Friday, 3 October 2014

MAKALAH SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF KONTAK KEBUDAYAAN NASRANI (KRISTEN), HINDU-BUDHA, PERSIA, YUNANI DAN ARAB



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Teori-teori mengenai asal timbul atau munculnya aliran ini dalam Islam banyak berbeda-beda, antara lain. Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dikatakan bahwa Zahid[1] dan sufi Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah pengaruh cara hidup rahib-rahib Kristen.
Falsafat Mistik pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh adalah di alam samawi untuk memproleh hidup senang di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup materi, yaitu Zuhud. Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontlemplasi, inilah menurut pendapat sebagian orang yang mempengaruhi timbulya Zuhud san Sufisme dalam Islam.
Falsafat amanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari Zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya kealam materi , roh jadi kotor, dan untuk dapat kembali keasalnya Roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Penyucian Roh adalah dengan menjauhi dunia dan mendekati Tuhan dengan sedekat mungkin. Dikatkakan pula bahwa falsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum Zahid dan Sufi dalam Islam.
Ajaran Budha dengan faham Nirwananya. Untuk mencapai Nirwana, orang harus bisa meninggalkan Dunia dan memasuki hidup Kontemplasi. Faham Fana yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham Nirwana.
Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.
Inilah beberapa faham dan ajaran yang menurut teorinya mempengaruhi timbul dan munculya sufisme dikalangan umat Islam. [2]
Penyelidikan ahli-ahli pengetahuan tentang asal-usul dan pengambilan tasauf islami, yang menganjurkan hidup kerohanian itu, sampai sekarang masih saja belum selesai. Berbagai pendapat telah dikemukakan, setengahnya mengatakan bahwa sumber pengambilannya adalah semata-mata agama islam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan banyak pula orientalis Barat berpendapat bahwa pokok pengambilannya ialah  ajaran Persia, Hindu, Agama Nasrani atau filsafat Yunani. Dan ada yang berpendapat, sumber Tasawuf islami ialah dari semuanya itu. Tetapi Prof. Nickolson sangat keras membantah pendapat yang mengatakan bahwa mazhab Tasawuf itu ajaran lain yang termasuk ke dalam islam.[3] Kita memperhatikan dengan seksama bahwa sejak lahirnya agama islam kehidupan Tasawuf itu telah timbul dalam kalangan muslimin  sendiri karena membaca Al-Qur’an dan Al-Hadits. Oleh karena itu penulis akan membahas permasalahan tentang sumber-sumber tasawuf. Kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Kontak kebudayaan Nasrani
2.      Kontak kebudayaan Hindu
3.      Kontak kebudayaan Budha
4.      Kontak kebudayaan Persia
5.      Kontak kebudayaan Yunani
6.      Kontak kebudayaan Arab


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sumber Tasawuf Dalam Islam
Tasawuf pada awal pembentukannya adalah akhlak atau keagamaan dan moral keagamaan yang banyak di atur dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jelaslah bahwa sumber pertamanya adalah ajaran ajaran islam, sebab tasawuf di timba dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan amalan amalan serta ucapan para sahabat. Amalan serta amalan para sahabat itu tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dengan begitu, justru dua sumber utama Tasawuf adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits.[4]
           Jadi Sumber sumber dalam islam yaitu :
1.      Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kitab Allah SWT yang di dalamnya terkandung muatan muatan ajaran Islam, baik akidah, syariah maupun muamalah. Ketiga muatan tersebut banyak tercermin dalam ayat ayat  yang termasuk dalam Al-Qur’an. Di satu sisi memang ada yang perlu di pahami secara lahiriah tetapi di sisi lain ada juga yang perlu dipahami secara rohaniah. Sebab, jika di pahami secara lahiriah ayat ayat Al-Qur’an akan terasa kaku, kurang dinamis dan tidak mustahil akan di temukan persoalan yang tidak dapat di terima secara psikis. Beberapa contoh pengambilan :
“Tidaklah engkau yang melempar ketika engkau melempar itu, Melainkan Allah-lah yang melempar.” (Al-Anfaal, ayat 17)
Menurut pendapat kaum sufi, ayat ini adalah dasar yang kuat sekali dalam hidup kerohanian. Beberapa soal besar dalam tingkat-tingkat perjuangan kehidupan dapat di simpulkan ke dalam ayat ini. Yang“melempar”bukanlah muhammad, melainkan Tuhan. Gerak dan gerik tidaklah ada pada kita melainkan dari Allah semata-mata. Kita bergerak dalam kehidupan ini hanyalah pada lahir belaka. Tidak ada yang terjadi kalau tidak izin Allah. Seorang hamba Allah dengan Tuhanya hanyalah laksana sebuah Qalam dalam tangan seorang penulis. Menulis di gerakan saja. Yang di tuliskan tidak lain dari pada kehendak si penulis.
