Thursday, 2 October 2014

MAKALAH PERIODE PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
      Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang yang menggunakan istilah “pertumbuhan” dan “perkembangan” secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung secara interdependensi, artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini tidak bias dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri sendiri-sendiri; akan tetapi bias dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaannya.   Dalam hal ini kedua proses tersebut memiliki tahapan-tahapan diantaranya tahap secara moral dan spiritual. Karena pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dilihat dari tahapan tersebut memiliki kesinambungan yang begitu erat dan penting untuk dibahas maka kita meguraikannya dalam bentuk struktur yang jelas baik dari segi teori sampai kaitannya dengan pengaruh yang ditimbulkan.  

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian pertumbuhan dan perkembangan?
2.    Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan?
3.    Bagaimana perodeiasi perkembangan?

C.    Tujuan Penulisan
1.  Untuk mengetahui pengertian pertumbuhan dan perkembangan.
2.  Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.
3.  Untuk mengetahui periodisasi pertumbuhan dan perkembangan.








BAB II
PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
1.    Pengertian Pertumbuhan
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahna kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya.[1]Dengan demikian, pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Pertumbuhan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalani hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain- lain.
2)      Dalam pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi yang dapat terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi hingga dewasa.
3)      Pada pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa pertumbuhan, seperti hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks-refleks tertentu.
4)      Dalam pertumbuhan terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti proses kematangan, seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis, atau dada.

2. Pengertian Perkembangan
Perkembangan adalah suatu perubahan; perubahan kearah yang lebih maju, lebih dewasa. Secara teknis, perubahan tersebut biasanya disebut proses. Jadi garis besarnya para ahli sependapat bahwa perkembangan itu adalah suatu proses.[2] Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis[3], perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambant laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan tambah jelas dalam rangka keseluruhan.
Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi fungisional. Dari uraian ini perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif dari fungsi-fungsi. [4]
Menurut Nagel (1957) perkembangan merupakan pengertian di mana terdapat strukur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Menurut Schneirla (1957), perkembangan adalah perubahan-perubahan progresif dalam organisasi individu, dan organisasi ini dilihat sebagai sistem fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan-perubahan ini meliputi dua faktor yaitu faktor kematangan dan pengalaman.
Spiker (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan, yakni Ortogenetik dan Filogenetik[5].
Bijou dan Baer(1961) mengemukakan perkembangan psikologis adalah perubahan progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungan. Rumusan lain tentang arti perkembangan dikemukakan oleh Libert, Paulus, dan Strauss (Singgih, 1990:31), yaitu bahwa: “Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan”. Perkembangan dapat juga dilukiskan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar (Monks, 1984:2).
Jadi, proses perkembangan adalah suatu proses dalam diri individu dalam menuju proses kedewasaan dalam berpikir dan semakin meningkatnya proses kematangan dan pangalaman. Perubahan-perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut dapat dibagi menjadi 4 kategori yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam perbandingan, perubahan untuk mengganti hal-hal yang lama, dan perubahan untuk memperoleh hal-hal yang baru.[6]
Pendapat para ahli biologi tentang arti pertumbuhan dan perkembangan pernah dirangkumkan oleh Drs. H. M. Arifin, M. Ed. bahwa pertumbuhan diartikan sebagai suatu penambahan dalam ukuran bentuk, berat atau ukuran dimensif tubuh serta bagian-bagiannya. Sedangakn perkembangan menunjuk pada perubahan-perubahan dalam bentuk bagian tubuh dan integrasi berbagai bagiannya ke dalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung. Intinya bahwa pertumbuhan dapat diukur sedangkan perkembangan hanya dapat dilihat gejala-gejalanya. Perkembangan dipersyarati adanya pertumbuhan.
Perkembangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Perkembangan selalu melibatkan proses pertumbuhan yang diikuti dari perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem reproduksi akan diikuti perubahan pada fungsi alat kelamin.
2)      Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum tetap, yaitu perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju ke arah kaudal atau dari bagian proksimal ke bagian distal.
3)      Perkembangan memiliki tahapan yang berurutan mulai dari kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan melakukan hal yang sempurna.
4)      Perkembangan dapat menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya, di mana tahapan  perkembangan harus melewati tahap demi tahap (Narendra, 2002).




