Thursday, 2 October 2014

MAKALAH KEADILAN DAN KEBAJIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah SWT ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah". Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia. Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim. Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69). Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. (Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82). Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.
Selain itu, di dalam surat An-Nahl ini, dapat ditemukan ayat-ayat dakwah, khususnya ayat 90 yang akan pemakalah bahas dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Surat An-Nahl Ayat 90 dan Terjemahannya
2.      Tafsir Surat An-Nahl Ayat 90



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Surat An-Nahl Ayat 90 dan Terjemahannya

* ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGƒÎ)ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.xs? ÇÒÉÈ
Artinya: ”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”..[1] (Q. S An-Nahl Ayat 90)

B.     Tafsir Surat An-Nahl Ayat 90
Penjelasan Ayat Menurut Tafsir Al-Misbah
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan….” (An-Nahl:90)
Al-‘Adlu terambil dari kata a’dala yang terdiri dari huruf huruf ain,dal dan lam .rangkaian huruf huruf ini mempinyai dua makna yang bertolak belakang,yakni lurus dan sama serta bengkok dan berbeda .Seseorang yang adil adalh yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama,bukan ukuran ganda .persamaan itulah yang menjadikan seseorang yang adil tidak berpihk kepada salah seorang yang berselisih
Manusia dituntut untuk menegakan keadilan walau terhadap keluarga,ibu bapak dan dirinya, bahkan terhadap musuhnya sekalipun.keadilan utama yang dituntut adalah dari diri dan terhadap diri sendiri dengan jalan meletakan syahwat dan amarah sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama,bukan menjadikannya tuan yang mengarahkan akal dan tuntutan agamanya .
Kata Al-Ikhsan menurut Ar-Roghib digunakan untuk dua hal :pertama,memberi nikmat kepada pihak lain dan kedua,perbuataan baik.karena itu lanjutnya kata ihsan lebih luas dari sekedar ’’ memberi nikmat atu nafkah ’’maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam dari kandungan makna ’’adil ’,karena adil adalah ‚’memperlakukannya lebih baik dari perlakuan terhadap anda’sedangkan ihsan adalah Ihsan adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu
Martabat ihsan yang paling tinggi ialah berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. Hal ini diperintahkan oleh Nabi saw. Diriwayatkan dari As-Syabi’I, bahwa Isa bin Mariyam as berkata, “Ihsan adalah kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu. Ihsan bukan berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu. “Didalam shalihaini diriwayatkan dari Hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi saw. Bersabda;
“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan kamu melihatnya dan sekiranya kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya dia melihatmu.”
Memberi kaum kerabat apa yang mereka butuhkan. Di dalam ayat terdapat petunjuk untuk mengadakan hubungan kekerabatan dan silaturahmi, serta dorongan untuk bersedekah kepada mereka. Meskipun pemberian ini termasuk ihsan yang telah disebutkan, namun pengkhususan di sini menunjukkan adanya perhatian yang cukup besar terhadapnya.setelah menyajikan tiga perkara yang diperintahkan-Nya, selanjutnya Allah menjadikan tiga perkara yang dilarang-Nya:
·         Melarang untuk berlebihan cenderung mengikuti kekuatan syahwat, seperti berzina, meminum khamar, mencuri, dan tamak terhadap harta orang lain.Yaitu apa yang diingkari oleh akal, berupa keburukan-keburukan yang lahir dari kemarahan, seperti memukul, membunuh dan menganiaya manusia.
·         Berlaku dzalim terhadap manusia, dan memperkosa hak-hak mereka.ringkasan, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, yaitu melakukan kebaikan sekedar memenuhi bewajiban, berbuat ihsan yaitu menambah ketaatan dan pengagungan kepada Allah dan mengasihi makhluk-Nya di antara yang paling mulia ialah mengadakan silaturahmi.
·         Dan melarang berlebihan dalam meperoleh syahwat yang tidak diterima oleh syari’at dan akal, berlebihan dalam mengikuti dorongan-dorongan amarah, dengan mendatangkan kejahatan kepada orang lain, menganiaya dan mengarahkan bencana kepada mereka, serta menyombongkan diri terhadap manusia dan memalingkan muka dari mereka.
Allah menyuruh kalian untuk melakukan tiga perkara dan melarang dari tiga perkara tersebut, agar kalian dapat mengambil pelajaran, lalu kalian mengerjakan apa yang mengandung ridha Allah Ta’ala, dan kemaslahatan kalian di dunia serta di akhirat. Dalam buku lain ayat ini ditafsirkan sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberi kepada keluarga yang dekat.” (pangkal ayat 90).
