Friday, 3 October 2014

MAKALAH HAKIKAT SISTEM PENDIDIKAN ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan dasar manusia untuk memulai hidup, sehingga menjadi komitmen bersama bahwa pendidikan sangat mempunyai peran yang luhur dan agung. Sifat yang agung ini ditunjukkan dari peran pendidikan yang dipahamai sebagai pemberian bekal peserta didik untuk menghadapi masa depannya. Dalam lagu kebangsaan Indoneisia Raya salah satu lirik lagunya menekankan “bangunlah jiwanya, bangunlah raganya” ini terbukti secara komsuntif pendidikan sangant dibuthkan.
Pendidikan merupakan peroses untuk mendewasakan manusia atau kata lain pendidikan merupakan untuk “memanusiakan manusia” Melalui pendidikan manusia dapat tumbuh dan berkembang secara normal dan sempurna sehingga dapat melaksanakan tugasnya sebagai manusia.
Pendidikan dapat mengubah manusia dari tidak tahu menjadi tahu, dari perilaku buruk menjadi tabiat yang baik, pendidikan mengubah semuanya. Begitu penting Pendidikan dalam Islam, sehingga menjadi kewajiban perorangan.
Pendidikan membutuhkan suatu sistem agar tujuan mulia dari pendidikan itu tercapai. Dan makalah ini akan mencoba menjelaskan sistem dalam pendidikan itu.

B.     Rumusan Masalah
1.    Pengertian Sistem
2.    Ciri-ciri Sebuah Sistem dan Komponen-komponen
3.    Pendekatan Sistem
4.    Model Perumusan Sistem Pendidikan
5.    Perbedaan Sistem Pendidikan Islam dan Non Islam
6.    Prinsip-prinsip Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Yunani ( sistema ) yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saing berhubungan secara teratur dan merupakan siatu keseluruhan. Menurut D.G. Ryans sistem adalah sejumlah elemen ( obyek, orang, aktivitas, rekaman, informasi dan lain-lain ) yang saling berkaitan dengan proses dan struktur secara teratur dan merupakan kesatuan organisasi yang berfungsi untuk mewujudkan hasil yang dapat diamati ( dapat dikenal wujudnya ) sedangkan tujuan yang tercapai. Menurut Sanafiah Faisal istilah sistem munuju kepada totalitas yang bertujuan dan tersusun dari rangkaian unsur dari komponen.
J.W. Getzel and E.G. Guba mengemukakan pada umumnya sistem sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Terdiri dari unsur-unsur yang berkaitan anatara satu sama lainnya.
2. Berorientasi pad tujuan ( goal oriented ) yang telah ditetapkan.
3. Didalamnya terdapat peraturan – peraturan tata tertib berbagai kegiatan sebagainya.[1]
Istilah sistem dipakai untuk menunjuk beberapa pengertian sebagaimana dicontohkan oleh Fuad Ihsan misalnya[2] :
Diapakai untuk menunjuk adanya suatu himpunan bagian-bagian yang saling berkaitan secara alamiah maupun oleh budidaya manusia sehingga menjadi suatu kesatuan yang bulat terpadu. Misalnya sistem tata surya.
Sistem dapat menunjuk adanya alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang secara khusus memberikan andil terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit namun amat vital. Misalnya sistem syaraf.
Sistem dapat dipakai untuk menunjuk sehimpunan gagasan atau ide yang bersusun dan terorganisasi sehingga membentuk suatu kesatuan yang logis. Misalnya sistem pemerintahan demokratis.
Sistem dapat digunakan untuk menunjuk suatu hipotesis atau uraian suatu teori. Misalnya pendidikan sistematis.
Sistem dapat digunakan untuk menunjuk pada suatu cara atau metode. Misalnya sistem mengetik sepuluh jari, system belajar jarak jauh, system modul dalam pengajaran. Sistem adalah suatu kesatuan dari komponen-komponen yang masing-masing berdiri sendiri tetapi saling terkait satu dengan yang lain, sehingga terbentuk suatu kebulatan yang utuh dalam mencapai tujuan yang dinginkan.[3]
Lebih tegas Ramayulis menyatakan bahwa sistem adalah sejumlah elemen (obyek,orang,aktivitas,rekaman,informasi dan lain-lain) yang saling berkaitan dengan proses dan struktur secara teratur dan merupakan kesatuan organisasi yang berfungsi untuk mewujudkan hasil yang diamati (dapat dikenal wujudnya) sedangkan tujuan tercapai. 
Dari keterangan diatas dapat dikatakan bahwa sistem merupakan hal penting yang harus dibangun untuk menjalankan/menggerakan maksud dari sebuah cita-cita atau sebuah pekerjaan yang akan kita lakukan.
Pendidikan merupakan system tersendiri di antara berbagai system di dunia ini, kendatipun ada perinciannya dan unsure-unsurnya yang bersamaan. Dia merupakan system tersendiri, baik tentang cakupannya maupun tentang kesadarannya terhadap detak-detak jantung, goresan hati, karsa dan rasa manusia.[4]
Dari berbagai literature tampaknya Pendidikan Islam sebagai suatu sistem tidaklah sama dengan system pendidikan kontemporer pada umumnya. Hal ini juga disinyalir oleh Ramayulis “ pendidikan Islam memiliki system yang berbeda dengan system pendidikan lain.[5] Namun pendidikan Islam yang didasrkan pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi tidak menyebutkan secara spesifik tentang system pendidikan
Pendidikan Islam yang akan mencorakkan masyarakat Islam bukanlah sistem pendidikan yang berasaskan sesuatu yang asing dari pada Islam, diimport dari Barat atau yang telah disempurnakan dengan memasukkan beberapa unsur Islam ke dalamnya kerana sebagai contoh kebanyakan sistem yang ada gersang akan aspek-aspek kerohanian

