Thursday, 2 October 2014

MAKALAH STUDI TOKOH PENDIDIKAN: IKHWAN AL-SHAFA’



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sejak kekhalifahan Abbasiyah dipegang oleh al-Mutawakkil (232-247 H), cara pikir Mu’tazily (cara pikir rasional dalam mencari pengetahuan dan kebenaran) dan buku-buku yang berbau Mu’tazilah serta ilmu-ilmu sekuler, prafon, mulai disingkirkan. Sementara itu keyakinan tradisional mulai mendominasi masyarakat Islam
Pada masa ini muncullah sekelompok orang yang ingin menghidupkan kembali obor ilmu pengetahuan dengan mempelajari segala cabang ilmu pengetahuan, baik yang beredar di negeri Islam maupun ilmu-ilmu yang didatangkan dari India, Yunani, Persia dan Romawi, sebagai refleksi dari kejumudan dan fanatisme tersebut. Karena hilangnya kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat kala itu, maka kelompok yang akhirnya dikenal dengan nama Ikhwan al-Shafa ini menjadi gerakan bawah tanah. Mereka berkumpul, bertukar pikiran (mudzakarah) secara rahasia. Bahkan nama, juga dirahasiakan, untuk menghindarkan diri dari gangguan pihak penguasa.
Ikhwan al-Shafa menfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Dalam makalah ini akan sedikit menyibak tirai rahasia yang disimpan Ikhwan al-Shafa sebagai salah satu organisasi militan yang lebih suka merahasiakan dirinya. Melalui karya monumental, Rasail Ikhwan al-Shafa, kita mencoba mencari jejak-jejak pemikiran Ikhwan al-Shafa yang tertinggal untuk dicari hikmah dan pelajaran.

B.     Rumusan Masalah
1.      Biografi Ikhwan al-Shafa’
2.      Pemikiran Ikhwan al-Shafa’ Tentang Pemikiran Akhlak
3.      Metode Pendidikan Akhlak



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi Ikhwan al-Shafa’
Ikhwan al-Shafa’ adalah nama sekelompok pemikir Muslim rahasia (Filosiko Religius), berasal dari sekte si’ah Ismailiyyah yang lahir ditengah-tengah komunitas Sunni sekitar abad ke-4 H/10 M di Basrah.[1] Keberadaan kelompok ini tidak jelas karena mereka bersama para anggota merahasiakan diri dari aktivitas mereka. Kendati tidak jelas, risalah ensiklopedis yang mereka hasilkan, menurut Abu Hayyan al-Tauhidi (Wafat tahun 414/1023 M) dari data internal dalam risalah mereka, dapat disimpulkan berasal dari masa antara tahun 347 H/958 M  sampai tahun 373 H/983 M atau dari perempat abad ke-4 H. Pusat kegiatan mereka di kota Basrah, tetapi di Baghdad juga terdapat cabang dari kelompok rahasia itu.[2]Dari Bashrah, Ikhwan Al Safa terus berkembang ke berbagai daerah seperti Iran dan Quwait. Organisasi ini mengajarkan tentang dasar-dasar agama Islam yang didasarkan atas persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap saling mencintai sesama saudara muslim dan kepedulian yang tinggi terhadap orang muslim.[3] Semua anggota perkumpulan ini wajib menjadi guru dan muballigh bagi masyarakatnya.
