Monday, 15 December 2014

MAKALAH AYAT TENTANG KEADILAN DAN DISIPLIN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang memiliki tingkat keaslian serta keluasan pembahasan dalam ilmu pengetahuan tidak akan pernah kering dari panafsiran, ibarat lautan tanpa batas yang tidak akan pernah kering di minum oleh zaman, oleh karena itu penafsiran dalam Al Qur’an tidak akan pernah mencapai titik akhir kecuali atas kehendak Allah, Al Qur’an sendiri diturunkan Allah sebagai kitab terakhir bagi umat di alam semesta artinya tidak akan ada lagi kitab suci yang akan di turunkan oleh Allah SWT. Walaupun Allah mampu untuk menurunkannya, itulah janji Allah. 
Akhir-akhir ini, kita disuguhkan dengan slogan-slogan baik di media cetak, elektronik, atau spanduk yang bertebaran di jalan-jalan, yang berisi ajakan, seruan dari para calon pemimpin untuk mempercayai dan memilih mereka dalam pemilu yang akan datang. Mereka memberikan janji bahwa mereka adalah orang yang dapat dipercaya untuk mengemban amanah rakyat dan berlaku adil jika terpilih. Meskipun pada kenyataannya, setelah terpilih banyak yang terkena amnesia sesaat, yaitu lupa dengan janji dan amanah yang telah diberikan kepada mereka. Selain itu, akhir-akhir ini pun kita disuguhkan dengan berita-berita terkait kasus suap dan korupsi yang melibatkan banyak pejabat Negara. Jumlah uang suap dan yang dikorupsi pun sangat mencengangkan. Kasus tersebut membuka mata kita, bahwa tidaklah mudah untuk menjalankan amanah dan berlaku adil. 

B.     Rumusan Masalah
1.      Tafsir Surat Fussilat [41]: 9-12
2.      Tafsir Surat Hud [11]: 112-113
3.      Tafsir Surat An nahl [16]: 90
4.      Tafsir Surat Annisa [4]: 58
5.      Tafsir Surat Luqman  [31] : 32




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Surat Fussilat [41]: 9-12
* ö@è% öNä3§Yάr& tbrãàÿõ3tGs9 Ï%©!$$Î/ t,n=y{ uÚöF{$# Îû Èû÷ütBöqtƒ tbqè=yèøgrBur ÿ¼ã&s! #YŠ#yRr& 4 y7Ï9ºsŒ >u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÒÈ   Ÿ@yèy_ur $pkŽÏù zÓźuru `ÏB $ygÏ%öqsù x8t»t/ur $pkŽÏù u£s%ur !$pkŽÏù $pksEºuqø%r& þÎû Ïpyèt/ör& 5Q$­ƒr& [ä!#uqy tû,Î#ͬ!$¡¡=Ïj9 ÇÊÉÈ   §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$uK¡¡9$# }Édur ×b%s{ߊ tA$s)sù $olm; ÇÚöF|Ï9ur $uÏKø$# %·æöqsÛ ÷rr& $\döx. !$tGs9$s% $oY÷s?r& tûüÏèͬ!$sÛ ÇÊÊÈ   £`ßg9ŸÒs)sù yìö7y ;N#uq»yJy Îû Èû÷ütBöqtƒ 4ym÷rr&ur Îû Èe@ä. >ä!$yJy $ydtøBr& 4 $¨Z­ƒyur uä!$yJ¡¡9$# $u÷R9$# yxŠÎ6»|ÁyJÎ/ $ZàøÿÏmur 4 y7Ï9ºsŒ ㍃Ïø)s? ̓Íyèø9$# ÉOŠÎ=yèø9$# ÇÊËÈ  
  
Artinya:  [1]Katakanlah, "Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua hari[2] dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan seluruh alam.” Dan Dia ciptakan padanya (bumi) gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan Dia berkahi[3], dan Dia tentukan padanya makanan-makanan (bagi penghuni)nya[4] dalam empat hari[5]. Memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya[6]. Kemudian[7] Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap[8], lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, "Kami datang dengan patuh.” Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua hari[9]. Dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing[10]. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi) Kami hiasi dengan bintang-bintang[11], dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah[12] ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa[13] lagi Maha Mengetahui[14].” (Q. S Fussilat: 9-12)
Tafsirnya:
1.      Tafsir Al-Maraghi
Setelah Allah menyuruh Rasul-Nya agar berkata kepada orang-orang musyrik: Sesungguhnya apa yang aku terima lewat wakyu ialah, bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka murnikanlah untuk-Nya ibadahmu, lalu dilanjutkan dengan keterangan yang menunjukkan atas kesempurnaan kekuasaan dan hikmah-Nya daam menciptakan langit dan bumi pada tahapan tahapan yang berbeda-beda secara berurut-urut,dan Bahwa Dia telah menyempurnakan bagi masing-masing langit itu hal-hal yang mereka siap melaksanakannya, dan Dia menghiasi langit dengan bintang-bintang dan planet-planet, baik yang tetap maupun yang berlayar. Dan itu tidak mengherankan, karena itu semua adalah ketentuan dari Tuhan Yang Maha Perkasa, Yang Maha Menang atas urusan-Nya, lagi Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang ada dilangit maupun dibumi, tidak ada sesuatupun pada keduanya yang tersembunyi bagi Allah. Maka, kamu mudah saja menganggap patung-patung dan berhala-berhala sebagai sekutu-sekutu Allah, padahal patung-patung dan berhala-berhala itu tidak mempunyai sati andil pun dalam menciptakan dan menakdirkan langit dan bumi.
