Friday, 3 October 2014

MAKALAH PANDANGAN-PANDANGAN YANG MEMPENGARUHI PESERTA DIDIK



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.[1]
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran – pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Oleh karena itu perlu kita ketahui faktor – faktor apa saja yang dominan pengaruhnya dalam perkembangan peserta didik.
Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan padangan-pandangan yang mempengaruhi peserta didik, baik dari keturunan, lingkungan, gabungan antara keduanya dan fitrah/potensi.

B.  Rumusan Masalah
1.    Pengaruh keturunan terhadap peserta didik
2.    Pengaruh lingkungan terhadap peserta didik
3.    Pengaruh keturunan dan lingkungan terhadap peserta didik
4.    Fitrah/potensi





BAB II
PEMBAHASAN
A.  Keturunan (Aliran Nativisme/Maturational Theory)
Turunan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua Ibu-Bapak atau nenek dan kakek. Warisan (turunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan penyakit. Warisan atau turunan yang dibawa anak sejak lahir dari kandungan sebagian besar berasal dari kedua orang tuanya dan selebihnya berasal dari nenek dan moyangnya dari kedua belah pihak (ibu dan ayahnya). Hal ini sesuai dengan hukum Mendel yang dicetuskan Gregor Mendel pada tahun 1857. Keturunan juga disebut hereditas.
Pembawaan adalah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika lahir yang merupakan warisan dari orang tua’. Para ahli yang beraliran Nativisme nerpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor dasar/pembawaan.[2]    
Aliran Nativisme dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1778-1860), dari Jerman. Beliau mengatakan bahwa bakat mempunyai peranan yang penting. Ridak ada gunanya orang mendidik kalau bakat anak memang jelek. Sehingga pendidikan diumpamakan ‘merubah emas jadi perak’ jadi suatu hal yang tidak mungkin.
Dengan demikian faktor lingkungan atau pendidikan menurut aliran ini tidak bisa berbuat apa-apa dalam mempengaruhi perkembangan seseorang. Dalam pendidikan ilmu aliran inidikenal sesbagai aliran pedagogik pesivisme[3] yaitu pendidikan yang tidak dapat dipengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh pendidik.[4]
Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang Tua dan anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinannya adalah besar anaknya juga akan menjadi ahli musik, jika orang tua ahli melukis maka besar kemungkinan anaknyapun ahli dalam melukis.[5] Mungkin penyusun disini bisa mengibaratkan seperti ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’.
Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dan anak-anaknya.
Akan tetapi pantas diragukan pula, apakah kesamaan yang ada antara orang tua dan anak itu benar-benar dasar yang dibawa sejak lahir. Sebab, jika sekiranya anak seorang ahli musi juga menjadi ahli musik, apakah hal itu benar-benar berakar pada keturunan atau dasar? Apakah tidak mungkin karena adanya fasilitas-fasilitas untukn dapat maju dalam bidang seni musik maka dia lalu menjadi seorang ahli musik.[6] Pada umumya teori nativisme sekarang telah ditinggalkan orang.[7] 

B.  Lingkungan (Aliran Empirisme/Behavioral Theory)
Tokoh aliran Empirisme adalah John Lock, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Empire artinya pengalaman. Aliran ini berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi dewasa itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil. Pada dasarnya manusia itu bisa didik apa saja menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Lingkungan sendiri merupakan semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau hewan.[8]
Teori yang lebih dikenal dengan Tabulae rasae (meja lilin), yang menyebutkan bahwa anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Lingkungan sering diartikan orang secara sempit dengan alam sekitar. Dalam psikologi, lingkungan diartikan dalam pengertian yang luas mencakup lingkungan yang ada di dalam dan di luar individu.[9] Yang dimaksud lingkungan disini ialah segala sesuatu yang ada diluar diri anak yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan. Dalam pembicaraan pada bagian ini, maka pendidikan dimasukkan juga sebagai faktor lingkunga.
Factor lingkungan juga disebut faktor ajar. Dengan demikian, lingkungan dapat berupa benda-benda, orang-orang, keadaan-keadaan dan peristiwa yang ada disekitar anak, yang bias memberikan pengaruh pada perkembangannya, baik secara langsung ataupun tidak langsung, baik secara sengaja atau ridak sengaja. Disamping lingkungan itu memberikan pengaruh dan dorongan, lingkungan juga merupakan arena yang memberikan kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan (bawaan) yang ada pada seseorang anak untuk berkembang.
