Friday, 19 December 2014

MAKALAH JENIS-JENIS MAAL/HARTA




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di dalam fiqh muamalah banyak membahas masalah hubungan antara manusia dengan manusia lain. Seperti: jual-beli, hutang-piutang, gadai, menikah, warisan, dan lain sebagainya. Semua hal itu pasti berkaitan dengan harta. Dalam bahasa arab harta disebul المال diambil dari kata مال, يميل ميلا yang berarti condong, cenderung dan miring. Dikatakan condong, cenderung dan miring karena secara tabi’at, manusia cenderung ingin memiliki dan menguasai harta. Dalam definisi ini sesuatu yang tidak dikuasai oleh manusia tidak bisa dinamakan harta seperti burung di udara, pohon di hutan, dan barang tambang yang masih ada di bumi.
Dalam Mukhtar al-Qamus dan kamus al-Muhith, kata al-maal berarti ’apa saja yang dimiliki. Dalam Mu’jam al-Wasith, maal itu ialah segala sesuatu yang dimiliki seseorang atau kelompok, seperti perhiasan, barang dagangan, bangunan, uang, dan hewan. Pengertian secara etimologi diartikan segala sesuatu yang menyenangkan manusia dan mereka pelihara, baik dalam bentuk materi maupun dalam manfaat. Sedangakan secara terminologi harta adalah segala sesuatu yang digandrungi manusia dan dapat dihadirkan pada saat diperlukan. Berbagai macam pendapat tentang pengertian harta.[1] Di dalam makalah ini kami akan membahas tentang macam-macam harta, yaitu: nuqud dan urudh, zhahirah dan  bathinah, dan juga namin dan ghair namin.

A.    Rumusan Masalah
1.      Nuqud dan Urudh
2.      Zhahirah dan Bathinah
3.      Namin dan Ghair Namin


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Harta (Maal)
Istilah harta, atau al-mal dalam al-Qur’an maupun Sunnah tidak dibatasi dalam ruang lingkup makna tertentu, sehingga pengertian al-Mal sangat luas dan selalu berkembang. Kriteria harta menurut para ahli fiqh terdiri atas : pertama,memiliki unsur nilai ekonomis.Kedua, unsur manfaat atau jasa yang diperoleh dari suatu barang.
Nilai ekonomis dan manfaat yang menjadi kriteria harta ditentukan berdasarkan urf (kebiasaan/ adat) yang berlaku di tengah masyarakat.As-Suyuti berpendapat bahwa istilah Mal hanya untuk barang yang memiliki nilai ekonomis, dapat diperjualbelikan, dan dikenakan ganti rugi bagi yang merusak atau melenyapkannya.
Dengan demikian tempat bergantungna status al-mal terletak pada nilai ekonomis (al-qimah) suatu barang berdasarkan urf. Besar kecilnya al-qimah dalam harta tergantung pada besar ekcilnya anfaat suatu barng. Faktor manfaat menjadi patokan dalam menetapkan nilai ekonomis suatu barang. Maka manfaat suatu barang menjadi tujuan dari semua jenis harta. dalam kitab-kitab fiqih, untuk menunjukan harta digunakan istilah al-mal yang bentuk jamaknya adalah al-amwal. Secara literal al-mal berarti "condong" atau "berpaling" dari satu posisi keposisi lainya .
Dalam termonologi fiqih muamalah terdapat variasi pengertian tentang harta atau al-mal. Antara lain adalah definisi harta yang berkembaang dikalangan fuqaha' hanafiyah menekankan batasan harta pada term iddikhar (dapat disimpan ) yang mengisyaratkan pengecualian aspek manfaat. Menurut pandanag mereka "manfaat" tidak termasuk bagian dari konsep harta, melainkan masuk dalam konsep milkiyah.
  
