Friday, 3 October 2014

MAKALAH PENDIDIKAN TAUHID



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pada zaman modern ini banyak krisis yang harus dihadapi manusia, seperti krisis moneter, krisis pangan, krisis bahan bakar, dan yang patut kita renungkan adalah krisis iman.
Krisis iman dikarenakan kurangnya nutrisi rohani serta kurangnya fungsi tauhid dalam kehidupan sehari-hari manusia saat ini. Kebanyakan manusia hanya mementingkan kepentingan dunia dibanding kepentingan akhirat. Sehingga yang terealisasi hanyalah  sifat-sifat manusia yang berbau duniawi, seperti hedonism, fashionism, kepuasan hawa nafsu, dan lain-lain.
Hanya sedikit manusia yang dapat memanfaatkan fungsi dan menempatkan perantauhid secara benar dan sesuai dengan keadaan zaman manusia sekarang ini.
Padahal, jika, masyarakat modern saat ini menempatkan tauhid dalam kehidupan sehari-harinya, insya allah, akan tercipta masyarakat yang damai, aman, dan terjauh dari sifat-sifat tercela, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, penipuan, dan tindakan-tindakan yang melanggar hukum agama, maupun hukum perdata dan pidana Negara.
Ada sebuah potensi dalam diri manusia, sebagai unsur dominan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia dalam menjalankan tugas dan kedudukannya sebagai ‘abdullahdan Khalifatullah di muka bumi ini. Potensi tersebut secara sederhana disebut dengan fitrah.[1]
Dan sesuai dengan fitrahnya itu, Allah menciptakan manusia, yang dilengkapi  dengan naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada seseorang yang tidak beragama atau ingkar adanya Allah, berarti dia mengingkari fitrahnya atau nalurinya. Yang kemudian hal tersebutlah yang disebut dengan Fitrah tauhid.[2]

B.  Rumusan Masalah
1.      Fitrah Bertauhid Bagi Manusia
2.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tauhid Pada Manusia
3.      Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Tauhid
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Fitrah Bertauhid Kepada Manusia
Tauhid, dilihat dari segi Etimologis yaitu berarti ”Keesaan Allah”, mentauhidkan bearti mengakui keesaan Allah, mengesakan Allah.[3] Mempercayai bahwa Allah SWT adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, penguasa, dan pengatur Alam Semesta.[4] Tauhid adalah keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada satu pun yang menyamai-Nya dalam Zat, Sifat atau perbuatan-perbuatan-Nya[5]. Tauhid adalah mengesakan Allah SWT dari semua makhluk-Nya dengan penuh penghayatan, dan keikhlasan beribadah kepada-Nya, meninggalkan peribadatan selain kepada-Nya, serta membenarkan nama-nama-Nya yang Mulia (asma’ul husna), dan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, dan menafikan sifat kurang dan cela dari-Nya.[6] Demikianlah pengertian Tauhid menurut para ulama ternama, yang intinya adalah keyakinan akan Esa-nya ketuhanan Allah SWT, dan ikhlasnya peribadatan hanya kepada-Nya, dan keyakinan atas nama-nama serta sifat-sifat-Nya.
Allah berfirman:
ö@è% `tB Nä3è%ãötƒ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur `¨Br& à7Î=ôJtƒ yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur `tBur ßl̍øƒä ¢yÛø9$# z`ÏB ÏMÍhyJø9$# ßl̍øƒäur |MÍhyJø9$# šÆÏB ÇcyÛø9$# `tBur ãÎn/yムzöDF{$# 4 tbqä9qà)uŠ|¡sù ª!$# 4 ö@à)sù Ÿxsùr& tbqà)­Gs? ÇÌÊÈ
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup [7]dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka Katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?" (Q.S Yunus: 31)
Sesungguhnya syahadat tauhid telah tertanam pada jiwa manusia sejak lahir. Namun fitrah untuk beribadah ini dirusak oleh bujuk rayu syaithon di kemudian hari, sehingga berpaling dari tauhid kepada syirik, dari fitrah taat menjadi maksiyat. Para syaithan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan manusia dengan sejuta cara.
