Thursday, 2 October 2014

MAKALAH PERANAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar.[1] Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.
Dapat kita pahami bahwa betapa luasnya cakupan psikologi yang meliputi hampir segala aspek kepribadian dan kativitas dalam kehidupan ini. Asumsi ini berorientasi pada argument bahwa psikologi adalah suatu ilmu yang berusaha untuk menyelidiki semua spek kepribadaian manusia dan perilaku manusia; baik bersifat jasmaniah denngan rohaniah; baik secara teoritis maupun melihat kegunaannya didalam penerapannya; baik secara individual maupun secara kolektif serta kaitanya sengan lingkungan sekitarnya.

B. RUMUSAN MASALAH
1.      Psikologi Dan Pendidikan
2.      Tujuan Psikologi Pendidikan
3.      Peranan Psikologi Pendidikan Dalam Dunia Pendidikan
4.      Beberapa Teori Psikologi Yang Terkait Dengan Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN

A. PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN
Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun apabila mengacu pada salah satu syarat ilmu yaitu adanya objek yang dipelajari maka tidaklah tepat mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa karena jiwa bersifat abstrak.  Oleh karena itu yang sangat mungkin dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yaitu dalam wujud perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut Whiterington, bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar.[2] Itu artinya bahwa tindakan-tindakan belajar yang berlangsung secara terus menerus akan menghasilkan pertumbuhan pengetahuan dan perilaku sesuai dengan tingkatan pembelajaran yang dilalui oleh individu sendiri melalui proses belajar-mengajar. Karena itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, metode dan pendekatan yang benar dalam proses pendidikan sangat diperlukan.
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua definisi ini maka jelas fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar mengajar.
Dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi yang dalam menguraikan penelitiannya lebih menekankan masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mental, yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar.[3]




B. TUJUAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
          Konsep  pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan yang khusus diperuntukan bagi siswa (orang-orang yang sedang belajar).keberadaaan psikologi pendididkan pada dasar nya adalah untuk mempermudah pendidik dalam menerapkan proses belajar mengajar. Dengan mempelajari psikologi pendidikan,paling tidak para calon guru atau guru telah mendapat gambaran mengenai kondisi dan situasi keberadaan diri pribadi,peserta didik dan lembaga pendidikan.[4]
          Psikologi pendidikan merupakan sebuah disiplin psikologi yang khusus mempelajari, meneliti,dan membahas seluruh prilaku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan, yang meliputi tingkah laku belajar (siswa),tingkah laku belajar (guru,dan tingkah laku belajar mengajar (guru dan siswa),yang saling terkait atau berintraksi satu sama lain. Inti persoalan psikologis dalam psikologi pendidikan adalah tidak mungkin mengabaikan persoalan psikologi guru,karena hal ini (profesi sebagai guru) terletak pada kondisi siswa.
          Lebih jauh, psikologi pendidikan sebagai displin ilmu,sudah barang tentu mempunyai fokus tujuannya sendiri, yaitu : Pertama, tujuan ilmu itu sendiri (untuk apa ilmu ini dipelajari dan dikembangkan oleh para ahlinya), Kedua, tujuan kurikuler dalam mempelajari sesuatu ilmu.analisis terhadap pemikiran sesuai dengan yang digambarkan oleh dua psikologi terkemuka (Lindgreen dan Bernard) sebagai berikut :
1.      Menurut Lindgreen, “ Tujuan psikologi pendidikan adalah untuk membantu guru dan perkembangan prospektif para guru dalam memahami proses pendidikan yang terbaik
2.      Menurut Bernad, “ pada dasarnya tujuan psikologi pendidikan adalah untuk memahami bagaimana proses belajar mengajar cara lebih efektif dan tetapa sasarannya”
Dari  dua pendapat ahli diatas dapat dipahami bahwa tujuan mempelajari dan dikembangkan psikologi pendidikan adalah untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan untuk membantu para guru dan calon guru agar betul-betul memamahami proses pendidikan yang baik, sehingga mereka dapat membimbing proses belajar para siswanya cara lebih efektif dan terarah sebagai upaya untuk mengembangkan potensi-potensi anak didiknya di sekolah secara optimal.  


C. PERANAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN
   Perkemabangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat (termasuk dalam ilmu Kependidkan), menutut manusia untuk mengolah segala potensi yang dimilikinya agar tidak ketinggalan kereta, lewat pengkajian dan penelitian ilmiah, khususnya psikologi pendidikan yang berusaha untuk menelaah berbagai hal yang berhubungan dengan proses belajar mengajar manusia dari sejak lahir sampai usia lanjut terutama bagaimana iklim yang mempengaruhi proses perjalanan belajar mengajar.[5]
Setiap manusia pasti melakukan perbuatan atau pekerjaan mengajar, bahkan mereka punya bakat untuk mendidik yang tidak mesti harus bersekolah di pihak lain, dalam kehidupan ini cukup banyak orang dapat dikatakan terdidik, namun sedikit pula diantara mereka itu yang memiliki, penegetahuan yang jelas tentang bagaimana menjalani pendidikannya sehingga berhasil sukses seperti yang diharapkan.
Banyak sekali keinginan manusia untuk menjadi guru, atau paling tidak menggurui, akan tetapi mereka tak tahu bagaimana proses pendidikan yang berhasil. Untuk menjelaskan persoalan di atas, maka sebagai solusinya mereka harus tahu cara mengajar yang baik dan berhasil, mereka harus tahu kondisi para anak yang dididiknya baik menyangkut persoalan warisan (bawaan) maupun yang terkait dengan pengaruh-pengaruh lingkungan social sekitar, demikian kata Withrington.[6]
Terkait dengan kondisi belajar mengajar yang efektif dan efisien, maka akan sangat tergantung dan dipengaruhi oleh iklim belajar itu sendiri (learning climate), yang didalamnya tercakup berbagai hal seperti, : keadaan fisik,situasi social, kondisi ekonomi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, persoalan kondisi mental peserta pendidik, seperti : minat,bakat,sikap,nilai-nilai, sifat personalitasnya, berbagai kemampuan dan sebagainya perlu dianalisa dan dipahami secara baik.
Semua kondisi diatas sangat berhubungan dengan keberadaan psikologi pendidikan dalam dunia pendidikan, yakni bertugas atau berperan untuk memberikan wacana-wacana solusi terbaik bagi keberagaman persoalan yang muncul dalam suasana proses belajar mengajar.
            Disamping itu, pemahaman-pemahaman kita terhadap fenomena yang muncul kepermukaan itu, baik terkait dengan definisi, hakikat dan tujuan dari psikologi pendidikan serta pengalaman kita sehari-hari dalam realitas sosial khususnya dalam mengaplikasikan pengajaran (sebagai guru), maka kita dapat meremuskan secara ringkas tentang peranan (tugas) psikologi pendidikan sebagai berikut:
1.      Psikologi pendidikan akan berperan dalam mempersiapkan para guru (calon) guru yang propesional yang berkompetensi dalam bekajar dan mengajar.
2.      Psikologi pendidikan mempengaruhi perkembangan, perbaikan dan penyempurnaan kurikukum sekolah sesuai dengan tuntutan perkembangan pendidikan sebagai pedoman bagi para guru dalam membimbing proses belajar mengajar para siswa nya yang memadai.
3.      Psikologi pendidikan dapat memperngaruhi ide dan pelaksanaan admisnistratif dan supervisi pendidikan yang akan dilaksanakan oleh para pimpinan dan pemilik sekolah dalam mengelola kelancaran proses pendidikan di sekolah seiring dengan tuntutan kurikulum yang berlaku
4.      Psikologi pendidikan mencoba mengarahkan guru fan calon guru untuk tahu mengapa suatu hal tertentu itu terjadi, bagaimana problem solving nya dan juga diharuskan mengetahui aktivitas-aktivita yang di anggap penting bagi pendidikan.[7]
Dalam bukunya, Drs. Alex Subor, M,si.[8] mendefinisikan bahwa Psikologi Pendidikan adalah subdisiplin psikologi yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi pendidikan, yang meliputi pula pengertian tentang proses belajar dan mengajar.
Secara garis besar, umumnya batasan pokok bahasan psikologi pendidikan dibatasi atas tiga macam:[9]
1.      Mengenai belajar, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip dan ciri khas perilaku belajar peserta didik dan sebagainya.
2.      Mengenai proses belajar, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik dan sebagianya.
3.      Mengenai situasi belajar, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.
Sementara menurut Samuel Smith, setidaknya ada 16 topik yang perlu dibahas dalam psikologi pendidikan, yaitu :
1.      Pengetahuan tentang psikologi pendidikan (The science of educational psychology)
2.      Hereditas atau karakteristik pembawaan sejak lahir (heredity)
3.      Lingkungan yang bersifat fisik (physical structure).
4.      Perkembangan siswa (growth).
5.      Proses-proses tingkah laku (behavior proses).
6.      Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope of learning).
7.      Faktor-faktor yang memperngaruhi belajar (factors that condition learning)
8.      Hukum-hukum dan teori-teori belajar (laws and theories of learning).
9.      Pengukuran, yakni prinsip-prinsip  dasar dan batasan-batasan pengukuran/ evaluasi. (measurement: basic principles and definitions).
10.  Tranfer belajar, meliputi mata pelajaran (transfer of learning subject matters)
11.  Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran (practical aspects of measurement).
12.  Ilmu statistic dasar (element of statistics).
13.  Kesehatan rohani (mental hygiene).
14.  Pendidikan membentuk watak (character education).
15.  Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah. (Psychology of secondary school subjects).
16.  Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar (psychology of elementary school).
Dalam proses belajar-mengajar dapat dikatakan bahwa ini inti permasalahan psikiologis terletak pada anak didik. Bukan berarti mengabaikan persoalan psikologi seorang pendidik, namun dalam hal seseorang telah menjadi seorang pendidik maka ia telah melalui proses pendidikan dan kematangan psikologis sebagai suatu kebutuhan dalam mengajar. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah[10] mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik bagi peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Secara Tepat
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih Strategi atau Metode Pembelajaran yang Sesuai
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan Bimbingan atau Bahkan Memberikan Konseling
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan Memotivasi Belajar Peserta Didik
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6. Berinteraksi Secara Tepat Dengan Siswanya
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.