B.     Nuqud Dan Urudh
1.      Nuqud (Uang)
Dr. Ahmad Hasan menjelaskan bahwa kata nuqud (uang) tidak terdapat dalam Al-Quran maupun hadis Nabi SAW, karena bangsa Arab umumnya tidak menggunakan kata nuqud untuk menunjukkan harga. Mereka menggunakan kata dinar untuk menunjukkan mata uang yang terbuat dari emas, kata dirham untuk menunjukkan alat tukar yang terbuat dari perak. Mereka juga menggunakan kata wariq untuk menunjukkan dirham perak , kata ‘Ain untuk menunjukkan dinar emas. Sedang kata fulus (uang tembaga) adalah alat tukar tambahan yang digunakan untuk membeli barang-barang murah.
Menurut Al-Ghazali dan ibnu khaldun, definisi uang adalah apa yang digunakan manusia sebagai standar ukuran nilai harga, media transaksi pertukaran, dan media simpanan.
a.      Uang Sebagai Ukuran Harga
Abu Abu Ubaid (wafat 224 H) berkata: “Menurutku, dirham dan dinar adalah nilai harga sesuatu sedangkan segala sesuatu tidak bisa menjadi nilai harga keduanya”.
Imam Ghazali (wafat 505 H) berkata: “ Allah menciptakan dinar dan dirham sebagai hakim penengah di antara seluruh harta sehingga seluruh harta bisa diukur dengan keduanya. Dikatakan, unta ini menyamai 100 dinar, sekian ukuran minyak za’faran ini menyamai 100. Keduanya kira-kira sama dengan satu ukuran maka keduanya bernilai sama.
Ibnu Rusyid ( wafat 595) berkata: “Ketika seseorang susah menemukan nilai persamaan antara barang-barang yang berbeda, jadikan dinar dan dirham untuk mengukurnya . Apabila seseorang menjual kuda dengan beberapa baju, nilai harga kuda itu terhadap beberapa kuda adalah nilai harga baju itu terhadap beberapa baju. Maka jika kuda itu bernilai 50, tentunya baju-baju itu juga harus bernilai 50”.
Ibnu Qayyim (Wafat 751 H) berkata: “ Dinar dan dirham adalah nilai harga barang komoditas. Nilai harga adalah ukuran yang dikenal untuk mengukur harta maka wajib bersifat spesifik dan akurat, tidak meninggi (naik) dan tidak menurun. Karena kalau unit nilai harga bisa naik dan turun seperti kkomoditas sendiri , tentunya kita tidak lagi mempunyai unit ukuran yang bisa dikukuhkan untuk mengukur nilai komoditas. Bahkan semuanya adalah barang komoditas.