Pada dasarnya  merupakan  objek tasawuf, berlandaskan al- Qur’an dan berikut ini beberapa ayat al-Qur’an yang menjadi landasan sebagian tingkatan dan keadaan para sufi:

1)      Penggemblengan jiwa
dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kamitunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar besertaorang-orang yang berbuat baik. (QS. al-Ankabut : 69)
2)      Tingkatan Asketis
….. Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini
hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”.  (QS. an-Nisa’ :77)
3)      Tingkatan Tawakal
…. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya... (QS. at-Thalaq : 3)
4)      T ingkatan  Syukur
dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamubersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari(nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)
5)      T ingkatan Sabar
bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan denganpertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. An-Nahl :127).
6)      Tingkatan Rela
Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benarkebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; merekakekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya[457]. Itulah keberuntunganyang paling besar". (QS. Al-Maidah : 119)
7)      Tingkatan Malu
tidaklah Dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? (QS.Al-Alaq : 14)[5]



2.       Al-Hadits
      Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.[4] Dasar yang kedua ialah hadits Nabi terutama Hadits Qudsi, yaitu suatu hadits istimewa yang diterima oleh Nabi Muhammad, seakan-akan Tuhan sendiri yang bercakap dengan dia, sedang orang Islam biasa dapatlah membedakan bunyi Al-Quran, Hadits biasa atau Hadits Qudsi jika didengarnya.
Berikut ini ada beberapa muatan hadist yang dapat di pahami dengan pendekatan tasawuf :
’Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri maka akan mengenal Tuhanya”
Hadist ini disamping melukiskan kedekatan hubungan antara Tuhan dan manusia, sekaligus mengisyaratkan arti bahwa manusia dan tuhan adalah satu. Oleh sebab itu , barang siapa yang ingin mengenal Tuhan cukup merenung perihal dirinya sendiri.[6]
Dalam sebuah Hadits qudsi (Hadist berasal dari Nabi Muhammad SAW) sebagai berikut :
Dari Abu Hurairah r.a , Rosulullah SAW. Bersabda bahwa Allah AWT berfirman . “Barang siapa yang memusuhi seseorang wali-Ku, maka aku mengumumkan permusuhan-Ku terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih kusukai dari pada pengalaman segala yang ku fardhukan atasnya . Kemudian, Hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal amal sunnah, maka aku senantiasa mencintainya. Bila aku telah cinta kepadanya, jadilah aku pendengarnaya yang denganya ia mendengar, aku penglihatanya yang denganya ia melihat, aku tanganya yang denganya ia memukul dan aku kakinya yang dengan itu ia berjalan. Jika ia memohon, jika ia meminta perlindungan, ia kulindungi”.[7]
Hadist ini memberi petunjuk bahwa antara manusia dan Tuhan dapat bersatu Diri manusia dapat lebur dari diri Tuhan, yang di kenal dengan istilah fana’, yaitu fana’nya makhluk sebagai yang mencintai Tuhan sebagai yang di cintainya. Istilah ‘’lebur’’ atau  “fana”. Menurut kami harus di pertegas bahwa antara Tuhan dan Manusia tetap ada jarak/pemisah, sehingga tetap berbeda antara Tuhan dan Hamba-hamba-Nya. Istilah ini hanya menunjukan keakraban antara makhluk dan khalifnya.

B.     Kontak Kebudayaan Nasrani (Kristen), Hindu, Budha, Persia, Yunani dan Arab
Tasawuf yang sering kita temui dalam khazanah dunia islam, dari segi sumber perkembangannya, ternyata muncullah pro dan kontra, baik dikalangan muslim maupun dikalangan non muslim. Mereka yang kontra menganggap bahwa tasawuf islam merupakan sebuah faham yang bersumber dari agama-agama lain. Pandangan ini kebanyakan diwakili oleh para orientalis dan orang-orang yang banyak terpengaruh oleh kalangan orientalis ini.
