Thursday, 2 October 2014

MAKALAH POLITIK TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sistem pendidikan nasional tak dapat dilepas dari konteks politik yang sedang berlaku di Negara kita, karena kerangka paradigma dan konsep- konsep serta pengewantahanya memiliki latar belakang kesejahteraan yang berbeda dengan Negara- Negara yang system pendidikan nasionalnya tidak di campur tangani oleh pemerintah atau kalaupun ada itu dalam derajat yang sangat rendah.
Sejak lahir dan berkembangnya pergerakan nasional menuju Indonesia merdeka pendidikan menjadi tulang punggungnya yang utama, karena dari sanalah proses penyadaran masyarakat akan hak- hak dan kewajibanya sebagai manusia dan masyarakat pribumi ditanamkan.
Dari judul yang ada yaitu pendidikan Islam dan politik pada dasarnya dapat difahami dengan dua pengertian, Pertama, pendidikan Islam dan politik dimaksudkan suatu proses transformasi nilai-nilai sosial politik melaui institusi pendidikan Islam. Kedua, pendidikan Islam dan politik dimaksudkan mendeskripsikan perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam berdasarkan sejarah perpolitikan di Indonesia pada masa pra dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam tulisan ini, penulis mencoba focus sesuai dengan pengertian pertama yakni melihat terjadinya proses transformasi nilai-nilai politik melalui institusi pendidikan Islam. Pembahsan ini akan banyak menggunakan pendekatan aspek historis, dengan mencoba menampilkan beberapa persoalan yaitu korelasi antara pendidikan Islam dan politik, implikasi sosialisasi politik dalam system pendidikan dan bagaimana pasrtisipasi mahasiswa dalam aktifitas politik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Politik terhadap pendidikan Islam di Indonesia
2.      Mensiasati kekurangan jam pelajaran agama di sekolah-sekolah
3.      Quantum teaching dalam perspektif pendidikan islam



