Thursday, 2 October 2014

MAKALAH TASAWUF IRFANI: AL-SULAMI DAN AL-HALLAJ

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam sebagai agama atau ajaran yang tidak hanya mengajarkan masalah-masalah ekstrenal dalam membimbing manusia untuk mengetahui jalan hidup yang harus dilalui, tapi juga mengajarkan hal-hal yang bersifat internal dalam sisi-sisi humanis dengan teologi dan implementasinya, telah di interpretasikan oleh pemeluknya dengan berbagai wacana dan pergulatan pemikiran yang sangat beragam.
Salah satu pemikiran yang paling rawan dalam konflik adalah pemikiran-pemikiran Tasawuf. Setelah  abad IV hijriah setelah kemapanan ilmu fiqh dan dalam perkembanganya ada kelompok-kelompok tertentu yang menyalahgunakan hukum legal formal ini, munculah pemikiran-pemikiran Tasawuf yang memiliki corak dan ajaran yang berbeda-beda sebagai counter dari gejala tersebut.
Pembahasan tentang ilmu Tasawuf memang suatu pembahasan yang membutuhkan pendalaman yang lebih cermat dan hati-hati. Ilmu ini berbeda dengan ilmu-ilmu eksak yang lebih menitikberatkan pembahasanya pada hal-hal yang bersifat materi atau fisik, pembahasan Tasawuf adalah pembahasan yang banyak berkutat dengan hal-hal yang metafisik. Sehinga dibutuhkan penguasaan metodologi dan pengalaman langsung untuk memudahkan kita menjelaskan apa yang sebenarnya dialami tokoh-tokohnya saat menuangkan gagasan dan tindakanya sebagai manifestasi keyakinanya. Dalam makalah ini penulis mecoba menguraikan sedikit tentang pemikiran dan ajaran Tasawuf versi al Hallaj al-Sulami. Semoga bisa menambah wawasan kita tentang masalah-masalah spiritual keagamaan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Tasawuf Irfani
2.      Al-Sulami
3.      Al-Hallaj
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tasawuf Irfani
Secara etimologi, kata ‘irfan’ merupakan kata jadian (masdar) dari kata ‘arafa’ (mengenal atau pengenalan). Adapun secara terminologis ‘irfan diidentikkan dengan ma’rifat sufistik. Orang yang irfan atau ma’rifat adalah yang benar-benar mengenal Allah melalui dzauq dan kasyuf (ketersingkapan). Ahli irfan adalah orang-orang yang berminat kepada Allah. Arif adalah orang yang memperoleh penampakan Tuhan sehingga pada dirinya tampak kondisi-kondisi hati tertentu (ahwal).
Irfan memiliki dua aspek, yakni aspek praktis dan aspek teoritis. Aspek praktisnya adalah bagian yang menjelaskan hubungan dan pertanggungjawaban manusia terhadap dirinya, dunia, dan Tuhan. Bagian ini menyerupai etika. Praktis juga dapat disebut sayr wa suluk (perjalanan rohani). Irfn teoritis memfokuskan perhatiannya pada masalah wujud (ontologi), mendiskusikan manusia, Tuhan, serta alam semesta. Bagian ini menyerupai teosafi (filsafah ilahi) yang juga memberikan penjelasan tentang wujud. Irfan mendasarkan diri dari ketersibakan mistik yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa rasional untuk menjelaskannya.
Ramli Bihar Anwar mengatakan, Irfan muncul untuk pertama kalinya sebagai reaksi atas praktik-praktik tasawuf tertentu dalam dunia Syiah yang dianggap telah menyimpang dari syariat. Karena itu, di dalam ’irfan sangat mementingkan syariat sebagai dasar bertasawuf.[1] Irfan secara etimologi bermakna pengetahuan, sebab itu irfan dan tasawuf Islam menunjukkan suatu bentuk pengetahuan, bahwa perjalanan sair suluk (riyâdhâ) seorang hamba kepada Allah Swt. akan meniscayakan suatu bentuk pengetahuan yang lebih hakiki dari pada pengetahuan konsepsi (tashawwur) dan afrimasi (tashdiq) panca indra dan akal. Sebab itu bentuk pengetahuan irfani adalah hudhuri (presentif), bahkan bentuk pengetahuan hudhuri yang memiliki derajat tinggi.
Para sufi adalah urafa (jamak dari arif), yakni mereka yang memperoleh pengetahuan hakiki ontologis. Pengetahuan yang diawali dengan makrifat nafs yang kemudian menyampaikan kepada makrifat Rabb (Man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu ).
Menurut Rosihan Anwar dan Mukhtar Solihin, kerangka irfani yaitu lingkup perjalanan menuju Allah untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat) yang berlaku di kalangan sufi secara rasa (rohaniah).[2]
Manusia tidak akan tahu banyak mengenai penciptaan-Nya apabila belum melakukan perjalanan menuju Allah walaupun ia adalah orang yang beriman secara aqliyah. Hal ini karena adanya perbedaan yang dalam antara iman secara aqliyah atau logis teoritis (al- iman al-aqli an-Nazhari) dan iman secara rasa (al-iman asy-syu’ri ad-dzauqi). Lingkup irfani ini tidak dapat dicapai dengan mudah atau secara spontanitas, tetapi melalui proses yang panjang. Proses yang dimaksud yaitu maqam-maqam (tingkatan atau stasiun) dan ahwal (jamak dari hal).