Rosulullah bersabda,
“Setiap anak yang lahir, dilahirkan atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nashroni atau Majusi” (HR.Al-Bukhori)
Allah berfirman,
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ä¨$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[8]” (Q.S Ar Ruum: 30)
y7Ï9ºxx.ur $oYù=yèy_ Èe@ä3Ï9 @cÓÉ<tR #xrßtã tûüÏÜ»ux© Ä§RM}$# Çd`Éfø9$#ur ÓÇrqムöNßgàÒ÷èt/ 4n<Î) <Ù÷èt/ t$ã÷zã ÉAöqs)ø9$# #Yráäî 4 öqs9ur uä!$x© y7/u $tB çnqè=yèsù ( öNèdöxsù $tBur šcrçŽtIøÿtƒ ÇÊÊËÈ
“Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[9]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Q.S Al An’am: 112)
Sehingga karakter asal yang tertanam pada diri manusia secara fitroh adalah bertauhid kepada Allah Sementara kesyirikan adalah yang datang kemudian. Jika manusia mengikuti fitrahnya yang suci selamatlah dia. Namun jika tidak mengikutinya, tentu akan menikmati kesengsaraan hidup dan perselisihan, permusuhan di kalangan manusia.
Allah berfirman:
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# šúï̍Ïe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuŠÏ9 tû÷üt/ Ä¨$¨Z9$# $yJŠÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù 4 $tBur y#n=tG÷z$# ÏmŠÏù žwÎ) tûïÏ%©!$# çnqè?ré& .`ÏB Ï÷èt/ $tB ÞOßgø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# $JŠøót/ óOßgoY÷t/ ( yygsù ª!$# šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä $yJÏ9 (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù z`ÏB Èd,ysø9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 3 ª!$#ur Ïôgtƒ `tB âä!$t±o 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ ?LìÉ)tGó¡B ÇËÊÌÈ
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Q.S Al Baqarah: 213)

$tBur tb%x. â¨$¨Y9$# HwÎ) Zp¨Bé& ZoyÏmºur (#qàÿn=tF÷z$$sù 4 Ÿwöqs9ur ×pyJÎ=Ÿ2 ôMs)t7y `ÏB šÎi/¢ zÓÅÓà)s9 óOßgoY÷t/ $yJŠÏù ÏmŠÏù šcqàÿÎ=tFøƒs ÇÊÒÈ
“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, Kemudian mereka berselisih[10]. kalau tidaklah Karena suatu ketetapan yang Telah ada dari Tuhanmu dahulu[11], Pastilah Telah diberi Keputusan di antara mereka[12], tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (Q.S Yunus: 19)
Jarak antara Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS adalah sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas Islam. Lalu kesyirikan berawal pada masa itu. Maka Allah mengutus Nuh sebagai rosul yang pertama,
* !$¯RÎ) !$uZøym÷rr& y7øs9Î) !$yJx. !$uZøym÷rr& 4n<Î) 8yqçR z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur .`ÏB ¾ÍnÏ÷èt/ 4 !$uZøŠym÷rr&ur #n<Î) zOŠÏdºtö/Î) Ÿ@ŠÏè»yJóÎ)ur t,»ysóÎ)ur z>qà)÷ètƒur ÅÞ$t6óF{$#ur 4Ó|¤ŠÏãur z>qƒr&ur }§çRqãƒur tbr㍻ydur z`»uKøn=ßur 4 $oY÷s?#uäur yŠ¼ãr#yŠ #Yqç/y ÇÊÏÌÈ
“Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud.” (Q.S An Nisa : 163)
Dahulu bangsa Arab juga berada di atas agama Nabi Ibrahim yaitu tauhid. hingga datang `Amr bin Luhai Al-Khuza`i lalu merubah agama Nabi Ibrohim menjadi agama pagan. Melalui orang ini tersebar penyembahan terhadap berhala di Arab, terlebih khusus daerah Hijaz. Maka Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai nabi yang terakhir.