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Politik terhadap pendidikan Islam di Indonesia
Study kasus ini sangat nyata ketika pemerintah orde baru melanggengkan kekuasaanya selama 32 tahun, intervensi pemerintah melaui penyajian subjek tertentu dalam kurikulum (seperti mata pelajaran/kuliah pancasila); indoktrinasi atau penataran (seperti penataran P4), adalah bukti nyata bahwa pendidikan adalah salah satu sarana kepentingan politik penguasa.
Mochtar Buchori[1] menyatakan dalam pandanganya bahwa generasi politik yang mengatur kehidupan bangsa selama periode orde baru tumbuh pada waktu kondisi pendidikan kita sudah mulai menurun. Ekspansi system pendidikan yang berlangsung sangat cepat pada waktu itu, tanpa diketehui dan dikehendaki, telah merosotkan mutu sekolah-sekolah. Kemerosotan ini terjadi, karena elit pendidikan yang sangat kecil yang dimiliki saat itu, harus direntang panjang-panjang untuk memungkinkan ekspansi system yang cepat tersebut.
Pada masa Orde Baru birokrasi sebagai sarana efektif untuk melakukan intervensi kepada semua aspek kehidupan bernegara. Eksistensi penguasa concern utama bagi pemerintah, sehingga intervensi yang dilakukan oleh penguasa terhadap semua aspek kehidupan bernegara sebagai instrumen penting untuk mendorong kelestarian dan kelangsungan penguasa. Akibat dari system sentralis ini mebuat sikap apatis dikalangan cendikiawan dan semua lapisan masyarakat untuk berfikir secara demokratris, kristis, dan kreatif.
Sistem pemerintahan Orde Baru ini, menghalangi munculnya gerakan oposisi sebagai social control terhadap pemerintahan atau penguasa. Oposisi dalam suatu Negara yang demokratis menjadi suatu keharusan poltik yang harus di tempatkan pada posisi yang penting. Di Indonesia ini di gerakan oposisi di pandang oleh penguasa sebagai pendobrak terhadap eksistensi pengauasa, sehingga munculnya oposisi selalu tidak sepi oleh kecurigaan pengausa, di dukung oleh otoritarian.
Berbeda dengan pernyataan sebelumnya kasus yang sama terjadi dimana masih terdapatnya pemimpin kita baik dalam skala nasional maupun daerah menjadikan pendidikan (apalagi pendidikan Islam) sebagai komoditas politik, sehingga “tema-tema” pendidikan kadang-ladang menjadi slogan politis dalam upaya melanggengkan kekuasaanya, entah dalam kasus masih dalam pemerintahanya maupun ketika menjelang Pilkada.
Sering dilupakan oleh kalangan pendidik bahwa salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam adalah aspek politik. Dalam aspek ini di jelaskan hubungan antara masyarakat dengan pemerintahan, hubungan antar Negara, hubungan antarorganisasi, dan sebagainya. Atas dasar ini, antara pendidikan islam dengan politik punya hubungan erat yang sulit untuk dipisahkan.
Dalam sejarah, hubungan antara pendidikan dengan politik bukanlah suatu hal yang baru. Sejak zaman Plato dan Aristoteles, para filsuf dan pemikir politik telah memberikan perhatian yang cukup intens terhadap persoalan politik. Kenyataan ini misalnya ditegaskan dengan ungkapan “As is the state, so is the school ”, atau “What you want is the state, tou must put into the school “. Selain terdapat teori yang dominant dalam demokrasi yang mengasumsikan bahwa pendidikan adalah sebuah korelasi bagi suatu tatanan demokratis[2].
Dalam sejarah Islam misalnya, hubungan antara pendidikan dengan politik dapat dilacak sejak masa- masa pertumbuhan paling subur dalam lembaga- lembaga pendidikan Islam. Sepanjang sejarah terdapat hubungan yang amat erat antara politik dengan pendidikan. Kenyataan ini dapat dilihat dari pendirian beberapa lembaga pendidikan Islam di Timur Tengah yang justru disponsori oleh penguasa politik. Contoh yang paling terkenal adalah madrasah Nizhamiyah di Bagdad yang didirikan sekitar 1064 oleh Wazir Dinasti Saljuk, Nizham al- Mulk. Madrasah ini terkenal dengan munculnya para pemikir besar. Misalnya, Al- Ghozali sempat mentransfer pengetahuanya di lembaga ini, yakni menjadi guru.
Di Indonesia, munculnya madrasah merupakan konsekuensi dari proses modernisasi surau yang cenderung di sebabkan oleh terjadinya tarik menarik antara system pendidikan tradisional dengan munculnya lembaga pendidikan modern dari Barat. Namun, disadari oleh Ki Hajar Dewantara bahwa peran ulama telah melahirkan system budaya kerakyatan yang bercorak kemasyarakatan dan politik, disamping spiritual. Hal ini terbukti bayangkanya para alumni pesantren yang melanjutkan studi ke universitas terkemuka baik di dalammupun di luar negeri[3].
Madrasah di Indonesia yang dikelola oleh suatu organisasi social kemasyarakatan banyak dipengaruhi oleh orientasi organisasinya. Madrasah yang didirikan oleh Muhammadiyah lebih bersifat ala Muhammadiyah. Demikian halnya denga madrasah yang dikelola oleh NU orientasi pendidikanya lebih menitik beratkan pada kemurnian mazhab.