Berbeda dengan aliran Nativisme, para ahli yang mengikuti aliran ‘Empirisme’ berpendapat bahwa perkembangan itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali.[10]    
Aliran Empirisme dipelopori oleh John Locke (1632-1704). Beliau mengatakan bahwa pendidikan itu perlu sekali. Teori ini terkenal dengan teori Tabula rasa. Menurut teori ini lingkunganlah yang menjadi penentu perkembangan seseorang. Karena baik buruknya perkembangan pribadi seseorang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau pendidikan.
Menurut pendapat kaum empiris, lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang oleh karena itu dalam ilmu pendidikan aliran ini disebut dengan aliran pedaogik optimisme artinya pendidikan maha kuasa untuk membentuk atau mengembangkan pribadi seseorang.
Para ahli yang mengikuti pendirian empirisme mempunyai pendapat yang langsung bertentangan dengan pendapat aliran nativisme. Kalau pengikut-pengikut aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata bergantung pada faktor dasar, maka pengikut-pengikut aliran empirisme berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata bergantung pada faktor lingkungan sedangkan dasar tidak memainkan peranan sama sekali. Selanjutnya aliran ini sangat besar pengaruhnya di Amerika Serika, dimana banyak ahli yang tidak eksplisit menolak peranan dasar itu, namun  karena dasar itu sukar untuk ditentukan, maka praktis yang dibicarakan hanyalah lingkungan, dan sebagai konsekuensinya juga hanya lingkunganlah yang masuk pencaturan. Paham environmentalisme yang banyak pengikutnya di Amerika Serikat itu pada hakikatnya adalah kelanjutan daripada aliran empirisme.[11]
Aliran empirisme ini menimbulkan optimisme dalam lapangan pendidikan. Aliran ini menimbulkan keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan. Watak, sikap, dan tingkah laku manusia dianggapnya bisa dipengaruhi seluas-luasnya oleh pendidikan. Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh  yang tidak terbatas.
Bahaya yang timbul dari pandangan ini dalam lapangan pendidikan ialah bahwa pandangan itu dapat mengakibatkan anak tidak diperlakukan sebagai anak, akan tetapi diperlakukan semata-mata manurut keinginan orang dewasa. Pribadi anak sering diabaikan dan kepentingannya dilalaikan.[12]

C. Gabungan Keturunan dan Lingkungan (Aliran Konvergensi/Cognitive Theory)
Aliran ini dipelopori oleh William Stem (1871-1938). Aliran ini mengakui kedua-duanya. Jadi pendidikan itu perlu sekali, tetapi semua ini terbatas karena bakat daripada anak didik. Aliran ini menjembatani atau menengahi kedua teori sebelumnya yang bersifat ekstrim, sesuai dengan namanya Konvergensi yang artinya perpaduan, maka berarti teori ini tidak memihak bahkan memadukan pengaruh kedua unsur pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses perkembangan.[13]
Menurut Elizabeth B. Hurlock, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan seseorang. Tetapi sejauh mana kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, lebih-lebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting.[14]
Faham Konvergensi ini berpendapat, bahwa di dalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan ataupun lingkungan memainkan peranan perting. Realitas menunjukkan bahwa warisan yang yang baik saja tanpa pengaruh lingkungan kependidikan yang baik tidak akan dapat membina kepribadian yang ideal. Sebaliknya, walaupun lingkungan pendidikan itu baik, tidak akan menghasilakan lepribadian yang ideal juga. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu; akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang. Misalnya : Tiap manusia yang normal memiliki bakat untuk berdiri tegak atas kedua kaki; bakat ini tidak aktual (menjadi kenyataan) jika sekiranya anak manusia itu tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia. Anak yang semenjak kecilnya diasuh oleh monyet maka ia tidak akan berdiri tegak diatas kedua kakinya ; mungkin dia akan berjalan dia akan berjalan diatas tangan dan kakinya (jadi seperti monyet).[15]
Paham konvergensi ini berpendapat bahwa di dalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan atau pun lingkungan  memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu; akan tetapi bakat yang telah tersedia itu perlu menumukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.