B.  FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
1.      Nativisme
Pembawaan adalah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika lahir yang merupakan warisan dari orang tua’. Para ahli yang beraliran Nativisme nerpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor dasar/pembawaan.[7]    
Aliran Nativisme dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1778-1860), dari Jerman. Beliau mengatakan bahwa bakat mempunyai peranan yang penting. Ridak ada gunanya orang mendidik kalau bakat anak memang jelek. Sehingga pendidikan diumpamakan ‘merubah emas jadi perak’ jadi suatu hal yang tidak mungkin.
Dengan demikian faktor lingkungan atau pendidikan menurut aliran ini tidak bisa berbuat apa-apa dalam mempengaruhi perkembangan seseorang. Dalam pendidikan ilmu aliran inidikenal sesbagai aliran pedagogik pesivisme[8] yaitu pendidikan yang tidak dapat dipengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh pendidik.[9]
Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang Tua dan anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinannya adalah besar anaknya juga akan menjadi ahli musik, jika orang tua ahli melukis maka besar kemungkinan anaknyapun ahli dalam melukis.[10] Mungkin penyusun disini bisa mengibaratkan seperti ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’.
Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dan anak-anaknya.
Akan tetapi pantas diragukan pula, apakah kesamaan yang ada antara orang tua dan anak itu benar-benar dasar yang dibawa sejak lahir. Sebab, jika sekiranya anak seorang ahli musi juga menjadi ahli musik, apakah hal itu benar-benar berakar pada keturunan atau dasar? Apakah tidak mungkin karena adanya fasilitas-fasilitas untukn dapat maju dalam bidang seni musik maka dia lalu menjadi seorang ahli musik.[11] Pada umumya teori nativisme sekarang telah ditinggalkan orang.[12] 
2.      Empirisme
Lingkungan sering diartikan orang secara sempit dengan alam sekitar. Dalam psikologi, lingkungan diartikan dalam pengertian yang luas mencakup lingkungan yang ada di dalam dan di luar individu.[13] Yang dimaksud lingkungan disini ialah segala sesuatu yang ada diluar diri anak yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan. Dalam pembicaraan pada bagian ini, maka pendidikan dimasukkan juga sebagai faktor lingkunga.
Factor lingkungan juga disebut faktor ajar. Dengan demikian, lingkungan dapat berupa benda-benda, orang-orang, keadaan-keadaan dan peristiwa yang ada disekitar anak, yang bias memberikan pengaruh pada perkembangannya, baik secara langsung ataupun tidak langsung, baik secara sengaja atau ridak sengaja. Disamping lingkungan itu memberikan pengaruh dan dorongan, lingkungan juga merupakan arena yang memberikan kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan (bawaan) yang ada pada seseorang anak untuk berkembang.
Berbeda dengan aliran Nativisme, para ahli yang mengikuti aliran ‘Empirisme’ berpendapat bahwa perkembangan itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali.[14]    
Aliran Empirisme dipelopori oleh John Locke (1632-1704). Beliau mengatakan bahwa pendidikan itu perlu sekali. Teori ini terkenal dengan teori Tabula rasa. Menurut teori ini lingkunganlah yang menjadi penentu perkembangan seseorang. Karena baik buruknya perkembangan pribadi seseorang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau pendidikan.
Menurut pendapat kaum empiris, lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang oleh karena itu dalam ilmu pendidikan aliran ini disebut dengan aliran pedaogik optimisme artinya pendidikan maha kuasa untuk membentuk atau mengembangkan pribadi seseorang.
