Friday, 3 October 2014

SALAH PILIH JURUSAN

MEMASUKI JURUSAN YANG TIDAK SESUAI

A.  PEMBAHASAN
Menentukan jurusan kuliah termasuk salah satu keputusan besar dalam kehidupan seseorang. Pasalnya, keputusan tersebut biasanya berpengaruh besar bagi perjalanan karier dan masa depan seseorang.
Mempelajari sesuatu yang tidak sesuai minat, bakat dan kemampuan, merupakan pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan, apalagi kalau itu bukan kemauan / pilihan anak, tapi desakan orang tua. Belajar karena terpaksa itu akan sulit dicerna otak karena sudah ada blocking emosi. Kesal, marah, sebal, sedih, itu semua sudah memblokir efektivitas kerja otak dan menghambat motivasi. Memilih jurusan kuliah sesuai dengan saran teman atau trend, padahal tidak sesuai dengan minat diri juga punya dampak psikologis, yakni menurunnya daya tahan terhadap tekanan, konsentrasi dan menurunnya daya juang. Apalagi kalau pelajaran kian sulit, masalah semakin bertambah, bisa menyebabkan kuliah terancam terhenti di tengah jalan.
Problem akademis yang bisa terjadi jika salah mengambil jurusan kuliah yaitu, seperti prestasi yang tidak optimum, banyak mengulang mata kuliah yang berdampak bertambahnya waktu dan biaya, kesulitan memahami materi, kesulitan memecahkan persoalan, ketidakmampuan untuk mandiri dalam belajar, dan buntutnya adalah rendahnya nilai indeks prestasi. Selain itu, salah memilih jurusan kuliah bisa mempengaruhi motivasi belajar dan tingkat kehadiran. Kalau makin sering tidak masuk kuliah, makin sulit memahami materi, makin tidak suka dengan perkuliahannya akhirnya makin sering bolos. Padahal, tingkat kehadiran mempengaruhi nilai.
Salah memilih jurusan kuliah membuat anak tidak nyaman dan tidak percaya diri. Ia merasa tidak mampu menguasai materi perkuliahan sehingga ketika hasilnya tidak memuaskan, ia pun merasa minder karena merasa dirinya bodoh, dsb hingga dia menjaga jarak dengan teman lain, makin pendiam, menarik diri dari pergaulan, lebih senang mengurung diri di kamar, takut bergaul karena takut kekurangannya diketahui, dsb. Atau, anak bisa jadi agresif karena kompensasi dari inferioritas di pelajaran. Karena dia merasa kurang di pelajaran, maka dia berusaha tampil hebat di lingkungan sosial dengan cara misal, mendominasi, mengintimidasi anak yang dianggap lebih pandai, dan sebagainya.
Berikut adalah salah satu contoh kasus salah memilih jurusan di Perguruan Tinggi.

Akibat Salah Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi

Memilih jurusan di perguruan tinggi sering diwarnai alasan-alasan pragmatis. Mudah mendapat pekerjaan, uang, atau imej merupakan alasan-alasan yang dominan. Itu saya alami ketika mau kuliah. Saya memilih jurusan yang tidak sesuai dengan kepribadian saya. ketika masih di SMA, saya tidak memahami pentingnya relasi antara bakat dan pemilihan jurusan. Tidak ada informasi dari guru ataupun orang tua pentingnya mengambil jurusan sesuai bakat. Yang terlintas dalam pikiran adalah bagaimana agar punya gelar dan bisa kerja. Bagi orang tua saya pun- itu sudah cukup.
Tahun 1982, saya berangkat ke Jakarta dengan naik kapal laut Tampomas. Setelah tiba di Jakarta, besoknya saya langsung berangkat ke Bandung untuk mengikuti ujian PERINTIS I, sebutan untuk ujian saringan masuk ke perguruan tinggi kelompok I (USU, UI, IPB, ITB, UNPAD, UGM, UNBRAW, ITS) pada waktu itu.
Ditemani oleh kenalan yang sudah dua tahun di Bandung, saya mengisi formulir pendaftaran ujian PERINTIS I. Saya tidak ragu memilih Teknik Elektro sebagai pilihan pertama, tetapi tidak punya opsi untuk pilihan kedua. Setengah jam saya mempertimbangkan pilihan kedua, tetapi tidak ada opsi yang saya kenal dan menarik. 
Kenalan saya memberi beberapa usulan. Ia menawarkan jurusan Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Kimia, Teknik Pertambangan dan Geologi. Semuanya saya tolak. Saya menolak jurusan Teknik Mesin karena takut tidak lulus. Ranking jurusan Teknik Mesin hampir sama dengan jurusan Elektro pada waktu itu. Bila gagal di jurusan Teknik Elektro, kemungkinan besar akan gagal juga di jurusan Teknik Mesin.
Saya menolak Teknik Industri karena jurusan ini menawarkan mata kuliah ekonomi, topik yang tidak saya sukai di SMA. Jurusan Teknik Kimia juga saya tolak karena kapok dengan pelajaran Kimia Karbon di kelas III SMA. Jurusan Teknik Pertambangan dan Geologi saya tolak karena tidak pernah mendengar jurusan-jurusan ini.
Kenalan saya menawarkan usulan terakhir. "Bagaimana kalau jurusan Teknik Perminyakan?" "Jurusan ini tentang apa?" tanya saya. "Kalau lulus dari Teknik Perminyakan uangnya banyak." sahutnya. Langsung saya katakan, "Ini saja." Saya pun memilih jurusan Teknik Perminyakan sebagai pilihan kedua.
Beberapa waktu kemudian, hasil ujian PERINTIS I diumumkan. Ketika saya baca hasilnya di koran, nama saya tidak muncul di jurusan teknik Elektro, tetapi muncul di jurusan Teknik Perminyakan ITB. Saya sangat senang.
Hanya dua bulan saya menikmati kuliah di Teknik Perminyakan. Setelah itu, minat kuliah sirna. Minat semakin memudar mendengar info bahwa untuk lulus dari jurusan ini butuh waktu minimal 8 tahun. Anehnya, dalam keadaan begitu, ada tawaran beasiswa dari PERTAMINA. Singkat kata, saya diterima, tapi harus di jurusan yang sama. Saya berpikir pendek. "Dari pada  8 tahun kuliah, lebih baik kuliah dengan waktu yang lebih singkat," Begitu pikirku. Saya terpaksa kuliah di jurusan yang tidak sukai sampai selesai studi di luar negeri.
Setelah lulus kuliah, saya diterima bekerja di Marathon Petroleum Indonesia Ltd. Saya ditugaskan di Departemen Engineering. Namun, hanya tiga saya punya gairah kerja. Kinerja tidak begitu menonjol. Delapan tahun saya 'mengembara di padang pasir', mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat.
Pada tahun 1996, saya meminta agar dipindahkan ke bagian Sumber Daya Manusia (SDM), pekerjaan yang sudah saya pertimbangkan sejak mulai kerja. Menejemen menyetujui permohonan saya. Gairah kerja mulai muncul sekalipun tidak semulus yang saya harapkan. Sampai hari ini pemikiran mengerjakan pekerjaan sesuai bakat terus tertanam dalam pikiran saya