Tuhan yang telah menciptakan bumi dalam dua tahapan itu, yakni setahap dimana Dia menciptakan bumi itu padat setelah asalnya merupakan bola gas, dan tahapan berikutnya Dia menjadikan bumi itu menjadi 26 lapisan dalam 6 periode, sebagaimana diterangkan oleh para ahli geologi. Itulah Tuhan alam semesta, bukan semata-mata Tuhan bumi saja. Karena Dia-lah yang mengasuh makhluk seluruhnya. Jika Allah yang menciptakan bumi dalam dua tahap, maka Dialah yang mengetahui berapa bilangannya. Maka, bagaimanakah sesuatu dari makhluk-makhluk itu bisa menjadi tandingan dan sekutu bagi Allah.
Dan Dia menjadikan pada bumi itu gunung-gunung yang kokoh yang menjulang tinggi di atasnya, sedang pokoknya ada dalam tanah yaitu lapisan batu api. Dari lapisan inilah gunung-gunung muncul. Jadi, gunung-gunung itu pangkalnya jauh ada di dalam tanah, sama melewati semua lapisan hingga sampai ke lapisan yang pertama, yaitu lapisan batu api yang sekiranya tidak ada lapisan ini maka bumi ini takkan menjadi tanah dan tak bisa menjadi tempat tinggal.
Jadi bumi kita ini sebenarnya merupakan bola api yang dibungkus dengan lapisan batu api, kemudian di atasnya terdapat lapisan-lapisan yang lebih lembut, dan disanalah terbentuknya binatang dan tumbuh-tumbuhan setelah melewati masa yang panjang. Gunung-gunung itu merupakan tonjolan-tonjolan yang muncul dari lapisan batu api tersebut, lalu menjulang tinggi di atasnya puluhan ribu kilometer, dan menjadi gudang-gudang air dan bahan-bahan mineral, di samping sebagai rambu-rambu jalan serta pengendali udara dan awan.
Dan Allah menjadikan gunung-gunung itu penuh berkah dengan banyaknya kekayaan di sana karena Allah menciptakan disana bahan-bahan yang bermanfaat. Artinya, bahwa Allah menciptakan gunung-gunung dibumi sebagai pangkal aliran sungai dan gudang bahan-bahan mineral.
Sesungguhnya penciptaan bumi da dijadikannya gunung-gunung padanya dalam dua tahapan, sedang dijadikannya kekayaan-kakayaan bumi yang banyak dan ditentukannnya kadar bahan makanan disana adalah dalam dua tahapan pula. Jadi, seluruhnya dalam 4 tahapan. Dalam 4 tahapan yang sempurna sesuai dengan yang dikehendaki oleh pencari bahan makan dan apa saja yang membutuhkannya. Yaitu segala binatang yang ada di atas permukaan bumi, sebagaimana Allah firmankan:
Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadanya. setiap waktu dia dalam kesibukan”.[15]
Jadi manussia dan binatang seluruhnya meminta kepada Tuhan mereka apa yang mereka butuhkan. Dan oleh karena manusia memperhatikan keadaan bumi yang ada di sekelilingnya, maka penyebutan tentang bumi didahulukan, dan Allah terangkan bahwa bumi dengan segala yang ada di atas permukaannya telah Allah ciptakan dalam 4 tahapan: satu tahap untuk memadatkan materi bumi setelah asalnya berupa gas, dan setahap lagi untuk menyempurnakan lapisan-lapisan bumi selebihnya, setahap lagi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan setahap lagi untuk pembentukan binatang.