b.      Uang Sebagai Media Transaksi
Uang menjadi media transaksi yang sah yang harus diterima oleh siapapun bila ia ditetapkan oleh negara. Inilah perbedaan uang dengan media transaksi lain seperti cek. Berlaku juga cek sebagai alat pembayaran karena penjual dan pembeli sepakat menerima cek sebagai alat bayar.
Begitu pula dengan kartu debet, kartu kredit dan alat bayar lainnya. Pihak yang dibayar dapat saja menolak penggunaan cek atau kartu kredit sebagai alat bayar sedangkan uang berlaku sebagai alat pembayaran karena negara mensahkannya
Umar bin Khattab r.a berkata: “Saat aku ingin menjadikan uang dari kulit unta,” ada orang yang berkata: ‘kalau begitu unta akan punah’. Maka aku batalkan keinginan tersebut”.
Sebaliknya , emas dan perak tidak serta merta menjadi uang bila tidak ada stempel (sakkah) negara. Imam Nawawi berkata “ Makruh bagi rakyat biasa mencetak sendiri dirham dan dinar , sekalipun dari bahan yang murni , sebab pembuatan tersebut adalah wewenang pemerintah. Kemudian apabila dirham magsyusah tersebut dapat diketahui kadar campurannya , maka boleh menggunakannya- baik dengan kebendaannya maupun dengan nilainya. Adapun jika kadar campuran tersebut tidak diketahui , maka disini ada dua pendapat. Dan pendapat yang paling shahih mengatakan hukumnya boleh. Sebab, yang dimaksudkan adalah lakunya di pasaran. Dan Campuran dari tembaga yang terdapat pada dirham tersebut tidak mempengaruhi, sebagaimana halnya adonan”.
Imam Malik bin Anas berkata: “ Apabila pasar telah menjadikan kulit sebagai mata uang , maka aku tidak senang kulit tersebut dijual dengan emas dan perak”.
c.       Uang Media Penyimpan Nilai
Al-Ghazali berkata:” Kemudian disebabkan jual beli muncul kebutuhan terhadap dua mata uang. Seseorang yang ingin membeli makanan dengan baju, darimana dia mengetahui ukuran makanan dari nilai baju tersebut. Berapa? Jual beli terjadi pada jenis barang yang berbeda-beda seperti dijual baju dengan makanan dan hewan dengan baju. Barang-barang ini tidak sama, maka diperlukan “hakim yang adil” sebagai penengah antara kedua orang yang ingin bertransaksi dan berbuat adil satu dengan yang lain. Keadilan itu dituntu dari jenis harta . Kemudian diperlukan jenis harta yang bertahan lama karena kebutuhan yang terus menerus . Jenis harta yang paling bertahan lama adalah barang tambang. Maka dibuatlah uang dari emas, perak, dan logam.
Ibnu Khaldun juga mengisyaratkan uang sebagai alat simpanan. Dalam perkataan beliau: “ Kemudian Allah Ta’ala menciptakan dari dua barang tambang , emas, dan perak, sebagai nilai untuk setiap harta. Dua jenis ini merupakan simpanan dan perolehan orang-orang di dunia kebanyakannya.”
Dari ketiga fungsi tersebut jelaslah bahwa yang terpenting adalah stabilitas uang, bukan bentuk uang itu sendiri, uang dinar yang terbuat dari emas dan diterbitkan oleh Raja Dinarius dari Kerajaan Romawi memenuhi kriteria uang yang nilainya stabil. Begitu pula uang dirham yang terbuat dari perak dan diterbitkan oleh Ratu dari kerajaan Sasanid Persia juga memenuhi kriteria uang yang stabil. Sehingga meskipun dinar dan dirham diterbitkan oleh bukan negara Islam, keduanya dipergunakan di zaman Rasulullah SAW.
Dalam perkembangan selanjutnya ketika Daulah Islamiyah merambah ke wilayah-wilayah yang lebih luas dan terjadi benturan pengaruh dengan Romawi dan Persia, maka muncul pemikiran untuk memiliki mata uang yang diterbitkan oleh pemerintahan Islam. Namun saat itu pemerintahan Islam belum mempunyai kemampuan mencetak mata uang dari emas dan perak.
Imam Malik r.a menjelaskan: “ Apabila kulit telah menjadi uang resmi di mata ‘urf dan pasar, maka uang tersebut hukumnya sama dengan uang dari emas dan perak.”. Ulama Mazhab Maliki mengomentari kebolehan fulus (uang yang terbuat dari tembaga) digunakan sebagai uang disebabkan pemerintah menyatakannya sebagai alat bayar resmi. Dalam kitab al Mudawwanah disebutkan: “ Sebab fulus telah memiliki stempel uang, sebagaimana halnya dinar dan dirham”.
Itu sebabnya sejarah uang dalam Islam mengenal berbagai jenis uang:
1.      Dinar & ‘Ain : Mata uang terbuat dari emas cetakan
2.      Dirham & Wariq : Mata uang terbuat dari perak cetakan
3.      Dirham Magsyusah: Mata uang terbuat dari campuran perak dan metal lain.
4.      Fulus: Mata uang terbuat dari tembaga .
Menurut Mazhab Hanafi, fulus telah menjadi nilai harga menurut istilah dan al-‘urf , sehingga hukumnya dapat disamakan dengan dinar dan dirham sebagai sarana dalam tukar menukar. Al-Zaila’i mengatakan: “ Yang menjadi ukuran adalah al-‘urf, maka setiap apa pun yang menurut al-‘urf sebagai perantara transaksi, bisa dianggap sebagai nilai harga.”
Begitu pula dengan Mazhab Syafi’i. Ibnu Hajar mengatakan : “ Boleh hukumnya muamalah dengan al-magsyusah (uang yang terbuat dari campuran perak dan tembaga), sekalipun dengan tanggungan al-dzimmah tanpa harus mengetahui kadar campuran yang ada pada uang tersebut, sebab yang menjadi standar adalah al-‘urf . Maka dari itu , apabila fulus berlaku dipasar, sebagaimana halnya dinar dan dirham, maka hukumnya dapat disamakan. Bahkan Al-Nawawi mengatakan: “ Makruh hukumnya rakyat biasa mencetak sendiri dirham dan dinar, sekalipun dari bahan yang murni, sebab pembuatan tersebut adalah wewenang pemerintah.”
Mazhab Hambali, dalam kitab al Mughni Ibnu Qudamah mengatakan: “ Di samping itu, hal demikian telah menjadi rahasia umum yang berlaku dipasar, tanpa ada satu orang pun yang mengingkarinya. Bahkan, pendapat yang mengharamkannya akan menimbulkan polemik dan kerugian”.




