Thursday, 2 October 2014

MAKALAH HAKIKAT PENDIDIK DAN PENGAJAR



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu bentuk interaksi manusia.[1] Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2] Dalam pendidikan menuntut terwujudnya manusia Indonesia yang berkualitas, cerdas, beriman, beriptek dan berakhlakul karimah sebagai tujuan dari pendidikan, maka perlu pengamatan dari segi aktualisasinya bahwa pendidikan merupakan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan dari sebuah proses pendidikan.
Pendidik dan peserta adalah dua entitas yang tak dapat terpisahkan dalam menggerakkan dimensi pendidikan terutama pendidikan Islam. Kedunya mempunyai interaksi secara kontinyu yang dapat menghasilkan perambahan intelektual, namun tidak dapat dipungkiri dalam praktek pendidikan terkadang mengalami degradasi dan dekadensi bagi kalangan pendidik dengan mengesampingkan tradisi-tradisi humanis yang seharusnya diberlakukan dalam dimensi-dimensi peserta didik. Hal ini penting menjadi sebuah otokritik yang  produktif dalam membangun tradisi pendidikan dengan mensejajarkan peserta didik tanpa adanya bentuk diskriminasi.
Pendidik, peserta didik dan tujuan utama pendidikan merupakan komponen utama dalam pendidikan, ketiga komponen tersebut merupakan komponen yang satu jika hilang salah satu dari komponen tersebut maka hilang pula hakikat pendidikan tersebut. Hakikat pendidik dan peserta didik inilah yang perlu menjadi bahan pengetahuan sebagai landasan untuk melakukan kegiatan transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang merupakan sebagai obyek dalam penanaman nilai moral, sosial, intelektual, keterampilan dan spiritual. Pendidik merupakan pelaku utama dalam tujuan dan sasaran pendidikan yaitu membentuk manusia yang berkepribadian dan dewasa. Disamping sebagai tujuan pendidikan Islam secara umum diorientasikan untuk membentuk insan kamil, insan kaffah, dan mampu menjadi khalifah Allah swt.[3]
Melihat perkembangan pendidikan yang semakin maju seiring dengan perkembangan zaman, maka hal yang terpenting dan salah satu faktornya adalah mempersiapkan pendidik yang benar-benar dapat menjadi teladan dan memahami hakikat pendidik maupun peserta didik. Hal inilah yang menyebabkan kajian tentang hakikat pendidik dan peserta didik masih menarik dan dianggap perlu dilakukan. Perlu dipahami bahwa Guru−pendidik dan anak didik (peserta didik) adalah padanan frase yang serasi, seimbang dan harmonis. Hubungan keduanya berada dalam relasi kejiwaan yang saling membutuhkan. Dalam perpisahan raga, jiwa mereka bersatu sebagai “dwitunggal”. Guru mengajar dan anak didik belajar dalam proses interaksi edukatif yang menyatukan langkah mereka kesatu tujuan yaitu “kebaikan”. Dengan kemuliaannya guru meluruskan pribadi anak didik yang dinamis agar tidak membelok dari kebaikan.[4]