Penciptaan bumi langit ini tidaklah hanya dalam satu tahap saja, tetapi dalam beberapa tahap sesuai dengan hikmat dan urutan. Sedang sebagai kitab suci, maka Al-Qur’an cukup mengatakan bahwa Allah telah menciptakan bumi dalam dua tahapan sedang menciptakan apa-apa yang ada di atasnya dalam dua tahapan pula, dan begitu pula dalam menciptakan tujuh langit.[16]
2.      Tafsir Ibnu Katsir
Berdasarkan penafsiran Ibnu Katsir ayat 9 merupakan bentuk pengingkaran Allah terhadap orang-orang musyrik yang menyembah selain-Nya, padahal Dia-lah Yang Maha pencipta, Maha memaksa dan Maha menguasai segala sesuatu. Ayat ini mengandung rincian tentang firman Allah Ta’ala:
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.”(QS. Huud: 7). Maka, di dalam ayat ini dirinci apa yang berkenaan khusus dengan bumi dan langit. Dia menyebutkan bahwa pertama kali Dia menciptakan bumi. Karena bumi sebagai asas (pondasi). Persoalan pokok selalu dimulai dengan asas, baru kemudian atap. Dan Allah menciptakan bumi ini dalam dua hari yaitu hari Ahad dan Senin.
Dalam ayat 10 dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan gunung-gunung yang kokoh dan menjadikan bumi penuh dengan berkah yang siap menerima kebaikan, bibit dan tanam-tanaman. Dan Dia telah menentukan apa-apa yang dibutuhkan oleh penghuninya, berupa berbagai rizki dan tempat-tempat yang dapat ditanami dan diolah. Hal tersebut terjadi pada hari Selasa dan Rabu, sehingga kedua hari tersebut dengan dua hari sebelumnya menjadi empat hari. Hal ini dapat menjadi jawaban bagi orang-orang yang bertanya.
Ayat 11 yaitu menuju pada penciptaan langit yang masih berupa asap yaitu asap air yang mengepul katika bumi diciptakan. Kemudian Allah menanyakan kepada langit dan bumi:“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” Artinya, patuhilah perintah-perintah Allah dengan suka hati atau terpaksa.
Pada ayat 12, Dia telah menjadikan tujuh langit dalam dua masa, yaitu masa terakhir, hari Kamis dan hari Jum’at. Kemudian Dia tetapkan ketentuan pada setiap langit apa yang diperlukan, berupa para malaikat dan makhluk-makhluk lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Serta menghiasi langit dengan bintang-bintang yang bersinar terang di atas bumi. “Dan Kami memeliharanya”. Yaitu, menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita alam atas (langit).[17]
3.      Tafsir Al-Mishbah
Dalam ayat 9 dan 10 berisikan proses penciptaan bumi serta memperindahnya dengan gunung-gunung yang kukuh agar bumi yang terus beredar itu tidak oleng. Dan Allah juga melimpahkan aneka kebajikan sehingga bumi dapat berfungsi sebaik mungkin dan dapat menjadi tempat hunian yang nyaman buat manusia dan hewan. Semua itu terlaksana dalam waktu empat hari yang terbagi secara adil yakni dua hari penciptaan bumi dan dua hari sisanya buat pemberkahan dan penyiapan makanan bagi para penghuninya.
Pada ayat 11 dan 12 yaitu pada proses penciptaan langit yang masih berupa dukhan atau asap. Para ilmuan memahami kata dukhan dalam arti satu benda yang terdiri pada umumnya dari gas yang mengandung benda-benda yang sangat kecil namun kukuh. Berwarna hitam atau gelap dan mengandung panas. Sedangkan menurut tafsir ini bahwa sebelum terbentuknya bintang-bintang ada sesuatu yang angkasa raya dipenuhi oleh gas dan asap, dan bahan inilah terbentuk bintang-bintang. Hingga kini, sebagian dari gas dan asap itu masih tersisa dan tersebar diangkasa raya.
