Friday, 17 January 2014

MAKALAH TAFSIR SURAT AZ-ZUMAR AYAT 9 DARI ENAM SUMBER TAFSIR

MAKALAH TAFSIR TARBAWI

TAFSIR SURAT AZ-ZUMAR AYAT 9 DARI ENAM SUMBER TAFSIR

DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)

                        Jurusan / Prodi                     :   Tarbiyah / PBI

                        Semester / Unit                      :   III /1
                        Dosen Pengasuh                   : Drs. Legiman, M. Ag


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
 (STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA

2012



KATA  PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat  Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "TAFSIR SURAT AZ-ZUMAR AYAT 9 DARI ENAM SUMBER TAFSIR" tepat pada waktunya. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini. Wassalam.


Langsa, 17 Desember 2012




Pemakalah






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................          i
DAFTAR ISI..........................................................................................................         ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................         1
A.    Latar Belakang.............................................................................................         1
B.    Rumusan Masalah........................................................................................         1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................         2
A.    Tafsir Ibnu Kasir..........................................................................................         2
B.    Tafsir Jalalain...............................................................................................         3
C.    Tafsir Al-Misbah..........................................................................................         3
D.    Tafsir Al-Maraghi.........................................................................................         4
E.     Tafsir Al-Munier..........................................................................................         6
F.     Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia...........................................         7
BAB III PENUTUP...............................................................................................       13
A.    Kesimpulan..................................................................................................       13
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bila dilihat dari sisi tujuan penurunnya, al-Qur’an merupakan petunjuk dan pedoman yang mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan ini dengan baik sesuai perintah Allah Swt, karenanya sangat beralasan bila Sa’id Hawwa dalam tafsirnya “al-Asas Fi al-Tafsir“ mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab tarbiyah (Hawwa, 1987:2). Ada beberapa alasan yang melandasi statement al-Qur’an adalah kitab Pendidikan, diantaranya, pertama, ayat yang pertama turun berisikan perintah untuk membaca, dan hal ini terkait dengan pendidikan, yaitu
JIA/Desember 2011/Th. XII/Nomor 2/1-15 dalam surat al-Alaq ayat 1-5; kedua, dilihat dari sumbernya, al-Qur’an diwahyukan oleh Allah Swt, dimana peranNya terhadap makhluqnya
sebagai pendidik pula. Ketiga, dari sisi pembawanya adalah nabi Muhammad yang juga seorang pendidik umat, karena salah satu tugas kenabianNya adalah mensucikan manusia, hal ini dapat diartikan dengan pendidikan juga, keempat, dari sisi namanya al-Qur’an juga
menunjukkan keterkaitan dengan pendidikan contohnya, al-Qur’an, al-Kitab dan lain-lain. Kelima, bila dilihat dari misi al-Qur’an, misi utamanya adalah pembinaan akhlaq mulia, sebagaimana nabi Muhammad juga diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Telah banyak upaya menggali ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan dilakukan oleh para praktisi pendidikan. Salah satu ayat pendidikan yang akan dibahas dimakalah ini adalah sarat az-zumar ayat 9 dari enam sumber tafsir.

B.     Rumusan Maslah
1.      Tafsir Ibnu Kasir
2.      Tafsir Jalalain
3.      Tafsir Al-Misbah
4.      Tafsir Al-Maraghi
5.      Tafsir Al-Munier
6.      Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Tafsir Ibnu Kasir
Allah Swt berfirman bahwa apakah orang yang mempunyai sifat yang demikian sama dengan orang yang mempersekutukan Allah dan menjadikan bagi-Nya tandingan-tandingan? Jawabannya tentu tidak sama di sisi Allah. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

* (#qÝ¡øŠs9 [ä!#uqy 3 ô`ÏiB È@÷dr& É=»tGÅ3ø9$# ×p¨Bé& ×pyJͬ!$s% tbqè=÷Gtƒ ÏM»tƒ#uä «!$# uä!$tR#uä È@ø©9$# öNèdur tbrßàfó¡o ÇÊÊÌÈ  

113. mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang Berlaku lurus[1], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).(Q. S. Ali-Imran: 113)
Dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(Q. S. Az-Zumar: 9)
Yakni dalam keadaan sujud dan berdirinya mereka berqunut. Karena itulah ada sebagian ulama yang berdalilkan ayat ini mengatakan bahwa qunut adalah khusyuk dalam salat bukanlah doa yang dibaca dalam keadaan berdiri semata, yang pendapat ini diikuti oleh ulama lainnya. [2]

B.     Tafsir Jalalain
`¨Br& (apakah orang) dapat dibaca amman atau amman- u ìMÏZ»s% qèd (yang beribadat) yang berdiri melakukan amal ketaatan, yakni salat-u È@ø©9$# ä!$tR#uä (di waktu-waktu malam) di saat-saat malam hari -  $VJͬ!$s%ur#YÉ`$y (dengan sujud dan berdiri) dalam salat- â notÅzFy$#xøts (sedangkan ia takut kepada hari akhirat) yakni takut akan azab hari itu- ( spuH÷qu#qã_ötƒur (dan mengharapkan rahmat) yakni syurga-mÎn/u (Tuhannya) sama dengan orang yang durhaka karena melakikan kekafiran atau perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Menurut qiraat lain, lafadz amman dibaca am man secara terpisah. Dengan demikian, lafadz am berarti bal atau hamzah istifham-öttbqçHs>ôètƒt t Ÿw ûïÏ%©!$#ur bqßJn=ôètƒ ûïÏ%©!$#ÈqtGó¡o@yd@è% (katakanlah adakan\h sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?) tentu saja tidak perihalnya sama dengan perbedaan antar orang yang alim dengan orang yang jahil- ㍩.xtGtƒ$yJ¯RÎ) (sesungguhnya orang yang dapat menerima pelajaran) artinya mau menerima nasihat- É=»t7ø9F{$#(#qä9'ré& (hanyalah orang-orang yang berakal) yakni orang-orang yang mempunyai pikiran.[3]


C.    Tafsir Al-Misbah

ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Setelah ayat yang lalu mengecam dan mengancam orang-orang kafir, ayat di atas menegaskan perbedaan sikap dan ganjaran yang akan mereka terima dengan sikap dan ganjaran bagi orang-orang beriman.Allah berfirma Apakah orang yang beribadah secara tekun dan tulus di waktu-waktu malam dalam keadaan sujud dan berdiri scara mantap dan demikian pula ruku, dan duduk atau berbring dan ia terus-menerus takut kepada siksa akhirat dan dalam saat yang sama senantiasa mengharap rahmat Tuhannya sama dengan mereka yang baru berdoa ketika mendapat musibah dan melupakannya ketika memperoleh nikmat serta menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu? Tentu saja tidak sama.[4]


D.    Tafsir Al-Maraghi

ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
@ø©9$#uä!$tR#uä  berarti saat diwaktu malam apakah dipermulaan, pertengahan, atau diakhir malam, dan kesunyian malam membuat orang lebih khusyuk dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. ÈAllah memerintahkan Rasulullah SAW bertanya kepada kafir Quraisy apakah kamu, hai orang musyrik, lebih baik keadaan dan nasibmu daripada yang senantiasa menunaikan ketaatan dan selalu melaksanakan tugas-tugas ibadah pada saat-saat malam, ketika ibadah lebih berat bagi jiwa dan lebih jauh dari riya, sehingga ibadah di waktu itu lebih dekat untuk diterima, sedang orang itu dalam keadaan takut dan berarap ketika beribadah. Kesimpulannya, apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat. Kemudian, Allah SWT menegaskan tentang tidak ada kesamaan diantara keduanya dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu. Yang diterangkan dalam kalimat selanjutnya, yang berbunyi:
ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3