B.            Ciri-ciri Sebuah Sistem dan Komponen-Komponen
Komponen atau ciri-ciri sistem adalah bagian yang membentuk sebuah sistem, diantaranya:
1.       Objek, merupakan bagian, elemen atau variabel. Ia dapat berupa benda fisik, abstrak atau keduanya.
2.       Atribut, merupakan penentu kualitas atau sifat kepemilikian sistem dan objeknya.
3.       Hubungan internal, merupakan penghubungan diantara objek-objej yang terdapat dalam sebuah sistem.
4.       Lingkungan, merupakan tempat dimana sistem berada.
5.       Tujuan, Setiap sistem memiliki tujuan dan tujuan inilah yang menjadi motivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tidak terkendali. Tentu tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.
6.       Masukan, adalah sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan untuk diproses. Masukan tersebut dapat berupa hal-hal yang tampak fisik (bahan mentah) atau yang tidak tampak (jasa).
·         Masukan Instrumental (instrumental input). Masukan intrumental dari sistem pendidikan terdiri atas tujuan pendidikan, kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, ideologi, serta pengelolaan, penilaian, pengawasan, dan peran serta masyarakat.
·         Masukan Lingkungan (enviromental input). Masukan lingkungan sistem pendidikan terdiri dari geografi, demografi/lingkungan fisik, agama, fasilitas dan budaya, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan dan keamanan.
7.       Proses, adalah bagian yang melakukan perubahan dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai (informasi) atau yang tidak berguna (limbah). Proses dalam sistem pendidikan merupakan kegiatan pembelajaran yang diberikan kepada siswa yang menjadi input dunia pendidikan, sampai siswa tersebut tamat dari suatu tingkat pendidikan.
8.       Keluaran, adalah hasil dari proses. Pada sistem informasi berupa informasi atau laporan, dan sebagainya. Keluaran dari sistem pendidikan adalah siswa yang telah memperoleh proses pembelajaran dalam masa waktu tertentu dan telah dinyatakan lulus dan berhak untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, atau terjun ke dunia kerja.
9.       Batas, adalah pemisah antara sistem dan daerah luar sistem. Batas disini menentukan konfigurasi, ruang lingkup atau kemampuan sistem. Batas juga dapat diubah atau dimodifikai sehingga dapat merubah perilaku sistem.
10.    Mekanisme pengendalian dan umpan balik, digunakan untuk mengendalikan masukan atau proses. Tujuannya untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.