Para ahli yang mengikuti pendirian empirisme mempunyai pendapat yang langsung bertentangan dengan pendapat aliran nativisme. Kalau pengikut-pengikut aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata bergantung pada faktor dasar, maka pengikut-pengikut aliran empirisme berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata bergantung pada faktor lingkungan sedangkan dasar tidak memainkan peranan sama sekali. Selanjutnya aliran ini sangat besar pengaruhnya di Amerika Serika, dimana banyak ahli yang tidak eksplisit menolak peranan dasar itu, namun  karena dasar itu sukar untuk ditentukan, maka praktis yang dibicarakan hanyalah lingkungan, dan sebagai konsekuensinya juga hanya lingkunganlah yang masuk pencaturan. Paham environmentalisme yang banyak pengikutnya di Amerika Serikat itu pada hakikatnya adalah kelanjutan daripada aliran empirisme.[15]
Aliran empirisme ini menimbulkan optimisme dalam lapangan pendidikan. Aliran ini menimbulkan keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan. Watak, sikap, dan tingkah laku manusia dianggapnya bisa dipengaruhi seluas-luasnya oleh pendidikan. Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh  yang tidak terbatas.
Bahaya yang timbul dari pandangan ini dalam lapangan pendidikan ialah bahwa pandangan itu dapat mengakibatkan anak tidak diperlakukan sebagai anak, akan tetapi diperlakukan semata-mata manurut keinginan orang dewasa. Pribadi anak sering diabaikan dan kepentingannya dilalaikan.[16]
3.      Konvergensi
Aliran ini dipelopori oleh William Stem (1871-1938). Aliran ini mengakui kedua-duanya. Jadi pendidikan itu perlu sekali, tetapi semua ini terbatas karena bakat daripada anak didik. Aliran ini menjembatani atau menengahi kedua teori sebelumnya yang bersifat ekstrim, sesuai dengan namanya Konvergensi yang artinya perpaduan, maka berarti teori ini tidak memihak bahkan memadukan pengaruh kedua unsur pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses perkembangan.[17]
Menurut Elizabeth B. Hurlock, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan seseorang. Tetapi sejauh mana kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, lebih-lebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting.[18]
Faham Konvergensi ini berpendapat, bahwa di dalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan ataupun lingkungan memainkan peranan perting. Realitas menunjukkan bahwa warisan yang yang baik saja tanpa pengaruh lingkungan kependidikan yang baik tidak akan dapat membina kepribadian yang ideal. Sebaliknya, walaupun lingkungan pendidikan itu baik, tidak akan menghasilakan lepribadian yang ideal juga. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu; akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang. Misalnya : Tiap manusia yang normal memiliki bakat untuk berdiri tegak atas kedua kaki; bakat ini tidak aktual (menjadi kenyataan) jika sekiranya anak manusia itu tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia. Anak yang semenjak kecilnya diasuh oleh monyet maka ia tidak akan berdiri tegak diatas kedua kakinya ; mungkin dia akan berjalan dia akan berjalan diatas tangan dan kakinya (jadi seperti monyet).[19]
Paham konvergensi ini berpendapat bahwa di dalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan atau pun lingkungan  memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu; akan tetapi bakat yang telah tersedia itu perlu menumukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.
Dewasa ini sebagian besar para ahli mengikuti konsepsi ini, dengan variasi yang bermacam-macam, ada yang walaupun berpegang pada prinsip konvergensi, tetapi dalam praktiknya menganggap bahwa yang lebih dominan itu dasar, yaitu ahli-ahli psikologi konstitusional; ada pula yang menganggap yang lebih dominan itu adalah lingkungan. Kelompok yang kedua dewasa ini lebih banyak pengikut-pengikutnya terutama di Inggris dan Amerika Serikat Salah satu tokoh yang cukup populer yang mengikuti pendirian yang semacam yang dikemukakan paling akhir itu adalah Alfred Adler.
4.      Naturalisme
Naturalisme berasal dari Perancis oleh Rousseau. Menurut Rousseau manusia itu pada dasarnya baik, ia jadi buruk dan jahat karena pengaruh kebudayaan. Maka dari itu Rousseau menganjurkan supaya kembali kepada alam dan menjauhkan diri dari pengaruh kebudayaan.[20]

