Thursday, 16 January 2014

MAKALAH TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG MASYARAKAT

MAKALAH TAFSIR TARBAWI



TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG MASYARAKAT



DI
S
U
S
U
N

OLEH


NURUL HIDAYANI
(141100649)

                 JURUSAN                          :      TARBIYAH
                 PRODI                              :      PBI
                 SEMESTER / UNIT          :      III (TIGA)/ 1
                 DOSEN PENGASUH         :      Drs. LEGIMAN, MA
 





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA

T.A. 2012-2013


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam adalah agama samawi terakhir yang dirisalahkan melalui Rasulullah SAW. Karena Islam sebagai agama terakhir dan juga sebagai penyempurna ajaran-ajaran terdahulu, maka sangat bisa dipahami, jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah SWT memberikan petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama Islam yang kafah atau sempurna.
Secara garis besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain karena hablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena itu suatu anggapan yang salah jika Islam dianggap sebagai agama transedental.

B. Rumusan  Masalah
     1.  Bagaimana pengertian Masyarakat Menurut Al-Qur’an?
     2. Adakah Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Masyarakat?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Masyarakat Menurut Al-Qur’an
Istilah masayarakat dapat dilihat dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat, seperti istilah ummat, qaum, syu’ub, qabail dan lain sebagainya. Istilah ummat dapat dijumpai pada ayat yang berbunyi :

öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ  
110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
(QS. Ali Imran : 110)
Kata ummah pada ayat tersebut, berasal dari kata amma, yaummu yang berarti jalan dan maksud. Dari asal kata tersebut, dapat diketahui bahwa masyarakat adalah kumpulan perorangan yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama, menghimpun diri secara harmonis dengan maksud dan tujuan bersama.
Selanjutnya dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh persamaan agama, waktu, tempat baik secara terpaksa maupun kehendak sendiri. Inti dari pendapat- pendapat tersebut, adalah bahwa masyarakat tempat berkumpulnya manusia yang didalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta pola- pola hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.