Ayat-ayat Al-Qur’an melukiskan adanya enam hari atau periode bagi penciptaan alam raya. Periode dukhan ini menurut ilmuan adalah periode ketiga yang didahului oleh periode kedua yaitu masa terjadinya ledakan dahsyat “Big Bang” dan inilah yang mengakibatkan terjadinya asap itu. Pada periode dukhan inilah tercipta unsur-unsur pembentukan langit yang terjadi melalui gas Hidrogen dan Helium. Pada periode pertama, langit dan bumi merupakan gumpalan yang menyatu yang dilukiskan oleh Al-Qur’an dengan nama ar-ratq. Periode pertama dan kedua itu diisyaratkan oleh QS. Al-Anbiya’ ayat 30.[18]
Menurut penulis, ada tiga poin yang dapat diambil dari ayat di atas yaitu amanat Allah terhadap hamba-Nya yang harus dilaksanakan adalah antara lain : melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjahui larangan-Nya. Semua nikmat Allah berupa apa saja hendaklah kita manfaatkan untuk taqarraub kepada-Nya. Amanat seseorang terhadap hambanya yang harus dilaksanakan antara lain; mengembalikan titipan kepada yang punya dengan tidak kurang suatu apapun, tidak menipunya, memelihara rahasia dan lain sebagainya dan termasuk juga di dalamnya:
a.       Sifat adil penguasa terhadap rakyat dalam bidang apapun dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain di dalam pelaksanaan hokum, sekalipun terhadap keluarga dan anak sendiri, sebagaimana di tegaskan Allah dalam ayat ini. “dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”
b.      Sifat adil ulama terhadap orang awam, seperti menanamkan kedalam hati mereka aqidah yang benar, membimbingnya kepada mal-amal yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat, memberikan pendidikan yang baik, menganjurkan usaha yang halal, memberikan nasehat-nasehat yang menambah kuat imannya, menyelamatkannya dari perbuatan dosa dan maksiat, membangkitkan semangat untuk berbuat baik dan melakukan kebajikan mengeluarkan fatwa yang berguna dan bermanfaat di dalam melaksanakan syariat dan ketentuan Allah SWT.
c.       Sifat adil seorang suami terhadap istrinya, begitupun sebaliknya, seperti melaksanakan kewajiban masing-masing terhadap yang lain, tidak membeberkan rahasia pihak yang lain, terutama rahasia khusus antara keduanya yang tidak baik diketahui orang lain.
Amanat seorang terhadap dirinya sendiri; seperti berbuat sesuatu yang menguntungkan dan bermanfaat bagi dirinya dalam soal dunia dan agamanya. Janganlah ia berbuat hal-hal yang membahayakannya di dunia dan akhirat, dan lain sebagainya.

B.     Surat Hud [11]: 112-113
öNÉ)tGó$$sù !$yJx. |NöÏBé& `tBur z>$s? y7yètB Ÿwur (#öqtóôÜs? 4 ¼çm¯RÎ) $yJÎ/ šcqè=yJ÷ès? ׎ÅÁt/ ÇÊÊËÈ   Ÿwur (#þqãZx.ös? n<Î) tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß ãNä3¡¡yJtGsù â$¨Y9$# $tBur Nà6s9 `ÏiB Èbrߊ «!$# ô`ÏB uä!$uŠÏ9÷rr& ¢OèO Ÿw šcrçŽ|ÇZè? ÇÊÊÌÈ  
Artinya: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar[19], sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas[20]. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan[21]. -Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim[22] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan.”(Q.S Hud : 112-113)
Tafsirnya:
Pada ayat surat Hud ke 112 ini Allah SWT memberikan tuntutan kepada Nabi Muhammad SAW terhadap apa yang semestinya ia perbuat di kala umatnya melancarkan tantangan dan meragukan Alquran yang dibawanya, yaitu supaya Nabi Muhammad SAW. tetap pada pendiriannya berjalan di atas jalan yang lurus dan benar menyampaikan syariat yang diamanatkan kepadanya, melaksanakan risalahnya dan jangan sampai terlintas di dalam hatinya akan meninggalkan sebahagian dari apa yang telah diwahyukan kepadanya, karena kekejaman fitnahan umatnya sebagaimana firman Allah swt.: Artinya:  Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu.  (Q.S. Hud: 12) 
Begitu pula orang-orang yang telah sadar dan insaf serta bertobat dari kemusyrikan dan kekafirannya dan telah beriman bersama Muhammad saw. supaya tetap dalam pendiriannya mempertahankan akidah tauhidnya dan jangan sekali-kali bergeser dari jalan yang lurus dan benar yang telah diimani dan diyakininya, karena Allah swt. melihat dan mengetahui semuanya itu. Sejalan dengan ayat ini firman Allah swt.:  Artinya:  Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu; Allahlah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita). (Q.S. Asy Syura: 15)
Pada ayat surat Hud ke 113 ini Allah swt. menandaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw. dan menganut agamanya supaya jangan sekali-kali cenderung kepada orang-orang lalim, yaitu musuh-musuh kaum muslimin yang selalu menyakitinya dan orang-orang musyrik yang selalu berusaha mengembalikannya kepada kemusyrikan. Jangan sekali-kali minta bantuan dan pertolongan dari mereka, seakan-akan mereka telah dijadikan pemimpinnya, karena bila hal itu sudah sampai kepada derajat yang demikian, maka termasuklah orang-orang mukmin itu seperti mereka juga yang tidak akan mendapat petunjuk sebagaimana firman Allah swt.: Artinya: Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. 
