Thursday, 2 October 2014

MAKALAH TEKHNIK EVALUASI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Evaluasi merupakan proses yang menetukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dicapai. Defenisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan suatu proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambilan keputusan.
Dalam evaluasi selalu mengandung proses. Proses evaluasi harus tepat terhadap tipe tujuan yang biasanya dinyatakan dalam bahasa perilaku. Dikarenakan tidak semua perilaku dapat dinyatakan dengan alat evaluasi yang sama, maka evaluasi menjadi salah satu hal yang sulit dan menantang, yang harus disadari oleh para guru.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 Ayat (1), evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, diantaranya terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan.[1]

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Evaluasi Pendidikan?
2.      Bagaimana Evaluasi Tekhnik Tes?
3.      Bagaimana Evaluasi Tekhnik Non Tes?



                                                                             BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian dari proses belajar mengajar yang secara keseluruhan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar. Evaluasi merupakan proses penilaian pertumbuhan siswa dalam proses belajar mengajar. Pencapaian perkembangan siswa perlu diukur, baik posisi siswa sebagai individu maupun posisinya didalam kegiatan kelompok. Hal yang demikian perlu disadari oleh guru karena pada umumnya siswa masuk kelas dengan kemampuan yang bervariasi.
Kegiatan evaluasi dapat mencakup deskripsi tingkah laku, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantutatif dilemgkapi dengan pengukuran, yang digunakan untuk menetukan perkembangan dan pertumbuhan siswa. Di samping itu, evaluasi kualitatif juga diperlukan untuk menempatkan posisi seorang siswa dalam kelompok atau kelasnya.[2]
Evaluasi minimal mempunyai tujuh prinsip yaitu:
1.      Terpadu,
2.      Menganut cara belajar siswa aktif,
3.      Kontinuitas,
4.      Koherensi dan tujuan,
5.      Menyeluruh,
6.      Membedakan (diskriminasi),
7.      Pedagogis.[3]
Evaluasi atau disebut juga tekhnik penilaian. Istilah tekhnik diartikan sebagai “alat”. Jadi, dalam istilah tekhnik evaluasi hasil belajar mengandung arti alat-alat (yang digunakan dalam rangka melakukan) evaluasi hasil belajar. Dalam konteks evaluasi hasil belajar, dikenal adanya dua macam tekhnik, yaitu tekhnik tes dan tekhnik non tes. Dengan tekhnik tes, maka evaluasi hasil belajar itu dilakukan dengan jalan menguji peserta didik. Sebaliknya, dengan tekhnik non tes maka evaluasi hasil belajar dilakukan tanpa menguji peserta didik.

B.     Tekhnik Tes
1.      Pengertian Tes
Tes secara harfiah berasal dari bahasa perncis kuno “testum” artinya piring untuk menisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian tugas berupa pertanyaan atau latihan atau perintah-perintah yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok.[4]
Ada beberapa istilah yang memrlukan penjelasan sehubungan dengan uraian di atas, yaitu istilah tes, testing, tester, dan testee yang masing-masing punya pengertian berbeda. Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Testing berarti saat yang dilaksanakan atau peristiwa berlangsungnya pengukuran atau penilaian. Tester berarti orang yang melaksanakan tes atau pembuat tes atau eksperimentor (orang yang melakukan percobaan), sedangkan testee (mufrad) atau testees (jamak) adalah pihak yang sedang dikenai tes (peserta tes, peserta ujian) atau pihak yang dikenai percobaan (tercoba).
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada dalam seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan objek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan instruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.
Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes minimal mempunyai dua fungsi yaitu:
1)      Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu. Artinya tes sebagai alat ukur keberhasilan program belajar, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan tersebut telah dapat dicapai.
2)      Untuk menetukan kedudukan-kedudukan atau peringkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu. Artinya, tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka mempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
Suatu tes dapat dikatakan baik bila tes tersebut memiliki persyaratan yang didasarkan atas dua hal, yaitu:
a)      Menyangkut mutu tes
Seorang guru dalam menyusun sebuah tes harus sejelas mungkin dan secermat mungkin agar testee dapat menjawab dengan baik.
b)      Menyangkut penadministrasian dalam pelaksanaan.
Sebuah tes yang disusun oleh guru dengan baik, maka yang tinggal diperhatikan adalah administriasi dalam pelaksanaannya, baik waktu, tempat, nilai, dan biaya. Walaupun dalam melaksanakan tes sudah diusahakan mengikuti aturan tentang suasana, cara, prosedur, yang telah ditentukan namun tes itu sendiri mengandung kelemahan-kelemahan antara lain:
a.    Dapat menyinggung pribadi seseorang karena jika seorang siswa mengikuti kompetensi yang pemilihannya melalui tes, mau tidak mau tentu ada pihak-pihak yang harus dikalahkan dan tentu mereka itu akan tersinggung pribadinya.
b.    Tes menimbulkan kecemasan sehingga mempengaruhi hasil belajar yang murni.
c.    Tes mengkatagorikan siswa secara tetap.
d.   Tes tidak mendukung kecemasan dan daya kreasi siswa.
e.    Tes hanya mengukur aspek kognitif (pengetahuan).