5.      Rekapitulasi
Teori rekapitulasi mengatakan bahwa perkembangan individu merupakan ulangan dari perkembangan jenisnya. Teori rekapitulasi dikemukakan oleh Stanley atas teori Hachel dalam lapangan biologi. Hachel sebagai seorang biologi berpendapat bahwa perkembangan jasmani individu itu merupakan ulangan dari pertumbuhan jenisnya. Oleh Stanley Hall pendapat itu dikenakan pada pertumbuhan psikologi anak. Berdasarkan teori rekapitulasi pertumbuhan anak dapat dibagi menjadi lima fase, dan masing-masing fase menunjukkan adanya ciri-ciri tertentu.[21]
Dari kelima teori di atas, teori yang paling sesuai untuk menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembanga anak adalah teori konvergensi. Hal ini karena aliran ini menjembatani atau menengahi kedua teori sebelumnya yang bersifat ekstrim, sesuai dengan namanya Konvergensi yang artinya perpaduan, maka berarti teori ini tidak memihak bahkan memadukan pengaruh kedua unsur pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses perkembangan.[22]

C.  PERIODISASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
1.    Peridesasi-periodesasi yang Berdasar Biologis
Sekelompok ahli dalam membuat periodesasi mendasarkan diri pada keadaan  atau prose biologis tertentu. Diantara pendapat-pendapat yang demikian adalah:
a.    Pendapat Aristoteles
Aristoteles menggambarkan perkembangan anak sejak lahir sampai dewasa itu dalam tiga periode lamanya masing-masing tujuh tahun:
·         Fase I dari 0; 0 sampai 7; 0: masa anak kecil, ke masa bermain;
·         Fase II dari 7; 0 sampai 14; 0: masa belajar atau masa sekolah rendah;
·         Fase III dari 14; 0 sampai 21; 0: masa remaja atau pubertas: masa peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa.
Periodesasi ini berdasarkan atas gejala dalam perkembangan jasmani. Hal ini mudah  ditunjukkan: antara fase I dan fase II dibatasi oleh pergantian gigi, antara fase II dan fase III ditandai oleh mulai bekerjanya perlengkapan kelamin(misalnya kelenjar).

b.   Pendapat Kretschemer
Kretschemer mengemukakan bahwa dari lahir sampai dewasa anak melewati empat fase, yaitu:
·      Fase I dari 0; 0 sampai kira-kira 3; 0 disebut Fillungs-periode I; pada masa ini anak kelihatan pendek gemuk;
·      Fase II kira-kira 3; 0 sampai kira-kira 7; 0 disebut sterckungs periode I; pada masa ini kelihatan  langsing.
·      Fase III dari kira-kira 7; 0 sampai kira-kira 13; 0disebut Fullungs periode II; pada masa ini anak kembali  dari kira-kira kelihatan pendek gemuk.
·      Fase IV dari kira-kira 13; 0 sampai kira-kira 20; 0 disebut sterckungs periode II; pada masa ini anak kembali kelihatan langsing.
Kehidupan kejiwaan anak-anak pada masa-masa tersebut juga menunjukkan sifat-sifat yang khas. Pada periode-periode Fullungs anak menunjukkan sifat-sifat jiwa yang mirip dengan orang yang berhabitus piknis, jadi seperti orang yang cyclothym: jiwanya terbuka mudah untuk  bergaul, mudah didekati, dan sebagainya. Pada periode-periode streckung anak menunjukkan sifat-sifat jiwa yang mirip dengan orang yang ber habitus leptosom, jadi seperti orang yang schizothym: Jiwa tertutup, sukar bergaul, sukar didekati, dan sebagainya.