C.    Pendekatan Sistem
1.            Usaha Persiapan
·         Memandang perusahaan sebagai suatu sistem.
·         Mengenal sistem lingkungan.
·         Mengidentifikasi subsistem perusahaan.
2.            Usaha Definisi
·         Bergerak dari tingkat sistem ke subsistem.
Tujuannya : – mengidentifikasi tingkat sistem tempat persoalan berada.
                     - Menganalisis bagian-bagian sistem dalam suatu urutan tertentu
.
·         Mengevaluasi standar.
·         Membandingkan output dengan standar.
·         Mengevaluasi manajemen.
·         Mengevaluasi pemroses informasi.
·         Mengevaluasi input dan sumber daya input.
·         Mengevaluasi proses.
·         Mengevaluasi sumber daya output.
3.            Usaha Pemecahan     
·         Pertimbangan alternatif yang layak.
·         Mengevaluasi berbagai solusi alternatif.
·         Memilih solusi terbaik.
·         Menerapkan solusi.
·         Memastikan bahwa solusi tersebut efektif.

D.    Model Perumusan Sistem Pendidikan
1.      Sosial Demand Approach. Pendekatan perencanaan pendidikan ini lebih berorientasi kepada kebutuhan dan tuntutan masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan itu sendiri dan sebagai pengguna lulusan lembaga pendidikan.
2.      Man Power Approach. Pendekatan ini lebih menekankan kepada bagaimana menghasilkan lulusan yang mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja akan tenaga kerja. Hal ini berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas dari lulusan. Oleh sebab itu, perencanaan pendidikan lebih diarahkan kepada peningkatan kualitas dan kuantitas lulusan.
3.      Rate of Return Approach. Pendekatan rate of return dalam perencanaan pendidikan didasarkan pada model ekonomi. Pendekatan ini lebih berorientasi kepada keuntungan. Ini terlihat jelas dengan adanya kemungkinan untuk memperbandingkan secara ekonomis antara investasi yang diberikan pada sistem pendidikan dengan investasi yang diberikan kepada sektor-sektor ekonomi lainnya.
4.      Systems Approach. Pendidikan sebagai suatu sistem, terdiri atas komponen-komponen yang saling berkaitan dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Interaksi tersebut terjadi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Komponen-komponen pendidikan secara umum terbagi atas input, proses dan output. Perencanaan pendidikan dengan pendekatan sistem terpadu, melihat pendidikan sebagai suatu sistem. Pendekatan ini lebih berorientasi kepada keseimbangan aspek input, proses, maupun output dari dunia pendidikan. Pendekatan sistem dalam perencanaan pendidikan memadukan tiga pendekatan yang sebelumnya. Jika pendekatan-pendekatan sebelumnya bersifat parsial dan cenderung mengabaikan hal-hal yang bukan merupakan fokusnya, maka pendekatan sistem terpadu ini lebih bersifat sistemik yang memandang pendidikan itu sebagai suatu sistem. Dan perencanaan pendidikan lebih diarahkan kepada keseimbangan di antara komponen-komponen yang ada pada sistem tersebut. Kelebihan lain dari pendekatan ini adalah adanya nuansa ”job & service satisfaction” dan“quality product” . Kedua hal tersebut menjadi perhatian dalam pendekatan sistem terpadu ini. Adanya kedua hal tersebut pada gilirannya nanti mampu meningkatkan kualitas proses dan output pendidikan.