B.  Rumusan Masalah
1.    Pengertian Pendidik dan Pengajar
2.    Hakikat Pendidik dan Pengajar
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Pendidik dan Pengajar
Pendidik apabila ditinjau dari segi bahasa (etimologi), sebagaimana yang dijelaskan oleh WJS. Poerwadarminta adalah orang yang mendidik.[5] Di dalam bahasa Inggris dikenal dengan Teacher yang diartikan guru atau pengajar, atau tutor yang berarti guru pribadi (private). Dalam bahasa Arab disebutUstadz/zah, Mudarris, Mu`allim, Mu`addib, selanjutnya dalam bahasa Arab kata Ustadz adalah jamak dari asatidz yang berarti guru (teacher), profesor (gelar akademik), jenjang dalam bidang intelektual, pelatih, penulis, dan penyair. adapun kata Mudarris berarti Teacher (guru), instruktor (pelatih), trainer (pemandu). sedangkan kata Muaddib berarti educator/pendidik atau Teacher In Coranic School (guru dalam lembaga pendidikan al-Qur`an).[6]
Sehingga dari berbagai kata di atas dapat menunjukan berbagai perbedaan ruang gerak dan lingkungan dimana ilmu pengetahuan dan ketrampilan diberikan. Misalnya dalam lingkungan sekolah disebut dengan teacher (guru), diperguruan tinggi disebut dosen atau lebih tinggi gelarnya hingga lecturer atau profesor, sedangkan dirumah-rumah secara pribadi disebut tutor, di pusat-pusat latihan disebut instructor atau trainer, sedangkan di lembaga pendidikan khususnya yang mengajarkan agama disebut dengan educator.
Sedangkan Pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peserta didik , baik petensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.[7]
Secara terminologi, pengertian yang lebih implisit kata pendidik dapat diartikan dengan guru, sebagaimana yang disampaikan oleh Hadari Nawawi yang dikutip oleh Moh. Uzer, pendidik adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau di kelas. Bahwa guru yang berarti orang yang bekerja sebagai tenaga pengajar yang ikut juga bertanggung jawab dalam membantu peserta didik untuk mencapai proses kedewasaan. Tetapi dalam hal ini banyak disalah artikan banyak orang, bahwa hanya gurulah yang bertanggung jawab dalam proses pendidikan. Tetapi yang sesungguhnya adalah baik masyarakat lebih-lebih orang tua peserta didik bersama-sama membangun proses pendidikan, agar menjadi masyarakat yang dewasa pula.[8]
Dikutip dari Abuddin Nata, pengertian pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberikan kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Secara khusus pendidikan dalam persepektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peseta didik. Kalau kita melihat secara fungsional kata pendidik dapat di artikan sebagai pemberi atau penyalur pengetahuan, keterampilan.[9]
Jika menjelaskan pendidik ini selalu dikaitkan dengan bidang tugas dan pekejaan, maka variabel yang melekat adalah lembaga pendidikan. Dan ini juga menunjukkan bahwa akhirnya pendidik merupakan profesi atau keahlian tertentu yang melekat pada diri seseorang yang tugasnya adalah mendidik atau memberrikan pendidikan.
Istilah yang lain kadang digunakan untuk pendidik adalah sebutan guru. Pendidik dalam lembaga persekolahan  disebut dengan guru, yang meliputi guru madrasah atau sekolah sejak dari taman kanak-kanak, sekolah menengah dan sampai pada dosen-dosen diperguruan tinggi, kiyai di pondok pesantren dan lain sebagainya.[10]  Guru adalah orang yang pekerjaannya mendidik peserta didik baik di lingkungan formal (kelas atau sekolah) ataupun nonformal. Dengan demikian peserta didik peranannya merupakan obyek transformasi ilmu tersebut. Demikian pula pada perkembangannya guru disebut pula sebagai pengajar  (intruksional), posisi pengajar dalam manusia modern sama sekali berbeda dari tempat yang diberikan kepadanya dalam Islam.[11]  Jadi paradigma pendidik tidak  hanya bertugas sebagai guru atau pengajar, yang mendoktrin peserta didiknya untuk menguasai seperangkat ilmu pengetahuan dan skill tertentu. Pendidik hanya bertugas sebagai motivtor dan fasilitator dalam proses belajar mengajar[12] karena hakekatnya pendidikan adalah suatu proses pembentukan kepribadian, moral serta intelektual yang baik.
Hal ini jelas dapat dikatakan bahwa pendidik dan pengajar mempunyai hakikat dan merupakan pekerjaan yang sangat mulia dalam pandangan Islam, pergeseran makna dan paradigma itulah yang terkadang disalahtafsirkan dari hakikat tersebut, yakni makna tentang sikap mental yang baik dan sifat dalam artian penguasaan sesuatu (keterampilan). Maka dalam konteks ini dapat dikatakan mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental atau kepribadian anak didik sehingga memiliki akhlak (karakter) yang terpuji, sedangkan mengajar bobotnya adalah penguasaan suatu pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia. Hal inilah yang membedakan pendidikan dalam Islam dan pendidikan non Islam−pendidikan umum dalam artian pendidikan di dunia Barat, pendidikan Islam adalah pendidikan yang menekankan pada aspek akhlak yang terpuji dan amal saleh yang semata-mata untuk dunia dan akhirat, sedangkan pendidikan umum sebagaimana yang dilakukan di Barat hanya pada menekankan pada penguasaan bidang ilmu tertentu dan semata-mata untuk kebutuhan duniawi saja, atau dengan kata lain hanya bersifat sementara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Hakekat pendidik  sebagai manusia yang memahami ilmu pengetahuan sudah barang tentu dan menjadi sebuah kewajiban baginya untuk mentransferkan ilmu itu kepada orang lain demi kemaslahatan ummat.

