Friday, 17 January 2014

MAKALAH PENDIDIKAN AKAL PERSPEKTIF ISLAM

MAKALAH TAFSIR TARBAWI

PENDIDIKAN AKAL PERSPEKTIF ISLAM


DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)
                        Jurusan / Prodi                     :   Tarbiyah / PBI

                        Semester / Unit                      :   III /1
                        Dosen Pengasuh                   : Drs. Legiman, M. Ag



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
 (STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA

2012





KATA  PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENDIDIKAN AKAL PERSPEKTIF ISLAM”

Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi positif dan bermakna dalam proses perkuliahan. Dari lubuk hati yang paling dalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.
Terakhir, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Selain itu, kami juga berterima kasih kepada para penulis yang tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan.






Langsa, 7 Desember 2012


Pemakalah





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................          i
DAFTAR ISI..........................................................................................................         ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................         1
A.    Latar Belakang.............................................................................................         2
B.    Rumusan Masalah........................................................................................         2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................         3
A.  Pengertian Akal............................................................................................         3
B.  Pendidikan Akal .........................................................................................         5
C.  Pendidikan Akal Perspektif Islam...............................................................         7
BAB III PENUTUP...............................................................................................       15
A.    Kesimpulan..................................................................................................       15
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Akal adl ni’mat besar yg Allah titipkan dalam jasmani manusia. Nikmat yg bisa disebut hadiah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah yg sangat menakjubkan. {Al-’Aql wa Manzilatuhu fil Islam hal. 5}Oleh karenanya dalam banyak ayat Allah memberi semangat utk berakal {yakni menggunakan akalnya} di antaranya:وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ“Dan Dia menundukkan malam dan siang matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dgn perintah-Nya. Sesungguhnya pada yg demikian itu benar-benar ada tanda-tanda bagi kaum yg memahami.” وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yg berdampingan dan kebun-kebun anggur tanaman- tanaman dan pohon korma yg bercabang dan yg tidak bercabang disirami dgn air yg sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yg lain tentang rasanya.

B.       Rumusan Masalah
1.      Pengertian Akal
2.      Pendidikan Akal
3.      Pendidikan Akal Perspektif Islam




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Akal
Kata akal sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘Aql (العـقـل), yang dalam bentuk kata benda. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluuh (عـقـلوه) dalam 1 ayat, ta’qiluun (تعـقـلون) 24 ayat, na’qil (نعـقـل) 1 ayat, ya’qiluha (يعـقـلها) 1 ayat dan ya’qiluun (يعـقـلون) 22 ayat, kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Maka dapat diambil arti bahwa akal adalah peralatan manusia yang memiliki fungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuanya sangat luas.
Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalah: sutu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahluk lain. Akal banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara lain:
1.      Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
2.      Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika permasalahan datang.
3.      Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.
Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan  Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.
Tak seperti wahyu, kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:
1.      Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya.
2.      Mengetahui adanya hidup akhirat.
3.      Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesngsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat.
4.      Mengetahui wajibnya manusia mengenal tuhan.
5.      Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia mnjauhi perbuatan jahat
6.      Membuat hukum-hukum mengnai kwajiban-kwajiban itu.

B.     Pendidikan Akal
Pendidikan akal adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berfikir benar, sehingga dia mampu memperbaiki pemikiran tentang pengaruh yang bermacam-macam dan realita yang banyak yang meliputinya dengan pemikiran yang tepat dan benar, dan sehingga putusannya benar dan tepat atasnya.
Dan metode yang digunakan diantaranya:
a.       Latihan perasaan, agar cermat dan benar dalam memilih sesuatu
b.      Pengaturan pikiran dan membekalinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat
c.       Menguatkan daya intuisi dan melatihnya, karena intuisi itu alat yang paling besar bagi daya cipta
d.      Melatih memperhatikan sesuatu yang dapat diraba/diamati dan memikirkannya menurut hakikatnya
e.     Membiasakan anak berpikir teratur (sistematis) dan menanamkan kecintaan berpikir sistematis itu dengan melatihnya sesuai dengan dalil (axioma) dan hukum.
Untuk itu, perlu ada dua cara/alat, yaitu:
a.       Melatih perasaan anak
b.      Penyampaian ilmu pengetahuan dan ajaran yang bermanfaat yang sesuai dengan umur anak, dengan cara merangsang untuk memikirkannya