c.    Pendapat Sigmund Freud
Freud berpendapat bahwa anak sampai umur kira-kira 5; melewati fase-fase yang terdiferensiasikan secara dinamis, Kemudian sampai  12;0 atau 13;0 mengalami fase latent, yaitu suatu fase dimana dinamika menjadi lebih stabil. Dengan datangnya masa remaja (pubertas) dinamika meletus lagi, dan selnjutnya makin tenang kalau orang makin dewasa. Bagi Freud, masa sampai umur 20;0 menentukan bagi pembentukan pribadi seseorang.
Tiap fase dari lahir sampai umur 5;0 ditentukan atas dasar reaksi cara-cara bagian tubuh tertentu. Adapun fase-fase adalah:
1)   Fase oral: 0;0 sampai kira-kira 1;0. Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok daripada aktivitas dinamis.
2)   Fase anal: kira-kira 1;0 sampai kira-kira 3;0. Pada fase ini dorongan dan tahanan berpusat pada fungsi pembuangan kotoran.
3)   Fase fallis: kira-kira 3;0 sampai kira kira 5;0. Pada fase ini alat-alat kelamin merupakan daerah crogen terpenting.
4)   Fase laten: kira-kira 5;0 sampai kira-kira 12;0 atau 13;0. Pada fase ini impuls-impuls cenderung berada dalam keadaan tertekan atau mengendap.
5)   Fase pubertas: kira-kira 23;0 atau 13;0 sampai kira-kira 20;0. Pada fase ini impuls-impuls menonjol kembali.
6)   Fase genital:  dalam batas tertentu juga dimasukkan ke dalam pendapat Montessori.

d.   Pendapat Montessori
Menurut montessori tiap fase perkembangan itu mempunyai arti biologis. Kodrat alam mempunyai rencana tertentu berdasarkan dua asas pokok yaitu:
1)      Asa kebutuhan vital, yaitu apa yang terkenal dengan masa peka.
2)      Asa kesibukan sendiri.
Perkembangan jiwa tidak harus dimengerti sebagai perkembangan fungsi-fungsi yang tidak saling mempengruhi satu sama lain, melainkan harus dimengerti sebagai perwujudan jasmani-rohani, dalam struktur yang berurutan memperoleh pelajaran (latihan) yang penting untuk pembentukan yang tepat (defenitif). Pendidikan berarti mewujudkan atau melaksanakan rencana kodrat alam tersebut.
Montessori mengemukakan empat periode perkembangan yaitu:
1)      Periode I (0;0 – 7;0) adalah perode penangkapan atau penerimaan dan pengaturan dunia luar dengan perantaraan alat indera. Ini adalah rencana motoris dan pancaindera yang bersifat keragaan.
2)   Periode II (7;0- 12;0) adalah rencana abstrak. Pada masa ini anak-anak merencanakan hal-hal kesusilaan, menilai perbuatan manusia atas dasar baik-buruk – dan karenanya – mulai timbul kata hatinya. Pada masa ini anak-anak sangat membutuhkan pendidikan kesuailaan serta butuh  memperoleh pengertian bahwa orang lain pun berhak mendapatkan kebutuhannya.
3)   Periode III (12;0 – 18;0) adalah periode penemuan diri dan kepekaan rasa sosial. Dalam masa ini kepribadian harus dikembangkan sepenuhnya dan harus sadar akan keharusan-keharusan.
4)   Periode IV (18;--) adalah periode pendidikan tinggi. Dalam hubungn dengan ini perhatian Montessori ditujukan kepada mahasiswa-mahasiswa perguruan tunggi menyediakan diri untuk kepentingan dunia. Mahasiswa harus belajar mempertahankan diri terhadap tiap godaan ke arah perbuatan-perbuatan yang terkutuk, dan unuversitas harus memilih mahasiswa-mahasiswa itu.