Kalau dilihat dari literatur sejarah yang tidak dapat menjelaskan secara detail tentang keberadaan kelompok ini, dengan melihat kenyataan yang terjadi kala itu, kemungkinan besar bahwa kelompok ini sengaja menutup dirinya karena permasalahan yang terjadi. Melalui cara menutup diri, tujuan kelompok ini adalah untuk menyelamatkan masyarakat yang teracuni dengan masalah politik pemerintahan di kala itu. Kemudian untuk memperluas gerakannya, kelompok ini membelah diri untuk membentuk cabang-cabang serta mengajak para masyarakat yang berminat apada keilmuan dan kebenaran. Akan tetapi, kerahasiaan mereka tetap terjaga dan ditutupi. Mereka membagi empat tingkatan keanggotaan. Pertama, Ikhwan al-Abrar al-Ruhama’, yakni kelompok yang berusia 15-30 tahun yang memilik jiwa yang suci dan pikiran yang kuat. Mereka berstatus murid, untuk itu, dituntut tunduk dan patuhsecra sempurna kepada guru. Kedua, Ikhwan al-Akhyar wa al-Fudhala’, yakni kelompok yang berusia 30-40 tahun. Pada tingkatan ini mereka sudah mampu memelihara persaudaraan, pemurah, kasih sayang, dan bersiap berkorban demi persaudaraan (tingkat guru-guru). Ketiga, Ikhwan al-Fudhala’ al-Karim, yakni kelompok yang berusia 40-50 tahun. Dalam kenegaraan kedudukan mereka sama dengan sultan atau hakim. Keempat, Al-Kamal, yakni kelompok yang berusia 50 tahun ke atas. Mereka disebut dengan tingkatan al-Muqarrabin min Allah karena mereka sudah mampu memahami hakikat sesuatu sehingga hati mereka telah terbuka dan menyaksikan kebenaran dengan mata hati.[4]
Di samping itu juga, kelompok Ikhwan Al Safa mengklaim dirinya sebagai kelompok non partisan, objektif, ahli pencita kebenaran, elit intelektual dan solid kooperatif. Mereka mengajak masyarakat untuk menjadi kelompok orang-orang mu'min yang militan untuk beramar ma'ruf nahi mungkar. Dan sebagian sejarawan komtemporer menganggap bahwa perkumpulan ini merupakan kelompok terorganisir terdiri dari para filosof moralis yang menganggap bahwa pangkal perseteruan sosial politik dan keagamaan terdapat para keragaman agama dan aliran dan teknik kesukuan, sehingga mereka berusaha untuk mengilangkan dan mewadahi dalam satu madzhab yang inklusif dan berpijak pada ajaran yang disarikan dari semua agama dan aliran ada.[5]
Dalam konteks demikian, dapat kami kemukakan bahwa kelompok Ikhwan al Safa pada realitanya adalah organisasi yang juga mempunyai tujuan-tujuan politis untuk melakukan transformasi sosial namun tidak melalui cara radikal, revolusioner, melainkan melalui cara transformasi pola pikir masyarakat luas. Namun dalam hal hal ini kami tidak membahas banyak, yang kami fokuskan adalah pembahasan pemikiran Ikhwan al Safa dalam pendidikan.
Dalam sejarah Islam, kelompok ini tampil eksklusif dalam gerakan reformatif pendidikannya, karena itu mereka adalah ta'limiyyun (pengajaran) dalam melangsungkan kegiatan keilmuannya organisasi ini memandang pendidikan dengan pandangan yang bersifat rasional dan empiric, atau perpaduan antara pandangan yang bersifat intelektual dan faktual. Mereka memandang ilmu sebagai gambaran dari sesuatu yang diketahui dari alam ini. Dengan kata lain yang dihasilkan dari pemikiran manusia itu terjadi karena mendapat bahan informasi yang dikirim oleh panca indra.[6]

B.     Pemikiran Ikhwan al-Shafa Tentang Pendidikan Akhlak
1.      Akhlak, Pengertian dan Karakteristiknya
Ditinjau dari segi etimologi, kata akhlak (dari bahasa Arab) merupakan bentuk jamak dari kata khulq yang berari budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Abd. Hamid Yunus dalam kitabnya Da’irah al-Ma’arif mendefenisikan akhlak sebagai sifat-sifat manusia yang terdidik.
Sementara di dalam al-Mu’jam al-Masit Ibrahim Anis menyebtukan pengertian akhlak sebagai berikut. “Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sifat itu lahirlah macam-macam perbuatan baik dan buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan”[7] Senada dengan pengertian ini, al-Ghazali juga menyatakan bahwa akhlak itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa  yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Dari beberapa defenisi di atas dapat dipahami bahwa akhlak itu adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga dari kepribadian ini timbul berbagai macam perbuatan dengan cara spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran terlebih dahulu. Bila dari kondisi tersebut timbul kelakuan baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran, maka ia dinamakan akhlak mulia dan sebaliknya bila yang lahir adalah perbuatan yang tidak baik, maka disebut dengan akhlak tercela.
Ikhwan al-Shafa membagi akhlak manusia kepada dua jenis, yaitu:
1)      Akhlak bawaan (al-akhlaq al-markuzah fi al-jibillah), yaitu akhlak yang dibawa manusia sejak lahir.
2)      Akhlak perolehan (al-akhlaq al-mauktasabat), yaitu akhlak yang diperoleh melalui latihan dan pembiasaan setelah manusia menjalani proses kehidupan.