d.      Uang Sebagai Standar Pembayaran Tunda
Sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwa uang adalah unit ukuran dan standar untuk pembayaran tunda.[2] Dan sebagian lagi berpendapat sebagai media pembayaran yang ditunda.[3] Menurut mereka bahwa proses jual beli tidak selalu selesai dengan uang kontan, tapi atas dasr utang sekiranya pemilik barang memajang barangnya di pasar dan bertemu pembeli yang sedang tidak membawa uang, lalu ia jual dengan pembayaran tunda.[4]

C.    Zhahirah dan Bathinah
Di dalam Lisan al 'Arab, Ibnu al-Manzhur rahimahullah menjelaskan, ar rizqu, adalah sebuah kata yang sudah dimengerti maknanya, dan terdiri dari dua macam. Pertama, yang bersifat zhahirah (nampak terlihat), semisal bahan makanan pokok. Kedua, yang bersifat bathinah bagi hati dan jiwa, berbentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu.[5]
Mengacu pada penjelasan Ibnu al Manzhur tersebut, maka hakikat rizki tidak hanya berwujud harta atau materi belaka seperti asumsi kebanyakan orang. Tetapi, yang dimaksud rizki adalah yang bersifat lebih umum dari itu. Semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba terhitung sebagai rejeki. Hilangnya kepenatan pikiran, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, atau bebas dari terjangkiti penyakit berat, semua ini merupakan contoh konkret dari rizki. Bayangkan, apabila kejadian-kejadian itu menimpa pada diri kita, maka bisa dipastikan bisa menguras pundi-pundi uang yang kita miliki. Tidak jarang, tabungan menjadi ludes untuk mendapatkan kesembuhan. Imam an Nawawi rahimahullah mengisyaratkan makna tersebut dalam kitab Syarh Shahih Muslim (16/141).
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa harta yang bersifat zhahirah adalah harta benda yang memiliki wujud yang nyata/konkret. Harta ini dapat dilihat secara zhahir, dirasakan, dan diambil manfaatnya secara langsung. Bertolak belakang dari harta zhahirah, maka harta bathinah adalah harta yang sifatnya tidak nyata, namun demikian, harta ini tetap dapat dirasakan dan diambil manfaatnya. Jika harta zhahirah adalah harta yang bersifat materi, seperti rumah, uang, perhiasan, kendaraan dan lain sebagainya,  maka harta bathinah adalah harta yang lebih bersifat batin (kejiwaan), meliputi perasaan tentram, aman, kesehatan, agama/kepercayaan, dan sebagainya.