E.     Perbedaan Sistem Pendidikan Islam dan Non Islam
Islam dengan ajarannya yang universal memiliki sistem yang berbeda secara mendasar dengan sistem non Islam. Sesuai dengan namanya (Islam dan Non-Islam), dalam kontek pendidikan perbedaan keduanya menurut Ramayulis terletak pada :[6]
1.      Sistem Idiologi
Islam memiliki idiologi al-Tauhid yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan non-Islam memiliki berbagai macam ideologi yang bersumberkan dari isme-isme materialis, komunis, ateis, sosialis,kapitalis dan sebagainya. Dengan begitu maka perbedaan kedua sistem tersebut adalah muatan ideologinya yang ingin dicapai.
Apabila ide pokok ideologi Islam harus berdasarkan al-Tauhid pula. Makna tauhid bukan hanya mengesakan Tuhan seperti yang dipahami oleh kaum monoteis, melainkan juga meyakinkan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of menkind), kesatuan tuntutan hidup (unity of purpose of lifea), Dengan kerangka dasar al-Tauhid ini maka pendidikan Islam tidak akan ditemui tindakan yang dualisme, dikotomi bahkan sekularis. Sistem pendidikan Islam (mencakup: pendidik, peserta didik, kurikulum, metode, tujuan, media dan sebagainya) menghendaki adanya integralisme yang menyatukan kebutuhan dunia dan akhirat, jasmani dan rohani dan system kehidupan lainnya. Jadi, dibidang ideology sastem pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan non-Islam, tetapi dibidang teknik-operasional barangkali keduanya sama
.
2.      Sistem Nilai
Pendidikan Islam bersumber dari nilai Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan pendidikan non-Islam bersumberkan dari nilai yang lain. Formulasi ini relevan dengan kesimpulan di atas, sebab dalam ideologi Islam itu bermuatan nilai-nilai dasar Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai sumber asal dan ijtihad sebagai sumber tambahan. Pendidikan non-Islam sebenarnya ada juga sumber nilainya, namun sumber nilainya hanya dari hasil pemikiran, hasil penelitian para ahli, dan adat kebiasaan masyarakat. Ketiga nilai tersebut yang dipindahkan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. 
3.      Orientasi Pendidikan
Pendidikan Islam berorientasi kepada duniawi dan ukhrawi, sedangkan pendidikan non-Islam,orientasinya duniawi semata. Di dalam Islam antara dunia dan akhirat merupakan kelanjutan dari dunia, bahkan suatu mutu akhirat konsekwensi dari mutu kehidupan dunia. Segala perbuatan muslim dalam bidang apapun memiliki kaitan dengan akhirat.
Islam sebagai agama yang bersifat universal berisi ajaran-ajaran yang dapat membimbing manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Untuk ini Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjalin hubungan yang erat dengan Allah dan sesama manusia.
Sistem pendidikan sekularistik seperti, ekonomi kapitalistik, pendidikan materialistik, gaya hidup individualistic, budaya hedonoistik adalah merupakan akar dari pada permasalahan dengan sistem pendidikannya.
Namun Islam memberikan solusi yang sangat fundamental terhadap perubahan dan tantangan yang tengah dialami umat manusia, dalam hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan Islam yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Baik dalam mengahadapi masalah ekonomi, social, politik, budaya, pendidikan, maka system pendidikan islam harus terkait dan saling bersinergi yaitu kehidupan masyarakat, sekolah dan keluarga. Allah berfirman dalam Surah Syura ayat:13 Artinya : “ Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”.[7] FirmanNya lagi dalam surah al-Rum: 30 Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[8]