B.     Al-Sulami
1.      Biografi Singkat Al-Sulami
Nama lengkap al-Sulami adalah Muhammad ibn Husain ibn Muhammad ibn Musa al-Azdi yang bergelar Abu Abdul Rahman al-Sulami, lahir tahun 325 H dan wafat pada bulan Sya'ban 412 H/1012 M.[3] Dia pakar hadits, guru para sufi,l dan pakar sejarah. Dia seorang syeikh thariqah yang telah dianugerahi penguasaan dalam berbagai ilmu hakikat dan perjalanan tasawuf. Dia mengarang berbagai kitab risalah dalam ilmu tasawuf setelah mewarisi ilmu tasawu dari ayah dan datuknya. Ayahnya, Husain ibn Muhammad ibn Musa al-Azdi, wafat 348 H/958 M, ketika al-Sulami menginjak masa remaja. kemudian pendidikannya diambil alih oleh datuknya, Abu 'Amr Ismail ibn Nujayd al-Sulami (w. 360 H/971 M).[4]

2.      Pemikiran Al-Sulami
Manusia akan menjadi hamba ('abd) sejati kalau dia sudah bebas (hurr: merdeka) dari selain Tuhan. Kalau kehendak hati sudah menyatu dengan kehendak Allah, maka apa saja yang dipilih Allah untuknya, hati akan menerima tanpa menentang sedikitpun (qana'ah).[5] Karena فاينما تولوا فثم وجه الله , kemanapun engkau berpaling, disitulah wajah Allah (QS. 2:115).
Dalam konsep dzikir, al-Sulami berpendapat bahwa perbandingan antara dzikir dan fakir adalah lebih sempurna fakir, karena kebenaran (al-haq) itu diberitakan oleh dzikir bukan oleh fakir dalam proses pembukaan kerohanian. Ada beberapa tingkatan mengenai dzikir, yaitu dzikir lidah, dzikir hati, dzikir sirr (rahasia), dan dzikir ruh.[6]
Al-Sulami mengambil beberapa tasawuf dari para syeikh yang masyhur, misalnya Ibn Manazil (w. 320 H/932 M), Abu Ali al-Thaqafi, Abu Nashr al-Sarraj (pengarang kitab al-Luma' fi al-Tasawuf), Abu Qasim al-Nasrabadzi dan banyak yang lainnya, dari hal itu, otomatis warna dan corak tasawuf al-Sulami sedikit banyak dipengaruhi oleh tasawuf mereka.
Pada abad ke-3 dan ke-4 H, tasawuf berfungsi sebagai jalan mengenal Allah SWT (ma'rifah) yang tadinya hanya sebagai jalan beribadah. Tasawuf pada masa itu merupakan pengejawantahan tasawuf teoritis.[7] al-Sulami yang lahir dan masuk kelompok sufi pada masa itu, terkenal sebagai penulis sejarah biografi kaum sufi masyhur yang semasa dengannya yaitu dalam kitabnya Adab al-Mutasawwafah.[8] Selain itu, dia juga terkenal dengan kitabnya Thabaqah al-Sufiyin yang juga memaparkan biografi-biografi para sufi[9]. Al-Sulami menitik tekankan tasawuf pada ketaatan terhadap al-Qur'an, meninggalkan perkara bid'ah dan nafsu syahwat, ta'dzim pada guru/syeikh, serta bersifat pema'af.