2.      Fungsi Tes
Secara umum ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
a.       Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
b.      Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran sebab melaluai tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.

3.      Penggolongan Tes
Sebagai alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan, tergantung dari segi mana atau dengan apa penggolongan tes itu dilakukan.
a.       Penggolongan Tes Berdasarkan Fungsinya Sebagai Alat Pengukur Perkembangan, Kemajuan Belajar Peserta Didik.
Ditinjau dari segi fungsi yang dimiliki oleh tes sebagai alat pengukur perkembangan peserta didik, tes dapat dibedakan menjadi enam golongan, yaitu:
1.      Tes seleksi
Tes seleksi sering dikenal dengan istilah ujian saringan atau ujian masuk.
2.      Tes awal
Tes awal sering dikenal dengan istilah Pre test.
Fungsi pre test antara lain:
·         Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar.
·         Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan.
·         Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran.
·         Untuk mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai.[5]
3.      Tes akhir
Tes akhir sering disebut Post test.
Fungsi post test antara lain:
·         Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi dasar yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok.
·         Untuk mengetahui kompetensi dasar dan tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik.
·         Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remedial dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta untuk mengetahui tingkat kesulitan dalam mengerjakan modul (kesulitan belajar).
·         Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap komponen-komponen pembelajaran (modul) dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.[6]
4.      Tes diagnostik
Adalah tes yang dilaksanakan untuk menentukan secara cepat, jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu.
5.      Tes formatif
Adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk” (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan).
6.      Tes sumatif
Adalah tes hasil beklajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan.

b.      Penggolongan Tes Berdasarkan Aspek Psikis yang Ingin Diungkapkan
Ditilik dari segi aspek kejiwaan yang ingin diungkap, tes setidaknya dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:
1)      Tes intelegensi
Adalah tes yang dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
2)        Tes kemampuan
Adalah tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkapkan kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh testee.
3)      Tes sikap
Adalah salah satu jenis tes yang dipergunakan untuk mengungkap predisposisi atau kecendrungan seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun obyek-obyek tertentu.
4)      Tes kepribadian
Adalah tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkapkan ciri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriyah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi atau kesenangan, dan lain-lain.


5)      Tes hasil belajar
Adalah tes yang biasa digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi belajar.

c.       Penggolongan Lain-lain
Ditilik dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.       Tes individual, dimana tester hanya berhadapan dengan satu orang testee saja.
2.      Tes kelompok, dimana tester berhadapan dengan lebih dari satu orang testee.
Ditilik dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.      Power test, yakni tes dimana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi, dan ;
2.      Speed test, yakni tes dimana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi.
Ditilik dari segi bentuk reponnya, tas dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.      Verbal test, yakni suatu tes yang menghendaki respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun secara tulisan.
2.      Nonverbal test, yakni tes yang menghendaki respon (jawaban) dari testee bukan merupakan ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku; jadi respon yang dihendaki muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan tertentu.
Akhirnya, apabila ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawaban, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.      Tes tertulis, yakni jenis tes dimana tester dalam mengajukan butir-butir pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan testee memberikan jawaban juga secara tertulis.
2.      Tes lisan, yakni tes dimana tester didalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan, dan testee memberikan jawaban secara lisan pula.[7]