C.    Pendidikan Akal Perspektif Islam
Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian bukan berartiakal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalucocok dengan syariat islam dalam permasalahan apapun. Dan Wahyu baik berupa Al-qur’an dan Hadits bersumber dari Allah SWT, pribadi NabiMuhammad SAW yang menyampaikan wahyu ini, memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu. Wahyu mmerupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpamengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum ataukhusus.Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip akal. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah.Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori perbuatan manusia. baik perintah maupun larangan. Sesungguhnya wahyu yang berupa al-qur’an dan as-sunnah turun secara berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang.[1]
Namun tidak selalu mendukung antara wahyu dan akal, karena seiring perkembangan zaman akal yang semestinya mempercayai wahyu adalah sebuah anugrah dari Allah terhadap orang yang terpilih, terkadang mempertanyakan keaslian wahyu tersebut. Apakah wahyu itu benar dari Allah ataukah hanya pemikiran seseorang yang beranggapan smua itu wahyu. Seperti pendapat Abu Jabbar bahwa akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain, demikian pula akal tak mengetahui bahwa hkuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman dan upah yang akan diperoleh manusia di akhirat.
Karena Masalah akal dan wahyu dalam pemikiran kalam sering dibicarakan dalam konteks, yang manakah diantara kedua akal dan wahyu itu yang menjadi sumbr pengetahuan manusia tentang tuhan, tentang kewajiban manusia berterima kasih kepada tuhan, tentang apa yang baik dan yang buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk. Maka para aliran islam memiliki pendapat sendiri-sendiri antra lain:[2]
1.      Aliran Mu’tazilah sebagai penganut pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa akal mmpunyai kemampuan mengetahui empat konsep tersebut.
2.      Sementara itu aliran Maturidiyah Samarkand yang juga termasuk pemikiran kalam tradisional, mengatakan juga kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan yang buruk akan mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal tersebut.
3.      Sebaliknya aliran Asy’ariyah, sebagai penganut pemikiran kalam tradisional juga berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui tuhan sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajiban berterima kasih kepada tuhan, baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu.
4.      Sementara itu aliran maturidiah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikiran kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari keempat hal tersebut yakni mengetahui tuhan dan mengetahui yang baik dan buruk dapat diketahui dngan akal, sedangkan dua hal lainnya yakni kewajiaban berterima kasih kepada tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk
5.      Adapun ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh paham Maturidiyah Samarkand dan mu’tazilah, dan terlebih lagi untuk menguatkan pendapat mereka adalah surat as-sajdah, surat al-ghosiyah ayat 17 dan surat al-a’rof ayat 185. Di samping itu, buku ushul fiqih berbicara tentang siapa yang menjadi hakim atau pembuat hukum sebelum bi’sah atau nabi diutus, menjelaskan bahwa Mu’tazilah berpendapat pembuat hukum adalah akal manusia sendiri. dan untuk memperkuat pendapat mereka dipergunakan dalil al-Qur’an surat Hud ayat 24.Sementara itu aliran kalam tradisional mngambil beberapa ayat Al-qur’an sebagai dalil dalam rangka memperkuat pendapat yang mereka bawa . ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 surat al-isro, ayat 134 surat Taha, ayat 164 surat An-Nisa dan ayat 18 surat Al-Mulk.