Dengan tidak bermaksud untuk tidak melibatkan diri pada persoalan pro dan kontra itu, dalam tulisan ini, kami akan mempertengahkan paham tasawuf dalam tinjauan yang lebih universal karena tentang asal usul atau ajaran tasawuf, kini semakin banyak orang menelitinya. Kesimpulannya perbedaan paham itu disebabkan pada asal usul tasawuf tersebut. Sebagian beranggapan bahwa tasawuf berasal dari masehi (Kristen), sebagian lagi mengatakan dari unsur Hindu-Budha, Persia, Yunani, Arab, dan sebagainya. Untuk itulah, kami akan menguraikan asal usul tasawuf dalam konteks kebudayaan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah tasawuf yang ada di dunia islam terpengaruhi dengan konteks kebudayaan tersebut atau tidak.
1.      Unsur Nasrani (Kristen)
      Bagi mereka yang beranggapan bahwa tasawuf berasal dari unsur Nasrani, mendasarkan argumennya pada dua hal. Pertama, adanya interaksi antara orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah maupun zaman islam. Kedua adanya segi-segi kesamaan antara kehidupan para asketis atau sufi dalam hal ajaran  cara  mereka melatih jiwa dan mengasingkan diri dengan kehidupan Al-masih dan ajaran-ajarannya, serta dengan para rahib ketika sembahyang dan berpakaian.[8]
      Orang Arab sangat menyukai cara kependetaan ketika mereka melakukan latihan (Riadhah) dan ibadah. Von Kromyer berpendapat bahwa tasawuf merupakan buah keNasranian pada zaman jahilliyah. Sementara itu, Goldziher berpandapat bahwa sikap Fakir dalam islam merupakan pengaruh dari Agama Nasrani. Goldziher membagi tasawuf menjadi dua : Pertama, asketisme. Menurutnya sekali pun telah terpengaruh oleh kependetaan kristen aliran ini lebih mengakar pada semangat Islam dan para ahli sunnah. Kedua, Tasawuf dalam arti lebih jauh lagi, seperti pengenalan kepada Tuhan (Ma’rifat), pendakian batin (Hal), intuisi (Wijdan) dan rasa (dzauq), yang terpengaruh oleh Agama Hindu disamping Neo-Platonisme.[9]
Von Kromyer berpendapat bahwa tasawuf merupakan buah kenasranian pada zaman jahiliah. Sementara itu, Goldziher berpendapat bahwa sikap fakir dalam Islam merupakan pengaruh dari agama Nasrani. Goldziher membagi tasawuf menjadi dua: Pertama, asketisme. Menurutnya, sekalipun telah terpengaruh oleh kependetaan Kristen, aliran ini, lebih mengakar pada semangat Islam dan para Ahli Sunnah. Kedua, tasawuf dalam arti lebih jauh lagi, seperti pengenalan kepada Tuhan (Ma’rifat), pendakian batin (hal), intuisi (wijdah), dan rasa (dzauq), yang terpengaruh oleh agama Hindu disamping Neo-Platonisme.
Abu Bakar Aceh, sebagaimana dikutip Abdul Qadir Zaelani, pernah menulis bahwa agama Yahudi dan agama Kristen mempengaruhi pula cara berfikir dalam  Islam.
Pokok-pokok ajaran tasawuf yang diklaim berasal dari agama Nasrani antara lain adalah:
a.       Sikap fakir. Al-Masih adalah fakir. Injil disampaikan kepada orang fakir sebagaimana kata Isa dalam Injil Matius, “Berntunglah kamu orang-orang miskin karena bagi kamulah kerajaan Allah… Beruntunglah kamu orang yang lapar karena kamu akan kenyang.”
b.      Tawakal kepada Allah dalam soal penghidupan. Para pendeta telah mengamalkan dalam sejarah hidupnya, sebagaimana dikatan dalam Injil, “Perhatikan burung-burung dilangit, dia tidak menanam, dia tidak mengetam dan tidak duka cita pada waktu susah. Bapak kamu dari langit memberi kekutan kepadanya. Bukankah kamu lebih mulia daripada burung?”
c.       Peranan Syeikh yang menyerupai pendeta. Perbedaanya pendeta dapat menghapuskan dosa.
d.      Selibasi, yaitu menahan diri tidak menikah karena menikah dianggap dapat mengalihkan diri dari Tuhan.
e.       Penyaksian, bahwa syufi menyaksikan hakikat Allah dan mengadakan hubungan dengan Allah. Injil pun telah menerangkan terjadinya hubungan langsung dengan Tuhan.[10]
2.      Unsur Hindu-Budha
Tasawuf dan system kepercayaan agama Hindu memiliki persamaan, seperti sikap fakir. Darwis Al-Birawi mencatat adanya persamaan cara ibadah dan mujahadah pada tasawuf dan ajaran hindu. Demikian juga pada paham reinkarnasi, cara pelepasan dari dunia versi Hindu-Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat Allah.