(Q.S. Al-Ma'idah: 51) 
Satu-satunya yang dapat dijadikan pemimpin dan diminta bantuan dan pertolongannya hanya kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat selain dari itu, maka ia termasuk orang yang lalim yang tak mempunyai penolong sebagaimana firman Allah swt.: Artinya:  Tidaklah ada bagi orang-orang yang lalim itu seorang penolong pun.  (Q.S. Al-Ma'idah: 72)

C.    Surat An Nahl [16]: 90
* ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGƒÎ)ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.xs? ÇÒÉÈ  
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q. S An Nahl: 90)
Tafsirnya:
Tafsir Jalalain
Sesungguhnya Allah menyuruh kalian berlaku adil) bertauhid atau berlaku adil dengan sesungguhnya (dan berbuat kebaikan) menunaikan fardu-fardu, atau hendaknya kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadis (memberi) bantuan (kepada kaum kerabat) famili; mereka disebutkan secara khusus di sini, sebagai pertanda bahwa mereka harus dipentingkan terlebih dahulu (dan Allah melarang dari perbuatan keji) yakni zina (dan kemungkaran) menurut hukum syariat, yaitu berupa perbuatan kekafiran dan kemaksiatan (dan permusuhan) menganiaya orang lain. Lafal al-baghyu disebutkan di sini secara khusus sebagai pertanda, bahwa ia harus lebih dijauhi; dan demikian pula halnya dengan penyebutan lafal al-fahsyaa (Dia memberi pengajaran kepada kalian) melalui perintah dan larangan-Nya (agar kalian dapat mengambil pelajaran) mengambil pelajaran dari hal tersebut. Di dalam lafal tadzakkaruuna menurut bentuk asalnya ialah huruf ta-nya diidghamkan kepada huruf dzal. Di dalam kitab Al-Mustadrak disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Masud yang telah mengatakan, bahwa ayat ini yakni ayat 90 surah An-Nahl, adalah ayat yang paling padat mengandung anjuran melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan di dalam Alquran.[23]
Berdasarkan kepada kandungan ayat tadi, terdapat tiga prinsip yang ditawarkan Al Quran dalam membangun dan menata sesebuah masyrakat .
1. Prinsip keadilan
2. Prinsip Ihsan
3. Prinsip takaful (yang dicontohkan dengan memberikan kepada kaum kerabat) Adil ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya, Ihsan, kalau didifinesikan secara umum adalah berbuat baik dalam segala hal, dan takaful ialah prinsip saling tolong menolong.

D.    Surat An Nisa [4]: 58
* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù'tƒ br& (#rŠxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAôyèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $JèÏÿxœ #ZŽÅÁt/ ÇÎÑÈ  
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (Q. S An Nisa: 58)


Tafsirnya:
Allah Swt. berfirman: Inna Allâh ya‘murukum an tu’addû al-amânât ilâ ahlihâ (Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya). Menurut sebagian mufassir, seperti Zaid bin Aslam dan Syahr bin Khausyab, khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada penguasa kaum Muslim.[24] Pendapat ini juga didukung ath-Thabari dan an-Nasafi.[25]
Sebagian mufassir lain berpendapat, pihak yang diseru ayat ini bukan hanya penguasa, namun seluruh mukallaf tanpa terkecuali. Pendapat ini dipilih kebanyakan mufassir seperti al-Qurthubi, az-Zamakhsyari, Abu Hayyan al-Andalusi, asy-Syaukani, al-Baidhawi, al-Jashshash, Ibnu Athiyah, al-Jazairi, al-Samarqandi, dan al-Ajili.[26] Tampaknya, pendapat kedua lebih tepat. Kendati penguasa merupakan pihak yang paling utama untuk diseru, hal itu tidak bisa membatasi seruan ini hanya untuk mereka. Sebab, dhamîr kum (kalian) dalam ayat ini bersifat umum sehingga berlaku untuk seluruh mukallaf. Dalam hal ini, tidak ada dalil yang membatasinya.