Konsekuensi dari keragaman orientasi pendidikan tersebut adalah munculnya para tokoh formal dan informal yng memiliki pemikiran dan pergerakan politik yang berbeda[4], ada yang berfikir lebih modernis, fundamentalis, tradisionalis dan nasionalis. Meski prilaku politik seorang tokoh semata- mata tidak hany di tentukan oleh institusi pendidikan tertentu dan masih ada factor lain (lingkungan, sosiokultural, potensi berfikir, dan sebagainya), pengaruh suatu institusi pendidikan cukup berarti dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang untuk mempunyai paradigma berfikiryang berbeda.
Sejarah GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam) juga amat menarik untuk dijadikan sebagai sample mengenai korelasi signifikan antara pendidikan Islam dan politik. Sebab pada kasus ini politik menjadi mediasi untuk menumbuh kembangkan institusi pendidikan Islam. GUPPI yang sejak awal berdirinya merupakan wadah organisasi Islam yang terbentuk sebagai sikap peduli para tokoh muslim setelah melihat gejala besarnya partisipasi politik para tokoh – tokoh muslim yang berakibat kurangnya perhatian mereka terhadap pendidikan Islam.
Namun dalam perjalanan berikutnya, strategi untuk meningkatkan perkembangan dan kualitas pendidikan Islam, para tokoh- tokoh aktivis GUPPI lebih memilih untuk bergabung dan berafiliai pada partai politik tertentu, dengan harapan bahwa melalui jalur ini kepentingan GUPPI untuk mengembangakan dan meningkatkan mutu pendidikan dapat terpenuhi. Sayangnya, peran politik yang dimainkan oleh para aktivis GUPPI di partai Golkar kurang maksimal, akhirnya cita- cita dan impian yang di capai untuk menyalurkan kepentingan umat Islam dalam meningkatkan pendidikan Islam kurang memenuhi harapan.
Terlepas dari seluruh kegagalan tersebut, penulis hendak mengatakan bahwa keterlibatan dalam berpolitik dapat menjadikan mediasi untuk mnyalurkan kepentingannya secara individual maupun organisasi.
Secara umum bahwa pendidikan (Dalam konteks politik Indonesia) pada masa orba jelas hanya berorietasi mengabdi kepada kepentingan Negara dan penguasa. Penciptaan manusia penganalis sebagimana di canangkan DR. Daud Yusuf, dalam prakteknya justru merupakan proses pengebirian kebebasan akademik dan kreativitas mahasiswa serta melahirkan para birokrat kampus. Sehingga hasilnya adalah generasi yang apatis dengan lingkungan sekitar namun sangat self- centered. Mereka jelas bukan manusia yang dicita- citakan Muhammad Hatta dan Djarir dimana pencerahan, pemahaman, dan penyadaran akan hak dan kewajibannya sebagi anak bangsamenjadi landasan kiprahnya.
Reformasi yang telah bergulir, semestinya dapat merintis jalan bagi pemulihan kembali demokratisasi yang selama beberapa dasawarsa mengalami diskontinuitas. Termasuk dalam hal ini adalah upaya mengembalika fungsi dan peran pendidikan sebagiamana dicita- citakan oleh para pendiri bangsa yang termaksud dalam konstitusi, yang difomulasikan dalam kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembenahan secara fundamental terhadap system Pendidikan Nasional merupakan conditiosine quainin yang harus dimulai dari tataran yang paling dasar visi sampai dengan implementasi dalam kurikulum. Pada tataran paling dasar, tujuan pendidikan untuk membentuk kepribadian manusia Indonesia yang tercerahkan dan memiliki tanggung jawab, merupakan substansinya. Dengan landasan visi seperti ini, maka pendidikan tidak lagi hanya ditujukan untuk memproduksi manusia terpelajar dan berkeahlian demi malayani keperluan pasar tenaga kerja manusia yang di kuasai oleh kehendak untuk mengontrol, mengekploitasi, dan berkuasa, tetapi yang di pentingkan adalah pertumbuhannya manusia berbudaya yang dapat menghayati dan memahami kehidupan bersama, sebagai komunitas mengada (the community of being) yang saling terkait satu sama lain dan karena saling menjaga dan membuahkan mengeksploitasi.
Untuk mewujudkan visi semacam itu di perlukan proses pendidikan yang menggunakan pendekatan pendidikan demokratis. Bukan lagi proses searah one way communication. sebagaimana yang kita temukan diruang-ruang kelas mulai dari TK hingga keuniversitas, proses belajar mengajar bukan lagi proses pencekokan murid/mahasiswa dengan berbagai materi yang terkesan sangat normatif bahkan sacral, tapi marupakan proses dialektika antara para pelakunya, dengan mempersalahkan fenomena-fenomena yang hangat dalam masyarakat.
Akhirnya denga perombakan system pendidikan nasional itulah kita berharap bahwa, pendidikan akan menjadi factor utama dalam proses menjadi bangsa yang modern beradab serta tercerahkan.

