Thursday, 2 October 2014

MAKALAH PEMIKIRAN KALAM JABARIAH


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan.[1]
Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau ushuluddin, ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari agama. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. Munculnya perbedaan antara umat Islam. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. Akan tetapi perselisihan politik ini, seiring dengan perjalanan waktu, meningkat menjadi persoalan teologi.[2]
Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. Secara teoritis, perbedaan itu demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan keesaan Allah, keimanan kepada para rasul, para malaikat, hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia, kedudukan wahyu dan akal, keadilan Tuhan. Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran, yaitu Mu'tazilah, Syiah, Khawarij, Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya.
Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah. Dalam makalah ini penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah. Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaran-ajarannya secara umum.

B.     Rumusan Masalah
1.      Latar Belakang Lahirnya Aliran Jabariah
2.      Aliran-aliran Dalam Jabariah
3.      Ajaran-ajaran Jabariah



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Latar Belakang Aliran Jabariah
Nama Jabariyah berasal dari kata جَبَرَ yang mengandung arti “memaksa” atau  جَبَرٌ yang mengandung arti “terpaksa”.[3] Dikatakan demikian, karena segala sesuatu yang terjadi bukanlah atas kehendak manusia itu sendiri, akan tetapi perbuatan itu terjadi atau terlaksana adalah atas kekuasaan Allah semata. Seumpama terbit dan terbenamnya matahari, pahala dan siksa. Dalam hal ini manusia bagaikan kapas, kemana angin bertiup kesanalah kapas pergi. Dengan demikian dapat dikemukakan, bahwa Allah akan memperbuat sesuatu adalah atas kehendak, karena kekuasaan dan kemutlakan-NYA dalam berbuat.[4] Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Salah satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur).[5]
Pola pikir Jabariyah kelihatannya sudah dikenal bangsa Arab sebelum Islam, mereka kelihatannya lebih dipengaruhi oleh paham fatalis.[6] Bangsa Arab pada waktu itu bersifat serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, terpaksa menyesuaikan hidup mereka dengan suasana padang pasir yang tandus dan gersang. Mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa lemah dan tak kuasa menghadapi berbagai kekerasan dan kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh suasana padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka banyak bergantung pada kehendak alam.[7]
Pada masa Nabi, benih-benih paham Jabariyah itu sudah ada perdebatan di antara para sahabat di seputar masalah qadar Tuhan merupakan salah satu indikatornya. Rasulullah SAW, menyuruh umat Islam beriman kepada taqdir, tetapi beliau mencegah mereka membicarakannya secara mendalam. Pada masa sahabat (Khulafa’ al-Rasyidin) kelihatannya sudah ada orang yang berpikir Jabariyah.[8] Diceritakan dalam suatu riwayat yang masyhur bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah bertanya kepada seorang pencuri yang dihadapkan kepadanya: “Mengapa kamu mencuri?” Lalu ia menjawab:”Allah telah menetapkan perbuatan tersebut atas saya sejak azali”. Riwayat ini menunjukkan bahwa masalah qadha dan qadar merupakan masalah yang pertama dipersoalkan Khalifah Umar bin Khattab menghukum pencuri itu karena menafsirkan perbuatannya itu dengan pemahaman yang salah, sehingga dia berani menisbahkan kepada Allah perbuatan mencuri yang dilakukan.[9]
Pada masa pemerintahan bani Umayah, pandangan tentang Jabar semakin mencuat ke permukaan. Abdullah bin Abbas dengan suratnya, memberi reaksi keras  kepada penduduk Syiria yang diduga berpaham Jabariyah. Hal yang sama dilakukan oleh Hasan Basri kepada penduduk Basrah. Ini menunjukkan bahwa sebagai suatu pola pikir (Mazhab) yang dianut, dipelajari, dan dikembangkan terjadi pada akhir pemerintahan Bani Umayah.[10]
Paham Jabariyah pertama kali dikembangkan oleh al-Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Safwam yang menyebarkannya sehingga memperoleh pengikut yang banyak. Adapun ajaran Jabariyah ini juga dikenal dengan mazhab Jahamiyah, paham ini jelas didasarkan pada kuasa Allah yang mutlak meliputi segala sesuatu.[11] Di samping dua tokoh utama ini, ada lagi tokoh lain yang cukup dikenal dari kalangan Jabariyah yaitu al-Husein bin Mahmun al-Najjar dan Dhirar bin Amr yang menganut paham Jabariyah moderat, sedangkan al-Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Safwam menganut paham Jabariyah ekstrem
Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat, karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya.[12]
Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang sarih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan.[13] Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan,[14] yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara.[15]
Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam, sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme.[16]
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini, dalam Alquran sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham Jabariyah, diantaranya:
·         QS ash-Shaffat: 96
ª!$#ur ö/ä3s)n=s{ $tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
·         QS al-Anfal: 17
öNn=sù öNèdqè=çFø)s?  ÆÅ3»s9ur ©!$# óOßgn=tGs% 4 $tBur |MøtBu øŒÎ) |MøtBu  ÆÅ3»s9ur ©!$# 4tGu 4 uÍ?ö7ãŠÏ9ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# çm÷ZÏB ¹äIxt/ $·Z|¡ym 4 žcÎ) ©!$# ììÏJy ÒOŠÎ=tæ ÇÊÐÈ
“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”
·         QS al-Insan: 30
$tBur tbrâä!$t±n@ HwÎ) br& uä!$t±o ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã $VJÅ3ym ÇÌÉÈ
“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Selain ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah:
v  Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir Tuhan, Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.
v  Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri. Ketika diintrogasi, pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri". Mendengar itu Umar kemudian marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. Oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu, yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan.
v  Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. Orang tua itu bertanya,"apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tidak ada pahala sebagai balasannya. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Pahala dan siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia. Kalau itu sebuah paksaan, maka tidak ada pahala dan siksa, gugur pula janji dan ancaman Allah, dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa.
v  Adanya paham Jabar telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria.[17]
Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing, yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit.[18]
Dengan demikian, latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua factor, yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah, yang mempunyai paham yang mengarah kepada Jabariyah. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam melahirkan aliran ini.
Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara: pertama, adanya paham Qadariyah, keduanya, telalu tekstualnya pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih.[19]

