Thursday, 2 October 2014

MAKALAH AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Da'wah dan amar ma'ruf nahi munkar dengan metode yang tepat akan menghantarkan dan menyajikan ajaran Islam secara sempurna. Metode yang di terapkan dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar tersebut sebenarnya akan terus berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang dihadapi para da'i. Amar ma'ruf dan nahi munkar tidak bertujuan memperkosa fitrah seseorang untuk tunduk dan senantiasa mengikuti tanpa mengetahui hujjah yang dipakai, tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan kesadaran dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang dimiliki.
Ketegasan dalam menyampaikan amar ma'ruf dan nahi munkar bukan berarti menghalalkan cara-cara yang radikal. Implementasinya harus dengan strategi yang halus dan menggunakan metode tadarruj(bertahap) agar tidak menimbulkan permusuhan dan keresahan di masyarakat. Penentuan strategi dan metode amar ma'ruf nahi munkar harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang dihadapi. Jangan sampai hanya karena kesalahan kecil dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar justru mengakibatkan kerusakan dalam satu umat dengan social cost yang tinggi. Dan Makalah ini akan sedikit memberikan penafsiran ayat dakwah dari surat Al-Maidah ayat 79.

B.     Rumusan Masalah
1.      Surat Al-Maidah Ayat 79 dan Terjemahannya
2.      Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 79





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Surat Al-Maidah Ayat 79 dan Terjemahannya
(#qçR$Ÿ2 Ÿw šcöqyd$uZoKtƒ `tã 9x6YB çnqè=yèsù 4 š[ø¤Î6s9 $tB (#qçR$Ÿ2 šcqè=yèøÿtƒ ÇÐÒÈ
Artinya: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”[1] (Q. S Al-Maidah Ayat 79)