Berkenaan dengan akhlak bawaan ini, Ikhwan  menjelaskan:
Akhlak bawaan itu adalah kesiapan anggota tubuh yang kemungkinan manusia dengan mudah dapat melahirkan suatu perbuatan, tindakan, karya, dan mempelajari suatu jenis pengetahuan, keterampilan, atau politik tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Dari kutipan di atas, dapatlah dipahami bahwa akhlak bawaan menurut Ikhwan pada dasarnya sama dengan perbuatan alami seperti yang disebut sebelumnya. Hanya saja Ikhwan menyatakan semua bentuk perbuatan itu dengan ungkapan akhlak. Hal ini dapat dimengerti dengan defenisi yang dikemukakan Ihkwan, bahwa akhlak bawaan itu merupakan kesiapan anggota yang kemungkinan manusia dengan mudah dapat melahirkan suatu perbuatan. Persamaan itu juga tampak pada indikasi selanjutnya, yaitu bahwa akhlak bawaan itu tidak memerlukan adanya pemikiran atau pertimbangan. Hal ini mempunyai persamaan dengan perbuatan alami yang terjadi tanpa melalui usaha.
Masih berkaitan dengan akhlak bawaan, dapat dipahami bahwa hal ini mengandung pengertian bahwa sejak lahir manusia telah memiliki bakat atau kemampuan dasar. Ikhwan mengakui adanya perbedaan bakat pada setiap diri manusia sesuai dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut adalah:
1)      Unsur-unsur pembentukan asal (al-akhlath ajsadihim wa mizaj akhlathiha), yaitu; tanah, air, udara dan api.
2)      Keadaan alam dan lingkungan (turbah buldanihim wa ahwiyatuha).
3)      Pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh orang tua, guru, dan pendidik lainnya (nusyuihim ‘ala diyanat abaihim wa mu’allimihim).
4)      Perjalanan bintang ketika manusia itu dilahirkan (ahkam al-nujum fi ushul muwalidihim).
Mengenai perbuatan manuisa Ikhwan menjelaskan bahwa: “Sesungguhnya perbuatan manusia pada kenyataannya terjadi sesuai dengan akhlak bawaannya dan sesuai pula dengan adat kebiasaan sebagaimana mereka hidup atau sesuai dengan keyakinan yang mereka anut.
Keterangan di atas, menjelaskan bahwa perbuatan manusia itu ditentukan oleh tiga hal yaitu pembawaan, adat istiadat (kebiasaan), dan pandangan hidup yang diyakininya. Ini mengindikasikan bahwa perbuatan manusia, baik itu perbuatan terpuji maupun perbuatan tercela sangat tergantung pada ketiga faktor di atas. Dengan demikian baik buruknya perbuatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh bakat (pembawaan) yang dibawanya sejak lahir, akan tetapi kebiasaan dan pandangan hidup yang dianutnya juga turut memberikan andil dalam pembentukan perbuatan seseorang.
Berkenanaan dengan perbuatan akhlak atau akhlak perolehan, Ikhwan menjelaskan bahwa perbuatan ini sangat berbeda dengan perbuatan alami atau akhlak bawaan. Untuk mewujudkan perbuatan ini, diperlukan pemikiran, usaha dan latihan yang sungguh-sungguh. Selain itu, perbuatan ini juga berat dan tidak mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu untuk melakukan perbuatan ini diperlukan adanya pendidikan. Dengan pendidikan seseorang akan dibimbing dan diarahkan untuk melakukan perbuatan yang baik dan sesuai dengan tuntunan syari’at.
Ditinjau dari segi baik buruknya suatu perbuatan, Ikhwan menjelaskan bahwa suatu perbuatan disebut baik, bila perbuatan itu merupakan perbuatan alami (akhlak bawaan) yang terjadi sesuai dengan situasi dan kondisi yang semestinya. Sebaliknya jika perbuatan itu tidak terjadi sesuai dengan situasi dan kondisi yang semstinya, maka perbuatan itu disebut keburukan. Bila perbuatan dilakukan dengan usaha dan kemauan, sesuai dengan situasi dan kondisi yang semestinya, maka perbuatan itu disebut perbuatan terpuji. Jika sebaliknya maka disebut perbuatan tercela. Jika perbuatan itu dilakukan dengan kemauan dan pilihan yang berdasarkan pikiran dan pertimbangan, maka pelakunya disebut filosof utama yang bijak (failusuf fadhil), dan jika sebaliknya maka pelakunya disebut bodoh (safih, jahil, radzl).