Tiga hal yang diperintahkan oleh Allah supaya dilakukan sepanjang waktu sebagai alamat dari taat kepada Tuhan. Pertama jalan Adil: menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan mana yang benar, mengembalikan hak kepada empunya dan tidak berlaku zalim atau menganiaya.
Lawan dari adil adalah zalim, yaitu memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan diri sendiri, mempertahankan perbuatan yang salah, sebab yang bersalah itu ialah kawan atau keluarga sendiri. Maka selama keadilan itu masih terdapat dalam masyarakat pergaulan hidup manusia, selama itu pula pergaulan aman sentosa, timbul amanat dan percaya-mempercayai.
Sesudah itu diperintahkan pula melatih diri berbuat ihsan. Arti ihsan ialah mengandung dua maksud. Pertama selalu mempertinggi mutu amalan, berbuat yang lebih baik dari yang sudah-sudah, sehingga kian lama tingkat iman itu kian naik.maksud ihsan yang kedua adalah kepada sesama makhluk, yaitu berbuat lebih tinggi lagi dari keadlian. Misalnya kita memberi upah kepada seseorang yang melakukan pekerjaan. Kita berikan kepadanya upah yang setimpal dengan tenaganya. Pembayaran upah yang setimpal itu adalah sikap adil.tetapi jika lebih dari pada yang semestinya, sehingga hatinya besar dan ia gembira, maka pemberian yang berlebih itu dinamai ihsan. Lantaran itu maka ihsan adalah latihan budi yang lebih tinggi tingkatnya dari adil. Misalnya pula adalah seseorang yang berhutang kepada kita. adalah suatu sikap yang adil apabila hutang itu ditagih. Tetapi dia menjadi ihsan bila hutang itu kita maafkan.
Yang ketiga adalah memberi kepada keluarga yang dekat. Ini juga adalah lanjutan dari ihsan. Karana kadang-kadang orang yang berasal dari satu ayah dan ibu sendiripun tidak sama nasibnya, ada yang murah rezeqinya lalu menjadi kaya raya, dan ada pula yang tidak sampai-menyampai. Maka orang yang mampu itru dianjurkan berbuat ihsan kepada keluarganya yang terdekat, sebelum ia mementingkan orang lain.
Ayat ayat yang memerintahkan berbuat kebajikan diatas tidak menjelaskan objeknya, hal ini untuk memberi makna keumuman,sehingga mencakup segala bidang dan objek yang dapat berkaitan dengan keadilan.Ikhsan dan pemberian yang dimaksud,baik terhadap manusia, binatang,tumbuh tumbuhan maupun terhadap benda benda mati dan baik berupa materi perlakuan maupun jasa.Masing masing disesuaikan dengan objek yang dihadapi.
Kata Al-Fahsyaa /keji adalah nama bagi semua perbuatan atau ucapan bahkan keyakinan yang dinilai buruk oleh jiwa dan akal yang sehat,serta mengakibatkan dampak buruk bukan saja bgi pelakunya tetapi juga bagi lingkungannya.
Kata Al-Munkar/Kemungkaran dari segi bahasa,berarti sesuatu yang tidak dikenal sehingga diingkari.itu sebabnya ia dihadapi oleh kata Al-Ma’ruf /Yang dikenal.Dalam bidang budata kita dapat membenarkan :“Apabila ma’ruf sudah jarang dikerjakan,ia bisa beralih menjadi munkar,sebaliknya bila munkar sering dilakukan ia menjadi ma’ruf.“
Munkar bermacam macam dan bertingkat tingkat ada yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap Alloh baik dalam bentuk ibadah maupun non ibadah dan ada juga yang berkaitan dengan manusia serta lingkungan.
Dalam pandangan Ibn’Asyur munkar adalah sesuatu yang tidak berkenan dihati orang orang normal serta tidak direstui oleh syariat baik ucapan ataupun perbuatan.
Kata Al-Baghyi/penganiayaan terambil dari kata bagha yang berarti meminta atu menuntut ,kemudian maknanya menyempit sehingga ia digunakan dalam arti menuntut hak pihak lain tanpa hak dan dengan cara aniaya atau tidak wajar. Kata tersebut termasuk segala pelanggaran hak dalam bidang interaksi sosial baik pelanggaran itu lahir tanpa sebab seperti perampokan pencurian maupun dengan atau dalih yang tidak syah,bahkan atua tujuan penegakan hukum tetapi dalam pelaksanaanya melampui batas.
Diakhir ayat Allah memberi isyarat bahwa tuntuna-tuntuna agama ,atau paling tidsak nilai-nilai yang disebut diatas,melekat pada nurani setiap orang dan selalu didambakan wujudnya .karena nilai-nilai tersebut bersifat Universal. Pelanggaranya dapat mengakibatkan kehancuran kemanusiaan.[2]


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari uraian yang dipaparkan penyusun diatas maka dapat disiimpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan masalah diatas :
·         hendaklah kita berlaku adil terhadap diri sendiri,kel;uarga maupun orang lain
·         berlakubaik terhadap diri sendiri kerabat dan kepada lingkungan yang ada disekitar kita
·         perbanyaklah perbuatan perbuatan yang ma’ruf
·         Jauhilah perbuatan perbuatan yang munkar yang dapat memberikan kemudorotan bukan hanya kepada kita bahkan terhadap lingkungan yang ada disekitar kita




[1] Departemen Agama RI, al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya  (Semarang: Karya Toha Putra, 1995), hlm. 415.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com