B.     Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Masyarakat
1. Surat Al-Hujurat Ayat 11-12
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öyó¡o ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #ZŽöyz öNåk÷]ÏiB Ÿwur Öä!$|¡ÎS `ÏiB >ä!$|¡ÎpS #Ó|¤tã br& £`ä3tƒ #ZŽöyz £`åk÷]ÏiB ( Ÿwur (#ÿrâÏJù=s? ö/ä3|¡àÿRr& Ÿwur (#rât/$uZs? É=»s)ø9F{$$Î/ ( }§ø©Î/ ãLôœew$# ä-qÝ¡àÿø9$# y÷èt/ Ç`»yJƒM}$# 4 `tBur öN©9 ó=çGtƒ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqçHÍ>»©à9$# ÇÊÊÈ   $pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtär& óOà2ßtnr& br& Ÿ@à2ù'tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§ ÇÊËÈ  
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1]dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[2] dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan umat Islam, yaitu:  a. Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
b. Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
c. Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan, kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas yang lain.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ
Kita tidak boleh saling menghina diantara sesamanya. Ayat ini akan dijadikan oleh Allah sebagai peringatan dan nasehat agar kita bersopan santun dalam pergaulan hidup kaum yang beriman. Dengan hal ini berarti Allah melarang kita untuk mengolok-olok dan menghina orang lain, baik dengan cara membeberkan keaiban, dengan mengejek ataupun menghina dengan ucapan / isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan kesalah-pahaman diantara kita.
عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ
Allah melarang kita menghina sesamanya karena boleh jadi orang yang dihina itu lebih baik dan lebih mulia disisi Allah kedudukannya dari pada yang menghina.
وَلاَنِسَاءُ مِنْ نِسَاءِ عَسَى اَنْ يَكُنَّ خَيْرًامِنْهُنَّ
Orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kekhilafan yang ada pada dirinya sendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi:
الكِبْرُ بَطْرُالْحَقِّ وَغَمْصُ النَاسِ
“Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia”.
وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ
Dalam penggalan ayat ini Allah melarang kita mencela orang lain karena mencela orang lain sama saja mencela diri sendiri, karena orang-orang mukmin itu bagaikan satu badan. firman Allah SWT yang menerangkan tentang balasan bagi orang yang suka mencela orang lain yaitu:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Neraka wailun hanya buat orang yang suka mencedera orang dan mencela orang”. (al-Humazah: 1)
Adapun dari arti هُمَزَةٍ yaitu mencedera, yakni memukul dengan tangan, sedangkan لُمَزَةٍ yaitu mencela dengan mulut.[3]
وَلاَتَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ
Allah melarang kita memanggil orang lain dengan gelaran-gelaran yang mengandung ejekan-ejekan, karena hal ini termasuk menjelekkan seseorang dengan sesuatu yang telah diperbuatnya. Sedangkan orang yang dihina itu telah bertaubat, tapi jika gelaran (panggilan) itu mengandung pujian dan tepat pemakaiannya, maka itu tidak di benci sebagaimana gelar yang diberikan kepada Umar, yaitu:Al-Faruq.
بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقَ بَعْدَاْلإِيْمَانِ
Allah melarang kita memanggil orang dengan kata “fasik” setelah ia sebulan masuk Islam atau beriman.
Para ulama’ mengharamkan kita memanggil seseorang dengan sebutan yang tidak di sukai.
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
Ayat ini di turunkan mengenai “Shafiyah binti Hisyam Ibn Akhtab”, Beliau datang mengadu kepada Rasul bahwa isteri Rasul yang lain mengatakan kepadanya. Hai orang Yahudi, hai anak dari orang Yahudi, mendengar itu, Rasul berkata: mengapa kamu tidak menjawab: ayahku Harun, pamanku Musa, sedangkan suamiku Muhammad. Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang yang sudah mengolok-olok bahkan menghina orang lain tapi tidak bertaubat, maka mereka termasuk orang dholim.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ
Dalam ayat ini Allah melarang bahkan mengharamkan kita berprasangka buruk atau berfikiran negatif terhadap orang yang secara lahiriyah tampak baik dan memegang amanat, atau kita tidak boleh menfitnah seseorang, karena menfitnah itu bukan saja menyakiti seseorang dari lahirnya saja tapi juga menyakiti bathinnya.
اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمُ
Allah melarang kita berburuk sangka terhadap orang lain karena sebagian dari buruk sangka itu dosa.
Prasangka adalah dosa, karena prasangka adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa memutuskan silaturahmi di antara dua orang yang baik.
وَلاَتَجَسَّسُوْ
Allah melarang kita mencari-cari keaiban dan menyelidiki rahasia seseorang, tapi jika kita memata-matai seseorang atau musuh agar tidak terjadi kejahatan, maka itu di perbolehkan.
وَلاَيُغَيِّبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Allah melarang mencela orang di belakangnya atau menggunjing tentang sesuatu yang tidak di sukainya.
Menurut para ulama’, mencela yang dibenarkan adalah jika bertujuan untuk :
a. Untuk mencari keadilan,
b. Untuk menghilangkan kemungkaran,
c. Untuk meminta fatwa atau mencari kebenaran,
d. Untuk mencegah manusia berbuat salah,
e. Untuk membeberkan orang yang tidak malu-malu melakukan kemaksiatan.
اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ
Allah melarang kita membicarakan keburukan seseorang, karena hal itu sama halnya dengan makan bangkai saudaranya yang busuk. Allah melarang hal ini karena perbuatan ini merupakan penghancuran pribadi terhadap saudara yang di cela itu.
وَاتَّقُواللهَ اِنَّ الهَ تَوَّابٌ 
Dalam ayat ini Allah menyuruh kita bertaubat dari kesalahan yang telah kita perbuat dengan di sertai penyesalan dan bertaubat (taubat an-nasukha). Dalam ayat ini Allah juga memberitahukan bahwasanya Allah senantiasa membuka pintu kasih sayangnya, membuka pintu selebar-lebarnya dan menerima kedatangan para hambanya yang ingin bertaubat supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
2. Surat Ar Ra’d Ayat 11

¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒytƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#ur& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqß Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ  
11. bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.[4] Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan [5]yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Ayat ini menerangkan tentang kedhaliman manusia. Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap dan tingkah laku mereka sendiri. Kedzaliman dalam ayat ini sebagai tanda rusaknya kemakmuran suatu bangsa.
لَهُ مُعَقِبَاتِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْقِهِ يَحْفَظُوْ نَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ
Pada tiap manusia baik yang bersembunyi ataupun yang nampak ada malaikat yang terus menerus bergantian memelihara dari kemudharatan dan memperhatikan gerak gerik setiap manusia, sebagaimana berganti-ganti pula malaikat yang lain yang mencatat segala amalannya, baik maupun buruk. Ada malaikat malam dan ada malaikat siang, satu berada disebelah kiri yang mencatat segala amal kejahatan dan satu disebelah kanan yang mencatat segala amal kebajikan, dan dua malaikat bertugas memelihara dan mengawasi manusia. Adapun malaikat yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat Hafadzah.[6]
إِنَّ اللهََ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى لاَيُغَيِّرُمَا بِأَنْفُسِهِمْ
Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum berupa nikmat dan kesehatan, lalu mencabutnya dari mereka sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Allah juga menyuruh kita (umat-Nya) untuk mengubah suatu kedzaliman karena jika kita tidak merubahnya, maka Allah akan memperluas siksaannya, sedangkan Allah menciptakan manusia di bumi ini untuk menjadi penguasa (khalifah) yang bertugas memakmurkan dan memanfaatkan segala isinya dengan baik bukan untuk merusaknya.[7]
وَاِذَا أَرَادَاللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مُرَدَّالَهُ
Kita tidak patut dan tidak boleh meminta kepada Allah agar keburukan segera didatangkan sebelum kebaikan atau siksaan sebelum pahala, karena jika Allah telah menghendaki dan menimpakannya kepada mereka, maka tidak ada seorangpun yang dapat menolak takdir-Nya.
وَمَالَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَّلٍ
Tidak ada penolong bagi manusia seorangpun yang dapat mengendalikan urusan mereka, dan tidak ada seorangpun pula yang mampu mendatangkan kemanfataan atau menolak madharat selain Allah SWT.
3. Surat Al Anfaal Ayat 53
y7Ï9ºsŒ  cr'Î/ ©!$# öNs9 à7tƒ #ZŽÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/   žcr&ur ©!$# ììÏJy ÒOŠÎ=tæ ÇÎÌÈ  
53. (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri,[8] dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.[9]
Dalam tafsir al-Mishbah Surat Al anfal ayat 53
Apa yang dialami oleh orang-orang kafir itu penyebabnya dijelaskan oleh ayat ini. Demikian kesimpulan hubungan yang dikemukakan oleh sekian pakar. Al-Biqo’i yang dikenal sebagai mufassir yang memberi perhatian yang sangat besar tentang hubungan antar ayat dan surah Al Quran, menghubungkan ayat ini dengan ayat yang lalu, melalui suatu pertanyaan yang dilukiskan muncul akibat uraian ayat-ayat yang lalu. Yaitu kalau memang Allah mengetahui bahwa mereka pasti berdosa maka mengapa Allah tidak segera saja mereka?, mengapa Allah memberi mereka peluang untuk mengganggu orang-orang yang dekat kepadanya?
Nah, ayat ini menurut  Al Biqa’i menjawab pertanyaan itu yakni bahwa yang demikian yakni siksaan baik menyangkut waktu, kadar maupun jenisnya ditetapkan Allah berdasarkan perbuatan mereka mengubah diri mereka. Sebenarnya Allah dapat menyiksa mereka berdasar pengetahuannya tentang isi hati mereka. Yakni sebelum mereka melahirkannya dalam bentuk perbuatan yang nyata, tetapi Allah tidak melakukan itu karena sunnah dan ketetapannya.
Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat sedikit atau besar yang telah dianugerahnya kepada suatu kaum, tidak juga sebaliknya mengubah kesengsaraan yang dialami oleh suatu kaum menjadi kebahagiaan hingga kaum itu sendiri terlebih dahulu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, yakni untuk memperoleh nikmat tambahan mereka harus lebih baik, sedangkan perolehan siksaan adalah akibat mengubah fitrah kesucian mereka menjadi keburukan dan kedurhakaan dan sesungguhnya Allah Maha mendengar apapun yang disuarakan mahkluk lagi maha mengetahui apapun sikap dan tingkah laku mereka.