Dewasa ini sebagian besar para ahli mengikuti konsepsi ini, dengan variasi yang bermacam-macam, ada yang walaupun berpegang pada prinsip konvergensi, tetapi dalam praktiknya menganggap bahwa yang lebih dominan itu dasar, yaitu ahli-ahli psikologi konstitusional; ada pula yang menganggap yang lebih dominan itu adalah lingkungan. Kelompok yang kedua dewasa ini lebih banyak pengikut-pengikutnya terutama di Inggris dan Amerika Serikat Salah satu tokoh yang cukup populer yang mengikuti pendirian yang semacam yang dikemukakan paling akhir itu adalah Alfred Adler.

D. Fitrah/Potensi
Dalam dimensi pedidikan, keutamaan dan keunggulan manusia dibanding dengan makhluk Allah lainnya, terangkum dalam kata “fitrah”. Secra bahasa fitrah berasal  dari kata fathaha yang berarti menjadikan. Kata tersebut berasal dari akar kataal-fathr yang berarti belahan atau pecahan.
Dalam Al-Qur’an kata-kata yang mengacu pada pemaknaan kata fitrah muncul sebanyak 20 kali yang tersebar dalam 19 surat. Sehingga secara umum pemaknaan kata fitrah dapat dikelompokkan kedalam empat yaitu:
1.      Proses penciptaan langit dan bumi
2.      Proses penciptaan manusia
3.      Pengaturan alam semesta beserta isinya dengan serasi dan seimbang
4.      Pemaknaan pada agama Allah sebagai acuan dasar dan pedoman bagi manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya (ma’rifat al-iman)
Para pemikir muslim cendrung memaknai kata fitrah berdasarkan QS:30:30 sebagai potensi manusia untuk beragama. Ada juga yang memaknai bahwa fitrah merupakan bawaan yang telah diberikan Allah sejak manusia berada dalam alam rahim.
Hasan langgulung mengartikan fitrah tersebut sebagai potensi-potensi yang dimiliki manusia. Potensi-potensi tersebut merupakan suatu keterpaduan yang tersimpul dalam Asma’ul Husna. Batasan tersebut memberikn arti, misalnya sifat Allah Al-Ilmu “maha mengetahui” maka manusia pun memiliki potensi untuk bersifat mengetahui dan begitu juga semuanya. Akan tetapi kemampuan manusia tentu saja berbeda dengan Allah. Hal ini disebabkan karena berbeda hakikat diantara keduanya. Allah memilki sifat kemaha sempurnaan sedangkan manusia memiliki sifat keterbatasan. Keterbatasan itulah yang menyebabkan manusia membutuhkan pertolongan dan bantuan untuk memenuhi segala kebutuhan. Keadaan ini menyadarkan manusia tentang ke-Esaan Allah, sehingga inilah letak fitrah beragama manusia sebagai manifestasi memenuhi kebutuhan rohaniahnya.
Abdurrahman Shaleh Abdullah mengartikan kata fitrah sebagai bentuk potensi yang diberikan Allah padanya disaat peciptaan manusia dialam rahim. Potensi tersebut belum bersifat final, akan tetapi merupakan proses. Ia juga mengatakan bahwa anak yang lahir belum tentu muslim, meskipun ia berasal dari keluarga muslim. Akan tetapi Allah SWT telah membekalinya dengan potensi-potensi yang memungkinkannya menjadi seorang Muslim.
Muhammad Bin Asyur sebagamana disitir M. Quraish Shihab mendefinisikan fitrah manusia kepada pengertian “fitrah (makhluk) adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Sedangkan fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan kemampuan jasmani dan akalnya”. Dari pengertian tersebut dapat diartiakan bahwa fitrah merupakan potensi yang diberikan Allah kepada manusia sehingga manusia mampu melaksanakan amanat yang diberiakan Allah kepadanya yang meliputi potensi seluruh dimensi manusia.
Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya “setiap anak manusia itu terlahir dalam fitrahnya, kedua orang tuanyalah yang akan mewarnai (anak) nya, apakah menjadikannya seorang yahudi, nasrani, atau majusi” (HR Aswad Bin Sari).
Dari makna hadis diatas memberikan pengertian secara teoritis bahwa semakin baik penempatan fitrah yang dimiliki manusia, maka akan semakin baiklah kepribadiannya.