B.     Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 79
Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia
Ayat ini menerangkan bahwa kebiasaan orang-orang Yahudi yaitu membiarkan kemungkaran-kemungkaran terjadi di hadapan mereka disebabkan mereka tidak melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Demikianlah buruknya perbuatan mereka itu sehingga menjadi sebab adanya kutukan Allah pada mereka. Dalam hubungan ayat ini Nabi Muhammad bersabda: 
Awal mula kekurangan yang menimpa Bani Israel adalah pertemuan seorang lelaki dengan lelaki lain (yang salah seorang membuat kemungkaran). Maka berkata (laki-laki yang tidak mengerjakan mungkar), "Hai kawanku, takutlah kepada Allah dan tinggalkan perbuatanmu karena perbuatanmu itu tidak halal bagimu." Kemudian hari berikutnya (laki-laki yang menegur) berjumpa lagi dengan lelaki itu sedang membuat kemungkaran seperti biasanya, maka tidak dicegahnya lagi malahan dijadikan teman makannya, teman minumnya dan teman duduknya. Maka setelah perbuatan mungkar tersebut merata di kalangan umum, Allah menjadikan mereka bergontok-gontokkan. Kemudian Nabi membacakan ayat 78 (kepada kaum mukminin) dalam surat ini. Kemudian Nabi bersabda, "Sekali-kali tidak, demi Allah kamu semua hendaknya menegakkan amar makruf dan nahi mungkar kemudian hendaklah kamu mencegah perbuatan orang yang lalim dan hendaklah kamu memaksakan kepadanya menerima kebenaran itu jika tidak, niscaya Allah akan menjadikan kamu saling bergontok-gontokkan kemudian Allah akan mengutukmu sebagaimana mengutuk orang-orang Yahudi."
(H.R. Abu Daud dan Tirmizi dari Ibnu Mas'ud)[2]
Meskipun para nabi merupakan penyebab turunnya rahmat dan petunjuk Allah Swt itu, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang rasialis dan nasionalis, sehingga tidak mempedulikan kejahatan kaumnya sendiri. Mereka tidak diam melihat kejahatan kaumnya itu yang berarti setuju bahkan mendukungnya.
Dalam riwayat-riwayat sejarah disebutkan, sewaktu Bani Israil tidak mengabaikan ketetapan Allah Swt mengenai libur hari Sabtu, maka mereka terkena kutukan dan cacian Nabi Dawud as. Begitu juga sewaktu para pembesar mereka meminta kepada Nabi Isa as agar diturunkan hidangan dari langit dan Isa as mengangkat tangannya untuk memanjatkan doa, sehingga turunlah hidangan dari langit. Akan tetapi sebagian dari mereka tidak mengakui kebenaran mukjizat Ilahi ini, maka Nabi Isa as pun mengutuk mereka. Lanjutan ayat tersebut menyinggung sebuah poin penting mengenai hubungan kemasyarakatan dan mengatakan, bukan hanya orang-orang jahat yang berbuat dosa, akan tetapi orang-orang yang baik pun turut berdosa dengan bersikap bungkam dan tidak berbuat apa-apa untuk mencegah kejahatan para penjahat itu. Sikap diam mereka inilah yang membuat para penjahat itu merasa mendapat peluang untuk berbuat dosa.
Dari dua ayat tadi terdapat empat pelajaran yang dapat dipetik:‎
1.      Para nabi selain merupakan manifestasi kasih sayang, kadang-kadang juga menunjukkan sikap benci, marah dan tidak menolerir orang-orang yang melanggar batas-batas hukum Allah.
2.      Melanggar dan merusak hukum merupakan watak Bani Israil sepanjang sejarah.
3.      Mereka yang memberikan peluang kepada para pendosa dengan sikap diam dan senyuman juga terhitung berbuat dosa dan mendapat murka Allah.
4.      Nahi mungkar atau pencegahan kemungkaran merupakan tugas sosial setiap orang mukmin.
Da'wah Secara lughawi berasal dari bahasa Arab, da'wah yang artinya seruan, panggilan, undangan. Secara istilah, kata da'wah berarti menyeru atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh berbuat kebajikan dan melarang perbuatan munkar yang dilarang oleh Allah Swt. dan rasul-Nya agar manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Syaikh Ali Mahfuzh -murid Syaikh Muhammad Abduh- sebagai pencetus gagasan dan penyusunan pola ilmiah ilmu da'wah memberi batasan mengenai da'wah sebagai: "Membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma'ruf dan maencegah dari perbuatan yang munkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan di akhirat."
Da'wah adalah usaha penyebaran pemerataan ajaran agama di samping amar ma'ruf dan nahi munkar. Terhadap umat Islam yang telah melaksanakan risalah Nabi lewat tiga macam metode yang paling pokok yakni da'wah, amar ma'ruf, dan nahi munkar, Allah memberi mereka predikat sebagai umat yang berbahagia atau umat yang menang .
Adapun mengenai tujuan da'wah, yaitu: pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam QS. Al Anfal: 24 di sana di siratkan bahwa yang menjadi maksud dari da'wah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Hidup bukanlah makan, minum dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya.
Kedua, mengeluarkan manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam firman Allah: "Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu untuk mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang-benderang dengan izin Tuhan mereka kepada jalan yang perkasa, lagi terpuji."(QS. Ibrahim: 1) 
Dalam Al-Qur'an dijumpai lafadz "amar ma'ruf nahi munkar" pada beberapa tempat. Sebagai contoh dalam QS. Ali Imran: 104: "Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung". Hasbi Ash Siddieqy menafsirkan ayat ini: "Hendaklah ada di antara kamu suatu golongan yang menyelesaikan urusan dawah, menyuruh ma'ruf (segala yang dipandang baik oleh syara` dan akal) dan mencegah yang munkar (segala yang dipandang tidak baik oleh syara` dan akal) mereka itulah orang yang beruntung."
Dalam ayat lain disebutkan "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi umat manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah" (QS. Ali Imran: 110). Lafadz amar ma'ruf dan nahi munkar tersebut juga bisa ditemukan dalam QS. Al Maidah: 78-79
Bila dicermati, ayat-ayat di atas menyiratkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar merupakan perkara yang benar-benar urgen dan harus diimplementasikan dalam realitas kehidupan masyarakat. Secara global ayat-ayat tersebut menganjurkan terbentuknya suatu kelompok atau segolongan umat yang intens mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kejelekan. Kelompok tersebut bisa berupa sebuah organisasi, badan hukum, partai ataupun hanya sekedar kumpulan individu-individu yang sevisi. Anjuran tersebut juga dikuatkan dengan hadits Rasulullah: "Jika kamu melihat umatku takut berkata kepada orang dzhalim, 'Hai dzhalim!', maka ucapkan selamat tinggal untuknya."
Dari ayat-ayat di muka dapat ditangkap bahwa amar ma'ruf dan nahi munkar merupakan salah satu parameter yang digunakan oleh Allah dalam menilai kualitas suatu umat. Ketika mengangkat kualitas derajat suatu kaum ke dalam tingkatan yang tertinggi Allah berfirman: "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia." Kemudian Allah menjelaskan alasan kebaikan itu pada kelanjutan ayat: "Menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar." (QS. Ali Imran: 110). Demikian juga dalam mengklasifikasikan suatu umat ke dalam derajat yang serendah-rendahnya, Allah menggunakan eksistensi amar ma'ruf nahi munkar sebagai parameter utama. Allah Swt. berfirman: "Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Isra'il melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat." (QS. Al Maidah 78-79). Dari sinipun sebenarnya sudah bisa dipahami sejauh mana tingkat urgensitas amar ma'ruf nahi munkar.
Bila kandungan ayat-ayat amar ma'ruf nahi munkar dicermati, -terutama ayat 104 dari QS. Ali Imran- dapat diketahui bahwa lafadz amar ma'ruf dan nahi munkar lebih didahulukan dari lafadz iman, padahal iman adalah sumber dari segala rupa taat. Hal ini dikarenakan amar ma'ruf nahi munkaradalah bentengnya iman, dan hanya dengannya iman akan terpelihara. Di samping itu, keimanan adalah perbuatan individual yang akibat langsungnya hanya kembali kepada diri si pelaku, sedangkanamar ma'ruf nahi munkar adalah perbuatan yang berdimensi sosial yang dampaknya akan mengenai seluruh masyarakat dan juga merupakan hak bagi seluruh masyarakat.
Hamka berpendapat bahwa pokok dari amar ma'ruf adalah mentauhidkan Allah, Tuhan semesta alam. Sedangkan pokok dari nahi munkar adalah mencegah syirik kepada Allah. Implementasi amar ma'rufnahi munkar ini pada dasarnya sejalan dengan pendapat khalayak yang dalam bahasa umumnya disebut dengan public opinion, sebab al ma'ruf adalah apa-apa yang disukai dan diingini oleh khalayak, sedang al munkar adalah segala apa yang tidak diingini oleh khalayak. Namun kelalaian dalam ber-amar ma'ruf telah memberikan kesempatan bagi timbulnya opini yang salah, sehingga yang ma'ruf terlihat sebagai kemunkaran dan yang munkar tampak sebagai hal yang ma'ruf.