Rasulullah menyeru manusia kepada agama tauhid, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya. Sampai tegak kembali agama tauhid dan runtuhlah segala sesembahan terhadap berhala. Saat itulah Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi alam semesta.

B.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tauhid Manusia
1.      Faktor Internal[13]
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam, yaitu berasal dari al-Qur’an dan al-Hadist. Faktor-faktor internal yang mempengaruhi munculnya ilmu kalam tersebut antara lain :
a)      Dorongan dan pemahaman Al- Qur’an.
Al- Qur’an dalam konteks ayat-ayat yang menjelaskan bahwa orang orang-orang yang beriman kepada Allah adalah orang-orang yang berakal yang selalu merenungi ayat-ayatNya. Dengan demikian, orang-orang yang sesat adalah mereka yang tidak menggunakan akalnya. Harun Nasuton memberikan beberapa contoh dari rincian ayat-ayat yang menganjurkan manusia untuk menggunakan akalnya, sebagaimana berikut ini:
·         Nadhara, melihat secara abstrak dalam arti berpikir dan merenungkan.Kata ini digunakan antara lain : Surat Qaf ayat 6 dan Surat al-Thariq ayat 5.
·         Tadzakkara yang berarti mengingat, memperhatikan, atau mempelajari. Terdapat pada Surat al-Nahl ayat 17 dan surat al-Dzariyat ayar 49.
·         Fahima yang artinya memahami, dalam bentuk ”fahama”. Terdapat pada surat al- Anbiya ayat 79.
·         Tadabbara (merenungkan), sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat, antara lain surat Shad, ayat 29 dan surat Muhammad ayat 24.
·         Tafakkara  (berpikir), Terdapat pada Surat al-Nahl ayat 69 dan suratal- Jatsiah ayat 13.
·         Faqiha (mengerti atau paham), terdapat pada Surat al-Isra’ ayat 44
          Selain itu al-Qur’an pun banyak menyinggung dan membantah golongan-golongan ateis, musyrikin, dan mereka yang tidak mengakui keputusan Nabi. Adapun ayat-ayat yang menjelaskan masalah itu antara lain Surat At-Jatsiyah ayat 24, Surat al-An’am ayat 76-74 dan Surat al-Isra ayat 94.
b)      Persoalan Politik
Perselisihan dalam masalah politik menjadi sebab di dalam perselisihan mereka mengenai soal-soal keagamaan. partai-partai politik tersebut menjadi sebagai satu aliran keagamaan yang mempunyai pandangannya sendiri. Partai (kelompok) Imam Ali r.a. membentuk golongan Syiah, dan  mereka yang tidak bersetuju dengan Tahkim dari kalangan Syiah telam membentuk kelompok Khawarij. Dan mereka yang membenci perselisihan yang berlaku di kalangan umat Islam telah membentuk golongan Murji'ah.
c)      Pemikiran para cendekiawan
Pada masa pemerintahan bani Umaiyah, Setelah kaum muslimin dapatmenaklukkan negeri-negeri baru di sekitar jazirah arab dan keadaan mulai stabil serta melimpah ruah rezekinya ,disinilah akal pikiran mereka mulai memfilsafatkan agama, sehingga menyebabkan berlaku perselisihan pendapat di kalangan mereka.
2.      Faktor Eksternal[14]
Yaitu faktor luar yang menyebabkan munculnya berbagai pembahasan ilmu tauhid. Antara lain:.
·         Pada daerah-daerah yang didatangi oleh kaum muslimin terutama di Irak pada pertengahan abad hijriah terdapat bermacam-macam agama dan peradaban, antara lain agama Zoroaster, Brahmana, Sabiah, Atheismeperadaban Persia dan India yang kemudian masuk islamperadaban Yunani yang dibawa oleh orang-orang Suriani dan buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab, peradaban yang dibawa oleh orang-orang Masehi yang telah memfilsafatkan agamanya dan memakai filsafat Yunani sebagai alat untuk memperkuat kepercayaan mereka. Sebagai akibat pertemuan agama islam dengan peradaban-peradaban tersebut, maka sebagian kaum muslimin mulai mencetuskan fikiran-fikiran yang bercorak filsafat dalam soal-soal agama yang tidak dikenal sebelumnya, serta mereka mulai memberikan pembuktian pembenarannya dengan alasan-alasan logika.