B.     Mensiasati Kekurangan Jam Pelajaran Agama Di Sekolah-sekolah
Salah satu masalah yang sering dikemukakan para pengamat pendidikan islam yaitu adanya kekurangan jam pelajaran untuk pengajaran agama islam yang disediakan di sekolah-sekolah umum seperti SD, SMP, atau SMA. Masalah inilah yang sering di anggap sebagai penyebab utama timbulnya kekurangan para pelajaran dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama. Sebaagi akibat dari kekurangan ini, para pelajar tidak memiliki bekal yang memadai untuk membentengi dirinya dari berbagai pengaruh negatif akibat globalisasi yang menerpa kehidupan . Banyak pelajar yang terlibat dalam perbuatan yang kurang terpuji seperti tawuran, pencurian, penodongan, penyalah gunaan obat -obatan terlarang, dan sebagainya. Semua ini karna para pelajar kurangnya bekal pendidikan agama.  
Untuk mengatasi permasalahn tersebut di atas, solusi yang ditawarkan antara lain dengan menambah jumlah jam pelajaran agama di sekolah dan dengan menambah waktu untuk memberikan perhatian, kasih sayang, bimbingan dan pengawasan dari kedua orang tua di rumah. Disini akan saya beri solusi alternatif untuk menambah jam pelajaran Agama :
  1. Merubah orientasi dan fokus pengajaran agama yang semula bersifat subjek matter oriented  menjadi pengajaran agama yang berorientasi pada pengalaman dan pembentukan sikap keagamaan melalui pembiasaan hidup sesuai dengan agama.
  2. Dengan cara menambah jam pelajaran agama yang diberikan di luar jam pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Dalam kaitan ini berupa kegiatan ekstra kurikuler seperti pesantren kilat, ROHIS dan lain sebagainya.
  3. Meningkatkan perhatian dan kasih sayang serta bimbingan serta pengawasan yang di berikan oleh kedua orang tua di rumah. Hal ini berdasarkan pada pemikiran bahwa anak-anak yang sedang dirumah tumbuh dewasa dan belum membentuk sikap keagamaannya sangat memerlukan bantuan dari kedua orang tua.
  4. Dengan cara melaksanakan tradisi keislaman yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnahb yang disertai dengan penghayatan akan makna dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.
  5. Pembinaan sikap keagamaan tersebut dapat pula dilakukan dengan memanfaatkan berbagai mass media yang tersedia, seperti radio, surat kabar, buku bacaan, televisi, dll. Di ketahui bahwa salah satu ciri di era modern ini adalah tersedianya berbagai media komunikasi dan informasi di samping menawarkan berbagai pilihan yang negatif juga pilihan yang positif.[5] Atau contoh lain, dalam melakukan praktikum IPA, guru bisa menyampaikan perlunya kejujuran dan kesabaran dalam melakukan praktek, sebab tanpasemua itu hasil dari praktek tidak akan memuaskan bahkan mungkin gagal.[6]
C.    Quantum Teaching Dalam Perspektif Pendidikan Islam
Ada keprihatinan yang perlu ditanggapi dan direspon secara serius di Negeri kita berkenaan dengan pendidikan. Tampaknya pendidkan belum dianggap sebagai salah satu faktor pokok penyebab terburuknya bangsa ini. Terbukti bahwa tudingan-tudingan sebagian besar pengamat, apalagi para politisi hanya diarahkan pada ekonomi dan politik. Pendidikan seolah bukan bagian pokok penyeba nyaris ambruknya negeri ini.
Realitas ini menunjukkan kapasitas dan wawasan bangsa ini masih belum bisa berpikir jauh ke depan. Artinya kapasitas dan wawasan kita rnasih berkutat pada kondisi kekinian saja sehingga solusi dan pemecahan problem juga rnelulu bersifat teknis-pragmatis, tidak strategis jangka panjang. Memang solusi teknis-pragmaris sangat dibutuhkan, tetapi mestinya solusi tersebut tidak mengorbankan program-program strategis jangka panjang karena itu diperlukan keberanian untuk menetapkan prioritas dibidang pendidikan sehingga sektor-sektor yang lain mengalarni penghematan. Mestinya kita semua tidak takut untuk berpihak dan kita sama-sama mengikat pinggang demi rneningkatkan pendidikan.
Pendidikan merupakan program strategis jangka panjang. Karena itu, kerja-kerja dan perbaikan serta peningkatan bidang pendidikan tidak bisa dijalankan secara reaktif, sarnbil lalu dan sekenanya, melainkan mesti dcngan cara proaktif, intensif dan strategis.
            Membicarakan pendidikan melibatkan banyak hal yang harus direnungkan sebab, pendidikan meliputi keseluruhan tingkah laku manusia yang dilakukan demi memperoleh kesinambungan, pertahanan dan peningkatan hidup. Dalam Bahasa Agama, demi memperoleh ridlo atau perkenan Allah. Sehingga keseluruhan tingkah laku tersebut membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlaq karirnah), atas dasar iman kapada Allah dan tanggung jawab pribadi dihari kernudian.
            Dalam hal pendidikan Islam, maka Affandi Mochtar menyatakan bahwa kebijaksanaan pengernbangan pendidikan Islam pada masa depan harus diorientasikan pada target keunggulan mengingat tantangan kompetisi baik pada tingkat lokal maupun global yang semakin luas.[7] Gagasan seperti ini akan semakin baik apabila juga diikuti dengan pola kebijaksanaan yang adil dan tidak diskrirninatif dengan memberikan peluang dan dukungan yang seimbang terhadap semua bentuk lembaga pendidikan yang berkembang di masyarakat.