Demikian pula sebaliknya, semakin buruk penempatan fitrah seseorang maka akan semakin buruk sifat dan tingkah lakunya. Namun demikian, pendekatan tersebut hanya sebatas teoritis manusia, sedangkan dosa balik itu dalam islam ada kemungkinan lain, yaitu hidayah dari Allah SWT sebagai penentu yang Maha final.[16]
Dari sekian banyak pengertian tentang fitrah, maka dapat diambil kata kunci bahwa fitrah adalah potensi manusia. Potensi tersebut bukan saja potensi agama saja. Menurut Ibn Taimiyah sebagaimana disitir Juhaja S. Praja pada diri manusia juga memiliki setidaknya tiga potensi fitrah yaitu:
1.      Daya intelektual (quwwat al-al-‘aql) yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
2.      Daya ofensif (quwwat al-syahwat) yaitu potensi yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi objek-objek yang menyenangkan dan bermamfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah secara serasi dan seimbang.
3.      Daya defensif (quwwat al-ghaddab) yaitu potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari perbuatan yang dapat membahayakan dirinya.
Diantara ketiga potensi tersebut, disamping potensi agama, potensi akal menduduki sentral sebagai alat kendali dua potensi lainnya. Ada juga pendapat Ibn Taimiyah yang dikutip Nurchalis Majdid yang membagi fitrah manusia kepada dua bentuk yaitu:
1.      Fitrat al-gharizat merupakan potensi dalam diri manusia yang dibawanya semenjak ia lahir. Potensi tersebut antara lain nafsu, akal, hati nurani yang dapat dikembangkan melalui jalur pendididkan.
2.      Fitrat al-munaazalat merupakan potensi luar manusia. Adapun wujud dari fitrah ini yaitu wahyu Allah yang diturunkan untuk membimbing dan mengarahkan fitrat al-gharizat berkembang sesuai dengan fitrahnya yang hanif.
Semakin tinggi tingkat interaksi antara keduanya maka akan semakin tinggi kualitas manusia (insan kamil). Akan tetapi sebaiknya, semakin rendah tidak mengalami keserasian, bahkan berebenturan antara satu dengan yang lainnya maka manusia akan semakin tergelincir dari fitrahnya yang hanif.
Muhammad Bin Asyur sebagamana disitir M. Quraish Shihab dalam mendefinisikan fitrah manusia ada beberpa potensi yang dimiliki oleh manusia diantaranya yaitu:
1.      Potensi jasadiah, yaitu contohnya potensi berjalan tegak dengan menggunakan kedua kaki.
2.      Potensi akliyahnya, yaitu contohnya kemampuan manusia untuk menarik sesuatu kesimpulan dari sejumlah premis.
3.      Potensi rohaniyah, yaitu contohnya kemampuan manusia untuk dapat merasakan senang, nikmat, sedih, bahagia, tenteram, dan sebagainya.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang macam-macam potensi manusia, maka dapat diambil kesimpualan bahwa potensi manusia yang dibawa sejak lahir terdiri dari:
1.      Potensi agama
2.      Potensi akal yang mencangkup spiritual
3.      Potensi fisik atau jasadiah
4.      Potensi rohaniah mencangkup hati nurani dan nafsu.[17]
Dalam perspektif pendidikan Islam, fitrah manusia dimaknai dengan sejumlah potensi yang menyangkut kekuatan-kekuatan manusia. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan hidup, upaya mempertahankan dan melestarikan kehidupannya, kekuatan rasional (akal), dan kekutan spiritual (agama). Ketiga kekuatan ini bersifat dinamis dan terkait secara integral. Potensialitas manusia inilah yang kemudian dikembangkan, diperkaya, dan diaktualisasikan secara nyata dalam perbuatan amaliah manusia sehari-hari, baik secara vertikal maupun horizontal. Perpaduan ketiganya merupakan kesatuan yang utuh.
Dalam pendidikan Islam harus mampu mengintegrasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didiknya pada pola pendidikan yang ditawarkan, baik potensi yang ada pada aspek jasmani maupun rohani, intelektual, emosional, serta moral etis religius dalam diri peserta didiknya. Dengan ini, pendidikan Islam akan mampu membantu peserta didiknya untuk mewujudkan sosok insan paripurna yang mampu melakukan dialektika aktif pada semua potensi yang dimiliknya. Mampu teraktualisasikannya potensi yang dimiliki manusia sesuai dengan nilai-nilai Ilahiyah, pada dasarnya pedidikan berfungsi sebagai media yang menstimuli bagi perkembangan dan pertumbuhan potensi manusia seoptimal mungkin ke arah penyempurnaan dirinya, baik sebagai ‘abdillah maupun khalifah.
Fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia memiliki kebutuhan. Menurut Zakiyah Drajat ada dua kebutuhan peserta didik yaitu:
1.      Kebutuhan psikis yaitu kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, bebas, mengenal, dan rasa sukses
2.      Kebutuhan fisik yaitu pemenuhan sandang, pangan, papan, dan pangan
Dalam pendidikan berupaya mengembangkan dan memenuhi kebutuahn tersebut secara integral agar berkembang.[18]
Dalam perkembngannya manusia ingin selalu dipenuhi kebutuhan hidupnya, secara layak dan dapat hidup sejahtera. Tetapi kehidupan sejahtera sifatnya relatif, karena selalu brubah dan berkembang sesuia dengan perkembangan sosial budaya. Semakin maju suatu masyarakat, maka akan semakin beraneka ragam kebutuhannya.[19]
Kebutuhan pokok manusia antara lain yaitu:
a)    Kebutuhan biologis
Kebutuhan biologis atau kebutuhan jasmaniah, yang merupakan kebutuhan hidup manusia yang primer, seperti makan, tempat tinggal, pakaian, dan kebutuhan sexsual. Setiap orang tentu akan memenuhi kebutuhan biologis tersebut, namun cara pemenuhan kebutuhan tersebut berbeda satu dengan yang lain, tergantung kemampuan dan kebutuhan masing-masing.
b)   Kebutuhan Psikis
Kebutuhan Psikis yaitu kebutuhan rohaniah. Manusia membutuhkan rasa aman, dicintai dan mencintai, bebas, dihargai, dan lainnya. Manusia adalah makhluk yang disebut “psycho-physik netral” yaitu sebagai makhluk yang memiliki kemandirian jasmaniah dan rohaniah. Dalam kemandirian itu manusia memiliki potensi untuk berkembang dan tumbuh, untuk itu diperlukan adanya pendidikan, agar kebutuhan psikis dapat terpenuhi dengan seimbang.
c)    Kebutuhan Sosial
Kebutuhan Sosial, yaitu kebutuhan manusia bergaul dan berinteraksi dengan manusia lain. Karna manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki keinginan untuk hidup bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial maka manusia memiliki rasa tanggung jawab untuk mengembangkan interaksi antara masyarakat.
d)   Kebutuhan Agama (spiritual)
Kebutuhan Agama (spiritual) yaitu kebutuhan manusia terhadap pedoman hidup yang dapat menunjukkan jalan kearah kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Semenjak lahir manusia sudah membawa fitrah beragama dan akan berkembang degan adanya pendidikan. Dengan demikian manusia disebut dengan makhluk berketuhanan atau disebut juga dengan makhluk beragama, karena dengan adanya agama manusia akan dapat ketenangan lahir dan batin.
e)    Kebutuhan Paedagogis (intelek)
Kebutuhan Paedagogis (intelek) yaitu kebutuhan manusia terhadap pendidikan. Manusia disebut homo-educandum, yaitu akhluk yang harus dididik, oleh karena manusia itu dikategorikan sebagai animal educable, yakni sebagai makhuk sebangsa binatang yang dapat dididik. Karena manusia mempunyai akal, mempunyai kemampuan untuk berilmu pengeahuan, di samping manusia juga memiliki kemampuan untuk berkembang dan membentuk dirinya sendiri (self-formig).
Dengan demikian jelaslah bahwa manusia dalam hidunya memerlukan pendidikan. Namun pendidikan yang bagaimanakah yang dapat mengembangkan potensi yang ada pada diri manusia yang telah ia bawa semenjak lahir. Karena fitrah manusia pada umumnya sama, hanya saja yang membedakan mereka adalah pendidikan yang mereka dapatkan, sehingga terjadilah beragam agama dan kecerdasan setiap individu.