B.  Hakikat Pendidik dan Pengajar
Dari berbagai definisi di atas baik pengertian secara etimologi maupun terminologi, dapat ditarik hal yang paling inti kaitannya dengan seorang pendidik dalam hal ini yang banyak diartikan adalah guru, karena salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah pendidik (guru). Karena guru yang dapat diartikan sebagai pelaku utama pendidikan (pendidik profesional) sehingga banyak syarat-syarat untuk menjadi seorang pendidik. Bahwa seorang pendidik (guru) merupakan pemeran penting dalam proses belajar mengajar.
Sebenarnya esensi dari tugas mendidik adalah kedua orang tua peserta didik (aspek keluarga), mungkin karena banyak kesibukan-kesibukan dari berbagai individu keluarga sehingga memilih untuk menitipkan anaknya ke lembaga pendidikan. Sehingga guru adalah orang tua yang kedua. Tetapi hal ini merupakan pengaruh yang besar dalam perkembangan peserta didik. Sehingga bentuk kerja sama antara keluarga, lembaga pendidikan, bahkan seluruh masyarakat juga harus aktif dalam proses pelaksanaan pendidikan. Sehinga tidak ada dikotomi salah arti yang dapat menyudutkan pendidik (guru.). karena dapat dikatakan bahwa pengaruh pendidikan yang ada di sekolah hanya sebatas perkembangan sikap (afektif), aspek kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (ketrampilan). Karena sebenarnya istilah antara pendidik dan pengajar adalah berbeda. Sebab pengajar hanya memberi pengetahuan. Berbeda dengan mendidik, bukan hanya sekedar memberitahu tetapi juga memberikan teladan dan melakukan usaha-usaha sehingga yang diberi teladan dapat berbuat seperti yang telah diberitahukan dan telah diteladankan.
Secara konvensional, guru setidaknya harus memiliki tiga kualifikasi dasar. Yaitu menguasai materi (pengetahuan), antusiasme, dan penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik karena misi utama guru adalah enlightening "mencerdaskan bangsa" (bukan sebaliknya membodohkan masyarakat), mempersiapakan anak didik sebagai individu yang bertanggung jawab dan mandiri, bukan menjadikan manja dan beban masyarakat. Karena proses pencerdasan harus berangkat dari pandangan filosofi guru,bahwa anak didik adalah individu yang memiliki beberapa kemampuan dan ketrampilan.