Memang benar, seruan selanjutnya dalam ayat ini, yakni ‘wa idzâ hakamtum bayna an-nâs an tahkumû bi al-‘adl’, ditujukan kepada penguasa. Namun, itu tidak dapat dijadikan sebagai alasan untuk membatasi seruan sebelumnya. Sebab, sebagaimana dinyatakan al-Jashshash, suatu khithâb bisa saja di awalnya bersifat umum untuk seluruh manusia, lalu dilanjutkan dengan khithâb yang bersifat khusus untuk penguasa.[27]
Oleh ayat ini, seluruh mukallaf itu diperintahkan an tuaddû al-amânât (menyampaikan amanat). Kata al-amânât (jamak dari kata al-amânah) merupakan bentuk mashdar yang bermakna maf‘ûl.[28] Al-Jazairi menuturkan, amanah adalah segala yang dipercayakan kepada seseorang, baik berupa perkataan, perbuatan, atau harta benda.[29] Al-Biqa’i memaknainya sebagai semua kewajiban yang harus Anda tunaikan terhadap orang lain.[30]
Amanah yang diperintahkan ayat ini meliputi semua jenis amanah.[31] Sebab, kata al-amânât merupakan kata benda jamak yang berbentuk ma‘rifah (ditandai dengan huruf al-alif wa al-lâm di depannya). Secara bahasa, bentuk kata demikian menunjukkan makna umum.
Menurut penulis, dalam ayat ini dijelaskan yang paling menonjol dalam beramal adalah menyampaikan Amanat dan menetapkan perkara di antara manusia dengan cara yang Adil. Allah memerintahkan kedua amal tersebut. Khusus untuk ayat ini para mufasir banyak yang mengaitkannya dengan masalah pemerintahan atau urusan Negara. Orang yang diberi amanah kekuasaan, haruslah yang ahli di bidangnya. Jika bukan ahlinya kekuasaan yang dikelola tersebut akan mengalami kehancuran. Oleh karena itu, apabila seseorang telah diserahi amanat tertentu, ia harus melaksanakan amanat tersebut dengan Adil. Hal ini penting karena diri kita pasti akan berhadapan dengan Masyarakat dari berbagai kelompok yang beragam. Selanjutnya banyak ayat yang memerintahkan supaya kita menegakkan keadilan. Di antaranya seperti di dalam Surah Al-Maidah Ayat 8 : ''Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada Taqwa''. Dalam Surah Al-Hujurat Ayat 9 yang menyatakan ''Maka damaikanlah keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berlaku adil''.

E.     Surat Luqman [31]: 32
#sŒÎ)ur NåkuŽÏ±xî Ólöq¨B È@n=à9$$x. (#âqtãyŠ ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# $£Jn=sù öNßg8¯gwU n<Î) ÎhŽy9ø9$# Nßg÷YÏJsù ÓÅÁtFø)B 4 $tBur ßysøgs !$uZÏF»tƒ$t«Î/ žwÎ) @ä. 9$­Fyz 9qàÿx. ÇÌËÈ  

Artinya: “Dan apabila mereka[32] digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka bersikap pertengahan[33]. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami[34] hanyalah pengkhianat[35] yang tidak berterima kasih[36].”(Q. S Luqman: 32)
Tafsirnya:
Ayat ini menerangkan sifat-sifat orang-orang musyrik dengan melukiskan mereka: "Apabila orang-orang musyrik penyembah patung dan pemuji dewa itu berlayar ke tengah lautan, kemudian tiba-tiba datang gelombang besar dan menghempaskan bahtera mereka ke kiri dan ke kanan, dan mereka merasa bahwa mereka tidak akan selamat, bahkan akan mati ditelan gelombang, maka di saat itulah mereka kembali kepada fitrahnya, dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan setulus-tulusnya. Pada saat serupa itu mereka berkeyakinan bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat menyelamatkan mereka kecuali Allah semata, seperti yang pernah dilakukan Firaun di saat-saat ia akan tenggelam ke dasar laut. 
