibat, yait antara anggota (nasa bah) dan perusahan asuransi. Dalam operasionalnya, akad yang dipakai dalam bisnis asuransi dapat memakai konsep mudharabah atau musyarakah. Konsep mudharabah dan musyarakah  adalah dua buah konsep dasar dalam kajian ekonomika dan mempunyai nilai historis dalamm perkembangan keilmuan
5.      Amanah ( trustworthy / al-amanah )
Prinsip amanah dalam organisasi perusahan dapat terwujud dalam nilai-nilai akuntabilitas (pertanggungjawaban) perusahaan melalui penyajian laporan keuangan tiap periode. Dalam hal ini perusahaan asuransi hatus memberi kesempatan yang besar bagi nasabah untuk mengakses laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi haruis mencerminkan nilai-nilai kebenaran dan kedaiulan dalam bermuamalah dan melalui auditor public. Prinsip amanah juga harus berlaku pada diri nasabah asuransi.seseorang yang menjadi nasabah asuransi berkewajiban menyampaikan informasi yang benar berkaitan dengan pembayaran dana iuran dan tidak memanipiyulasi kerugian yang menimpa dirirnya.
6.      Kerelaan ( al-ridha )
Dalam bisnis asuransi, kerelaan (al-ridha) dapat diterapkan pada setiap anggota (nasabah) asuransi agar mempunyai motivasi dari awal untuk merelakan sejumlah dana (premi) yang disetorkan ke perusahan asuransi, yang difungsikan sebagai dana sosial (tabarru). Dana sosila (tabarru) memang betul-betul digunakan tujuan membantu anggota (nasabah) asuiransi yang lain jika mengalami bencana kerugian.
7.      Larangan riba
Secara bahasa adalah tambahan. Sedangakan menurut syari’at m,enambah sesuatu yang khusus. Jadi riba adanya unsur penambahan nilai. Ada beberapa bagian dalam al-Qur’an yang melarang pengayaan diri dengan cara yang btidak dibenarkan. Islam menghalalkan perniagaan dan melarang riba. Halalnya jual beli denhan pola berfikir selama manuasia saling membutuhkan satu sama lain, karena tidak bisa mencapai ke semua keinginan kecuali denga  jual beli merupakan permasalahan bagi mereka.
8.      Larangan maisir ( judi )
Allah SWT telah memberi penegasan terhadap keharaman melakukan aktivitas ekonomi yang memepunyai unsur maisir (judi). Maisir dari kata yusr artinya mudah. Karena orang memeperolkeh uang tanpa susah payah, atau bersala dari kata yasar yang berarti kaya, karena perjudian diharapkan untung yang bermakna mudah. Maysir merupakan unsur obyek yang diartikan sebagai tempat untuk memudahkan sesuatu.
Syafi’i antonio mengatakan bahwa unsur maisir judia artinya adanya salah asatu pihal yang untung namun di lain  pihak justru mengalami kerugian.
9.      Larangan gharar
Gharar dalam pengertian bahasa adalah al-khida’ yaitu suatu tindakan yang di dalamnya diperkirakan tidak ada unsur kerelaan. Secara konvensional kata Syafi’I kontrak dalam asuransi jiwa dapat dikategorikan sebagai aqd tabaduli  atau akad pertukaran, yaitu pertukaran pembayaran premi dan dengan uang pertanggungan. Secara syari’ah dalam akad pertukaran harus jelas berapa yang harus diterima. Keadaan ini akan menjadi rancu karena kita tahu berapa yang akan diterima (sejumlah uang pertanggungan), tetapi idak tahu berapa yang akan dibayarkan (jumlah seluruh premi) karena hanya Allah yang tahu kapan seseorang akan meninggal.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Menurut bahasa Arab, istilah asuransi adalah at-ta’min diambil dari kata amana memiliki arti memebri perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan beban dari rasa takut. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama lndonesia (DSN-MU) Nomor 21 Tahun 2001 dalam fatwanya tentang pedoman umum asuransi syariah, memberi definisi tentang asuransi. Menurutnya, Asuransi Syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.
Prinsip-prinsip Dasar Asuransi Syariah, yaitu:
a)      Tauhid (unity)
b)      Keadilan (justice)
c)      Tolong menolong (ta’awun)
d)     Kerja sama (cooperation)
e)      Amanah ( trustworthy / al-amanah )
f)       Kerelaan ( al-ridha )
g)      Larangan riba
h)      Larangan maisir ( judi )
i)        Larangan gharar

B.     Saran
Diharapkan semua mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang materi Asuransi syariah dan juga dapat mengetahui asal-usul dan prinsip-prinsip dalam asuransi syariah.






[1] Nurul Huda dan Mohamad Heykal, LEMBAGA KEUANGAN ISLAM Tinjauan Teoretis dan Praktis, Jakarta: Kencana, 2010, hlm. 290.
[2] M. Solahudin,  Lembaga Ekonomi dan Keuangan Islam, (Surakarta : Muhammadiyah University Press, 2006), hlm. 127.
[3] Heri sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi, cet 2, (Yogyakarta: Ekonisia, 2004), hlm. 112
[4] Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life And Genera): Konsep dan Sistem Oprasional, Jakarta: Gema Insani, 2004, hlm. 28
[5] Didalam hokum Islam, menurut zumhur ulama, penanggungan (kafalah) adalah penggabungan tanggung jawab (dzimmah) penjamin (penanggung) kepada tanggung jawab (dzimmah) orang yang dijamin (ditanggung) dalam kewajiban membayar utang (hak orang lain). Menurut definisi ini, penjamin menjadi orang yang berutang bersama orang berutang asli, sehingga orang berpiutang dapat menuntut utangnya kepada siapa saja diantara kedua orang tersebut baik yang berutang asli maupun penanggungya. [Muwaffaquddin Ibnu Qudamah, a-Mugni (Beirut: Dar al Fikr, 1984), V:70; Syamsuddin Ibnu Qudamah, asy-Syarh al-Kabir, dicetak bersama ibid.]. dalam buku Syamsul Anwar, HUKUM PERJANJIAN SYARIAH Studi tentang Teori Akad dalam Fikih Muamalat, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007.
[6] Syamsul Anwar, HUKUM PERJANJIAN SYARIAH Studi tentang Teori Akad dalam Fikih Muamalat, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007, hlm 56-57
[7] Warkum Sumitro, Asas – Asas Perbankan Islam dan Lembaga – Lembaga Terkait (BMUI dan Takaful) di Indonesia, ( JaKarta : Raja Grafindo Persada, 1996),  hal 166 – 167.
[8] Nurul Huda dan Mohamad Heykal, LEMBAGA KEUANGAN ISLAM Tinjauan Teoretis dan Praktis, Jakarta: Kencana, 2010, hlm. 155.
[9] Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life ang general) Konsep dan system Operasional, hal : 326
[10] Hermawan Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula, Syariah marketing, Bandung: Mizan Pustaka, 2006,  hlm 201.
[11] Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life ang general) Konsep dan system Operasional, hal :326 – 327
[12] Sri Rejeki Hartono, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, Jakarta: Sinar Grafika, 2008, hlm. 31.
[13] Nurul Huda dan Mohamad Heykal, LEMBAGA KEUANGAN ISLAM Tinjauan Teoretis dan Praktis, Jakarta: Kencana, 2010, hlm. 156-157.
[14] Wirdianingsih, et all, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Jakarta:Kencana, 2005, hlm. 220.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com