            Diantara kendala besar yang dihadapi untuk rnenjadi lembaga pendidikan yang unggul dan berkualitas adalah rendahnya kualitas kegiatan belajar mengajar (KBM), Lebih khusus lagi disebabkan oleh rendahnya daya kreativitas. dan profesionalisme Guru Dalam pengelolaan kelas, termasuk bagaimana menyusun Langkah-langkah dalam proses pengajaran yang seharusnya. Misalnya guru belum terbebas dari penerapan metode Pelajaran yang masih terlalu mementingkan subject matter (seperti terlihat dalam Garis-garis besar program pengajaran, GBPP, yang rigid) daripada siswa, dalam hal ini siswa sering merasa dipaksa untuk menguasai pengetahuan dan rnelahap informasi daripada Guru tanpa memberi peluang kepada para siswa untuk melakukan perenungan secara kritis. Pada gilirannya kondisi seperti ini melahirkan proses belajar-mengajar rnenjadi satu arah. Guru memberikan berbagai pelajaran dan informasi menurut GBPP, sedang siswa dalam kondisi terpaksa harus menelan. dan rnenghafal secara mekanis apa-apa yang telah disampaikan oleh guru. Guru menyampaikan pernyataan-pernyataan, dan murid mendengarkan dengan patuh. Pendidikan menjadi sangat analog dengan kegiatan menabung, dimana guru menjadi penabung dan murid adalah celengannya.[8]
            Metode pengajaran semacam ini mengakibatkan para siswa menjadi tidak memiliki keberanian untuk rnengemukakan pendapat, tidak kreatif dan mandiri, apalagi untuk berpikir inovatif dan problem solving, suasana belajar yang penuh keterpaksaan itu berdampak pada hilangnya upaya mengaktivasi potensi otak, sehingga potensi otak yang luar biasa itu belum pernah berhasil mengaktual, dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas lulusannya.
            Dengan demikian sebuah metode yang lebih cocok bagi para siswa di masa sekarang ini harus ditemukan, untuk kentudian diterapkan. Apapun nama dan istilah metode tersebut tidak jadi soal, asalkan ia lebih menekankan peran aktif para siswa. Guru tentu saja tetap dianggap lebih berpengalaman dan lebih banyak pengetahuannya, tetapi ia tidak pemegang satu-satunya kebenaran. Sebab, kebenaran bisa saja datang dari para siswa.
            Sehubungan dengan masalah ini dan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah ditemukan rancangan system pengajaran yang dikenal dengan istilah Quantum Teaching, yaitu rancangan system pengajaran yang menggairahkan dan bertumpu pada prinsip-prinsip dan teknik-teknik Quantum Learning di ruang-ruang kelas di sekolah. Dengan kata lain system pengajaran ini dirancang untuk mempraktekkan secara terstruktur dan terarah metode Quantum Learning di ruang kelas. Systern pengajaran ini diformulasikan untuk mencetak siswa-siswa yang tak hanya memiliki keterampilan akademis, tetapi juga memiliki keterampilan. hidup (life skill) sebuah keterampilan penting yang penggunaannya tidak dibatasi oleh dinding-dinding ruangan kelas, melainkan oleh langit, udara, laut dan bumi.[9]
            Quantum Teaching merangkaikan hal-hal yang dianggap terbaik rnenjadi sebuah paket multisensori, multikecerdasan, dan kornpatibel dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi.
            Sebuah pendekatan belajar yang segar, mengalir, praktis, dan mudah diterapkan, Quantum Teaching menawarkan suatu sintesis dari cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pengajaran melalui perkembangan hubungan penggubahan belajar, dan penyarnpaian kurikulum. Metodologi ini dibangun berdasarkan pengalaman delapan belas tahun dan penelitian terhadap 25.000 siswa dan sinergi pendapat dari .ratusan guru.
            Quanturn Teaching mencakup petunjuk spesifik untuk rnenciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar.
          Quantum Teaching merupakan karya Bobbi De Porter, Kepala Learning Forum, sebuah perusahaan yang berbasis di Oceanside, California. Dia seorang profesional di bidang pendidikan dan mempunyai daya kreatifitas yang sangat mengagurn.
Dalarn Islam, setiap pekerjaan termasuk pekerjaan guru harus dilakukan secara profesional, dalam arti dilakukan secara benar. Itu hanya rnungkin dilakukan oleh orang yang ahli. Karena bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang tidak ahli maka tunggulah kehancurannya. Kehancuran di sini dapat diartikan secara terbatas dan bahkan juga sampai berantai dan berakibat terjadinya kehancuran secara luas.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pendidikan Islam dan politik dimaksudkan sebagai suatu proses transformasi nilai-nilai sosial politik melaui institusi pendidikan Islam. Kemudian juga pendidikan Islam dan politik dimaksudkan mendeskripsikan perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam berdasarkan sejarah perpolitikan di Indonesia pada masa pra dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia.
Tarnsformasi nilai-nilai politik melalui institusi pendidikan dilakukan dengan melakukanintervensi terhadap kebijakan pendidikan Islam di Indonesia, sementara ada beberapa peran dan fungsi pendidikan Islam dalam Politik diantaranya adalah Pendidikan Islam sebagai sarana untuk kepentingan politik penguasa, Pendidikan Islam sebagai wahana kepentingan keagamaan dan sarana mempertahankan identitas ke-Islaman, Pendidikan Islam sebagai sarana melahirkan warga Negara yang baik, Pendidikan Islam sebagai wahana melahirkan elit-elit bangsa, Pendidikan Islam sebagai wahana untu melahirkan high politik (politik tingkat tinggi).
Kemudian juga melalui politik kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pengikatan kulitas pendidikan dapat dilakukan dengan ikut serta dalam system perpolitikan atau paling tidak berada dalam lingkaran kebijakan baik berskala local maupun nasional.