B.     Aliran-aliran Dalam Jabariyah
Faham Jabariyah ini terpecah menjadi 3 firqah besar yaitu : Aliran Jahmiyah, yang dipimpin oleh Jaham bin Safwan, Aliran Najjariyah, yang dipimpin oleh Husein bin Muhammad an Najjar dan Aliran Dlirariyah, yang dipimpin oleh Dlirar bin Umar.[20]
1. Aliran Jahmiyah
·         Penggunaan Takwil. Artinya, Allah tidak dapat disifati dengan sifat-sifat makhluk. Dan karena itu ia menakwilkan sifat-sifat Allah yang ada persamaannya dengan sifat-sifat manusia. Akibatnya dia tidak mengakui Alquran sebagai kalam Allah yang qadim, karena yang qadim itu hanya Allah saja. Jadi Alquran itu makhluk.
·         Surga dan neraka tidak kekal. Akan datang suatu masa yang padanya  surga dan neraka akan fana dengan segala isinya dan yang tinggal kekal hanya Allah saja. Selain dari Allah, semuanya akan binasa. Kata khulud  (خلود) yang disebut dalam firman Allah (dalam surat al-Bayyinah/98:6 dan 8) untuk segala isi surga dan neraka ditakwilkan dengan makna “lama tinggal” (طول المدّة) bukan dengan arti “selama-lamanya” (دوام).
·         Iman. Menurut pendapat Jaham bin Safwam, iman itu adalah ma’rifah atau pengakuan hati saja akan wujud Allah dan kerasulan Nabi Muhammad. Ucapan dengan lisan akan dua kalimah syahadat dan pengamalan dengan anggota badan akan ajaran Islam seperti shalat, puasa, dan sebagainya bukan daripada iman
·         Ma’rifah iman itu wajib berdasarkan akal sebelum turunnya wahyu atau kedatangan Rasul. Pendapat ini juga terdapat kemudian dalam Mazhab Mu’tazilah. Setiap orang yang membela kebenaran Islam terhadap kepercayaan yang lain dan juga bagi orang yang menakwilkan ayat-ayat Alquran, maka wajib atasnya berpegang kepada kaidah-kaidah akal.[21]

2. Aliran Najjariyah
·         Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. Itulah yang disebut kasab dalam teori Al-Asy’ari. Dengan demikian, manusia dalam pandangan An-Najar tidak lagi seperti wayang yang gerakannya tergantung pada dalang, sebab tenaga yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
·         Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.[22]

3. Aliran Dhirariyah
·         Manusia tidak hanya merupakan wayang yang digerakan dalang. Manusia mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatannya dan tidak semata-mata dipaksa dalam melakukan perbuatannya.
·         Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera keenam.
·         Hujjah yang dapat diterima setelah wafat Nabi adalah ijtihad. Hadis ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum.[23]

C.    Ajaran-ajaran Jabariyah
Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ekstrim dan moderat.
Pertama, aliran ekstrim. Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendapatnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka, konsep iman, kalam Tuhan, meniadakan sifat Tuhan, dan melihat Tuhan di akherat. Surga dan nerka tidak kekal, dan yang kekal hanya Allah. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati, dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar, dan melihat, dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak.[24] Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah.[25]
Ja'ad bin Dirham, menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyahadalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat dan mendengar. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal.[26]
Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah, tidak berdaya, terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan, tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. Segala akibat, baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah.
Kedua, ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Manusia juga tidak dipaksa, tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Sedangkan adh-Dhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak.[27]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Jabariyah adalah paham yang menganut bahwa hidup manusia ditentukan oleh Allah dan manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Manusia dalam perbuatan adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya perbuatan-perbuatan diciptakan tuhan dalam dirinya.
Faham Jabariyah ini terpecah menjadi 3 firqah besar yaitu : Aliran Jahmiyah, yang dipimpin oleh Jaham bin Safwan, Aliran Najjariyah, yang dipimpin oleh Husein bin Muhammad an Najjar dan Aliran Dlirariyah, yang dipimpin oleh Dlirar bin Umar.
Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ekstrim dan moderat.