3.      Karya-Karya Al-Sulami
Diantara karya-karyanya, yaitu :
a. Adab al-Mutasawwafah
b. Thabaqah al-Sufiyun
c. Risalah al-Malamatiyyah
d. Ghalathah al-Sufiyah
e. al-Futuwwa
f. Adab al-Suhba wa Husn al-'Ushra
g. al-Sama'
h. al-Arba'in fi al-Hadith
i. al-Farq Bayna al-Syari'ah wa al-Haqiqah
j. Jawami' Adab al-Sufiyah
k. Manahij al-'Irfan
l. Maqamat al-Awliya'
m. Al-Ikhwah wa al-Akhawat min al-Sufiyah

C.    Al-Hallaj
1.      Biografi Singkat Al-Hallaj
Husain ibn Mansur al-Hallaj atau biasa disebut dengan Al-Hallaj adalah salah seorang ulama sufi yang dilahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasanBaidhahIran tenggara, pada tanggal 26 Maret 866 M. Ia merupakan seorang keturunan Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk Islam. Al-Hallaj merupakan syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: "Akulah Kebenaran", ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.
Bagi sebagian ulama Islam, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid'ah, sebab Islam tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran Al-Haqq adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut.
Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya atas berbagai ajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan,"Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar” yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa a.s, yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, 'Akulah Kebenaran', padahal itu kata-kata Allah sendiri!". Di dalam syairnya, MatsnawiRumi mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir'aunadalah kezaliman."[10]

2.      Pemikiran Al-Hallaj
Tasawuf dalam perkembangannya memiliki dua corak yang bisa kita bedakan dari pemikiran-pemikiran dan ritual (suluk) para pendiri atau musyidnya. Corak dari Tasawuf yang pertama adalah corak falsafi, yaitu, pemikiran dan ajaran sufistik yang banyak terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran yunani, persia, india serta teologi kristen. Yang dimaksud pengaruh di sini adalah hanya dalam aspek metodologinya saja, tidak sampai ddalam tataran ajaran-ajaranya, walaupun ada sebagian yang diduga memiliki pengaruh dalan ajaran. Corak falsafi lebih banyak mengunakan simbol-simbol khusus atau alegoris yang sulit dipahami orang umum. Salah satu dari tokoh Tasawuf ini adalah   Husain ibn Mansur al-Hallaj (w.922 M).[11]
Adapun corak yang kedua adalah Tasawuf sunni, yaitu pemikiran dan ajaran Tasawuf yang lebih mengedepankan dhohir dari al-Qur’an dan Hadist dengan membatasi dan memberikan aturan-aturan yang ketat terhadap pengunaan ma’na-ma’na alegoris, serta menyatukan antara ajaran Islam yang bersifat eksternal dengan ajaran internal. Tokoh dari corak Tasawuf ini seperti  abu Hamid al-Ghozali (w.1112 M) dan al-Harist al-Muhasibi (w. 858).[12]
Tahun 913M adalah titik balik bagi jiwa spiritualnya. Pada 912M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk beberapa kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran atau mencapai tahap wushul.[13] Di akhir 913M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran Al-Haqq. Di saat inilah ia mengucapkan, "Akulah Kebenaran" dalam keadaan ekstase.
Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadi "hewan kurban". Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia.
Inti ajaran Hallaj adalah Hulul yaitu Ketuhanan lahut yang menjelma ke dalam diri insan nasut. Dalam pandangan Hallaj hidup kebatinan insan yang suci akan naik tingkat hidupnya dari satu maqam ke maqam lain. Misalnya: muslim, mu'min, salihin, muqarrabin. Karena manusia adalah tiupan ruh lahut sebagaimana firman allah:
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ ……..
Kemudian ia menyempurnakannyaa (penciptaan manusia) dan meniupkan ruhNya, serta mrnjadikan pendengaran, penglihatan, dan perasaan atas kalian…….
 Sehingga ketika mencapai tingkat muqarrabin, menurut dia, sampailah di puncak sehingga bersatu dengan Tuhan. Sifat persatuan itu antara lain diibaratkan bagai persatuan khamar dengan air. Konsep ini bermuara pada Ana al-Haqq, karena kebenaran itu salah satu asma Allah SWT. Al-Haqq sendiri dalam ilmu tasawuf berarti Tuhan. Inilah penggalan syairnya:
‘Telah bercampur roh-Mu dan rohku Laksana bercampurnya khamar dengan air yang jernih
Bila menyentuh akan-Mu sesuatu, tersentuhlah Aku Sebab itu, Engkau adalah Aku, dalam segala hal’.[14]
Hulul tak lepas dari konsep Hallaj yang lain, al-haqiqatu al-Muhammadiyah atau Nur Muhammad sebagai asal-usul segala kejadian amal perbuatan dan ilmu pengetahuan, dan dengan seluruh perantaraaNyalah seluruh alam ini dijadikan. Dia juga menyodorkan konsep tentang kesatuan segala agama.  
Ajaran-ajaran Hallaj sangat berpengaruh terhadap tasawuf dan para sufi yang hadir berikutnya. Susahlah untuk memisahkan ajaran tasawuf sesudah Hallaj daripada faham wihdatul wujud (pantheisme). Hallaj pun disebutnya telah memuluskan jalan bagi kedatangan Ibnu 'Arabi sang pengusung ajaran wihdatul wujud, Ibnu Faridh, Jalaluddin Rumi, Al-Jami, Suhrawardy, dan Ibnu Sab'in.
Tudingan bahwa Al-Hallaj penganut Wahdatul Wujud semata juga karena tidak memahami wahana puncak-puncak ruhani Al-Hallaj sebagaimana dialami oleh para Sufi. Banyak sekali wacana Tasawuf yang mirip dengan Al-Hallaj. Dan Al-Hallaj tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah Allah sebagaimana pengakuan Fir’aun dirinya adalah Tuhan. Dalam sejumlah wacananya, Al-Hallaj senantiasa menyatakan dirinya adalah seorang hamba yang hina dan fakir. Apa yang ditampakkan oleh Al-Hallaj adalah situasi dimana wahana ruhaninya menjadi dominan, sehingga kesadarannya hilang, sebagaimana mereka yang sedang jatuh cinta di puncaknya, atau mereka yang sedang terkejut dalam waktu yang lama. Toh Al-Hallaj tetap berpijak pada pandangan Al-Fana’, Fana’ul Fana’ dan al-Baqa’, sebagaimana dalam wacana-wacana Sufi lainnya.