Renungan:                                               
·         Bila Anda ingin kuliah, pilihlah jurusan yang sesuai dengan bakat Anda. Ini jadi bekal untuk memilih pekerjaan sesuai dengan bakat. Hindari memilih jurusan karena alasan uang atau mudah-mendapat-kerja.
·         Bila Anda telah mengambil jurusan yang salah, pertimbangkanlah untuk mengganti jurusan.
·         Bila sudah bekerja dan kinrja tidak begitu menonjol, pertimbangkanlah untuk mengganti pekerjaan. Ambillah langkah-langkah untuk memilih pekerjaan sesuai bakat Anda.


B.  WAWANCARA DENGAN NARA SUMBER
1.      Nama          : Masnur
Umur          : 21 tahun
Status          : Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa
1)      Apakah anda sudah berada di jurusan yang benar-benar anda minati?
Jawab: Ya.
2)      Bagaimana perkembangan studi anda sejauh ini?
Jawab: Baik dan lancar.
3)      Bagaimana cara anda memilih jurusan ini?
Jawab: Sejak saya SMA, saya sudah menemukan bakat saya dalam bidang bahasa Inggris dan mencari informasi mengenai jurusan ini, sebingga jurusan ini benar-benar cocok dengan bakat dan minat saya.
4)      Apakah yang mendorong anda untuk memilih jurusan ini?
Jawab: Saya ingin bisa berbicara dan menjalin hubungan dengan orang-orang dari belahan bumi lain melalui bahasa inggris, bahasa dunia. Dan saya berharap, bahasa Inggris yang saya pelajari sekarang dapat membantu membukakan kesempatan bagi saya untuk memasuki dunia kerja.
5)      Apakah jurusan dimana anda sekarang berada membantu anda untuk menggapai cita-cita anda?
Jawab: Tentu.

2.      Nama          : Mutia Delvi
Umur          : 20 tahun
Status          : Mahasiswi Prodi Muamalah STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa
1)      Apakah anda sudah berada di jurusan yang benar-benar anda minati?
Jawab: Tidak.
2)      Bagaimana perkembangan studi anda sejauh ini?
Jawab: Sampai saat ini berjalan lancar. Namun saya mengalami banyak kesulitan karena jurusan yang saya ambil menuntut saya untuk lebih banyak menguasai ilmu keagamaan dan ilmu ekonomi, sementara saya berlatar belakang berasal dari SMA biasa yang minim pelajaran agamanya. Namun saya tetap berusaha sebaik mungkin untuk belajar dan mengejar ketertinggalan saya.
3)      Bagaimana cara anda memilih jurusan ini?
Jawab: Jurusan ini adalah pilihan orang tua saya.
4)      Apakah yang mendorong anda untuk memilih jurusan ini?
Jawab: Orang tua dan kerabat saya memiliki banyak pertimbangan bahwa peluang kerja akan lebih terbuka lebar bagi saya bila memilih jurusan ini dibandingkan dengan jurusan keguruan.
5)      Apakah jurusan dimana anda sekarang berada membantu anda untuk menggapai cita-cita anda?
Jawab: Sebenarnya tidak, cita-cita saya, dan dimana saya sekarang berada, sangat jauh berbeda, namun saya akan menyesuaikannya dan berusaha menyukainya.