1.      Tugas dan Tanggung Jawab Pendidik
Dalam Islam tugas seorang pendidik dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia. Posisi ini menyebabkan mengapa Islam menempatkan orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan lebih tinggi derajatnya bila dibanding dengan manusia lainnya, hal ini dapat dilihat dari Firman Allah surat Al-Mujadillah ayat 11 yang artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[13]
Tugas-tugas dari seorang pendidik adalah :
a.       Membimbing peserta didik, dalam artian mencari pengenalan terhadap anak didik mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya.
b.      Menciptakan situasi untuk pendidikan, yaitu ; suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidik dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
c.       Seorang penddidik harus memiliki pengetahuan yang diperlukan, seperti pengetahuan keagamaan, dan lain sebagainya. Seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali, bahwa tugas pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan, menyempurnakan serta membaha hati manusia untuk Taqarrub kepada Allah SWT.[14]
Sedangkan tanggung jawab dari seorang pendidik adalah:
a.       Bertanggung moral.
b.      Bertanggung jawab dalam bidang pedidikan.
c.       Tanggung jawab kemasyarakatan.
d.      Bertanggung jawab dalam bidang keilmuan.
Syaiful Bahri Djamarah, menuliskan tugas pendidik adalah;
1.      Korektor; Yaitu pendidik bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, koreksi yang dilakukan bersifat menyeluruh dari afektif sampai ke psikomotor.
2.      Inspirator; pendidik menjadi inspirator/ilham bagi kemajuan belajar mahasiswa, petunjuk bagaimana belajar yang baik dan mengatasi permasalahan lainya.
3.      Informator; pendidik harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4.      Organisator; Mampu mengelola kegiatan akademik (belajar)
5.      Motivator; Mampu mendorong peserta didik agar bergairah dan aktif belajar
6.      Inisiator; pendidik menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
7.      Fasilitator; pendidik dapat memberikan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar.
8.      Pembimbing; membimbing anak didik manusia dewasa susila yang cakap.
9.      Demonstrator; jika diperlukan pendidik bisa mendemontrasikan bahan pelajaran yang susah dipahami.
10.  Pengelola kelas; mengelola kelas untuk menunjang interaksi edukatif.
11.  Mediator; pendidik menjadi media yag berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaktif edukatif.
12.  Supervisor; pendidik hendaknya dapat, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran dan
13.  Evaluator; pendidik dituntut menjadi evaluator yag baik dan jujur.[15]
Pendidik, jika ingin berhasil dalam dalam kegiatannya mendidik anak, harus mematuhi 8 adab atau etika yang bisa dimaknai juga sebagai tugas kewajiban selaku pendidik yang telah diatur pedomannya berlandaskan nilai-nilai luhur Islam. Al-Ghazali  -sebagaimana dikutip Al-Abrasy- menjelaskan tugas dan kewajiban pendidik sebagai berikut:[16]
Pertama, sayang kepada murid sebagaimana sayangnya kepada anaknya sendiri dan berusah memberi pelajaran yang dapat membebaskannya dari api neraka. Oleh karena itu, tugas pendidik adalah lebih mulia daripada tugas kedua orang tua. Pendidik adalah sebab bagi kebahagiaan dunia dan akhirat, sedang orang tua hanyalah sebab bagi kelahiran anak ke dalam dunia fana.
Kedua, mengikuti akhlak dan keteladanan Nabi Muhamad SAW. Oleh karena itu, seorang pendidik tidak boleh mengharapkan gaji, upah atau ucapan terima kasih. Ia mengajar harus dengan niat beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketiga, membimbing murid secara penuh, baik dalam cara belajar maupun dalam menentukan urutan pelajaran. Ia harus memulai pelajaran dari yang mudah dan berangsur meningkat kepada yang sukar. Ia harus menjelaskan juga pada murid bahwa menuntut ilmu itu tidak boleh bercampur dengan niat lain kecuali karena Allah semata-mata.
Keempat, menasehati murid agar senantiasa berakhlak baik. Ia harus memualai nasehat itu dari hanya sekedar sindiran serta dengan penuh kasih sayang, tidak dengan cara dengan terang-terangan, apalagi dengan kasar dan mengejek, yang malah akan membuat murid menjadi kebal atau keras kepala sehingga nasehat itu akan menjadi seumpama air dalam dalam keranjang menetes ke dalam pasir.
Kelima, menghindarkan diri dari sikap merendahkan ilmu-ilmu lain di hadapan anak, misalnya pendidik bahasa mengatakan ilmu fikih tidak penting, pendidik fikih mengatakan  ilmu tafsir tidak perlu dan sebagainya.
Keenam, menjaga agar materi yang diajarkanya sesuai dengan tingkat kematangan dan daya tangkap muridnya. Ia tidak boleh memberikan pelajaran yang belum terjangkau oleh potensi inteljensi anak didiknya. Pelajaran yang tidak disesuaikan malah akan membuat anak benci, merasa terpaksa dan akhirnya malah meninggalkan pelajaran tersebut.[17]
Ketujuh, memilihkan mata pelajaran yang sesuai untuk  anak-anak  yang kurang pandai atau bodoh. Ia tidak boleh menyebut-menyebut bahwa di belakang dari ilmu yang sedang diajarkanya masih banyak rahasia yang hanya ia sendiri mengetahuinya. Kadang-kadang pendidik, dengan sikap menyembunyikan semacam itu, ingin memperlihatkan dirinya sebagai seorang yang sangat dalam ilmunya sehingga orang banyak harus berpendidik kepadanya.
Kedelapan, mengamalkan ilmunya, serta perkataannya tidak boleh berlawanan dengan realitas zhahir perbuatannya. Sebab, jika demikian halnya maka murid-murid tidak akan hormat kepadanya.[18]