C.    Tekhnik Non Tes
1.      Pengertian Tekhnik Non Tes
Tekhnik penilaian non tes berarti melakukan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Tekhnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara berkelompok.[8]
Tekhnik ini hanya bersifat mendeskripsikan atau memberikan gambaran, hasilnya adalah suatu deskripsi atau gambaran. Terhadap gambaranr-gambaran yang diperoleh dapat dibuat interpelasi, penyimpulan-penyimpulan bahkan dengan kualifikasi tertentu. Untuk memudahkan pemahaman terhadap non tes akan dibahas beberapa jenis non tes, yaitu:

2.      Jenis Non Tes
a.      Kuesioner/Angket
Pada dasarnya kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden).[9]
b.      Wawancara/interview
Wawancara adalah suatu tekhnik penilaian yang dilakukan dengan jalan percakapan (dialog) baik secara langsung (face to face realition) secara langsung apabila wawancara itu dilakukan kepada orang lain misalnya kepada orang tuanya atau kepada temannya.


c.       Pengamatan/Observasi
Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakunya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang dijadikan sasaran pengamatan.[10]
Kelebihan pengamatan/observasi antara lain:
·         Data observasi itu diperoleh secara langsung di lapangan, yakni dengan jalan melihat dan mengamati kegiatan atau ekspresi peserta didik di dalam melakukan sesuatu sehingga dengan demikian data tersebut dapat lebih bersifat objektif dalam melukiskan aspek-aspek kepribadian peserta didik menurut keadaan yang senyatanya.
·         Data hasil observasi dapat mencakup berbagai aspek kepribadian masing-masing individu peserta didik, dengan demikian maka di dalam pengolahannya tidak berat sebelah atau hanya menekankan pada salah satu segi saja dari kecakapan atau prestasi belajar mereka.
       Adapun sisi kelemahannya antara lain:
·      Observasi sebagi salah satu alat evaluasi hasil belajar tidak selalu dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh para pengajar. Guru yang tidak atau kurang memiliki kecakapan atau keterampilan dalam melakukan observasi, maka hasil observasinya menjadi kurang dapat diyakini kebenarannya.
·      Kepribadian (personality) dari observer atau evaluator juga acap kali mewarnai atau menyelinap masuk ke dalam penilaian yang dilakukan dengan cara observasi. Prasangka-prasangka yang mungkin melekat pada diri observer dapat mengakibatkan sulit dipisahkannya secara tegas mengenai tingkah laku peserta didik yang diamatinya.
·      Data yang diperoleh dari kegiatan observasi umumnya baru dapat mengungkap “kulit luar” nya saja. Adapun apa-apa yang sesungguhnya terjadi di balik hasil pengamatan itu belum dapat diungkapkan secara tuntas hanya dengan melakukan observasi saja.[11]
d.      Pemeriksaan Dokumen/Documentary analisys
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau non-tes juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen: misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai riwayat hidup seseorang.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa tekhnik tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan instruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.
Sedangkan tekhnik penilaian non tes berarti melakukan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Tekhnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara berkelompok.

DAFTAR PUSTAKA

 Daryanto. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2001.
 Mulyasa. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2008.
 Slamela. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.1988.
 Slameto. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2001.
 Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2008.
 Sukardi. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Yogyakarta : Bumi Aksara.
 Sutomo, Tekhnik Penilaian Pendidikan. Surabaya: Bina Ilmu. 1985.
 http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17/evaluasi-pembelajaran/

[1] Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Yogyakarta : Bumi Aksara, 2008), h. 1.
[2] Sukardi, Op Cit, h. 2-3.
[3] Slameto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 16.
[5] Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h.217.
[6] Mulyasa, Op Cit, h. 218-219.
[7] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h. 67-75.
[8] Sutomo, Tekhnik Penilaian Pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1985), h. 25.
[9] Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), h. 30.
[10] Slamela, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), h. 134.
[11] Anas Sudijono, Op Cit, h. 81-82

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com