DAFTAR PUSTAKA

Mochtar Buchori “Peranan Pendidikan dalam Pembentukan Budaya Politik di Indonesia”, dalam Sindhunata, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Yogyakarta, Kanisius, 2000, hal.1
James.S.Colemanditulis oleh Supriyanto dalam H. Abudin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Grasindo, 2001
M. Dawam Rahardjo, Intelektual, Intelejensia Dan Perilaku Politik, Risalah Cendikiawan Muslim, Bandung, Mizan, 1993, hlm. 192
Deliar Noer, Administrasi Islam di Indonesia, Yayasan Risalah, Jakarta, 1983, hlm. 6-7

http://yuliagusyulianto.blogspot.com/2011/03/mensiasati-kekurangan-jam-pelajaran-pai.html Oleh Agus Yulianto pada Rabu, 16 Maret 2011

Tayar Yusuf, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab , (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 73.

Rahim, Husni, 2001, Arah Baru Pendidikan Islam Di Indonesia, Cet. I, Jakarta : PT. Logos Wacana Ilmu, h. 11
Sidi, Djati Indra, 2001, Menuju Masyarakat Belajar, Cet. I, Jakarta : Paramadina, h. 27
Porter, De, Bobbi, 1999, Quantum Learning, Cet. V, Bandung : Kaifa




[1] Mochtar Buchori “Peranan Pendidikan dalam Pembentukan Budaya Politik di Indonesia”, dalam Sindhunata, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Yogyakarta, Kanisius, 2000, hal.19
[2] James.S.Colemanditulis oleh Supriyanto dalam H. Abudin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Grasindo, 2001
[3] M. Dawam Rahardjo, Intelektual, Intelejensia Dan Perilaku Politik, Risalah Cendikiawan Muslim, Bandung, Mizan, 1993, hlm. 192
[4]Deliar Noer, Administrasi Islam di Indonesia, Yayasan Risalah, Jakarta, 1983, hlm. 6-7
[6] Tayar Yusuf, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab , (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 73.
[7] Rahim, Husni, 2001, Arah Baru Pendidikan Islam Di Indonesia, Cet. I, Jakarta : PT. Logos Wacana Ilmu, h. 11
[8] Sidi, Djati Indra, 2001, Menuju Masyarakat Belajar, Cet. I, Jakarta : Paramadina, h. 27
[9]Porter, De, Bobbi, 1999, Quantum Learning, Cet. V, Bandung : Kaifa

2 comments:

  1. terima kasih telah berbagi mudahan menjadi amal jariyah dan berkah bagi yang lain

    ReplyDelete

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com