Dengan demikian  pada dasarnya semua sifat manusia dibagi dalam dua katagori yang secara radikal saling bertentangan mengingat kenyataan bahwa katagori-katagori tersebut sangat konkret dan secara semantik sungguh tepat untuk disebut dengan predikat “baik” dan “buruk”, atau “benar” dan “salah”. Secara sederhana, kelas yang memiliki sifat moral yang positif dinamakan “baik” atau “benar” dan sebaliknya yang memiliki sifat moral yang negatif dinamakan dengan “buruk” atau “salah”.
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa betapa relatifnya pengertian baik atau buruk itu, karena tergantung kepada situasi dan kondisi serta penghargaan masing-masing orang. Nilai baik atau buruk menurut pengertian di atas masih bersifat subyektif, karena tergantung pada situasi dan kondisi serta individu yang menilainya. Pengertian baik atau buruk seperti yang disebutkan di atas, dapat menimbulkan perbedaan dalam menilai suatu perbuatan. Boleh jadi suatu perbuatan yang dianggap baik oleh seseorang, namun perbuatan itu tidak baik menurut lainnya, dinilai baik pada suatu waktu dan tempat, namun dinilai buruk pada waktu dan tempat yang lainnya.
Ukuran-ukuran di atas belum memberikan kepastian karena hanya bersifat subyektif, lokal dan temporal. Oleh karena itu nilainya sangat bersifat relatif. Akan tetapi pernyataan Ikhwan yang menyatakan bahwa bila perbuatan itu dilakukan sesuai dengan tuntunan agama, maka pelakunya akan memperoleh pahala, dan jika sebaliknya maka ia akan mendapat siksaan, mungkin akan dapat memberikan suatu kepastia tentang ukuran baik ata buruknya suatu perbuatan.

2.      Pendidikan Akhlak Sebagai Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan akhlak merupakan jiwa dari pendidikan Islam. Mencapai akhlak yang sempurna merupakan tujuan hakiki dari suatu pendidikan. Ini tidak berarti bahwa pendidikan jasmani dan pendidikan intelektual menjadi hal yang tidak penting. Sebaliknya hal ini berarti pendidikan akhlak harus mendapat perhatian yang sama atau bahkan lebih dari pendidikan antelektual dan jasmani.
Disamping kekuatan jasmani dan kecerdasan intelektual, anak-anak juga membutuhkan pendidikan akhlak, perasaan, cita-rasa dan kepribadian. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya bermakna transfer of knowledge (pewarisan ilmu), tetapi lebih dari itu, pendidikan juga berarti transfer of values (pewarisan niali) dan sekaligus sebagai bimbingan yang menjadikan pengarahan pada siswa bagaimana cara bersikap dan bertingkah laku yang baik. Nilai (values) merupakan kesatuan tatanan yang terdiri dari dua komponen atau lebih. Komponen yang satu dengan komponen yang lain saling mempengaruhi. Komponen-komponen itu bekerja dalam satu kesatuan yang bulat dan berorientasi kepada nilai-nilai dan moralitas islami.
Sebagaimana filosof muslim lainnya Ikhwan turut menegaskan pentingnya pendidikan akhlak. Pendidikan yang ditawarkan Ikhwan adalah pendidikan akhlak, dalam arti bahwa pembinaan dan pengajaran yang mereka lakukan ditujuakan untuk menjelaskan kebenaran agama, agar dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari secara baik dan benar.
Perhatian Ikhwan terhadap pendidikan akhlak sesungguhnya tidak lebih kecil dibanding perhatian mereka terhadap pendidikan intelektual. Bahkan, dapat dikatakan bahwa sasaran utama pendidikan Ikhwan adalah pendidikan akhlak. Bila ditinjau lebih jauh, akan terlihat konsistensi antara sasaran utama pendidikan Ikhwan dengan tujuan utama Ikhwan. Kekacauan sosial dan dekadensi moral yang menyelimuti umat Islam pada saat mereka lahir disebabkan karena kebodohan. Konsekwensi dari dekadensi moral menimbulkan pandangan hidup yang salah, yang selanjutnya berimplikasi pada perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat. Cita-cita mencerdaskan kehidupan masyarakat ini dapat direalisasikan dengan mengganti empat hal yang akan mendatangkan kesengsaraan, yaitu kebodohan, kerusakan akhlak, kekeliruan, pandangan dan perbuatan yang tidak baik, dengan empat hal yang akan mendatangkan kebahagiaan yaitu pengetahuan yang benar, akhlak yang baik, pandangan yang benar dan amal perbuataan yang baik.