e.    Pendapat Ch. Buhler
Ch. Buhler banyak menulis. Karyanya yang utama antara lain: Das Marchen Und die Phantasie des Kindes (1918), The Child and His Family (1940), Practische Kinder Psychologie, Psychologie der Puberteitsjaren. Kedua karya yang terakhir itu diterjemahkan kedalam bahasa Belanda oleh I. Carvalno.
Dalam kedua buku yang terakhir itu, terutama dalam Psychologie der Puberteitsjaren, Jelas sekali pandangannya yang biologistis. Ch. Buhler mengemukakan lima fase dalam perkembangan anak, yaitu:
a)    Fase I (0;0 – 1;0), yaitu fase gerak laku ke dunia luar.
b)   Fase II (1;0 – 4;0), yaitu fase makin luasnya hubungan anak dengan benda-benda disekitarnya.
c)    Fase III (4;0 - 8;0), YAITU fase hubungan pribadi dengan lingkungan sosial, serta kesadaran akan kerja, tugas dan prestasi.
d)   Fase IV (8;0 – 13;0), yaitu memuncaknya minat ke dunia objektif, dan kesadaran akan akunya sebagai sesuatu yang berbeda dari aku orang lain.
e)    Fase V (13;0 – 19;0), yaitu fase penemuan diri dan kematangan.

2.    Periodisasi-Perodisasi yang Berdasar Didaktis
a.    Pendapat Comenius
Salah satu konsepsi dalam golongan ini yang sangat terkenal ialah konsepsi yang dikemukakan Comenius. Telah sangat terkenal konsepsinya tentang macam-macam sekolah yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa anak, yaitu:
1)      Scola materna (sekolah ibu), untukn anak-anak umur 0;0 – 6;0;
2)      Scola vernacula (sekolah bahasa ibu) untuk anak-anak umur 6;0 – 12;0
3)      Scola latina (sekolah latin), untuk anak-anak umur 18;0 – 24;0
Untuk masing-masing sekolah itu harus diberikan bahan pelajaran (bahan pendidikan) yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak pula harus dipergunakan cara-cara mendidik atau mengajar yang juga harus sesuai dengan perkembangan jiwa anak.

b.   Pendapat J.J Rousseau
Rousseau dengan karyanya Emile eu du lieducation (1762), juga mengemukakan periodisasi atas dasr didaktis itu. Buku tersebut terdiri dari lima jilid: jilid I sampai IV membicarakan tentang pendidikan anak-anak laki-laki (Emile) dan jilid V tentang pendidikan anak perempuan (Sophie).
1)      I  0;0-0;2 merupakan masa asuhan.
2)      II  2;0-12;0 adalah masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera.
3)      III  12;0-15;0 adalah periode pendidikan akal.
4)      15;0-20;0 adalah periode pembentukan watak dan pendidikan agama.

c.    Periodisasi-Periodisasi yang Berdasar Psikologis
Tokoh utama pendapat yang semata mata mendasarkan diri pada keadaan psikologis ini ialah Oswald Kroh. Kroh berpendapat bahwa apabila orang berbicar tentang psikologi maka yang dipakai sebagai landasan haruslah juga keadaan psikologis anak, bukan keadaan biologis atau keadaan yang lain lagi. Berhubung dengan itu maka ia lalu mencari keadaan yang psikologis yang manakah kiranya yang khas yang dialami oleh setiap anak dalam masa-masa kegoncangan. Kalau perkembangan itu sekiranya dapat digambarkan sebagai proses evolusi maka pada masa-masa kegoncangan itu evolusi berubah menjadi revolusi.[23]

D.    DALIL TENTANG TENTANG LARANGAN UNTUK MERAMAL KARAKTER SESEORANG (MASUKAN)

@è% Hw ãAqè%r& óOä3s9 ÏZÏã ßûÉî!#tyz «!$# Iwur ãNn=ôãr& |=øtóø9$# Iwur ãAqè%r& öNä3s9 ÎoTÎ) î7n=tB ( ÷bÎ) ßìÎ7¨?r& žwÎ) $tB #Óyrqム¥n<Î) 4 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o 4yJôãF{$# 玍ÅÁt7ø9$#ur 4 Ÿxsùr& tbr㍩3xÿtGs? ÇÎÉÈ  
50. Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
“Siapa yang mempelajari ilmu nujum, maka ia telah mempelajari bagian dari sihir. Semakin bertambah ilmu nujumnya, semakin bertambah pula sihirnya.” (Hadits shohih, riwayat Abu Dawud dan selainnya dari Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma-)
  