2.      Tujuan dan Syarat Pendidik
a.      Tujuan Pendidik
Pendidik adalah orang yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya demi mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk tuhan, makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.[19]
Orang yang pertama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak atau pendidikan anak adalah orang tuanya, karena adanya pertalian darah secara langsung sehingga ia mempunyai rasa tanggung jawab terhadap masa depan anaknya.
Orang tua disebut juga sebagai pendidik kodrat. Namun karena mereka tidak mempunayai kemampuan, waktu dan sebagainya, maka mereka menyerahkan sebagian tanggung jawabnya kepada orang lain yang dikira mampu atau berkompeten untuk melaksanakan tugas mendidik.

b.      Syarat-syarat dan Sifat-sifat yang Harus dimiliki oleh Seorang Pendidik
Syarat-syarat umum bagi seorang pendidik adalah : Sehat Jasmani dan Sehat Rohani. Menurut H. Mubangit, syarat untuk menjadi seorang pendidik yaitu:
1.    Harus beragama.
2.    Mampu bertanggung jawab atas kesejahteraan agama.
3.    Tidak kalah dengan guru-guru umum lainnya dalam membentuk Negara yang demokratis.
4.    Harus memiliki perasaan panggilan murni.
Sedangkan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik adalah :
a.       Integritas peribadi, peribadi yang segala aspeknya berkembang secara harmonis.
b.       Integritas sosial, yaitu peribadi yang merupakan satuan dengan masyarakat.
c.       Integritas susila, yaitu peribadi yang telah menyatukan diri dengan norma-norma susila yang dipilihnya.[20]
Adapun menurut Moh. Athiyah al-Abrasyi yang dikutip oleh Hamdani Ihsan Dan Fuad Ihsan, seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat tertenru agar ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, seperti yang diungkapkan oleh beliau adalah:
1.    Memiliki sifat Zuhud, dalam artian tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari ridha Allah.
2.      Seorang Guru harus jauh dari dosa besar.
3.      Ikhlas dalam pekerjaan.
4.      Bersifat pemaaf.
5.      Harus mencintai peserta didiknya.