·      Kelompok-kelompok Islam yang pertama, khususnya Mu’tazilah, perkara utama yang mereka tekankan ialah mempertahankan Islam dan menolak hujjah mereka yang menentangnya. Negeri-negeri Islam tertadah dengan semua pemikiran-pemikiran ini dan setiap kelompok berusaha untuk membenarkan pendapatnya dan menyalahkan pendapat kelompok lain. Orang-orang Yahudi dan Nasrani telah melengkapkan diri mereka dengan senjata ilmu Falsafah, lalu Mu’tazilah telah mempelajarinya agar mereka dapat mempertahankan Islam dengan senjata yang telah digunakan oleh pihak yang menyerang.
·         Kebutuhan para mutakallimin terhadap filsafat itu adalah untuk mengalahkan ataumengimbangi musuh-musuhnya, mendebat mereka dengan mempergunakan alasan-alasan yang sama, maka mereka terpaksa mempelajari filsafat Yunani dalam mengambil manfaat logika terutama dari segi ketuhanan. seperti al-Nadhami (tokohMu’tazilah) mempelajari filsafat Aristoteles dan menolak beberapa pendapatnya.

C.  Fungsi dan Tujuan Pendidikan Tauhid
  Dalam konteks pengembangan umat, tauhid berfungsi mentransformasikan setiap individu yang meyakininya menjadi manusia yang lebih ideal dalam arti memiliki sifat-sifat mulia yang membebaskan dirinya dari setiap belenggu sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
·      Memiliki komitmen utuh pada Tuhannya. Ia akan berusaha secara maksimal untuk menjalankan pesan dan perintah Allah sesuai dengan kadar kemampuannya.
·      Menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah.
·      Bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, adat istiadatnya, tradisi dan paham hidupnya.
·      Tujuan hidupnya amat jelas. Ibadahnya, kerja kerasnya, hidup dan matinya hanya untuk Allah semata. Ia tidak akan terjerat ke dalam nilai-nilai palsu atau hal-hal tanpa nilai sehingga tidak pernah mengejar kekayaan, kekuasaan dan kesenangan hidup sebagai tujuan. Sebaliknya, hal-hal tersebut hanyalah sebagai sarana mencapai keridlaan Allah.
·      Memiliki visi yang jelas tentang kehidupan yang harus dibangunnya bersama manusia lain , suatu kehidupan yang harmonis antara manusia dan Tuhannya[15]
Adapun fungsi dan tujuan pendidikan tauhid adalah: 
1.      Membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan kepada semua makhluk
Sampai sekarang masih banyak manusia, termasuk umat muslim yang cenderung mengikuti tradisi dan keyakinan nenek moyangnya. Tidak hanya itu, mereka juga banyak yang menyerah dan tunduk begitu saja kepada para pemimpin mereka, tanpa daya fikirr kritis serta keberanian untuk mengkritik. Padahal Al- Qur’an telah mengingatkan bahwa orang- orang yang tidak bersikap kritis terhadap para pemimpin mereka akan kecewa dan mengeluh di hari akhir.
Firman Allah SWT SWT :
tPöqtƒ Ü=¯=s)è? öNßgèdqã_ãr Îû Í$¨Z9$# tbqä9qà)tƒ !$uZoKøn=»tƒ $oY÷èsÛr& ©!$# $uZ÷èsÛr&ur hwqߧ9$# ÇÏÏÈ (#qä9$s%ur !$oY­/u !$¯RÎ) $uZ÷èsÛr& $uZs?yŠ$y $tRuä!#uŽy9ä.ur $tRq=|Êr'sù gŸxÎ6¡¡9$# ÇÏÐÈ
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, Andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami Telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (Q.S Al Ahzab : 66-67)
Fungsi ini dirujukkan pada kalimat “LailaahaillAllah SWT” ( tidak ada Tuhan selain Allah). Kalimat ini merupakan kalimat pembebasan bagi manusia. Dengan mengucapkan “ tidak ada Tuhan selain Allah”  berarti seorang muslim telah memutlakkan Allah SWT Yang Maha Esa sebagai Kholiq, maka umat muslim mengemban tugas untuk melaksanakan “tahrirunnasi min ‘ibadatil ‘ibad  ila ‘ibadatillahi ”  atau membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah SWT semata.