Dalam menangani hal tersebut banyak beberapa tokoh dengan pendapatnya memaparkan hal-hal yang berhubungan antara wahyu dan akal. Seperti  Harun Nasution menggugat masalah dalam berfikir yang dinilainya sebagai kemunduran umat islam dalam sejarah. Menurut beliau yang diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasi pemahaman umat islam yang dinilai dogmatis tersebut, yang menyebabkan kemunduran umat islam karena kurang mengoptimalkan  potensi akal yang dimiliki. bagi Harun Nasution agama dan wahyu pada hakikatnya hanya dasar saja dan tugas akal yang akan menjelaskan dan memahami agama tersebut.
Pendidikan Akal Al-Qur'an merupakan firman Allah yang diturunkan sebagai hudâ(n) (petunjuk) bagi manusia agar manusia mampu hidup sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya. Agar manusia mampu memahami dan mengaplikasikan petunjuk dari al-Qur'an tersebut, maka manusia (baik individu atau kolektif) harus mengkaji, memahami, menghayati, dan menginternalisasikan ajaran-ajaran al-Qur'an tersebut dalam hati, pikiran, jiwa, dan perilakunya pada seluruh dimensi kehidupannya.
Semua isi al-Qur'an merupakan petunjuk, karena setiap huruf, kata, ayat, dan surat mempunyai makna, baik makna leksikal (etimologis), makna grammatikal (terminologis), maupun makna kontekstual. Oleh karena itu, memahami al-Qur'an secara komprehensif dan universal harus dilakukan dengan mengkaji keseluruhan al-Qur'an, dan tidak dapat dilakukan secara parsial atau hanya menitiktekankan pada pemahaman ayat tertentu. Dalam kaitan dengan hal ini, analisis munâsabah (relasi antar berbagai struktur al-Qur'an), asbâb al-nuzûl, dan  tafsir maudhû'i memegang peranan penting.
Salah satu tema pokok dalam al-Qur'an adalah menyangkut hakikat manusia. Pembahasan al-Qur'an ini menjadi penting, karena salah satu misi al-Qur'an adalah menyadarkan mengenai posisi, tugas, dan fungsi manusia dalam hubungannya dengan Allah, alam, dan sesama manusia. Selebihnya, al-Qur'an juga memberikan petunjuk dan bimbingannya agar mampu menjalani kewajiban dan haknya sesuai dengan tata aturan dan tujuan dari penciptaan manusia oleh Allah swt.
Manusia, menurut al-Qur'an, merupakan ciptaan Allah, yang terdiri dari unsur jasmani, akal, dan ruhani.[3] Ketiga unsur ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sekalipun secara substansial dapat dibedakan. Dalam proses kehidupan, manusia tidak dapat menanggalkan salah satu dari ketiganya, atau pun hanya memprioritaskan salah satu dari ketiganya. Dengan demikian, ketiga unsur pembentuk manusia tersebut memiliki posisi sama pentingnya, Oleh karenanya ketiganya harus dikembangkan secara seimbang, terintegrasi, dan proporsional[4], agar manusia mampu menjalani kehidupan sebagai khalifah dan 'abd Allah secara seimbang dan proporsional.[5]
       Salah satu, unsur dari hakikat manusia adalah akal. Dalam bahasa Indonesia akal berarti daya pikir, pikiran dan ingatan, sedangkan dalam bahasa Arab akal ('aql) berarti akal pikiran, hati, ingatan, daya pikir, faham, diyat, benteng atau tempat berlindung.[6] Dalam bahasa inggris akal barangkali tepat jika diterjemahkan sebagai kata intellect[7], intelegensia atau cognition (knowing; awareness; including sensation but exluding emotion).[8]
     Secara fisik, dalam bahasa Indonesia, akal sering diidentikkan dengan "otak" atau mind,[9] yang diasumsikan tempatnya di kepala. Namun, menurut Harun Nasution, akal tidak persis sama dengan pengertian "otak", karena kalau otak, dalam artian fisik, maka hewan-hewan pun mempunyai otak. Akal merujuk pada daya nalar, daya pikir, dan daya kritis yang terdapat dalam jiwa manusia. Raghib al-Asfahani member pengertian akal sebagai energi potensial yang difungsikan manusia untuk menerima pengetahuan dan ilmu.[10] Dengan demikian, ia merujuk pada fungsi dan kerja dari "otak-fisik" dan jiwa. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh al-Ghazali dan Syed Naguib al-Attas.[11]