Katakan hai Rasul kepada kaummu : Apakah sama orang yang mengetahui pahala yang akan mereka peroleh bila melakukan ketaatan kepada Tuhan mereka dan mengetahui hukuman yang akan mereka terima bila mereka bermaksiat kepada-Nya, dengan orang-orang yang tidak mengetahui hal itu. Yaitu, orang-orang yang merusak amal perbuatan mereka secara membati buta, sedangkan terhadap amal-amal mereka yang baik tidak mengharapkan kebaikan, dan terhadap amal-amal yang buruk mereka tidak takut kada keburukan.
Perkataan tersebut dinyatakan dengan susunan pertanyaan (istifham) untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang mencapai derajat kebaikan tertinggi; sedang yang lain jatuh ke dalam jurang keburukan. Dan hal itu tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka membantah. Kemudian, Allah SWT menerangkan bahwa hal tersebut hanyalah dapat dipahami oleh orang-orang yang mempunyai akal. Karena  orang-orang yang tidak tahu seperti telah disebutkan dalam hati mereka terdapat tutupsehingga tidak dapat memahami suatu nasehat dan tidak berguna bagi mereka suatu peringatan. Firman-Nya :
$yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ

Sesungguhnya  yang dapat mengambil pelajaran dari hujjah-hujjah Allah dan dapat menuruti nasehat-Nya dan dapat memikirkannya, hanyalah orang-orang yang mempunyai akal dan pikiran yang sehat, bukan orang-orang yang bodoh dan lalai. Pelajaran yang dimaksud dapat berasal dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta beserta isinya, atau yang terdapat dalam dirinya serta kisah-kisah umat yang lalu.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa orang-orang yang berakal dan berfikiran sehat akan mudah mengambil pelajaran, dan orang-orang yang seperti itu akan memiliki akal pikiran sehat serta iman yang kuat.[5]


E.     Tafsir Al-Munier

ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Setelah Allah menerangkan prihal sifat-sifat buruk orang kafir, Allah memberikan perbandingan antara sifat-sifat mereka dengan sifat-sifat orang beriman – yakni tidak berserah diri kecuali hanya pada Allah SWT -, Allah sebutkan:
1. Apakah orang kafir itu lebih baik keadaan dan tempat kembalinya, ataukah orang beriman pada Allah, yang slalu taat dan tunduk, selalu dalam keadaan beribadah kepada Rabb-nya (baik dalam keadaan tidur, duduk, ataupun berdiri; di sepanjang malam), di samping itu mereka juga takut adzab akhirat dan juga mengharapkan belas kasihNya.
(bentuk pertanyaan yang tak perlu jawaban (istifhaam inkaariy/ bentuk pertanyaan yang berarti pengingkaran), artinya: orang beriman lebih baik daripada orang kafir)
2. Apakah sama; antara orang yang mengetahui (‘alim/ pandai) dengan orang yang tidak mengetahui (jahil/ bodoh) Sesungguhnya tiada lain yang bisa mengambil pelajaran (mereka yang mau beri’tibar) hanyalah orang-orang yang mempunyai pikiran/ akal (ulul albaab).
3. Tidak sama antara 2 kelompok ini:
‘alim (orang yang mengetahui): dia ketahui kebenaran dan mau mengamalkan serta istiqomah padanya.
jahil (orang yang bodoh): dia ketahui kebenaran akan tetapi ia tak mau tuk amalkan; atau, mereka tak ketahui kebenaran dan kebathilan jugha tidak mau untuk mengetahuinya.
4. Pelajaran yang dapat diambil dari ayat di atas adalah:
a. Orang beramal di malem hari lebih terjaga niatnya (aman dari sifat riya’)
b. Orang yang tunduk (pada Allah) slalu mempergunakan waktu2nya tuk beribadah kepadaNya; baik di waktu duduk, berdiri, bahkan dalam keadaan berbaring.
c. Keutamaan Qiyaamul lail.
d. Orang-orang yang tidak bisa mengambil pelajaran (‘ibroh).
e. Ayat ini menunjukkan atas ‘kesempurnaan manusia’ bilamana mereka mempunyai 2 hal pokok; yakni, ilmu dan amal (wujud konsekwensi atas ilmu yang ia punya)