Setelah Allah SWT menerima doa mereka, menyelamatkan mereka dari amukan gelombang itu dan mereka telah selamat sampai ke darat, maka di antara mereka hanya sebagian saja yang tetap mengakui keesaan Allah, adapun yang lain mereka kembali memperserikatkan Tuhan. 
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa yang mengingkari ayat-ayat Kami itu dan kembali mempersekutukan Tuhan ialah orang-orang yang dalam hidupnya penuh dengan tipu daya dan kebusukan, lagi mengingkari nikmat Allah.[37]




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Allah mewajibkan kepada setiap muslim yang memikul amanat, supaya melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, baik amanat yang diterimanya dari Allah SWT. Atau amanat sesama manusia. Allah SWT memerintahkan kepada setiap muslim supaya berlaku adil, dalam setiap tindakannya. Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, supaya selalu cermat, jujur dan ikhlas karena Allah, baik dalam mengerjakan pekerjaan yang bertalian dengan Agama Allah maupun dengan urusan duniawi. 
Kebencian terhadap sesuatu kaum, tidak boleh mendorong seseorang untuk tidak berbuat jujur atau berlaku tidak adil. Harus adil dalam memberikan persaksian tanpa melihat siapa orangnya, walaupun akan merugikan diri sendiri, sahabat dan kerabat. Keadilan wajib di tegakkan dalam segala hal, karena keadilan menimbulkan ketentraman, kemakmuran dan kebahagiaan, dan ketidak adilan akan menimbulkan sebaliknya.  Pada dasarnya, seluruh manusia diperintahkan untuk menunaikan amanah dan berlaku adil. 

B.     Saran
Kepada para pembaca, penulis menyadari banyaknya kekurangan dari penulisan makalah ini, oleh karena itu disarankan kepada seluruh pembaca, supaya mencari dan dan membaca referensi-referensi lain yang terkait dengan materi yang berkaitan dengan tafsir ayat-ayat hubungan antar agama.











DAFTAR PUSTAKA
Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2008.
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV Toha Putra. 1989
Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî, vol. 4, 147-148; asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 2. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 1994.
Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, vol. 4, 148; an-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta’wîl, vol 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 2001.
Shihab, M. Quiaish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002.
Syaikh, Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu. Tafsir Ibnu Katsir.Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i. 2005.
Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia




[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingkari dan menganggap aneh kekafiran orang-orang kafir yang mengadakan tandingan bagi-Nya, yang menyekutukan Allah dengan mereka (tandingan-tandingan) serta berani mengorbankan sesuatu untuk mereka serta menyamakan mereka (tandingan-tandingan) itu dengan Rabbul ‘aalamin; Tuhan Yang Maha Pemurah Yang menciptakan bumi yang besar dalam dua hari lalu membentangkannya dalam dua hari, yaitu dengan menjadikan gunung-gunung di atasnya agar bumi tidak goyang, menyempurnakan penciptaannya serta menyiapkan makanan-makanan bagi penghuninya dan keperluan lainnya, sehingga jumlah hari keseluruhannya adalah empat hari (hari Ahad, Senin, Selasa dan Rabu).
[2] Yaitu hari Ahad dan hari Senin.
[3] Seperti dengan banyak air, tanaman, dan lain-lain.
[4] Manusia dan hewan.
[5] Yaitu hari Selasa dan hari Rabu, ditambah dengan dua hari sebelumnya (hari Ahad dan Senin).
[6] Kalimat “Sawaa’allis saa’iliin” bisa juga diartikan, “sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya tentang itu.” Oleh karena itu, tidak ada yang dapat memberitakan seperti pemberitaan Allah Yang Maha Mengetahui, berita tersebut adalah berita yang benar yang tidak ditambah dan tidak dikurang.
[7] Setelah Allah menciptakan bumi.
[8] Yang membumbung di atas permukaan air.
[9] Yaitu hari Kamis dan Jum’at. Dengan demikian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (dimulai dari hari Ahad dan berakhir sampai hari Jum’at), sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.” (Terj. Al A’raaf: 54) Meskipun begitu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mampu menciptakan semua itu hanya sekejap, akan Dia Mahabijaksana lagi Mahalembut. Oleh karena kebijaksanaan dankelembutan-Nya, maka Dia menciptakannya dalwam waktu tersebut.