Ada tiga alasan penyebab awal kenapa manusia emerlukan pendidikan, yaitu: pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat, ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda, dengan tujuan agar nilai hidup masyarakat tetap berlanjut dan terpelihara. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai intelektual, seni, politik, ekonomi, dan sebagainya. Kedua, alam kehidupan manusia sebagai individu, memiliki kecendrungan untuk dapat mengembnagkan potensi-potensi yang ada dalamdirinyaseoptimal mungkin. Untuk maksud tersebut, manusia perlu suatu sarana. Saran itu adalah pendidikan. Ketiga, konvergensi dari kedua tuntutan di atas yang pengaplikasiannya adalah lewat pendidikan.[20]
Para ahli pendidikan Muslim pada umumnya sependapat bahwa teori dan praktek kependidikan Islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang manusia. Ada dua implikasi penting dalam hubungannya dengan pendidikan Islam, yaitu:[21]
1.      Karena manusia adalah makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki proses pembinaan yang mengacu kearah realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Sistim pendidikan Islam harus dibangun diatas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan qalbiyah dan qaliyah sehingga mampu menghasilkan manusia Muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral.
2.      Al-quran menjelakan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai khalifah dan ‘abd. Untuk melaksanakan tugas ini Allah membekali dengan seperagkat potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan harus merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkrit, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermamfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai khalifah maupun ‘abd.
Kedua hal di atas harus menjadi acuan dasar dalam menciptakan dan mengembangkan sistem pedidikan Islam masa kini dan masa depan. Fungsionalisasi pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan umat Islam menterjemahkan dan merealisasikan konsep filsafat penciptaan manusia dan fungsivpenciptaannya dalam alam semesta ini. Untuk menjawab hal itu, maka pendidikan Islam dijadikan sebagai sarana yang kondusif bagi proses transformasi ilmu pengetahuan dan budaya Islami dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam konteks ini dipahami bahwa posisi manusia sebagai khalifah dan ‘abd menghendaki program pendidikan yang menawarkan sepenuhnya penguasaan ilmu pengetahuan secara totalitas, agar manusia tegar sebagai khalifah dan taqwa sebagai substansi dan aspek ‘abd.
Agar pendidikan umat berhasil dalam prosesnya, maka konsep penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya dalam alam semesta harus sepenuhnya diakomodasikan dalam perumusan teori-teori pendidikan Islam melalui pendekatan kewahyuan, empirik keilmuwan dan rasional filosofis. Yang harus dipahami bahwa pendekatan keilmuwan dan filosofis hanyalah sebuah media untuk menalar pesan-pesan Tuhan, baik melalui ayat-ayat-Nya yang bersifat tekstual (Qur’aniyah), maupun ayat-ayat-Nya yang bersifat kontekstual (kauniyah) yang telah dijabarkan-Nya melalui sunnatullah.
Dalam buku lain ditemukan bahwa pendidikan merupakan gejala dan kebutuhan manusia. Dalam artian bahwa bilamana anak tidak mendapatkan pendidikan, maka mereka tidak akan menjadi manusia sesungguhnya, dalam artian tidak sempurna hidupnya dan tidak akan dapat memenuhi fungsinya sebagai manusia yang berguna dalam hidup dan kehidupannya. Hanya pendidikanlah yang dapat memnusiakan dan membudayakan manusia.[22]
Untuk mengembangkan potensi/kemampuan dasar, maka manusia membutuhkan adanya bantuan dari orang lain untuk membimbing, mendorong, dan mengarahkan agar berbagai potensi tersebut dapat bertumbuh dan berkembang secara wajar dan secara optimal, sehingga kehidupannya kelak dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dengan begitu mereka akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Lingkungan fisik yaitu lingkungan alam, seperti keadaan geografis, iklim dan lainnya. Sedangkan lingkunagan sosial ialah lingkungan yang berupa manusia-manusia yang ada disekitar anak, yang berinteraksi dengan mereka, seperti orang tua, saudara, tetangga dan lainnya.
Dari beberapa penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan, bahwa fitrah yang dibawa oleh setiap manusia semenjak ia lahir harus dikembangkan dengan pendidikan. Karena sifat manusia yang yang selalu membutuhkan orang lain untuk perubahan dan perbaikan dirinya. Dan juga perkembangan fitrah manusia itu akan di pengaruhi oleh lingkungan. Di dalam fitrah manusia terdapatnya suatu kebutuhan-kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka perlu adanya bantuan dari orang lain tersebut. Sehingga kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi.





BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ini dikemukakan sekaitan dengan kajian yang mempermasalahkan tentang manakah yang lebih berpengaruh atau lebih menentukan terhadap perkembangan diri seseorang.
1.      Alirin nativisme- teori kematangan (Maturational theory)
Aliran ini berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan lebih ditentukan oleh faktor keturunan bawaan atau faktor internal atau endogen.