F.     Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia

ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir Quraisy, apakah mereka lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu malam, dalam keadaan sujud dan berdiri dengan sangat khusyuknya. Dalam melaksanakan ibadahnya itu timbullah dalam hatinya rasa takut kepada azab Allah di kampung akhirat, dan memancarlah harapannya akan rahmat Allah.
Perintah yang sama diberikan Allah kepada Rasul Nya agar menanyakan kepada mereka apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Yang dimaksud dengan orang-orang yang mengetahui ialah orang-orang yang mengetahui pahala yang akan diterimanya, karena amal perbuatannya yang baik, dan siksa yang akan diterimanya apabila ia melakukan maksiat. Sedangkan orang-orang yang tidak mengetahui ialah orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui hal itu, karena mereka tidak mempunyai harapan sedikutpun akan mendapat pahala dari perbuatan baiknya, dan tidak menduga sama sekali akan mendapat hukuman dan amal buruknya.
Di akhir ayat Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran, baik pelajaran dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di langit dan di bumi serta isinya, juga terdapat pada dirinya atau suri teladan dari kisah umat yang lalu.    ﺍﻨﺎﺀﺍﻠﻴﻝ  Ana’ bentuk jamak dari al-Inw atau  al-an-yu atau al-ina. Artinya pada saat diwaktu malam atau siang. Jadi kata ana al-lail artinya saat di waktu malam apakah di permulaan, pertengahan atau di akhir malam. Orang yang melakukan ibadah pada malam hari akan terjauh dari sifat ria, kegelapan malam juga bisa  membikin hati bisa  konsentrasi kepada Allah.[6]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1. Apakah orang kafir itu lebih baik keadaan dan tempat kembalinya, ataukah orang beriman pada Allah, yang slalu taat dan tunduk, selalu dalam keadaan beribadah kepada Rabb-nya (baik dalam keadaan tidur, duduk, ataupun berdiri; di sepanjang malam), di samping itu mereka juga takut adzab akhirat dan juga mengharapkan belas kasihNya.
(bentuk pertanyaan yang tak perlu jawaban (istifhaam inkaariy/ bentuk pertanyaan yang berarti pengingkaran), artinya: orang beriman lebih baik daripada orang kafir)
2. Apakah sama; antara orang yang mengetahui (‘alim/ pandai) dengan orang yang tidak mengetahui (jahil/ bodoh) Sesungguhnya tiada lain yang bisa mengambil pelajaran (mereka yang mau beri’tibar) hanyalah orang-orang yang mempunyai pikiran/ akal (ulul albaab).
3. Tidak sama antara 2 kelompok ini:
‘alim (orang yang mengetahui): dia ketahui kebenaran dan mau mengamalkan serta istiqomah padanya.
jahil (orang yang bodoh): dia ketahui kebenaran akan tetapi ia tak mau tuk amalkan; atau, mereka tak ketahui kebenaran dan kebathilan jugha tidak mau untuk mengetahuinya.
4. Pelajaran yang dapat diambil dari ayat di atas adalah:
a. Orang beramal di malem hari lebih terjaga niatnya (aman dari sifat riya’)
b. Orang yang tunduk (pada Allah) slalu mempergunakan waktu2nya tuk beribadah kepadaNya; baik di waktu duduk, berdiri, bahkan dalam keadaan berbaring.
c. Keutamaan Qiyaamul lail.
d. Orang-orang yang tidak bisa mengambil pelajaran (‘ibroh).
e. Ayat ini menunjukkan atas ‘kesempurnaan manusia’ bilamana mereka mempunyai 2 hal pokok; yakni, ilmu dan amal (wujud konsekwensi atas ilmu yang ia punya)


 DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mustafa Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. Semarang : PT. Karya Toha Putra, 1993.
Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004.
Departemen Agama Republik Indonesia, Tafsir Depag, Jilid VIII .
Imam Jalaludin Al-Mahalili dan Iman Jalaludin As-Suyuti, Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005.
M. Quraysh Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.



[1] Yakni: golongan ahli kitab yang telah memeluk agama Islam.
[2] Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004), h. 347.
[3] Imam Jalaludin Al-Mahalili dan Iman Jalaludin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005), h. 676
[4] M. Quraysh Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 278.
[5] Ahmad Mustafa Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. (Semarang : PT. Karya Toha Putra, 1993), h. 277-279.
[6] Departemen Agama Republik Indonesia, Tafsir Depag, Jilid VIII , h. 416

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com