Bila ditelusuri lebih lanjut, kitab Rasail Ikhwan sangat mementingkan akhlak. Hal ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Ikhwan menekankan nilai-nilai seperti kejujuran, kesetiakawanan, keadilan, baik sangka, murah hati, tolong menolong, rasa sosial, berkata benar, mencintai ilmu dan berpikiran lurus, zuhud, tawakkal, ridah terhadap takdir Allah, berani, menepati janji, sabar, ikhlas dan lain-lain. Nilai-nilai serupa ini yang harus ditanamkan dalam diri setiap muslim sejak kecil, dengan kata lain, pembentukan akhlak yang mulia pada setiap muslim harus dimulai sejak dini.
Uraian berikut ini akan difokuskan pada pandangan Ikhwan mengenai kedua pendapat di atas. Apakah Ikhwan cenderung kepada pendapat pertama, yaitu bahwa akhlak itu tidak perlu dibentuk, karena ia merupakan instinct (ghazirah) yang dibawa manusia sejak lahir, atau sebaliknya Ikhwan mengikuti pendapat, yaitu bahwa meskipun akhlak merupakan pembawaan akan tetapi tetap dapat dibentuk melalui pendidikan.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa manusia memiliki akhlak bawaan dan akhlak perolehan. Akhlak bawaan dipengaruhi beberapa faktor. Adapun akhlak yang memengaruhi akhlak pembawaan itu adalah:
1)      Unsur-unsur pembentukan asal, yaitu; tanah, air, udara dan api. Semua unsur ini memperngaruhi karakter seseorang. Unsur tanah membawa sifat optimis, air membawa sifat lemah lembut, unsur api membuat seseorang menjadi marah, dan udara membuat seseorang menjadi bersikap tidak tergesa-gesa. Semua unsur ini memberikan keseimbangan pada diri manusia.
2)      Keadaan alam dan lingkungan. Perbedaan letak geografis dan iklim, seperti Timur, Barat, Utara, Selatan, di pegunungan, gurun pasir, tepi pantai, lembah, hutan dan lain-lain juga akan mempengaruhi watak seseorang. Seseorang yang lahir, tumbuh dan berkembang di daerah yang panas akan mempunyai watak yang berbeda dengan seseorang yang lahir, tumbuh dan berkembang di daerah yang dingin dan seterusnya.
3)      Pendidikan. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Akhlak anak sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh orang disekitarnya. Dalam hal ini, pendidik, tidak hanya orang tua, akan tetapi meliputi guru dan para pendidik lainnya yang terlibat langsung dalam pendidikan anak. Hal ini menjelaskan betapa pentingnya pendidikan bagi seorang anak. Bila pendidik memberikan pendidikan yang terbaik maka anak akan tumbuh dan berkembang secara baik pula demikian juga sebaliknya.
4)      Bintang atau zodiak. Ikhwan meyakini bahwa perjalanan bntang-bintang di langit, akan mempengaruhi bakat anak.
Kutipan berikut ini mungkin dapat memperjelas pemahaman, tentang pandangan Ikhwan mengenai mungkinatau tidaknya pembentukan akhlak dilakukan. “Seseunguhnya perbuatan manusia pada kenyataannya terjadi sesuai dengan akhlak bawaaannya dan adat kebiasaan sebagaimana mereka hidup atau sesuai dengan keyakinan yang mereka anut.
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa perbuatan manusia itu ditentukan oleh tiga hal yaitu pembawaan, kebiasaan atau latihan, dan pandangan hidup yang diyakininya. Jadi jelaslah bahwa perbuatan manusia itu, tidak hanya terjadi mengikuti akhlak bawaan, akan tetapi dipengaruhi juga oleh kebiasaan dan pendangan hidup yang dianutnya. Dalam hal ini, kebasaan dan pandangan hidup, tentunya berhubungan erat dengan pendidikan.
Ikhwan mengemukakan perbuatan dan akhlak manusia itu dapat dikatagorikan kepada empat macam, yaitu:
1)      Tindakan alamiah (thabliyyah), yaitu perbuatan-perbuatan alamiah yang terjadi pada fisik manusia.