2.      Menjaga manusia dari nilai- nilai palsu yang bersumber pada hawa nafsu, gila kekuasaan, dan kesenangan- kesenangan sensual belaka
Suatu kehidupan yang didedikasikan pada kelezatan sensual, kekuasaan, dan penumpukan kekayaan dapat mengeruhkan akal sehat dan menghilangkan pikiran jernih. Sebenarnya telah dengan tajam Al- Qur’an menyindir orang-orang seperti ini.
|M÷ƒuäur& Ç`tB xsƒªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd |MRr'sùr& ãbqä3s? Ïmøn=tã ¸xÅ2ur ÇÍÌÈ ÷Pr& Ü=|¡øtrB ¨br& öNèduŽsYò2r& šcqãèyJó¡o ÷rr& šcqè=É)÷ètƒ 4 ÷bÎ) öNèd žwÎ) ÄN»yè÷RF{$%x. ( ö@t/ öNèd @|Êr& ¸xÎ6y ÇÍÍÈ
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Q.S Al Furqan: 43-44)
3.      Sebagai frame of thought dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Maksudnya ialah bahwa tauhid menjadi kerangka pemikiran dalam menemukan hakikat kebenaran mengenai segala yang ada di alam semesta ini pada seginya yang abstrak, potensial, maupun yang konkret. Sehingga manusia tidak melampaui batas dalam pemahaman suatu keilmuan yang membuat dirinya lalai dan merasa benar hingga akhirnya membawa mereka kepada kesombongan yang pasti berakhir dengan kehancuran. Contoh Hitler dengan tentara Nazinya, dengan ilmunya Hitler merasa bahwa gagasan yang dia miliki mampu membawa umat manusia menuju peradaban yang lebih maju, namun karena ilmu tersebut tidak dilandasi dengan Aqidah, maka yang terjadi adalah kehancuran rezim yang dimilikinya.
4.      Sebagai pondasi keimanan yang juga menjamin kebahagiaan dan kesejahteraan hidup seluruh umat manusia, ketika seluruh ajaran- ajarannya dilaksanakan secara konsisten
Dengan menjadikan tauhid sebagai pegangan dalam hidup, serta merealisasikan perintah yang ada, maka akan terwujud suatu kebahagiaan serta kedamaian hidup yang tak terhingga. Karena telah di tancapkan dalam hati bahwa tidak ada yang memiliki kekuatan maupun kekuasaan selain Ilahirabbi.

5.      Mengajarkan kepada umat islam supaya menjadikan Allah SWT sebagai pusat kesadaran intelektual mereka
Dengan kata lain, kita meyakini bahwa semua aktivitas yang kita lakukan maupun kejadian yang terjadi merupakan atas kehendak Allah SWT, semua itu telah diatur dengan sempurna oleh-Nya. Karena Dia lah pemilik seluruh isi alam ini, Dia mengetahui segala hal yang ghoib ( abstrak) maupun yang dzohir, yang tersembunyi maupun yang tampak, Dia lah Tuhan yang patut untuk disembah dan tiada Tuhan selain Dia. Dengan demikina akan terwujud keyakinan yang kukuh dan konsekuen, sehingga tidak mudah terombang ambing oleh perkembangan zaman dan tidak terpenaruh keyakinan yang menyesatkan.