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahna kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya. Dengan demikian, pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal.
Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi fungisional. Dari uraian ini perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif dari fungsi-fungsi.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu Nativisme, Empirisme, Konvergensi, Naturalisme dan Rekapitulasi.
Periodisasi Perodisasi perkembangan meliputi:
1.      Periodisasi-periodisasi yang berdasar Biologis
2.      Periodisasi-periodisasi yang berdasar Didaktis
3.      Periodisasi-periodisasi yang berdasar Psikologis

B.       Saran
Masalah Perkembangan kejiwaan anak adalah sangat penting untuk diketahui apalagi yang berhubungan dengan dunia pendidikan, oleh karena itu pemakalah menyarankan agar sekiranyakita semua tidak menganggap remeh dan sepele masalah perkembangan kejiwaan seseorang. Karena bisa saja, perkembangan kejiwaan yang terarah dengan baik akan mensukseskan pendidikan anak.

DAFTAR PUSTAKA

Indrakusuma, Amir Dien. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
Mustakim. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sabri, Alisuf. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta: CV. Pedoman Imu Jaya.
.1993.  Pengembangan psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.
Suryabrata, Sumadi. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
.2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/10/20/pertumbuhan-dan-perkembangan/ oleh Muh Fatkhu Rohman Alhamdani pada 10 Oktober 2010.



[1] Mustakim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 24.
[2] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), hlm. 170.
[3] Ortogenetik adalah sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
[4] Mustakim, Op. Cit. 31.
[5] Filogenetik adalah perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang ini.
[6] http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/10/20/pertumbuhan-dan-perkembangan/ oleh Muh Fatkhu Rohman Alhamdani pada 10 Oktober 2010.
[7] Alisuf Sabri, Pengembangan psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1993), cet. I, hal. 173.
[8] pedagogik pesivisme adalah Pedagogik Pesimisme” yaitu pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh penndidikan.
Bagi kaum nativis mereka mengangap yang menentukan perkembangan seorang anak itu hanyalah faktor pembawaan, mereka tidak memperhatikan rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar. Padahal kita tahu bahwa tidak semua sesuatu ditentukan oleh warisan atau pembawaan orang tuanya, misalnya orang tuanya adalah sesorang tentara ternyata karena pengaruh teman-temannya, anaknya menjadi seorang seorang guru. Hal semacam ini mungkin saja terjadi, karena lingkungan pergaulan anak itu tidak hanya di rumah atau dibawah pengawasan orang tuanya saja, tetapi juga di sekolah, masyakat, organisasi dan lain-lain.
[9] Amir Dien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1973), cet. Ke-1, hal. 83
[10]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1993), cet. VI, hal. 185
[11] Sumadi Suryabrata, Op. Cit 177-178.
[12] Mustakim, Op. Cit. 33.
[13] Alisuf Sabri, op.cit., hal. 173
[14] Ibid.
[15]Sumadi Suryabrata, Op. Cit 178-179.
[16] Mustakim, Op. Cit. 34.
[17] Amir Dien Indrakusuma, Op. Cit., hal. 83
[18]Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: CV. Pedoman Imu Jaya, 1996), cet. II, hal. 173.
[19] Sumadi Suryabrata, Op. Cit., hal. 188.
[20] Mustakim, Op. Cit. 34.
[21] Ibid.
[22] Amir Dien Indrakusuma, Op. Cit., hal. 83
[23] Sumadi Surya Brata, Op. Cit, hlm. 185-191.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com