D. BEBERAPA TEORI PSIKOLOGI YANG TERKAIT DENGAN PENDIDIKAN
a)      Teori Perkembangan Intelektual ( Kognitif) Dari Jean Piaget
      Piaget, melihat perkembangan kognitif/ intelektual seseorang akan berlangsung melalui empat tahap[11] :
1.      Tahap Sensorik/Motorik (usia 0-2 tahun ): Tahap ini individu memperoleh pengetahuan perkembangan intelektual melalui refleks – refleks untuk mengetahui dunianya dengan cara itu individu bisa mencapai kemapuan dalam merpersepsi ketetapan objek. Misalnya, orang tua memperlihatkan suatu (benda) pada bayinya dengan bercanda ria dan dengan menimang-nimang agar anak tidak menangis lagi
2.      Tahap Pra-Operasional dan atau intuisi ( usia 2-7 tahun) : dalam pase ini individu akan mendapatkan pengetahuan dan perkembangan intelektual melalui penggunaan simbol dan penyusunan tenggapan internal (mencoba memicu gerakan-gerakan anak lewat emosi/perasaan). Contohnya, memberikan mobil-mobilan, bercakap-cakap dengan bahsa anak dan mencocntohkan perilaku yang baik pada anak (peniruan
3.      Tahap Konkrit Operasional (usia7-11 tahun) Tahap ini individu memperoleh pengtahuan dan perkembangan intelektual dengan menggunakan pikiran secara sistematis terhadap hal-hal (objek) yang konkrit. Mencapai kemampuan berfikir, dan kemampuan mengkonvervasikan (memilah-milah). Misalnya, anak melihat api, anak mencoba memikirkan dan mulai menggunakan akal untuk membedakan/memilah bahwa api itu panas atau dingin, dan sebagainya.
4.      Tahap Formal Operasional (usia 11- ke atas). Fase ini individu mendapatakan pengatahuan (dan perkembangan intelektual) dengan cara Berfikir dan pengananlisaan; baik yang abstrak dan hipotesis. Contohnya, seorang anak melihat seekor anak ayam yang baru lahir (menetas), kemudian besok mati. Timbul Pertanyaan dalam pikiran anak, kenapa harus mati? Mengapa tidak bergerak lagi? Terus ia terfikir lagi, oh, tidak ada denyut apa-apa, dan coba dibantu untuk menggerakan, tidak bergerak juga, oh, sudah mati. Jadi, anak berkesimpulan bahwa yang bernyawa akan mati.
b)     Teori Pertumbuhan Intelektual Kognitif Menurut Brunner
Menurut Brunner[12], perkembangan kognitif (intelektual)seseorang individu berkembnagn karena adanya peningkatan ketidaktergantungan respons (reaksi) dari stimulus (rangsangan). Pertumbuhan bergnatung pada perkembangan sistem pemrosesan informasi secara intelektualitas dan sistem penyimpanan yang menggambarkan suatu realitas.
            Dari pelbagai penilitian yang dilakukan pakar psikologi kognisi ini, maka brunner mencoba membagi tiga tahapan perkembangan intelektual sebagai suatu dalam alam pikirannya, yakni :
1.      Tahap Enactive, yaitu tahap dimana si anak memahami lingkungannya melalui aksi; perbuatan,kegiatan,tingkah laku, dsb. Misalnya, anak bermain telepon-teleponan atau belajar menulis (coret-coret). Dan pada akhir nya dalam diri anak tercemin suatu keberhasilan.
2.      Tahap Iconic, yakni tahap di mana anak mendapatkan informasi imageri (pesan). Ingatan visual berkembang, tapi siswa tetap membuat keputusan berdasarkan kesan sensoris yang di perolehnya, bukan lewat bahasa. Contoh, seorang anak menonton film telatabis, anak akan memperhatikan secara seksama perab apa yng dimaikan oleh aktor/aktris cilik dalam film tersebut.
3.      Tahap symbolic, adalah tahap dimana individu memperoleh pengetahuan dan perkembangan intelektual lewat pengenalan akan simbol-simbol atau gambar-gambar dan sebagainya. Disini bahasa matematika dan logika mulai berperan aktif.
c)      Teori Perkembangan Kognitif Dari Vygotsky
          Menurut Vygotsky[13], proses perkembangan intelektual seseorang sangat bergantung pada lingkungan sosialnya. Perkembangan kognitif bermula dari interaksi antar pribadi dalam suatu ilmu kebudayaan, tradisi atau lingkungan sebelum situasi dan kondisi mental (proses psikologis anak) secara menyeluruh dimungkinankan pada seorang anak.
          Karena itu, prosesi perkembangan intelektual (kognitif) individu akan berlangsung dari other-regulated behavior sampai self-regulated behavior. Untuk membantu anak dalam penerimaan pengtahuan, dan orang dewasa harus menentukan dan memahami dua hal:
1.      Taraf perkembangan actual dari anak, dengan memperoleh kemampuan unutk memecahkan masalah  tanpa bimbingan orang dewasa,
2.      Apa yang dapat dilakukan anak dengan bimbingan orang dewasa.
Jika anak dapat bekerja sama dengan orang dewasa, maka kita anak melihat perkembangan yang potensial dari anak dalam kondisi optimal. Perbedaan kedua tingkat ini di sebut zone of proxima development (ranah perkembangan intelektual yang proksimal). Kunci keberhasilan peningkatan intelektual anak adalah menentukan dimensi-dimensi mana dari anak itu harus bekerja (belajar).
d)     Teori Perkembangan Kepribadian Dari Erikson
    Erikson mencoba untuk mengerti proses perkembangan kepribadian seseorang secara menyeluruh. Menurut Erikson, perkembangan intelektual dipengaruhi oleh psikososial.[14]
Psikososial adala suatu respons dalam lingkungan terhadap bergabagi hal, baik yang berkaitan dengan bentuk-bentuk perilaku maupun kondisi perkembangan, yang keadaan itu di pandangi sebagai suatu keadaan yang krisis (bergejolak) yang dihadapi seseorang pada tahap-tahap yang berbeda dalam kehudipan ini.
Di bawah ini akan di gambarkan beberapa tahapan perkembangan individu dalam rentang kehidupannya dengan beragam bentuk ke-krisisan yang di hadapinya adalah:
Tahap perkembangan individu
Krisis yang dihadapi individu
v  Masa bayi
v  Percaya vs tidak percaya
v  Masa anak awal
v  Otonomi vs malu-malu
v  Masa anak tengah
v  Berinisiatif vs ragu-ragu
v  Masa anak sekolah
v  Berhasil secara akademis dan social vs gagal
v  Masa remaja
v  Identitas diri vs bingung dalam peran
v  Masa dewasa muda
v  Intim vs minder
v  Masa dewasa
v  Berhasil dalam segala hal vs mandek/macet
v  Masa usia lanjut
v  Integritas vs putus asa
     