      Dalam Islam, akal mendapat posisi yang signifikan, baik dalam pengembagan individu, masyarakat, maupun pengetahuan, terutama sains. Ia diposisikan sebagai hidayat al-'aqliyyah, yakni hidayah Allah yang hanya diberikan kepada manusia. Dengan akal, manusia mampu memahami symbol-simbol, hal-hal yang abstrak, menganalisis, membandingkan, maupun membuat kesimpulan dan akhirnya mampu membedakan antara yang benar (haq) dan salah (bathil).[12]
     Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa "al-Islam huwa al-'aqlu, la dina liman la 'aqla lahu" (Islam adalah merupakan agama Ilmu dan agama akal (rasional); tidak ada kewajiban beragama (Islam) bagi mereka yang tidak mempunyai akal). Karena penghargaan akan eksistensi akal, Islam selalu mendorong umatnya untuk mempergunakan akal dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk dalam upaya mencari ilmu. Karena akal pula lah, manusia disebut sebagai makhluk homo sapiens, yaitu makhluk yang mempunyai fitrah dan kemampuan  untuk berilmu-pengetahuan.[13] Dengan akal itulah, manusia selalu ingin mengetahui apa yang ada di sekitarnya, lalu ia berfikir, memahami, dan menjadikannya sebagai pengetahua, baik bersifat teoritis maupun praktis.
      Dalam al-Qur'an, akal merupakan salah satu aspek penting dari esensi (hakikat) manusia, sebagaimana dijelaskan dalam banyak tempat di dalam al-Qur’an. Sedangkan, Sa'id Ismail 'Aly[14] dan Harun Nasution[15]  menjelaskan bahwa terdapat tujuh kata yang digunakan al-Qur’an untuk mewakili konsep akal, yakni nazara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tadzakkara, fahima, dan ‘aqala. Dari ketujuh term di atas, penggunaan term yang mendekati kata akal, dalam bentuk kata benda dalam Bahasa Indonesia, adalah term yang ke-7. Abdul Fattah Jalal menyebutkan bahwa kata akal tidaklah pernah muncul dalam bentuk kata benda (ism) melainkan dalam bentuk kata kerja (fi’il). Kata kerja ‘aqala menghasilkan derivasinya yakni ‘aqaluhu, ta’qiluna, na’qilu, ya’qiluna, dan ya’qiluha.[16] Selain ketujuh term di atas, terdapat beberapa term lain yang diasumsikan juga terkait dengan kerja dan fungsi akal, yakni yarauna, yabhatsun, yazkurun, yata'ammalun, ya’lamuna, yudrikuna, ya’rifuna, dan yaqrauna.
       Abdullah Fattah Jalal menyebutkan bahwa selain term akal ditunjukkan oleh al-Qur'an dengan penunjukan yang cukup banyak pada proses, al-Qur'an pun,  menggunakan kata albâb (jamak dari al-lub) yang juga bermakna akal.[17] Kata ini muncul dalam al-Qur'an dalam 16 tempat. Misalnya dalam QS. Ali Imran [3]:190. Ketika manusia dilahirkan ke dunia ini, akal, termasuk juga jasmani dan ruhani, masih bersifat potensi (fitrah). Ia merupakan potensi nalar, daya fikir, atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, daya akal budi, kecerdasan berfikir, atau boleh juga berarti terpelajar. Sebagai potensi, ia harus ditumbuh-kembangkan, dilatih, dan dibiasakan agar mampu bekerja atau berfungsi secara maksimal dan optimal. Di sinilah pendidikan pengembangan akal mempunyai peran signifikan sebagai fannu tasykil wa shina'at uqul al-insan (seni pembentukan atau rekayasa akal manusia). 'Ali Muhammad Madkur menyebutnya sebagai tarbiyyat al-thâqât al-'aqliyyah.[18] Pendidikan ini dimaksudkan untuk membentuk, membimbing, dan melatih kerja dan fungsi akal agar berfungsi secara maksimal dan optimal, serta sesuai dengan fitrah, maksud, dan tujuan penciptaannya. Pada sisi lain, akal pun harus diatur, dikendalikan, dan dievaluasi agar  fungsi dan kerjanya tidak menyalahi tata aturan yang ditetapkan oleh Allah swt, sebagai Pencipta-nya. Misalnya, al-Qur'an dalam QS al-An'am 116, menyebutkan salah satu kelemahan akal, yakni mengikuti prasangka (dzan).
         Dengan demikian, pendidikan pengembangan akal menjadi salah satu tujuan antara pendidikan, yakni ahdâf al-aqliyyah.[19] Pendidikan pengembangan akal pada akhirnya akan berakumulasi dengan pendidikan pengembangan jasmani dan ruhani untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, yakni insân kâmil (manusia seutuhnya) yang mempunyai kesadaran, pemahaman, dan pengamalan akan posisi dirinya di antara Allah, alam, dan sesama manusia, serta mampu menjadi khalifah dan 'abd Allah.