B.     Saran
Menurut penulis solusi terhadap pandangan aliran Jabariyah yaitu bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan karenanya ia akan dimintai pertanggungjawaban atas keputusannya, meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. Dengan kata lain, kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur tangan Allah SWT, seperti seseorang yang ingin membuat meja, kursi atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu tersebut yang membuat adalah Allah SWT.
Untuk itu, sebagai mahasiswa yang berpendidikan, kita harus mampu memahami benar masalah akidah ini agar selalu berada di jalan-Nya yang lurus.


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihan, Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006.
A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Yogyakarta: Pustaka Progressif. 1984.
Ahmad Daudy, Kuliah Ilmu Kalam. Jakarta: PT. Bulan Bintang. 1997.
Alkhendra, Pemikiran Kalam, Bandung: Alfabeta. 2000.
Al-Qaththan, Manna Khalil, Studi Ilmu-ilmu Alqur'an, diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an. Jakarta: Litera AntarNusa. 2004.
Bakri Dusar, Tauhid dan Ilmu Kalam. Padang: IAIN-IB Press. 2001.
Daudy, Ahmad, Kuliah Ilmu Kalam. Jakarta: Bulan Bintang. 1997.
Duskiman Sa’ad, Aliran dalam Islam: Perbedaan Pemahaman terhadap Kajian Teologi Islam. Padang: IAIN-IB Press. 2001.
Hadariansyah, AB, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam. Banjarmasin: Antasari Press. 2008.
http://vio-fani.blogspot.com/2011/03/aliran-murjiahjabariyah-dan-qadariyah.html
Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI-Press. 1986.
Nata, Abudin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1998.
Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka Setia. 2007.
Tim, Enseklopedi Islam, "Jabariyah". Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. 1997.

[1] Manna Khalil al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu Alqur'an, diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an. (Jakarta: Litera AntarNusa, 2004), h. 86
[2] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI-Press, 1986), cet ke-5, h. 1
[3] W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1984), h. 164
[4] Bakri Dusar, Tauhid dan Ilmu Kalam, (Padang: IAIN-IB Press, 2001), h. 59-60
[5] Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006), cet ke-2, h. 63
[6] Paham fatalis adalah suatu paham yang menganut bahwa segala sesuatu terjadi menurut nasib yang tidak dapat ditawar-tawar lagi (pasrah). Manusia tidaklah memiliki andil dalam perbuatannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan segala-galanya.
[7] Alkhendra, Pemikiran Kalam, (Bandung: Alfabeta, 2000), h. 42
[8] Duskiman Sa’ad, Aliran dalam Islam: Perbedaan Pemahaman terhadap Kajian Teologi Islam, (Padang: IAIN-IB Press, 2001), h. 38
[9] Ahmad Daudy, Kuliah Ilmu Kalam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1997), h. 20
[10] Duskiman Sa’ad, Op. Cit, h. 38-39
[11] Ahmad Daudy, Op. Cit, h. 21
[12] Harun Nasution, op.cit., h. 31
[13] Tim, Enseklopedi Islam, "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997), cet ke-4, h. 239
[14] Adapun riwayat Jahm tidak diketahui dengan jelas, akan tetapi sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa dia berasal dari Khurasan yang juga dikenal dengan tokoh murjiah, dan sebagai pemuka golongan Jahmiyah. Karena kelerlibatanya dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah, sehingga dia ditangkap.
[15] Rosihan Anwar, op.cit., h. 64
[16] Harun Nasution, loc.cit.
[17] Rosihan Anwar, op.cit., h. 64-65
[18] Ibid.,
[19] Ali Syami an-Nasyar, Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam, (Cairo: Dar al-Ma'arif, 1977), h. 335
[20] Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam, (Bandung: (CV Pustaka Setia, 2007), h. 160
[21] Ahmad Daudy, Op. Cit, h. 23-24
[22] Duskiman Sa’ad, Op. Cit, h. 42
[24] Rosihan Anwar, op.cit., h. 67-68; Lihat juga Hadariansyah, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Islam, (Banjarmasin: Antasari Press, 2008), h. 79-80
[25] Hadariansyah, loc.cit; Lihat asy-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal, (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah, t.th);
[26] Rosihan Anwar, op.cit., h. 68
[27] Ibid., Abudin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), h. 41-42; Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 75

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com