3.      Kontroversi Pemikiran Al-Hallaj
Di dunia sufisme, Husin Ibnu Mansur Al-Hallaj  adalah fenomena tersendiri. Perjalanan hidupnya seperti Imam Al-Ghazali, sang hujjatul Islam itu, penuh warna, mengalami pelbagai gejolak dan perubahan, serta dinamik secara intelektual. Ana al-Haqq, Akulah Kebenaran, adalah label munajat utama spiritual Al-Hallaj. Ekspresi personal yang tegas, tanpa ambiguitas dan apologi itu, membuahkan kutukan atas dirinya sekaligus menumbuhkan kejayaan kesyahidannya. Al-Hallaj memang cermin perjuangan hebat ulama tasawuf menghadapi ulama fikih. Berbagai kontroversi mengiringi perjalanan hayatnya.
Pengembaraan panjang membentuk pribadi dan pandangan hidup Hallaj. Pada usia 53 tahun namanya pun menjadi buah bibir di kalangan ulama fikih. Mereka menilai sesat pandangan tasawuf Hallaj. Penguasa saat itu pun memandang ajaran Hallaj membahayakan ketenteraman umum. Ulama fikih terkenal, Ibnu Daud Al-Isfahani, lalu mengeluarkan fatwa untuk membantah dan menolak ajaran-ajaran Hallaj.
Pada akhirnya Al-Hallaj dipenjara selama hampir sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Baghdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.
Padahal dalam seluruh pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.Para pengkritik yang kontra Al-Hallaj, menurut Kiai Abdul Ghafur, Sufi kontemporer dewasa ini, melihat hakikat hanya dari luar saja. Sedangkan Al-Hallaj melihatnya dari dalam.
Seorang sufi agung muncul pada pertengahan abad XI, yakni Abu Hamid Al-Ghazali (450-550 H). Dengan kecerdasan dan jiwa besarnya, Hujjatul Islam Al-Ghazali mampu mempertemukan kembali ilmu lahir dengan ilmu batin, fikih dengan tasawuf, dan juga filsafat. Dia hidup pada zaman Nizamul Mulk, Wazir Besar Kerajaan Bani Saljuk, yang mendirikan sekolah-sekolah tinggi untuk memperdalam penyelidkan agama dan perkembangannya. Dr Zwemmer, pakar penelitian Protestan, memuji tinggi Ghazali. Katanya: setelah Nabi Muhammad SAW datanglah dua orang besar untuk menyempurnakan agamanya. Pertama, Imam Bukhari yang mengumpulkan Hadisnya dan kedua Al Ghazali yang menguraikan fahamnya.[15]