            Dengan Tauhid, manusia tidak saja akan bebas dan merdeka, tetapi juga akan sadar bahwa kedudukannya sama dengan manusia manapun. Tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior terhadap manusia lainnya. Setiap manusia adalah hamba Allah yang berstatus sama. Jika tidak ada manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada mnusia lainnya di hadapan Allah, maka juga tidak ada kolektivitas manusia, baik sebagai suatu suku bangsa ataupun suatu bangsa , yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada suku bangsa atau bangsa lainnya. Semuanya berkedudukan sama di hadapan Allah SWT. Yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaan pada Allah SWT.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian-uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan, bahwasanya  Allah menciptakan kita disertai dengan Naluri keagamaan/fitrah keagamaan. Secara tidak langsung, kita mencari atau tidak mencari Tuhan pun, kita sudah dapat merasakan kehadiran dan membutuhkan-Nya di saat kita lemah. Jadi perasaan butuh kepada Tuhan itu adalah fitrah/ instink/naluri kita sebagai manusia. Kemudian, dengan berlandaskan fitrah tauhid tersebut kita menjalankan perintah pendidikan, yaitu mempelajari ilmu-ilmu Allah, baik Qauliyah maupun Kauniyah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Latief, M. Alu, DR. Abdul Aziz. Pelajaran Tauhid Untuk Tingkat Lanjutan. Jakarta: Darul Haq. 1998.
Abdul Majid, Pendidikan berbasis Tauhid: Khutbah ‘Idul Fitri 1 Syawal 1423 H./2002 M.
Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam; sebuah Pendekatan Psikologis. Jakarta: Darul Falah. 1999.
Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu Kalam Untuk UIN, STAI, PTAIS. Bandung:Pustaka Setia, 2010.
Akademik Pokja. 2005. Tauhid. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA.
Fauzan, Abd. Fauzan. at-Ta’liq al-mukhtashar al-Mufid 'ala kitabi at-Tauhid lissyaikh muhammad ibn 'abdul Wahhab. Ponorogo : Darussalam Press, 1998.
Musa, Yusuf. Islam suatu kajian komprehensif (Terj.). Jakarta: Rajawali Press, 1961.
Tim Penyusun Kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989.




[1] Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam; sebuah Pendekatan Psikologis, ( Jakarta: Darul Falah, 1999), hal. 1
[2] Abdul Majid, Pendidikan berbasis Tauhid: Khutbah ‘Idul Fitri 1 Syawal 1423 H./2002 M.
[3] Tim Penyusun Kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989) hal. 907.
[4] Abdul Latief, M. Alu, DR. Abdul Aziz. Pelajaran Tauhid Untuk Tingkat Lanjutan, (Jakarta: Darul Haq, 1998) hal. 9.
[5] Musa, Yusuf. Islam suatu kajian komprehensif (Terj.) (Jakarta: Rajawali Press, 1961) Hal. 45.
[6] Fauzan, Abd. Fauzan. at-Ta’liq al-mukhtashar al-Mufid 'ala kitabi at-Tauhid lissyaikh muhammad ibn 'abdul Wahhab. (Ponorogo : Darussalam Press, 1998) Hal. 15.
[7] sebagian Mufassirin memberi misal untuk ayat Ini dengan mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam. dan dapat juga diartikan bahwa pergiliran kekuasaan diantara bangsa-bangsa dan timbul tenggelamnya sesuatu umat adalah menurut hukum Allah.
[8] fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
[9] maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada nabi.
[10] Maksudnya: manusia pada mulanya hidup rukun, bersatu dalam satu agama, sebagai satu keluarga. tetapi setelah mereka berkembang biak dan setelah kepentingan mereka berlain-lain, timbullah berbagai kepercayaan yang menimbulkan perpecahan. oleh Karena itu Allah mengutus Rasul yang membawa wahyu dan untuk memberi petunjuk kepada mereka. baca ayat 213 surat Al-Baqarah.
[11] ketetapan Allah itu ialah bahwa, perselisihan manusia di dunia itu akan diputuskan di akhirat.
[12] Maksudnya: diberi Keputusan di dunia.
[13] Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu Kalam Untuk UIN, STAI, PTAIS, (Bandung:Pustaka Setia, 2010),  hal. 4-6
[14] Ibid, Hal.7
[15] Akademik Pokja. 2005. Tauhid. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA hal. 78.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com