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hakikat seorang pendidik kaitannya dalam pendidikan Islam adalah mendidik dan sekaligus di dalamnya mengajar sesuai dengan keilmuwan yang dimilikinya. Secara umumnya pendidik adalah orang yang memiliki tanggungjawab mendidik. Bila dipersempit pengertian pendidik adalah guru yang dalam hal ini di suatu lembaga sekolah. Sedangkan pengajar adalah pendidik yang baik. Adapun hakekat pendidik adalah Allah SWT yang mengajarkan ilmu kepada manusia dan manusia pula yang mempunyai sebuah kewajiban baginya untuk mentransferkan ilmu itu kepada orang lain demi kemaslahatan ummat, hakekat peserta didik merupakan individu yang akan dipenuhi kebutuhan  ilmu pengetahuan, sikap dan tingkah lakunya, karena peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran.
Tugas dan peran pendidik sangat berkaitan dan tak tidak dapat dipisahkan, tugas pendidik adalah membantu peserta didik agar mampu melakukan adaptasi terhadap diri dan berbagai tantangan kehidupannya, sedangkan  peran pendidik adalah sebagai pemimpin dan pelaksana pendidikan dalam suatu masyarakat dan sekaligus sebagai anggota masyarakat, sehingga dengan demikian dituntut guru atau pendidik dalam meningkatkan tugas dan perannya.

B.  Saran
Sebagai calon pendidik, maka sudah seharusnya mahasiswa tarbiyah menambah dan memperluas pengetahuannya mengenai hakikat guru.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujib, Muhaimin,  Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya), ttp, Trigenda Karya,1993.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya,. Bandung: PT. Sygma Examedia Arkamlema,2009.
Djamarah, Bahri, Saiful, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta, Rineka Cipta: 2000.
Lagulung, Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta:PT. Al-Husna Zikra, 2000.
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1991.
Ramayulis dan Nizar Samsul, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta: Kalam Mulia,2010.
Rosyadi, Khoiron,  Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.
Tohirin, M.S., Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005.
Undang-Undang  No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. dalam pdf, (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586).
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Undang-Undang ini diundangkan di Jakarta pada tanggal 8 Juli 2003.



[1] Ia adalah suatu tindakan sosial yang memungkinkan berlakunya melalui suatu jaringan hubungan-hubungan kemanusiaan. Jaringan-jaringan inilah bersama dengan hubungan-hubungan dan peranan-peranan individu di dalamnyalah yang menentukan watak pendidikan di suatu masyarakat. Hasan Lagulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 2000), hlm. 18.
[2] Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003), hlm. 3.

[3] M. Agus Nuryanto, “Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan Islam (Perspektif Paedagogik Kritis)” dalam   HERMENEIA Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Volume 9, Nomor 2 Desember 2010, hlm. 213.
[4] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. iv.
[5] WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hlm. 302.
[6] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Persepektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008), hlm. 12.
[7] Ramayulis,  Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), hlm. 19.
[8] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 210.
[9] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hal. 5.
[10] Ramayulis dan Syamsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. (Jakarta: Kalam Mulia,2010), hlm.148.

[11] Pengajar sekarang hanya dipandang sebagai petugas semata yang mendapatkan gaji dari negara atau dari organisasi swasta dan mempunyai tanggung jawab tertentu yang harus dilaksanakannya. Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm.173.
[12] Abdul Mujib. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media,2006), hlm.88.

[13] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm,74-75.
[14] Abdul Mujib. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006),  hlm.88.

[15] Ramayulis dan Syamsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. (Jakarta: Kalam Mulia,2010), hlm.139.
[16] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam.(Yogyakarta: Sunan Kalijaga, 2010). hlm.169.
[17] Ramayulis dan Syamsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. (Jakarta: Kalam Mulia,2010), hlm.148.
[18] Abdul Mujib. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm.90.
[19] Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Bandung: PT. Sygma Examedia Arkamlema, 2009),  hlm. 597.
[20] Ahmad Zuhdi, Profil Guru dalam Pendidikan Islam Menurut K.H. Hasyim Asy’ari, (Telaah Kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim, (Yogyakarta: Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2004),  hlm. 19.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com