3.    Surat Al-Baqarah Ayat 139
ö@è% $oYtRq_!$ysè?r& Îû «!$# uqèdur $uZš/u öNà6š/uur !$oYs9ur $oYè=»yJôãr& öNä3s9ur öNä3è=»yJôãr& ß`øtwUur ¼çms9 tbqÝÁÎ=øƒèC ÇÊÌÒÈ  
139. Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan Kami tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu; bagi Kami amalan Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami mengikhlaskan hati,
1). Defenisi Tuhan dalam al-Qur’an sangat jelas, sejelas apa yang difahami oleh akal dan ditulis di dalam Kitab-Kitab Suci samawi sebelumnya. Maka siapa saja yang melakukan perenungan yang mendalam tentang hakikat Tuhan niscaya akan sampai kepada kesimpulan yang sama. Tuhan adalah puncak kesempurnaan segala kebaikan. Pilihlah salah satu kebaikan atau sifat positif apa saja, pasti juga ada pada Tuhan, dalam bentuknya yang sempurna. Dan kalau semua kebaikan-kebaikan atau sifat-sifat positif itu berkumpul di dalam DIRI Tuhan, maka semuanya akan menyatu tak terpisahkan—seperti berkas-berkas sinar yang kembali ke sumber cahayanya—lalu membentuk satu terma yang melingkupi semuanya. Dalam Bahasa Arab—dan juga masih digunakan di dalam Agama Nashrani—terma itu bernama: ALLAH (artinya: Yang pantas disembah). Dengan demikian, secara definisi, Tuhan tidak perlu diperdebatkan. Pernyataan Allah di ayat ini sangat kuat: وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ (wa ɦuwa rabbunā wa rabbu kum, dan Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian). Perhatikanlah betapa Allah sendiri sama sekali tidak bermaksud mengeluarkan hamba-hamba-Nya dari wilayah ke-Tuhanan-Nya. Sehingga, betapapun seseorang menentang eksistensi-Nya, namun dia sungguh tidak akan bisa mengeluarkan dirinya dari wilayah ke-Tuhanan-Nya. Simaklah dialog Nabi Musa dan Fir’aun di ayat-ayat berikut ini. “Fir’aun bertanya: ‘Siapa Tuhan semesta alam itu?’ Musa menjawab: ‘Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya; (itulah Tuhanmu), jika kalian meyakini-Nya’. Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: ‘Apakah kalian tidak mendengarkan?’ Musa berkata (lagi): ‘Tuhan kalian dan Tuhan nenek-nenek moyang kalian yang dahulu’. Fir’aun berkata: ‘Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kalian benar-benar orang gila’. Musa meneruskan: ‘Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kalian mempergunakan akal’.” (26:23-28)
2). Kendati tak seorang pun yang kuasa mengeluarkan dirinya dari wilayah ke-Tuhanan-Nya, namun bukan berarti Tuhan membelenggu mereka di dalam satu pilihan. Allah memberi manusia pilihan-pilihan. Dan setiap orang diberi kebebasan untuk menganut pilihannya masing-masing, dengan catatan, juga masing-masing bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Maka beramallah menurut keyakinan masing-masing. Saling menghormatilah di dalam pengamalan tersebut sebagaimana Allah sendiri menghormatinya. Toh setiap orang bertanggungjawab kelak di hadapan-Nya atas amalan-amalan tersebut. Prinsip ini bukan hanya berlaku di dalam lintas agama, tetapi juga di antara sekte-sekte atau mazhab-mazhab di dalam satu agama yang sama. Di sinilah al-Qur’an memperlihatkan nilai kemuliannya. Betapa tidak, di ayat sebelumnya (138), Allah menekankan bahwa hanya ada satu صِبْغَةَ (shibghah) yang benar, yaitu صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah), karena hanya inilah yang sejalan dengan فِطْرَة (fithrah) manusia. Tetapi di ayat ini (139), Allah menekankan bahwa kendati hanya ada satu صِبْغَةَ (shibghah) yang benar, namun tetaplah manusia diperintah untuk saling menghargai. Terhadap perbedaan keyakinan, Allah menyuruh kita mengatakan:  لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ(lanā a’māluna wa lakum a’mālukum, bagi kami amalan kami, bagi kalian amalan kalian). Luar biasa. Kalau semua pihak—paling tidak di internal umat Islam sendiri—menghayati ayat ini dengan sebaik-baiknya, yakinlah hidup ini menjadi harmonis, seharmonis kemajemukan bunga-bunga di dalam taman yang indah.  “Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: ‘Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kalian. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kalian. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kalian, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita akan) kembali’.” (42:15)
3). Itulah prinsip toleransi yang benar. Toleransi yang sehat bukanlah berangkat dari kepercayaan bahwa semua agama dan keyakinan yang berbeda itu sama dan semuanya benar. Sebaliknya, toleransi yang rasional adalah yang bertolak dari kepercayaan bahwa hanya ada satu yang benar, yaitu yang kita yakini. Kemudian bersungguh-sungguh menghormati keyakinan orang atau pihak lain. Dalam pengertian, memberi ruang yang seluas-luasnya kepada orang atau pihak tersebut untuk mengelaborasi dan mengejawantahkan keyakinannya. Dengan cara begini kita bukan berarti membenarkan keyakinannya, tapi mengakui dan menjunjung tinggi hak mereka untuk berkeyakinan seperti itu—walaupun menurut kita salah. Toleransi macam ini menumbuhkan kepercayaan diri yang tinggi dan menghilangkan anomali-anomali. Toleransi macam inilah yang akan menumbuhsuburkan argumentasi-argumentasi, dan bukan agitasi-agitasi. Toleransi harus mendorong semangat manusia untuk terus mencari kebenaran, karena semangat pencarian kebenaran itulah yang membuat manusia mengembangkan kebudayaan dan peradabannya dari waktu ke waktu. Toleransi bukanlah permisifme relijius, tapi toleransi adalah dinamisme sosial. “Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian (pun) bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku’.” (109:1-6)
4). Setelah berbicara tentang adanya kebenaran tunggal yang disebut صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah), ayat 138 ditutup dengan pernyataan: وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ (wa nahnu laɦu ‘ābidŭn, dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah). Kemudian setelah berbicara mengenai Allah sebagai Tuhan bersama dan Pusat pertanggungjawaban amal menurut keyakinan masing-masing, ayat 139 ini ditutup dengan pernyataan: وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (wa nahnu laɦu mukhlishŭn, dan kami ikhlas kepada-Nya). Allah seakan hendak mengesankan bahwa Tuhan itu bukan sebagai ornamen peribadatan belaka. Tuhan bukan hanya salah satu variabel dalam beragama. Tuhan tak cukup ditempatkan di puncak menara-menara untuk kemudian kita seru-seru. Tapi Tuhan harus dituju dalam peribadatan dan keberagamaan itu. Dituju dalam pengertian “sebagai sasaran gerak: gerak intelektual, gerak spiritual, dan gerak sosial”. Jika ketiga gerak ini (intelektual, spiritual, sosial) mencapai Dia, maka ketiganya pun menyatu dan melebur ke dalam Diri-Nya, sehingga yang ada hanya Dia. Makanya, seluruh tujuan-tujuan sekunder (apalagi tujuan semu) itu harus disingkirkan. IKHLASH. “Katakanlah: ‘Tuhanku menyuruh menegakkan keadilan’. Dan (katakan pula): ‘Luruskanlah wajah (jiwa) kalian di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agamamu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali kepadaNya’.” (7:29)