          Dalam pandangan Erikson, semua tahapan perkembangan kepribadian dan segala krisis yang di hadapi individu pada umumnya tak terlepas dari situasi dan kondisi psikososial. Keadaan psikososial snagat berperan dan berpengaruh dalam proses tumbuh berkembannagn seseorang dalam berbagai rentang usia di kehidupannya.
e)      Teori Perkembangan Dan Penalaran Moral Dari Kohlberg
          Dalam pandangan Kohlberg, semua proses yang trerkait dengan pengetahuan moral (termasuk  agama dan social akan tumbuh kembang melalui sistem penalaran dan tahap perkembangan yang sistematik dalam setiap rentang usia kehidupan.
    Makin tumbuh dan berkembang individu, makin matang pula proses pemahaman
dan pemikiran seseorang tentang sistem moralitas. Tentu saja persoalan ini dibenak kita akan timbul sejumlah pertanyaan seperti mengapa dalam realitas social, kita melihat banyak orang-oang yang tidak bermoral.
          Apakah seseorang tidak menalar, memahami atau sangat cuek terhadap peraturan-peraturan yang ada; baik peraturan negara, maupun hukum agama. Barangkali jawaban-jawaban yang tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah tergantung pada diri pribadi masing-masing, sejauh mana mereka memmahami, memaknai dan menghayati suatu konsep nilai dan hukum yang berlaku. Selain itu, sebatas mana pengetahuan atau pendidikan yang dipunyai seseorang terhadap konsep moralitas itu sendiri.










BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Sebagi objek sasaran dalam proses belajar mengajar adalah anak didik sebagai manusia individu yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain, maka dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik perlu memperhatikan faktor psikologi karena pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang diperolah melalui belajar mengajar, tidak dapat dipisahkan dari psikologi.
Guru sebagai pendidik/pengajar menjadi subjek yang mutlak harus memiliki pengetahuan psikologi sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik, setidaknya dalam meminimalisir kegagalan dalam menyampaikan materi pelajaran.




















DAFTAR PUSTAKA

Drs. Alex Subor, M,si .Psikologi Umum
Gage & Berliner,1992
Internet – Sumbangan Psikologi dalam pendidikan
M.Buchori,1978
Makalah BASOM Mata Kuliah Psikologi Pendidikan oleh Ev. Sang Putra Immanueal Duha, S.Th
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosda Karya. 2003.
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2007
Safwan Amin, M.Psi. Pengantar Psikologi Pendidikan. Banda Aceh,2005.
Whiterington, 1982.



[1] Whiterington, 1982.h.10
[2] Makalah BASOM Mata Kuliah Psikologi Pendidikan oleh Ev. Sang Putra Immanueal Duha, S.Th
[3] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 7
[4] Safwan Amin, M.Psi. Pengantar Psikologi Pendidikan, (Banda Aceh,2005) hal:25
[5] Safwan Amin, M.Psi. Pengantar Psikologi Pendidikan, (Banda Aceh,2005) hal:27
[6] M.Buchori,1978
[7] Safwan amin, M.Psi. pengantar psikologi pendidikan,  (Banda Aceh,2005)  hal. 28-29
[8] Drs. Alex Subor, M,si .Psikologi Umum
[9] Internet – Sumbangan Psikologi dalam pendidikan

[10] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003).
[11] Gage & Berliner,1992
[12] Gage & Berliner, Op. Cit.
[13] Ibid.
[14] Gage & Berliner, Op. Cit.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com