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Menurut al-Sulami, manusia akan menjadi hamba ('abd) sejati kalau dia sudah bebas (hurr: merdeka) dari selain Tuhan. Kalau kehendak hati sudah menyatu dengan kehendak Allah, maka apa saja yang dipilih Allah untuknya, hati akan menerima tanpa menentang sedikitpun (qana'ah). Dia juga berpendapat bahwa perbandingan antara dzikir dan fakir adalah lebih sempurna fakir, karena kebenaran (al-haq) itu diberitakan oleh dzikir bukan oleh fakir dalam proses pembukaan kerohanian.
Ajaran al hallaj yang lebih menekankan aspek esoteris, adalah sebagai tahapan awal dari jalan seorang sufi yang secara idealnya tidak di konsumsi secara mentah-mentah. Ajaran ini memang sangat perlu untuk di pelajari bagi mereka yang yang telah menguasai beberapa keilmuan sastra arab untuk meningkatkan batiniyah, Karena Ungkapan-ungkapan yang digunakan lebih banyak mengunakan kata-kata esoteris.
Sebagai penutup, tentunya untuk saat ini kita harus lebih berhati-hati dalam melakukan penilaian terhadap suatu pemikiran dalam tasawuf, menjauhkan diri dari penilaian terhadap hal-hal yang tidak kita pelajari secara mendalam, adalah salah satu sifat orang yang cerdas.  

B.     Saran
Sebagai mahasiswa, hendaknya kita terus menggali ilmu keislaman dan mendalami Islam agar tidak mudah terjerumus kepada pemikiran-pemikiran yang sesat.


DAFTAR PUSTAKA

A. J. al-Berry, Tasawuf Versus Syari'at, Terj. Bambang Herawan. Jakarta: Hikmah, 2000.
Abu Hamid al-Ghozali. Catatan Pingir Ihya Ulumu Ad-Din Oleh Zabadi Tobanah Juz 2 . Surabaya: alhidayah. .
Asmaran, MA, Pengantar Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2003.
C.Ramli Bihar Anwar, Bertasawuf Tanpa Tarekat: Aura Tasawuf Positif. Jakarta: Penerbit IIMAN bekerjasama dengan Penerbit HIKMAH. 2002.
Ensiklopedi tematis dunia Islam Pemikiran Dan Peradapan. PT ihtiar baru van hoeve.
Gafna Raizha Wahyudi (Terj.), Warisan Sufi. Yogyakarta: Pustaka Sufi. 2002.
Kenneth Honerkamp, Abu Abdul Rahman al-Sulami, On Sama' ectasy and dance, (Jurnal of The History of Sufisme. 2003.
M. luqman hakim terj Roudhotu At-Tholibin Wa Umdatu As-Sholihin. Surabaya: Risalah gusti, 1997.
Rosihan Anwar dan  Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf. Bandung: CV.Pustaka Setia. 2000.
Sara Saviri, Demikianlah Kaum Sufi Berbicara, Terj. Ilyas Hasan. Bandung: Pustaka Hidayah, 2002.
Sayyid husain. William c. chittick. Leonard lewisohn. Warisan sufi . Jogjakarta: pustaka sufi, 2003.




[1] C.Ramli Bihar Anwar, Bertasawuf Tanpa Tarekat: Aura Tasawuf Positif, (Jakarta: Penerbit IIMAN bekerjasama dengan Penerbit HIKMAH, 2002), h. 47.

[2] Rosihan Anwar dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2000), h. 69.
[3] Kenneth Honerkamp, Abu Abdul Rahman al-Sulami, On Sama' ectasy and dance, (Jurnal of The History of Sufisme, 2003), h. 2.
[4] Ibid, 2
[5] Sara Saviri, Demikianlah Kaum Sufi Berbicara, Terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002),  h. 23.
[6] Ibid, 171.
[7] Asmaran, MA, Pengantar Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003),  h. 258.
[8] Gafna Raizha Wahyudi (Terj.), Warisan Sufi, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002), h. 73.
[9] A. J. al-Berry, Tasawuf Versus Syari'at, Terj. Bambang Herawan, (Jakarta: Hikmah, 2000), h. 94.
[10] Sayyid husain. William c. chittick. Leonard lewisohn. Warisan sufi , (Jogjakarta: pustaka sufi, 2003),  h. 161.
[11] abu Hamid al-Ghozali. Catatan Pingir Ihya Ulumu Ad-Din Oleh Zabadi Tobanah Juz 2 (Surabaya: alhidayah), h.  257 .
[12] Ensiklopedi tematis dunia Islam ”Pemikiran Dan Peradapan. (PT ihtiar baru van hoeve.tt ), h. 152. 
[13] M. luqman hakim terj Roudhotu At-Tholibin Wa Umdatu As-Sholihin, (Surabaya: Risalah gusti, 1997) , h. 32.
[14] Sayyid husain. William c. chittick. Leonard lewisohn. Op.Cit. h. 466.
[15] M. luqman hakim op.cit hal 55

1 comment:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com