3.      Nama          : Wanda Darmawan
Umur          : 19 tahun
Status          : Mahasiswa Pendidikan Matematika STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa
1)    Apakah anda sudah berada di jurusan yang benar-benar anda minati?
Jawab: Ya.
2)    Bagaimana perkembangan studi anda sejauh ini?
Jawab: Baik.
3)    Bagaimana cara anda memilih jurusan ini?
Jawab: Saya telah merencanakannya sejak SMA dan ketika mengikuti tes, dari sejumlah pilihan, saya masuk ke Matematika, yang memang merupakan jurusan yang saya minati.
4)    Apakah yang mendorong anda untuk memilih jurusan ini?
Jawab: Karena saya ingin menjadi seorang guru matematika, oleh karena itu saya memilih jurusan ini.
5)    Apakah jurusan dimana anda sekarang berada membantu anda untuk menggapai cita-cita anda?
Jawab: Ya.

C.  SOLUSI
Memilih jurusan kuliah pada dasarnya merupakan sebuah proses yang sudah dimulai sejak masa anak-anak. Kesempatan, stimulasi, pengalaman apa saja yang diberikan pada anak sejak kecil secara optimum dan konsisten, itu akan menjadi bekal, modal dan fondasi minat dan bakatnya. Makin banyak dan luas exposure-nya, makin anak tahu banyak tentang dirinya, tapi makin sedikit exposure nya, makin sedikit juga pengetahuan anak tentang dirinya. Menurut Gunadi et al, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan jurusan agar jurusan yang dipilih tepat, yaitu:
1.      Mencari informasi secara detil mengenai jurusan yang diminati. Sebelum memilih jurusan, hendaknya anak punya informasi yang luas dan detil, mulai dari ilmunya, mata kuliahnya, praktek lapangan, dosen, universitasnya, komunitas sosialnya, kegiatan kampusnya, biaya, alternative profesi kerja, kualitas alumninya, dan sebagainya.
2.      Menyadari bahwa jurusan yang dipilih hanya merupakan salah satu anak tangga awal dari dari proses pencapaian karir. Anak perlu tahu realitanya, bahwa jurusan yang dipilih tidak menjamin kesuksesan masa depannya. Jangan dikira bahwa dengan kuliah di jurusan tersebut maka hidupnya kelak past sukses seperti yang di iklankan.
3.      Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan kemampuan dan minat siswa yang bersangkutan. Jika seorang siswa memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan minatnya, maka dirinya akan mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama kuliah, namun jika dirinya tidak memiliki kemampuan dan minat dalam jurusan yang dipilih, bisa mempengaruhi  motivasi belajar seperti yang telah dijelaskan di atas.
4.      Berpikiran jauh ke depan melihat konsekuensi dari setiap pilihan, apakah mampu menjaga komitmen dan konsekuensi kerja sebagai akibat dari pilihan itu? Di setiap pilihan pasti ada konsekuensi profesi, jangan sampai ingin punya status tapi tidak ingin menjalani konsekuensinya. Jangan sampai ingin jadi dokter tapi tidak siap mendapatkan panggilan mendadak tengah malam dari pasiennya; ingin jadi tentara tapi takut berperang; ingin jadi guru tetapi tidak sabar / tidak senang disuruh menghadapi anak murid. Jadi, kalau sudah punya cita-cita, siapkan mental, fisik dan komitmen untuk mau belajar menghadapi tantangannya.
5.      Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan cita-cita anak. Setiap anak pasti memiliki cita-cita. Jika anak bercita-cita menjadi psikolog maka sebaiknya memilih jurusan psikologi bukan jurusan sosiologi atau yang lainnya. Jika ingin menjadi dokter, ya harus mengambil kuliah kedokteran. Pelajari bidang studi yang mempunyai beberapa proses. Misalnya, anak kelak ingin menjadi dokter bedah, maka terlebih dahulu harus menjalani kuliah di kedokteran umum.
6.      Menyiapkan beberapa alternatif. Alangkah baiknya jika anak memiliki lebih dari satu alternative untuk menjaga jika dirinya tidak masuk di alternative pertama, maka masih ada kesempatan di alternative berikutnya. Pemilihan alternative studi harus pun diupayakan yang masih sesuai dengan minat dan kemampuan anak, bukan karena pilihan yang paling besar kemungkinan diterima padahal tidak sesuai minat.
Kuliah membutuhkan banyak biaya dan waktu yang tidak sebentar. Maka, selagi masih belum terlanjur, memilih jurusan kuliah harus memang benar-benar tepat untuk anda, jangan sampai nantinya putus ditengah jalan.


1 comment:

  1. Sangat membantu gan, izin copas dan terimakasih atas infonya.

    ReplyDelete

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com