2)      Tindakan nafsaniyyah ikhtiyariyyah, yaitu perbuatan-perbuatan yang dilakukan atas dasar kehendak dorongan kejiwaan.
3)      Tindakan ‘aqliyyah fikriyyah, yaitu perbuatan-perbuatan yang dilakukan atas dasar pertimbangan akal pikiran.
4)      Tindakan namusiyyah, yaitu perbuatan-perbuatan yang dilakukan yang berdasarkan atas ketaatan terhadap katentuan wahyu atau agama.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa menurut Ikhwan akhlak mnusia itu merupakan pembawaan yang dapat berubah sesuai denga faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lingkungan dan pendidikan merupakan dua faktor yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan akhlak seseorang. Oleh karena itu Ikhwan memberikan perhatian yang besar kepada pendidikan akhlak. Hal ini dapat dipahami dari ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam karya mereka. Ungkapan-ugkapan seperti istilah al-akhlaq tahzib al-akhlaq ta’dib al=akhlaq tatsaif al-ummah dan lain-lain yang keselruhannya mengarah kepada pembentukan akhlak berulangkali dapat ditemukan dalam tulisan mereka.
Di tempat lain Ikhwan mengatakan bahwa manusia itu dalam melakukan perbuatannya dibagi kepada dua jenis, yaitu: orang yang kepercayaannya mengikuti akhlaknya, dan orang yang akhlaknya mengikuti kepercayaannya. Ikhwan memberikan contoh golongan yang pertama orang yang berada di bawah naungan bintang mars, maka ia akan meyakini bahwa yang berbintang mars itu, mempunyai sifat keras, suka bertengkar, dan selalu bermusuhan. Karena keyakinannya terhadap bintang ini, maka ia bersikap dan bertingkah laku seperti yang disebutkan di atas. Demikian juga orang yang berbintang jupiter, maka ia akan condong kepada pandangan bahwa yang mamiliki bintang ini mempunyai sifat zuhud, wara’ dan lemah lembut. Oleh karenanya, ia akan bersikap sebagaimana yang disebutkan dalam ramalan bintang tersebut.
Adapun orang yang akhlaknya mengikuti kepercayaannya adalah orang yang apabila meyakini suatu pandangan atau mengnut suatu mahzab yang diyakininya dalam bentuk perbutan maka akhlak dan perbuatannya akan menyerupai mahzab dan kepercayaannnya. Akhlak golongan kedua inilah yang akan mendapat pujian atau celaan, pahala atau dosa, janji buruk atau janji baik, karena akhlak ini, diperoleh melalui usaha yang keras untuk mendapatkan dan untuk merealisasikannya.
Dari uraian di atas, semakin jelaslah pandangan Ikhwan tentang akhlak, yaitu perbuatan yang memperoleh imbalan pahala itu hanyalah perbuatan yang dilakukan berdasarkan keimanan dan kepercayaan yang dianut oleh seseorang yang diperoleh melalui usaha dan pendidikan. Sedangkan perbuatan yang dilakukan hanya berdasarkan pada pembawaan yang dibawa sejak lahir, seperti perbuatan seseorang yang berada di bawah naungan suatu bintang, tidak akan mendapatkan imbalan apahala, karena perbuatan ini hanya menggantungkan kepada takdir tanpa disertai dengan usaha untuk memperbaikinya.
Di sisi lain Ikhwan menjelaskan perbedaan antara penduduk dunia dan penduduk akhirat. Akhlak penduduk dunia digambarkan Ikhwan seperti orang yang melakukan perbuatan tanpa melalui proses usaha, pertimbangan, pemikiran, dan kesungguhan. Mereka datang ke dunia ini tanpa melakukan perbuatan baik yang dijadikan sebagai persiapan mereka di akhirat nanti. Mereka hidup di dunia ii laksana binatang yang hanya berbuat untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya dan menghindari dari segala macam yang menghadangnya. Menurut Ikhwan orang-orang seperti ini yang disinyalir oleh al-Quran sebagai binatang “Mereka itu makan sebagaimana hewan-hewan makan, nerakalah tempat yang pantas bagi mereka”.