Salah satu maqamat sufiyah, yaitu al-Fana’ memiliki persamaan dengan ajaran tentang nirwana dalam agama Hindu. Menurut Harun Nasution, ajaran nirwana agama Budha mengajarkan umatnya untuk meninggalakan dunia dan memasuki hidup kontemplatif. Faham fana’yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham nirwana.[11] Goldziher mengatakan bahwa ada hubungan persamaan antara tokoh Budha Sidharta Gautama dengan Ibrahim bin Adham, tokoh sufi yang muncul dalam sejarah umat Islam sebagai seorang putra mahkota dari Balkh yang kemudian mencampakkan mahkotanya dan hidup sebagai darwish. Goldziher menambahkan, para sufi belajar menggunakan tasbih sebagaimana yang dipakai oleh para pendeta Budha. Dan tanpa memasuki ke bagian-bagiannya yang terkecil, dapat dinyatakan bahwa metode-metode seperti budaya diri yang etis, meditasi asketis dan abstraksi intelektual merupakan pinjaman dari Budhisme.[12] Juga dalam ajaran Hinduisme ada perintah untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.[13]
3.      Unsur Yunani
Kebudayaan Yunani seperti Filsafat, telah masuk ke dunia islam pada akhir Daulah Amawiyah dan puncaknya pada masa Daulah Abbasiyah ketika berlangsung zaman penerjemahan filsafat Yunani.
Ajaran-ajaran tasawuf itu dimasuki oleh paham pemikiran Yunani. Misalnya, perkataan, “Apabila sudah baik, seseorang hanya memerlukan sedikit makan. Dan apabila sudah baik, hati manusia hanya memerlukan sedikit hikmat.” Ahli-ahli sejarah, seperti Syaufan menerangkan bahwa banyak bagian dari cerita “Seribu Satu Malam” berasal dari Yahudi. Orang-orang Yahudi meskipun menyerahkan dirinya sebagai orang Islam, mereka tidak mau meninggalakan agamanya, bahkan berusaha menarik orang-orang Islam untuk memeluk agamanya.
4.      Unsur Persia
 Sebenarnya Arab dan Persia memiliki hubungan sejak lama, yaitu pada bidang politik, pemikiran, kemasyarakatan dan sastra. Namun belum ditemukan argumentasi kuat yang menyatakan bahwa kehidupan kerohanian Arab masuk ke Persia hingga orang-orang Persia itu terkenal sebagai ahli-ahli tasawuf. Barangkali ada persamaan antara istilah zuhud di Arab dengan zuhud menurut agama manu danmazdaq; antara istilah hakikat Muhammad dan paham Hormuz dalam agama Zarathustra.[14]
Sejak zaman klasik. Bahkan hingga saat ini. Terkenal dengan wilayah yang melahirkan sufi-sufi ternama. Dalam konsep ke-fana-an diri dalam universalitas. misalnya, salah seorang dari penganjurnya adalah seorang ahli mistik dari Persia yakni Bayazid dari bistam yang telah menerima dari gurunya. Abu Ali (dari Sind).[15]
5.      Unsur Arab
Untuk melihat bagaimana tasawuf dari dunia Islam, pelacakan terhadap sejarah munculnya tasawuf dapat di jadikan dasar argumentasi munculnya tasawuf di dunia Islam. Untuk itulah, berikut ini di ketengahkan sejarah tumbuh dan berkembangnya Tasawuf di dunia Islam. Namun, mengingat kehadiran Islam bermula dari daratan Arab maka uraian tentang sejarah Tasawuf ini pun bermula dari tanah Arab.
Untuk melacakan sejarah perkembangan tasawuf, tidak hanya memperhatikan ketika tasawuf mulai dikaji sebagai sebuah ilmu, melainkan sejak zaman Rosulullah. Memang pada masa Rosulullah dan masa sebelum datangnya Agama Islam, Istilah “tasawuf” itu belum ada.[16]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari beberapa keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa sumber sumber tasawuf dalam islam dapat di lihat dari Al-Qur’an, Hadits Nabi, perbuatan Nabi dan pandangan hidup serta praktek hidup dari sahabat-sahabat dan orang-orang Ulama dalam Islam. Al-Qur’an merupakan kitab Allah SWT yang di dalamnya terkandung muatan muatan ajaran Islam, baik akidah, syariah maupun muamalah. Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.Tasawuf yang sering kita temui dalam khazanah dunia islam, dari segi sumber perkembangannya, ternyata muncullah pro dan kontra, baik dikalangan muslim maupun dikalangan non muslim.
