Thursday, 2 October 2014

MAKALAH TAFSIR AYAT-AYAT DAKWAH SURAT HUD AYAT 116



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Surat hud berasal dari kata “hud” atau nabi hud. Surat hud merupakan surat yang ke11 di dalam Al Qur’an. Surat hud termasuk gulongan surat makkiyah karena surat hud di turunkan di kota mekkah. Surat hud terdiri dari 123 ayat dan diturunkan sesudah surat yunus. Dinamakan surat hud karena berhubungan dengan kisah nabi hud dan para kaumnya. Pada surat hud juga terdapat kisah-kisah nabi yang lainnya seperti kisah Nabi Nuh a.s, Nabi Sholeh a.s, Nabi Ibrahim a.s, Nabi Luth a.s, Nabi syu’aib a.s, dan Nabi musa a.s.
Adapun pokok-pokok isi dari surat hud yaitu dijelaskan sebagai berikut : Pokok-pokok isi. 1. Keimanan: Adanya 'Arsy Allah; kejadian alam dalam 6 tahap; adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat. 2. Hukum-hukum: Agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan; tidak boleh berlaku sombong; tidak boleh mendoa atau mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah. 3. Kisah-kisah: Kisah Nuh a.s. dan kaumnya; kisah Huud a.s. dan kaumnya; kisah Shaleh a.s. dan kaumnya; kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya; kisah Syu'aib a.s. dan kaumnya; kisah Luth a.s. dan kaumnya; kisah Musa a.s. dan kaumnya. 4. Dan lain-lain: Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi; air sumber segala kehidupan; sholat merupakan untuk memperkuat iman : sunnah Allah swt yang berhubungan dengan kebinasaan suatu kaum.
Di dalam Surat Hud mengandung ayat-ayat dakwah pula yang memerintahkan manusia untuk beramar ma’ruf dan bernahi mungkar seperti dalam ayat 116 yang akan dibahas dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Surat Hud ayat 116 dan Terjemahannya
2.      Tafsir Surat Hud ayat 116

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Surat Hud Ayat 116 dan Terjemahannya

Ÿwöqn=sù tb%x. z`ÏB Èbrãà)ø9$# `ÏB ôMä3Î=ö6s% (#qä9'ré& 7p¨ŠÉ)t/ šcöqpk÷]tƒ Ç`tã ÏŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# žwÎ) WxŠÎ=s% ô`£JÏiB $uZøŠpgUr& óOßg÷YÏB 3 yìt7¨?$#ur šúïÏ%©!$# (#qßJn=sß !$tB (#qèù̍ø?é& ÏmÏù (#qçR%x.ur šúüÏB̍øgèC ÇÊÊÏÈ
Artinya:Maka Mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang Telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim Hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”. (Q.S Huud : 116)

B.     Tafsir Surat Hud Ayat 116
Ÿwöqn=sù tb%x. z`ÏB Èbrãà)ø9$# `ÏB ôMä3Î=ö6s% (#qä9'ré& 7p¨ŠÉ)t/ šcöqpk÷]tƒ Ç`tã ÏŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# žwÎ) WxŠÎ=s% ô`£JÏiB $uZøŠpgUr& óOßg÷YÏB 3 yìt7¨?$#ur šúïÏ%©!$# (#qßJn=sß !$tB (#qèù̍ø?é& ÏmÏù (#qçR%x.ur šúüÏB̍øgèC ÇÊÊÏÈ
Artinya:Maka Mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang Telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim Hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”. (Q.S Huud : 116)