2.      Aliran Empirisme- teori keperilakuan (Behavioral theory)
Aliran ini menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu lebihdi pengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman atau eksternal atau endogen. Salah satu teori keperilakuan ini merupakan kebalikan dari teori kematangan.
3.      Aliran konvergensi- teori kognitif (Cognitive theory)
Aliran ini menjelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu di pengaruhi oleh pembawaan maupun lingkungan. Pengaruh yang lebih kuat dari keturunan atau lingkungan yang akan lebih mempengaruhi perkembangan individu. Teorinya adalah teori kognitif yang merupakan perpaduan (konvergensi) antara teori kematangan dan teori keperilakuan.
4.      Fitrah/Potensi
Fitrah yang dibawa oleh setiap manusia semenjak ia lahir harus dikembangkan dengan pendidikan. Karena sifat manusia yang yang selalu membutuhkan orang lain untuk perubahan dan perbaikan dirinya. Dan juga perkembangan fitrah manusia itu akan di pengaruhi oleh lingkungan. Di dalamfitrah manusia terdapatnya suatu kebutuhan-kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka perlu adanya bantuan dari orang laian tersebut. Sehingga kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi.




DAFTAR PUSTAKA

Asl-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Historis, Teoritis, Praktis. Jakarta: Ciputat Perss. 2005.
Indrakusuma, Amir Dien. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional. 1973.
Mustakim, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2003.
Nizar, Samsul,  Peseta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam: Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, IAIN Imam Bonjol Press: Padang. 1999.
Nizar,  Samsul Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam. Gaya Media Pratama: Jakarta. 2001.
Sabri, Alisuf. Pengembangan psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya. 1993.
Slameto,  Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rinneka Cipta. 2003
Sujanto, Psikologi Kepribadian. Jakarta : Aksara Baru. 1984.
Suryabrata, Sumadi , Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 1993.
Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam. Bumi Aksara : Jakarta. 2001.




[1] Sujanto, Psikologi Kepribadian (Jakarta, Aksara Baru, 1984)  hal. 24.
[2] Alisuf Sabri, Pengembangan psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1993), cet. I, hal. 173.
[3] pedagogik pesivisme yaitu pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh penndidikan. Bagi kaum nativis mereka mengangap yang menentukan perkembangan seorang anak itu hanyalah faktor pembawaan, mereka tidak memperhatikan rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar. Padahal kita tahu bahwa tidak semua sesuatu ditentukan oleh warisan atau pembawaan orang tuanya, misalnya orang tuanya adalah sesorang tentara ternyata karena pengaruh teman-temannya, anaknya menjadi seorang seorang guru. Hal semacam ini mungkin saja terjadi, karena lingkungan pergaulan anak itu tidak hanya di rumah atau dibawah pengawasan orang tuanya saja, tetapi juga di sekolah, masyakat, organisasi dan lain-lain.
[4] Amir Dien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1973), cet. Ke-1, hal. 83
[5]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1993), cet. VI, hal. 185
[6] Sumadi Suryabrata, Op. Cit 177-178.
[7] Mustakim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 33.
[8] Slameto, 2003. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rinneka Cipta, hal. 60.
[9] Alisuf Sabri, op.cit., hal. 173.
[10] Ibid.
[11]Sumadi Suryabrata, Op. Cit 178-179.
[12] Mustakim, Op. Cit. 34.
[13] Amir Dien Indrakusuma, Op. Cit., hal. 83
[14]Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: CV. Pedoman Imu Jaya, 1996), cet. II, hal. 173.
[15] Sumadi Suryabrata, Op. Cit., hal. 188.
[16] Samsul Nizar, 1999, Peseta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam: Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, IAIN Imam Bonjol Press: Padang, hal: 36-45.
[17] Ibid, hal:42-44
[18] Samsul Nizar,  2001, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Gaya Media Pratama: Jakarta, hal: 135-138
[19] Zuhairini, dkk., 1995, Filsafat Pendidikan Islam, (Bumi Aksara : Jakarta)  hal. 95-97.
[20] Samsul Nizar, hal: 85
[21] Asl-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Historis, Teoritis, Praktis. (Jakarta: Ciputat Perss, 2005), hal. 21-23.
[22] Zuhairini, dkk., opcit, hal: 92-95

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com