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setelah kami paparkan uraian makalah diatas, maka dapat kami simpulkan bahwa di dalam alqur’an sudah sangat jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa pendidikan dapat merubah kehidupan sosial masyarakat, pendidikan tersebut harus berawal dari diri manusia itu sendiri (Surat Al-Anfaal ayat 53).
Perubahan sosial bisa terjadi jika masyarakat itu terdidik. Melalui pendidikan manusia dapat belajar menjalani kehidupan dengan benar dan baik. Melalui pendidikan manusia dapat membentuk kepribadiannya. Islam menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan umat manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang mengharuskan umat Islam untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Secara teoritis, Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia tidak mungkin dimilikinya tanpa melalui proses pendidikan.
Dengan pendidikan manusia dapat menata kehidupan secara pribadi, maupun sosialnya. Seperti yang digambarkan Allah dalam surat Muhammad ayat 38 menerangkan bahwa kita disuruh untuk menafkahkan hartanya dijalan Allah. Bagi orang yang awwam dan tak berpendidikan agama maka akan berpendapat bahwa untuk apa kita harus memberikan sebagian harta kita untuk orang lain, yang harta tersebut adalah hasil dari usaha kita sendiri. Namun ini sangat berbeda ketika orang tersebut berpendidikan, pasti ada sisi sifat afektif terhadap sesama yang muncul pada dirinya,yaitu sifat kasih sayang dan mau berbagi sesama. Dan ketika itu terjadi dalam masyarakat, dapat kita bayangkan bagaimana kehidupan di masyarakat itu, apakah masyarakat itu tidak akan berubah baik secara culture maupun secara kebiasaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

B.     Saran
Manusia adalah homo socialis yang dalam kehidupannya mutlak membutuhkan peran dari manusia lainnya. Dalam kehidupan bermasyarakat, agama Islam telah mengaturnya dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, kita selaku umt Islam, harus benar-benar mengaplikasikan ajaran-ajaran dari Al-Qur’an, khususnya mengenai kehidupan bermasyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Al- Maraghi, Ahmad Mustofa. Terjemah tafsir al-Maraghi, juz XIII. Semarang:Toha Putra. 1988.
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi.  Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur 5 (surat 42-114). Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 2000.
Prof. H. Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Tafsir al-Ashhar, Surabaya:Yayasan Nurul Islam.1982.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al Mishbah. Jakarta: Lentera Hati: 2002.
Terjemahan dari Al Quran Word



[1] Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[2] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
[3] Prof. H. Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Tafsir al-Ashhar, Yayasan Nurul Islam, Surabaya, 1982, h.  236.
[4] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[5] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
[6] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur 5 (surat 42-114), PT Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2000, hlm 2074.
[7]Ahmad Mustofa al Maraghi, Terjemah tafsir al-Maraghi, juz XIII, CV Toha Putra, Semarang, 1988, hlm 135.
[8] Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.
[9] Terjemahan dari Al Quran Word

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com