BAB II
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Konsisnten dalam ber-amar ma'ruf nahi munkar adalah sangat penting dan merupakan suatu keharusan, sebab jika ditinggalkan oleh semua individu dalam sebuah masyarakat akan berakibat fatal yang ujung-ujungnya berakhir dengan hancurnya sistem dan tatanan masyarakat itu sendiri.
Suatu kaum yang senantiasa berpegang teguh pada prinsip ber-amar ma'ruf nahi munkar akan mendapatkan balasan dan pahala dari Allah Swt. yang antara lain berupa:
  1. Ditinggikan derajatnya ke tingkatan yang setinggi-tingginya (QS. Ali Imran: 110).
  2. Terhindar dari kebinasaan sebagaimana dibinasakannya Fir'aun beserta orang-orang yang berdiam diri ketika melihat kedzalimannya.
  3. Mendapatkan pahala berlipat dari Allah sebagaimana sabda Nabi Saw.:"Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun".
  4. Terhindar dari laknat Allah sebagai mana yang terjadi pada Bani Isra'il karena keengganan mereka dalam mencegah kemunkaran. (QS. Al-Maidah: 78-79).
 DAFTAR PUSTAKA 
Departemen Agama RI, al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. Semarang: Karya Toha Putra. 1995.




[1] Departemen Agama RI, al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya  (Semarang: Karya Toha Putra, 1995), hlm. 174.

1 comment:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com