Sebagai sumber ilmu, apabila diteliti lagi dari uraian intelek di atas, maka akan didapati banyak tingkatan dalam pendapatan ilmu. Sebab, pada akal ada sisi-sisi yang terluar dan terdalam. Yang terdalam dari akal erat hubungannya dengan intuisi dan wahyu, dan ilmu yang dihasilkan juga berkaitan dengan hal tersebut. Sedangkan bagian terluar erat hubungannya dengan aspek panca indera manusia yang juga menghasilkan ilmu yang empirik-rasional.
Dilihat dari istilahnya, yakni sebagai kekuatan manusia untuk bernalar, maka akal dalam klasifikasi ilmu yang dikonseptualisasikan al-Attas menghasilkan ilmu-ilmu 'aqli. Menurutnya, ilmu yang berdasarkan akal adalah sains filosofis, rasional dan intelektual, yang meliputi sains kemanusiaan (human sciences), sains tabii (natural sciences), sains terapan (applied sciences) dan teknologi.[20]
Dalam konsep pendidikannya, ilmu-ilmu dalam klasifikasi ini termasuk ilmu yang fardhu kifayah. Artinya, ilmu ini tidak harus masing-masing orang menguasainya. Fardhu kifayah adalah amalan yang wajib dikerjakan namun kewajiban itu akan gugur apabila sudah dilaksanakan oleh sebagian. Ini bisa diartikan bahwa untuk ilmu-ilmu di bawah akal ini hendaknya manusia berbagi tugas, tidak semestinya seragam. Semakin beragama bidang yang dikuasai masyarakat, maka semakin tinggi kualitas masyarakat itu. Berbeda dengan fardhu kifayah yang cukup diemban oleh sebagian orang saja, ilmu fardhu 'ain harus diemban oleh setiap individu. Ini dalam falsafah pendidikan al-Attas adalah ilmu-ilmu yang dibawah wahyu, yaitu ilmu-ilmu seperti al-Quran, Sunnah, Shariah, Tauhid, Tasawwuf, dan bahasa Arab. Menurutnya, semua orang Islam harus mengerti ini dan hukumnya wajib bagi tiap individu.[21]
Klasifikasi ilmu al-Attas kepada fardhu ain dan fardhu kifayah diambilkan dari skemanya tentang konsep manusia, ilmu dan universitas, sebagaimana berikut: pertama, manusia yang meliputi jiwa dan entitas dalaman (ruh, nafs, qalb, 'aql) dan badan dan fakultas-fakultas fisiknya; kedua, ilmu yang terdiri dari ilmu pemberian Tuhan dan ilmu yang didapatkan oleh manusia; ketiga, universitas yang meliputi ilmu-ilmu fardu ain dan kifayah. Dalam skema itu, posisi The God-given Knowledge berada di atas dan the acquired knowledge berada di bawah. Sepertinya posisi ini penting dalam pandangan al-Attas. Sebab, posisi di atas menunjukkan itu adalah tinggi dan terhormat. Dan menurutnya, posisi yang di atas ini merujuk kepada fakultas dan sensasi spiritual manusia. Sedangkan posisi di bawahnya menunjukkan kepada fakultas dan sensasi fisikal manusia. Menariknya, al-Attas memposisikan intelek ('aql) sebagai penghubung antara bagian fisikal dan spiritual itu. Dengan alasan bahwa 'aql pada kenyataannya merupakan substansi spiritual, seperti yang dijabarkan sebelumnya, yang memungkinkan manusia untuk mengerti realitas dan kebenaran spiritual.[22]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari paparan di atas, kini jelas bahwa akal dalam diskursus Islam, dalam hal ini menurut uraian al-Attas, merupakan dimensi dalaman (inner dimension) manusia. Tanpa akal manusia tak ubahnya seperti hewan yang hanya tahu makan, minum, tidur dan lain-lain. Ilmu yang didapat oleh manusia karena ada akal. Tanpa ada media akal, betapa pun sehatnya panca inderanya, manusia tidak bisa mendapatkan ilmu. Begitu juga, walaupun ada wahyu, kalau akal tidak sehat, maka akan sia-sia belakan. Maka bersukurlah mempunyai akal. Namun akal tidak segala-galanya. Ada banyak hal yang tidak terjangkau oleh akal. Maka akal perlu takluk kepada yang lebih tinggi lagi, yakni yang sifatnya spiritual. Di sinilah pentingnya intuisi dan wahyu dalam pemikiran al-Attas.