D.    Namin dan Ghairu Namin
Namin atau tumbuh/berkembang memiliki pengertian yaitu harta yang senantiasa bertambah baik secara konkrit dan tidak secara konkrit. Harta yang senantiasa berkembang secara konkrit adalah harta benda yang dimiliki manusia yang jumlahnya dapat bertambah dan berkembang secara nyata. Pertambahan/perkembangannya bukan melalui jalan mengumpulkan atau menumpuk melainkan melalui cara alamiah. Sebagai contoh harta golongan namin adalah hewan-hewan yang diternakkan, seperti sapi, unta dan kambing. Hewan-hewan ini senantiasa tumbuh dan jumlahnya dapat melalui pertambahan apabila diternakkan (dipelihara). Sedangkan harta yang pertumbuhan atau perkembangannya tidak secara konkrit adalah harta yang memiliki potensi untuk mengalami pertambahan, misalnya uang yang diinvestasikan, uang ini menjadi harta memiliki potensi untuk bertambah lagi.
Harta yang Ghairu namin atau tidak tumbuh dan berkembang adalah harta yang dalam keadaan konstan atau tetap, tidak mengalami pertambahan atau perkembangan seperti harta golongan namin, misalnya rumah dan tanah.[6]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Istilah harta, atau al-mal dalam al-Qur’an maupun Sunnah tidak dibatasi dalam ruang lingkup makna tertentu, sehingga pengertian al-Mal sangat luas dan selalu berkembang. Kriteria harta menurut para ahli fiqh terdiri atas : pertama, memiliki unsur nilai ekonomis. Kedua, unsur manfaat atau jasa yang diperoleh dari suatu barang.
Pandangan Islam mengenai harta dapat diuraikan sebagai berikut:
Pertama, Pemiliki Mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah ALLAH SWT. Kedua, status harta yang dimiliki manusia adalah sebagai berikut :
1.      Harta sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Manusia hanyalah pemegang amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada.
2.      Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan ( Ali Imran: 14). Sebagai perhiasan hidup harta sering menyebabkan keangkuhan, kesombongan serta kebanggaan diri.(Al-Alaq: 6-7).
3.      Harta sebgai ujian keimanan. Hal ini menyangkut soal cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak (al-Anfal: 28) 4. harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksankan perintahNyadan melaksanakan muamalah si antara sesama manusia, melalui zakat, infak, dan sedekah.(at-Taubah :41,60; Ali Imran:133-134).
Ketiga, Pemilikan harta dapat dilakukan melalui usaha (‘amal) ataua mata pencaharian (Ma’isyah) yang halal dan sesuai dengan aturanNya. (al-Baqarah: 267). Keempat, dilarang mencari harta , berusaha atau bekerja yang melupakan mati (at-Takatsur:1-2), melupakan Zikrullah/mengingat ALLAH (al-Munafiqun:9), melupakan sholat dan zakat (an-Nuur: 37), dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja (al-Hasyr: 7).



[2] Ahmad al-Haurani, Muhadhrat fi al-Nuzhum al-Naqdiah wa al-Mashrafiah, Dar Muhammad Lawai, Omman, 1983, hlm. 10. Subhi Tadris Qarishah, al-Nuqud wa al-Bunuk, op. Cit., hlm.7. Muhammad Khalil Bar’i dan Ali Hafizh Manshur, Op. Cit., hlm. 36-37. Fauzi Athawi, Fi al-Iqtishad al-Siyasi, Fi al-Iqtishad al-Siyasi, Op. Cit., hlm. 130.
[3] Nazhim Muhammad Nori al-Syamri, al-Nuqud wa al-Masharif, Op. Cit., hlm. 39. Khedr Adbul Majid Aqil dan Abdul Fattah Abdurrahman Karasina, Mabadi Ilmi al-Iqtishad, Dar al-Amal, Irbed, cet. 1992, hlm. 193. Matonious Habib, al-Iqtishad al-Siyasi, Op. Cit., hlm. 113. Kamal Syarf dan Hasyim Abu Arraj, al-Nuqud wa al-Masharif, Op. Cit., hlm. 22.
[4] Ahmad Hasan, Mata Uang Islam Telaah Komprehensif Sistem Keuangan Islami, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005), hlm. 20.
[5] Lisanu al ‘Arab, 10/1115.
[6] http://www.oocities.org/infozakat_kzis/kekayaan.htm diakses pada Selasa 12 Maret 2013

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com