Selanjutnya, akhlak penduduk akhirat menurut Ihkwan adalah orang-orang yang melakukan perbuatan baik yang dilakukan melalui usaha yang sungguh-sungguh, baik perbuatan itu berdasrkan pertimbangan akal pikiran taua karena mengikuti petunjuk wahyu sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga perbuatan itu dilakukan secara berulang-ulang dan telah menjadi kepribadiannya.

C.    Metode Pendidikan Akhlak
Beberapa metode yang digunakan Ikhwan al-Shafa’ dalam menyampaikan ajarannya antara lain:
1)      Metode Kisah
Kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Ikhwan menyadari kesadaran manusia untuk menyenangi suatu cerita, dan menyadari bahwa kisah atau cerita ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Ikhwan mengeksploitasi kisah-kisah itu untuk dijadikan salah satu metode pendidikan. Ikhwan banyak menggunakan kisah yang menampilkan suatu contoh kehidupan manusia yang dimaksudkan agar manusia dapat memetik hikmah dan pelajaran dari kisah yang ditampilkan.
Metode iksah ini banyak digunakan Ikhwan dalam menyampaikan pesan kepada anggota dan para pembaca. Salah satu kisah yang ditampilkan Ikhwan adalah kisah seorang bijaksanawan yang mengobati sekelompok masyarakat. Kisah lainnya misalnya adalah kisah dua orang sahabat yaitu  seorang Majusi dari penduduk Karman dan Nasrani dari penduduk Asfahan yang digambarkan Ikhwan untuk menyapaikan pesan bahwa akhlak yang baik adalah akhlak yang didasarkan pada keimanan.
2)      Metode Nasihat
Dalam meyampaikan ajaran-ajaran mereka, Ikhwan juga menggunakan kalimat-kalimat yang meyentuh hati untuk memimpin manusia kepada pesan dan ajaran yang dikehendaki. Metode seperti ini kemudian dikenal sebagai metode nasihat. Metode ini juga digunakan Ikhwan dalam menyampaikan jaran mereka. Dalam kitab Rasail, tampak dengan jelas bahwa Ikhwan berusaha untuk mengadakan pendekatan terhadap para anggota dan pembaca, dengan menggunakan ungkapan-ungkapan berbentuk nasihat-nasihat bijaksana.
Metode nasihat ini mereka kemukakan dengan gaya dan bahasa yang menunjukkan kedekatan dan keharmonisan, hingga tidak ada kesan memaksa anggota dan pembaca. Ungkapan seperti ayyuhal al-akh atau Ikhwanuna yang mereka gunakan pada hampir setiap penyampaian suatu pembahasan, menunjukkan bahwa mereka berusaha untuk mengadakan pendekatan dengan pemberian nasihat yang baik kepada anggota dan pembaca.
3)      Metode Perumpamaan
Metode Perumpamaan banyak digunakan Ikhwan dalam menyampaikan ajaran mereka. Metode ini mempunyai tujuan pendidikan yang sangat dalam, yaitu mendekatkan makna kepada pemahaman. Ikhwan menggunakan metode ini untuk mengibaratkan masalah yang abstrak dengan masalah yang kogkrit agar kandungan makna yang abstrak itu dapat dipahami secara baik. Selain itu metode ini dapat merangsang kesan dan pesan yang berkaitan dengan makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut.
Contoh perumpamaan yang digunakan Ikhwan adalah perumpamaan dunia seperti kulit dan akhirat seperti isi. Dunia ini hanya merupakan tempat persinggahan sementara, sedangkan akhirat merupakan tujuan akhir manusia. Oleh sebab itu setiap orang harus mempersiapkan dirinya menuju tempat yang abadi. Untuk memperjelas perbadaan antara dunia dan akhirat, Ikhwan menggunakan perumpamaan ini, karena antara dunia dan akirat memiliki titik persamaan dengan kulit dan isi. Dengan kata lain akhirat adalah inti dan dunia hanya merupakan sarana untuk menuju kehidupan yang abadi yaitu akhirat.
4)      Metode Pembiasaan
Cara lain yang dianjurkan Ikhwan untuk pembinaan akhlak ini adalah dengan pembiasaan yang dilakukan secara kontinyu. Pembiasaan ini hendaknya dimulai sejak anak masih kecil. Bila anak dilatih dengan membiasakan perbuatan baik, maka anak itu akan mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan yang senantiasa dilakukannya tanpa rasa enggan.