Allah SWT berfirman, apakah tidak terdapat di antara umat-umat terdahulu, sisa orang-orang baik yang melarang perbuatan-perbuatan jahat, mungkar, dan kerusuhan di atas bumi. Hanya sedikit sekali orang-orang yang demikian itu, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan oleh Allah SWT dari murka-Nya dan pembalasann-Nya tatkala jatuh di atas umat yang dzalim itu. Karena itu Allah memerintahkan di antara umat Muhammad yang berbahagia ini terdapat golongan atau kelompok yang melakukan tugas dan kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar, sebagaimana firman-Nya:
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:
“Jika orang-orang melihat perbuatan mungkar, tidak bertindak mencegahnya atau merusaknya, maka nyarislah azab Allah akan menimpa mereka semuanya”
Allah berfirman bahwa orang-orang yang zalim itu mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan berkelanjutan melakukan maksiat dan perbuatan-perbuatan mungkar sehingga tibalah azab Allah di atas mereka yang berdosa itu. Dan Allah sekali-kali tidak membinasakan umat atau penduduk suatu negeri melainkan karena kezaliman dan perbuatan buruk mereka sendiri. Dan sekali-kali tidak akan binasa suatu negeri jika penduduknya termasuk orang-orang yang baik dan saleh.[1]
Isyarat Ini mengungkap suatu sunnah Allah pada umat-umat itu. Maka, umat yang terjadi kerusakan di kalangan mereka dengan memperhamba manusia untuk  selain Allah, dalam bentuk apapun, lalu ada orang yang bangkit untuk menolaknya maka umat itu adalah umat yang selamat, yang tidak akan diazab oleh Allah dengan di hancurkan. Sedangkan umat-umat yang orang-orang zalimnya berbuat kezaliman dan orang-orang yang rusak berbuat kerusakan, dengan tidak ada seorang pun yang bangkit mencegah kezaliman dan kerusakan itu maka sunnah Allah akan berlaku pada negeri itu, mungkin dihancurkan-Nya habis-habisan. Dan mungkin di hukum dengan menimbulkan kerusakan dan kekacauan.
Maka, orang-orang yang menyeru kepada rububiyah Allah saja dan membersihkan bumi (negeri) dari kerusakan yang disebabkan oleh sikap keberagaman kepada selain Allah, maka mereka itulah pagar-pagar keamanan bagi umat dan bangsa. Inilah nilai perjuangan yang hendak menegakkan rububiyah hanya untuk Allah Yang Maha Esa saja, yangberdiri tegak menghadapi kezaliman dan kerusakan dengan segala bentuknya. Mereka tidak hanya menunaikan kewajibannya kepada Tuhannya dan kepada agamanya. Tetapi, dengan usaha dan perjuangannya ini mereka menghalangi umatnya dari kemurkaan Allah dan dari hukuman dan siksaan-Nya.[2]
Pada ayat ini Allah swt. menyatakan celaan-Nya kepada orang-orang pintar, cerdik pandai yang tidak melarang orang-orang sesamanya berbuat kerusakan di muka bumi, padahal akal yang sehat, pikiran yang cerdas yang dimiliki mereka itu cukup untuk dapat mengerti dan memahami kebaikan yang diserukan oleh para Rasul itu. Hanya sedikit saja di antara mereka yang mempergunakan akal sihatnya, pikiran dan kecerdasannya untuk melarang berbuat yang mungkar, menyuruh berbuat yang baik, maka mereka yang sedikit itulah yang diselamatkan oleh Allah swt.
Orang-orang yang cerdik pandai yang lalim dahulu itu, lebih mementingkan kemewahan dan kesenangan yang berlebih-lebihan yang menyebabkan mereka itu menjadi sombong, takabur dan fasik. Ajakan Rasul kepada kebaikan ditentangnya, bahkan mereka berbuat sebaliknya. Kejahatan diperkembang, tidak ada seorangpun di antara mereka yang melarang orang lain berbuat yang mungkar. Oleh karena dosa yang diperbuat mereka itu sudah terlalu berat, maka binasa dan hancur-leburlah mereka itu. Sesuai dengan firman Allah swt.:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Artinya: 
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku kepadanya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya(Q.S. Al-Isra': 16)[3]


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ayat 116 dalam surat Hud ini memberikan kita penegasan tentang pentingnya beramar ma’ruf dan bernahimungkar. Sebab dengan adanya segolongan umat yang melarang dan mencegah timbulanya kekacauan dan kerusakan di muka bumi, secara tidak langsung mereka telah turut menyelamatkan bumi dari kehancuran akan murka Allah SWT.
Dalam ayat ini juga mengisyaratkan agar kita sebagai umat manusia harus peduli pada orang-orang disekitar kita. Kita tidak boleh lalai dalam mengingatkan umat dari perbuatan-perbuatan yang dilarang dan dibenci Allah.

B.     Saran
Sebagai mahasiswa, kita harus lebih peduli pada lingkungan sekitar dengan melarang perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah agar Allah tidak menurunkan murka-Nya ke muka bumi ini.


 DAFTAR PUSTAKA

Katsir, Ibnu. Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir. Surabaya: Bina Ilmu.
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Dibawah Naungan Al-Qur’an Jilid 6. Jakarta: Gema Insani Press. 2003.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Huud 111




[1] Ibnu Katsir, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir, (Surabaya: Bina Ilmu, 1988), hlm. 342-343.
[2] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Dibawah Naungan Al-Qur’an Jilid 6, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm. 284-285).
[3]   Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Huud 111

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com