[10] Maksudnya menurut Jalaaluddin Al Mahalliy adalah, bahwa Dia memerintahkan penghuni masing-masingnya agar taat dan beribadah kepada-Nya. Menurut Syaikh As Sa’diy, bahwa Allah mewahyukan perintah dan aturan yang layak baginya yang sesuai dengan kebijaksanaan Allah Tuhan yang Mahabijaksana, wallahu a’lam.
[11] Yaitu bintang-bintang yang bersinar serta dapat dipakai petunjuk, sebagai penghias langit luar dan dalam, luarnya tampak indah dengan kilauan bintang-bintang, dan dalamnya sebagai pelempar bagi setan yang hendak mencuri berita di langit.
[12] Yakni bumi dan apa saja yang ada di dalamnya serta langit dan apa saja yang ada di dalamnya.
[13] Dengan keperkasaan-Nya, Dia tundukkan segala sesuatu, Dia atur dan Dia ciptakan semua makhluk.
[14] Ilmu-Nya meliputi semua makhluk, yang tersembunyi maupun yang tampak.
[15] Maksudnya: Allah senantiasa dalam keadaan Menciptakan, menghidupkan, mematikan, Memelihara, memberi rezki dan lain lain.
[16] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra), 1989,
[17] DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i), 2005, hlm. 197-200.
[18] M. Quiaish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati), 2002, hlm. 381-390.
[19] Yakni tetap mengerjakan perintah Tuhanmu, jangan malas mengerjakannya atau meremehkannya, dan tetaplah mengajak manusia kepadanya meskipun banyak yang mendustakan.
[20] Yakni melewati batasan-batasan Allah, atau melewati aturan. Dalam ayat ini terdapat perintah agar berjalan di atas Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak menambah-nambah atau berbuat bid’ah dalam agama.
[21] Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan terhadapnya.
[22] Cenderung kepada orang yang zalim maksudnya bergaul dengan mereka serta meridhai perbuatannya dan mengadakan pendekatan atau bahkan sepakat dengan kezaliman mereka. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri (dari gangguan mereka), maka diperbolehkan.
[23] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008.
[24] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî, vol. 4, 147-148; asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 607.
[25] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, vol. 4, 148; an-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta’wîl, vol 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001), 260
[26] Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân,vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 166; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 512; Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 289; asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 2, 607; al-Baidhawi, Anwâr at-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998), 220; al-Jashshash, Ahkâm al-Qur’ân, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 293; Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 70; al-Jazairi, Aysâr al-Tafâsîr, vol. 1 (tt: Nahr al-Khair, 1993), 497; as-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 1 (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 362; al-Ajili, al-Futûhât al-Ilâhiyyah, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003), 74
[27] Al-Jashshash, Ahkâm al-Qur’ân, vol. 2, 293
[28] Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân,vol. 3, 166; Nizhamuddin al-Naisaburi, Tafsîr Gharâib al-Qur’ân, vol. 2, 433
[29] Al-Jazairi, Aysâr al-Tafâsîr, vol. 1, 497
[30] Al-Biqa’i, Nazhm al-Durar, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 271
[31] Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân,vol. 3, 166; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 1 (Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1997), 629; asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 2, 607. Pendapat tersebut juga dikemukakan oleh Ibnu Abbas. Lihat: al-Wahidi al-Naisaburi, al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 70; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta’wîl, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 177.
[32] Yakni orang-orang kafir.
[33] Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan manusia ketika menaiki kapal, lalu mereka diterjang oleh ombak besar, maka ketika itu mereka berdoa kepada Allah saja, tetapi setelah Allah menyelamatkan mereka, maka mereka terbagi menjadi dua bagian; ada yang bersikap pertengahan, yakni mereka tidak bersyukur kepada Allah secara sempurna, tetapi mereka dalam keadaan berdosa dan menzalimi diri mereka, dan ada pula yang kufur kepada nikmat Allah lagi mengingkari nikmat itu. Ada pula yang mengartikan “sikap pertengahan”, bahwa di antara mereka ada yang mengakui keesaan Allah, dan di antara mereka ada yang tetap di atas kekafirannya.
[34] Termasuk di antaranya adalah penyelamatan-Nya dari ombak yang besar.
[35] Dia mengkhianati perjanjian dengan Tuhannya, di mana dia berjanji bahwa jika Allah menyelamatkannya, dia akan bersyukur dan akan mengesakan-Nya. Tetapi, ternyata dia tidak memenuhi janjinya.
[36] Padahal tidak ada sikap yang pantas dilakukan bagi orang yang telah diselamatkan Allah selain bersyukur.
[37] Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com