F. Prinsip-prinsip Pendidikan Islam
Dalam prespektif pendidikan Islam, tujuan hidup seorang muslim pada hakekatnya adalah mengabdi kepada Allah. Pengabdian kepada Allah sebagai realisasi dari keimanan yang diwujudkan dalam amal, tidak lain untuk mencapai derajat yang bertaqwa disisinya. Beriman dan beramal soleh merupakan dua aspek kepribadian yang dicita-citakan dalam pendidikan Islam. Sedangkan tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan yang memiliki dimensi religious dan berkemampuan ilmiah.[9]
Untuk mengaktualisasikan tujuan tersebut seorang pendidik bertanggungjawab mengantarkan peserta didik kearah tujuan tersebut, yaitu dengan menjadikan sifat-sifat Allah menjadi sebagian karakteristik kepribadiannya. Untuk itu, keberadaan pendidik dalam dunia pendidikan sangat krusial.
Hal ini disebabkan kewajibannya tidak hanya mentransfer pengetahuan belaka, akan tetapi juga untuk merealisasikan nilai-nilai pada peserta didik. Bentuk nilai yang ditransfer dan disosialisasikan paling tidak meliputi nilai etis, nilai pragmatis dan nilai religious. Secara factual, pelaksanaan pengajaran dan pemberian pengetahuan dibidang agama Islam dan untuk merealisasikan nilai pada peserta didik merupakan tugas yang cukup berat ditengah kehidupan masyarakat yang kompleks, apalagi pada masa sekarang yaitu pada masa perkembangan era globalisasi dan informasi.[10]
Secara lebih filosofis Muhammad Natsir dalam tulisan” ideology pendidikan Islam” menyatakan ; “Yang dinamakan pendidikan, ialah suatu pimpinan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan dan kelengkapan atau kemanusiaan dengan arti sesungguhnya”[11]
Prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam adalah aspek-aspek fundamental yang menggambarkan dasar dan tujuan pendidikan Islam sehingga ia membedakannya dengan pendidikan non-Islam. Prinsip¬prinsip dasar pendidikan Islam itu meliputi:
• Pendidikan Islam adalah bagian dari proses rububiyah Tuhan
• Pendidikan Islam berusaha membentuk manusia seutuhnya
• Pendidikan Islam selalu berkaitan dengan agama
• Pendidikan Islam merupakan pendidikan terbuka.
Hasan Langgulung merumuskan “pendidikan Islam sebagai suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal didunia dan memetik hasilnya diakhirat”.[12]
1. Prinsip Integral dan Seimbang
a. Prinsip Integral
Pendidikan Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama. Keduanya harus terintegrasi secara harmonis. Dalam ajaran Islam, Allah adalah pencipta alam semesta termasuk manusia. Allah pula yang menurunkan hukum-hukum untuk mengelola dan melestarikannya. Hukum-hukum mengenai alam fisik disebut sunatullah, sedangkan pedoman hidup dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia telah ditentukan pula dalam ajaran agama yang disebut dinullah yang mencakup akidah dan syariah.
b. Prinsip Seimbang
Pendidikan Islam selalu memperhatikan keseimbangan di antara berbagai aspek yang meliputi keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal, urusan hubungan dengan Allah dan sesama manusia, hak dan kewajiban.

2. Prinsip Bagian dari Proses Rububiyah
Al-Qur’an menggambarkan bahwa Allah adalah Al-Khaliq, dan Rabb Al-Amin (pemelihara semesta alam). Dalam proses penciptaan alam semesta termasuk manusia. Allah menampakan proses yang memperlihatkan konsistensi dan keteraturan. Hal demikian kemudian dikenal sebagai aturan-aturan yang diterpakan Allah atau disebut Sunnatullah. Sebagai khalifah, manusia juga mengemban fungsi rubbubiyah Allah terhadap alam semesta termasuk diri manusia sendiri. Dengan perimbangan tersebut dapat dikatakan bahwa karakter hakiki pendidikan Isam pada intinya terletak pada fungsi rubbubiyah Allah secara praktis dikuasakan atau diwakilkan kepada manusia. Dengakn kata lain, pendidikan Islam tidak lain adalah keseluruhan proses dan fungsi rubbubiyah Allah terhadap manusia, sejak dari proses penciptaan samspai dewasa dan sempurna.

3. Prinsip Membentuk Manusia yang Seutuhnya
Manusia yang menjadi objek pendidikan Islam ialah manusia yang telah tergambar dan terangkum dalam Al-Qur’an dan hadist. Potret manusia dalam pendidikan sekuler diserhakan pada orang-orang tertentu dalam msyarakat atau pada seorang individu karena kekuasaanya, yang berarti diserahkan kepada angan-angan seseorang atau sekelompok orang semata. Prinsip ini harus direalisasikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran. Pendidik harus mengembangkan baik kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual secara simultan.