Dilihat dari referensi yang kami temukan, bahwa ajaran tasawuf  tidak hanya bersumber dari sumber keIslaman saja, namun dipengaruhi juga oleh ajaran luar Islam, antara lain ajaran Agama Hindu Budha, Agama Persia-Arab, ajaran Agama Masehi, Pemikiran filsafat Yunani.

B.     Saran
Di sarankan kepada pembaca, supaya lebih memahami tentang sejarah perkembangan tasawuf agar lebih baik mencari referensi lain selain makalah ini. Karena makalah ini jauh dari kata Sempurna untuk di jadikan sebuah buku pedoman dalam system pembelajaran.Dan penulis mengharapkan saran dan kritik dari bapak dosen untuk perbaikan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Tasauf Perkembangan Dan Pemurniaanya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993), hlm. 36
Lihat Abi Nashr as-Siraj Ath-Thusi,Al-Luma’,Ditahqiq oleh Abdul Halim Mahmud dan Thaha Abd Baqi Surur,Mesir:Dar Al-Kutub Al-Haditsah dan Maktabah Al-Mutsana Baghdad, 2960,hlm. 6
Anwar, Rosihin Anwar, akhlak tasawuf (Bandung:Pustaka Setia,2010) hlm.159
H.R. Bukhari, No Hadist 6021
Lihat, Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani, Madkhal Ila at-Tashawuf Al-Islam, ter. Ahmad rofi’ ‘Utsmani, “Sufi dari Zaman ke Zaman”, Pustaka, Bandung, 1985, 22-34
Lihat Ibid, hlm. 4; Abdul Qadir Al-Jaelani, Koreksi terhadap ajaran Tasawuf, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hlm. 17
Muhammad Ghalab, At-Tashawwuf al-Maqarin, Maktabah An-Nahdlah, Mesir, t.t., hlm 42; Zaelani, op. cit., hal. 25
Usman. Said. Ibid. hlm 26
A. Nicholson, Reynoldv A. Nicholson, The Mystics of Islam, terj A. Munir Budiman, “Tasawuf Menguak Cinta Ilahi”, Raja Grafindo. Jakarta, 1993. Hlm. 16
Nasution, loc. cit
Said. Op. cit. hlm 27-28
A.Nicholoson, Reynold, The Mystic of Islam, trans. A.Nashir Pudiman,“tasawuf Menguat Cinta Ilahi”, RajaGrafindo. Jakarta, 1993, hlm. 16.
Syarf, Muhammad Yasir, Harakat At-Tashawwuf Al-Islam, damsyik, Al-Hai’at Al-Mishariyyah Al-Amanah Li Al-Kitab, 1986, hlm 4




[1] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang), 1995, hlm. 64
[2] Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir : Kamus Arab – Indonesia, PP. Al-Munawiwir, Yogyakarta, 1984, hlm. 626.
[3] Hamka, Tasauf Perkembangan Dan Pemurniaanya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993), hlm. 36
[4] Abi Nashr as-Siraj Ath-Thusi,Al-Luma’, Ditahqiq oleh Abdul Halim Mahmud dan Thaha Abd Baqi Surur,Mesir:Dar Al-Kutub Al-Haditsah dan Maktabah Al-Mutsana Baghdad, hlm. 6
[7] Rosihin Anwar, akhlak tasawuf (Bandung:Pustaka Setia,2010) hlm. 159
[8] Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani, Madkhal Ila at-Tashawuf Al-Islam, ter. Ahmad rofi’ ‘Utsmani, “Sufi dari Zaman ke Zaman”, Pustaka, Bandung, 1985, hlm. 22-34
[9] Abdul Qadir Al-Jaelani, Koreksi terhadap ajaran Tasawuf, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hlm.
[11] Muhammad Ghalab, At-Tashawwuf al-Maqarin,Maktabah An-Nahdlah, Mesir, t.t., hlm 42; Zaelani, op. cit., hal. 25
[12] Usman. Said. Ibid. hlm 26
[13] ReynoldvA. Nicholson, The Mystics of Islam, terj A. Munir Budiman, “Tasawuf Menguak Cinta Ilahi”, Raja Grafindo. Jakarta, 1993. Hlm. 16
[14] Nasution, loc. cit
[15] Said. Op. cit. hlm 27-28
[16] Reynold A.Nicholoson, The Mystic of Islam, trans. A.Nashir Pudiman, “tasawuf Menguat Cinta Ilahi”, RajaGrafindo. Jakarta, 1993, hlm. 16.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com