Berkenaan dengan ini, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa kepribadian manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pemninaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat, maka ia akan menjadi orang jahat, demikian juga sebaliknya. Untuk itu al-Ghazali mangatakan bahwa pembentukan akhlak hendaknya dilakukan dengan cara melatih jiwa dengan pekerjaan dan tingkah laku yang mulia.
5)   Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan metode yang paling menonjol yang digunakan Ikhwan. Metode ini dapat memantapkan pengertian terhadap suatu masalah. Untuk memperoleh pemahaman yang benar, Ikhwan secara rutin melakukan diskusi yang membahas berbagai macam masalah.
Penggunaaan metode diskusi ini didasarkan atas pandangan bahwa manusia memilki kekuatan untuk menetukan pilihannya, sehingga pemaksaan merupakan perbuatan yang sia-sia. Metode diskusi ini merupakan ciri khas pendidikan Islam yang selalu relevan bagi pengembangan ajaran Islam. Hal ini disebabkan metode ini menuntut adanya sikap terbuka, tidak berpikiran sempit dan bersedia menerima pendapat, saran dan kritikan dari orang lain.
Dari uraian tersebut dapatlah disimpulakan bahwa Ikhwan mempunyai perhatian yang sungguh-sungguh terhadap metode pendidikan. Aktualisasi potensi yang dimilki manusia menuntut adanya metode yang berupa bimbingan dan arahan, baik dalam arti pengajaran maupun keteladanan. Manusia tidak akan dapat mengaktualisasikan potensi yang ada pada dirinya tanpa dibimbing dan diajari tentang segala sesuatu yang mesti diketahuinya, tanpa dilatih melakukan perbuatan yang seharusnya dia lakukan.[8]

























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ikhwan al-Shafa merupakan organisasi Islam rahasia yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan al-Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris.
Dalam pendidikan, Ikhwan al-Shafa, memiliki konsep bahwa pendidikan itu bukan sekedar upaya transfer suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain tetapi lebih merupakan aktivitas moral yang dengannya seseorang mendapatkan derajat kemanusiaan yang tertinggi, yang dalam istilah mereka disebut “derajat malaikat al-muqarrabin.” Aktivitas pendidikan ini bukan hanya berupa bimbingan dan pengajaran tetapi juga pengaruh, yang dapat terjadi sejak seorang anak masih dalam kandungan (embrio). Sehingga sejak inilah aktivitas pendidikan sudah dimulai.

B.     Saran
Sebagai seorang calon pendidik, mahasiswa diharapkan mampu membekali diri dengan ilmu dnuia dan akhirat dan memiliki akhlak yang terpuji agar kelak ketika menjadi seorang pendidik, tidak hanya mampu memberikan ilmu namun juga mampu membina akhlak anak didiknya.


 

DAFTAR PUSTAKA

Al- Ahwani, Ahmad Fuad. Al Tarbiyah fi Al Islam. Mesir :Dar Al Maarif .
Al-Iraqy , Muhammad ‘Atifh. Al-Falsafat al-Islamiyyat . Kairo: Dar al-Ma’arif. 1978.
Anis, Ibrahim. Al-Mu’jam al-Wasit. Mesir: Dar al-Ma’arif. 1972.
Dahlan, Abdul Azis. “Filsafat” dalam Wnsiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid IV. Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. 2003.
Nata, Abuddin. MA. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.
 Ridlo, Muhamad Jawad. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam. Jogjakarta : PT. Tiara Wacana. 2002
Rizal, Syamsul . Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis. 2010.
Tesis Ikhwan al-Shafa’.

[1] Muhammad ‘Atifh al-Iraqy, Al-Falsafat al-Islamiyyat (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1978), hlm. 29.
[2] Abdul Azis Dahlan, “Filsafat” dalam  Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid IV (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2003), hlm. 192.
[3]  Ahmad Fuad Al Ahwani, Al Tarbiyah fi Al Islam. Mesir, Dar Al Maarif Hl. 227
[4] Syamsul Rizal, Pengantar Filsafat Islam (Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2010), hlm. 129-130.
[5]  Muhamad Jawad Ridlo, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Jogjakarta. PT. Tiara Wacana 2002 hal. 146

[6]  Abuddin Nata, MA. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta, Logos Wacana Ilmu. hal. 182
[7] Ibrahim Anis, Al-Mu’jam al-Wasit (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972), hlm. 202.
[8] Tesis Ikhwan al-Shafa’, hlm. 89-124.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com