4. Prinsip Selalu Berkaitan dengan Agama
Pendidikan Islam sejak awal merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkan dan memantapkan kecendrungan tauhid yang telah menjadi fitrah manusia. Agama menjadi petunjuk dan penuntun ke arah itu. Oleh karena itu, pendidikan Islam selalu menyelenggrakan pendidikan agama. Namun, agama di sini lebih kepada fungsinya sebagai sumebr moral nilai.

5. Prinsip Terbuka
Dalam Islam diakui adanya perbedaam manusia. Akan tetapi, perbedaan hakiki ditentukan oleh amal perbuatan manusia (QS, Al-Mulk : 2), atau ketakwaan (QS, Al-Hujrat : 13). oleh karena itu, pendidikan Islam pada dasarnya bersifat terbuka, demokratis, dan universal.

6. Menjaga Perbedaan Individual
Perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia melahirkan perbedaan tingkah laku karena setiap orang akan berbuat sesuai dengan keadaanya masing-masing. Menurut Asy-Syaibani yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa pendidikan Islam sepanjangs sejarahnya telah memlihara perbedaan individual yang dimilki oleh peserta didik.

7. Prinsip Pendidikan Islam adalah Dinamis
Pendidikan Islam menganut prinsip dinamis yang tidak beku dalam tujuan-tujuan, kurikulum dan metode-metodenya, tetapi berupaya untuk selalu memperbaharuhi diri dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan Islam seyogyanya mampu memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan zaman dan tempat dan tuntutan perkembangan dan perubahan social. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang memotivasi untuk hidup dinamis.[13]



BAB III
KESIMPULAN

A.    Kesimpulan
Sisitem pendidikan Islam sangat relevan dengan sistem kehidupan yang berlandaskan kepada al-qur’an dan hadits Nabi s.a.w., dalam mencapai tujuannya yang hakiki. Sistem pendidikan Islam sangat memandang nilai-nilai kemanuaan dengan berbagai kondisi, tantangan serta perubahan zaman yang sangat cepat menggerogoti nilai-nilai kemanusaiaan itu sendiri.

B.    Saran 
Sudah seyogiyanya sistem pendidikan mengacu kepada sistem kehidupan Islam secara universal, karena system pendidikan Islam penenkanannya sangat substasial untuk mencapai suatu tujuan dan tujuan yang akan dipai dan diusahankan juga sangat jelas, memiliki implikasi potif masa depan kehidupan hakiki.



DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam; Tradisidan Moderenisasi Menuju Milinium Baru. Jakarta : Kalimah.
Ihsan, Fuad. Dasar-Dasar Kependidikan., Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005.
Muslihah, Eneg. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Diadit Media. 2010.
Quthb, Muhammad. Sistem Pendidikan Islam Terjemahan Drs. Salaman Harun. Bandung:
Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2009. h
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002., h. 4




[1] Eneg Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta : Diadit Media. 2010 ) h. 123-124
[2] Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan., Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005., h. 107-108
[3] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002., h. 4
[4] Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam Terjemahan Drs. Salaman Harun, Bandung: PT.Alma’arif., h. 14
[5] Ramayulis, Ibid, h. 5
[6] Ramayuis, Ibid., hal. 5-7
[7] Al-Qur’an Digital : 1340]. Yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya.
[8] Al-Qur’an Digital : [1168]. Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. 
[9] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2009. h
[10] Ibid. h.  137-138
[11] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisidan Moderenisasi Menuju Milinium Baru, Jakarta : Kalimah, 2001. H. 4
[12] Ibid. , h : 5
[13] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2009. hlm : 100-104


1 comment:

  1. aTiket Pesawat Murah Online, dapatkan segera di SELL TIKET Klik disini:
    selltiket.com
    Booking di SELLTIKET.COM aja!!!
    CEPAT,….TEPAT,….DAN HARGA TERJANGKAU!!!

    Ingin usaha menjadi agen tiket pesawat??
    Yang memiliki potensi penghasilan tanpa batas.
    Bergabung segera di agen.selltiket.com

    INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI :
    No handphone : 085365566333
    PIN : 5A298D36

    Segera Mendaftar Sebelum Terlambat. !!!

    ReplyDelete

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com