DAFTAR PUSTAKA

Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, t.th), hlm 32. Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa potensi dasar manusia tersebut berupa jasmani dan rohani; Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa (Jakarta: Bulan Bintang, 1989)
A. Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami (Bandung: Rosda Karya, 2008)
Isma'il Raji al-Faruqi, Tauhid, Bandung: Pustaka, 1984.
Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Qamus 'Araby-Indonesia (Yogyakarta: Krapyak),
Muhammad 'Ali al-Khuli, Qamus al-Tarbiyyah: English-'Araby (Beirut: Dar 'al-'Ilm li al-Malayin, 1981),

Rohi Baalbaki dalam Al-Mawrid: Qamus 'Araby-English (Beirut: Dar al-'ilm li al-Malayin, 2001), hlm.771 menerjemahkan kata 'aqala ke dalam banyak makna, yakni to realize, understand, comprehend, graps, apprehend, conceive, dan perceive.
Al-'Allamah Raghib al-Asfahani, Mu'jam Mufradat Alfadz al-Qur'an (Beirut: Dar al-Fikr, t.th)
Syed Naguib al-Attas, Konsep Pendidikan Islam (Bandung: Mizan, 1986),
Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 2003).
'Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islami (Kairo: Dar al-Fikr a'-'Araby, 2002),
Sa'id Isma'il 'Aly, Ushul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah (Kairo: Dar al-Salam, 2007),
Harun Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1982)
Abdullah Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam (Bandung: CV Diponegoro
Abdullah Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam (Bandung: CV Diponegoro),
'Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islâmi (Kairo: Dar al-Fikr al-'Arabi, 2002
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur'an (Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
Al-Attas (1986), A Commentary on The Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri, Kuala Lumpur: Ministry of Culture of Malaysia,




[1] Nasution, Harun, Tentang Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, jilid I,II.
[2] Atang, Metodologi Study Islam, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

[3]Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, t.th), hlm 32. Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa potensi dasar manusia tersebut berupa jasmani dan rohani; Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), cet. Ke-4, hlm.86.
[4]A. Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami (Bandung: Rosda Karya, 2008), hlm. 26.
[5] Ismail Raji al-Faruqi menyebutkan bahwa manusia merupakan makhluk kosmik tertingi, karena berbagai potensi yang dimilikinya mampu mengantarkannya untuk mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Tuhan (Isma'il Raji al-Faruqi, Tauhid, Bandung: Pustaka, 1984, hlm. 37)
[6] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Qamus 'Araby-Indonesia (Yogyakarta: Krapyak), hlm. 1027.
[7] Muhammad 'Ali al-Khuli, Qamus al-Tarbiyyah: English-'Araby (Beirut: Dar 'al-'Ilm li al-Malayin, 1981), hlm. 239.
[8] Rohi Baalbaki dalam Al-Mawrid: Qamus 'Araby-English (Beirut: Dar al-'ilm li al-Malayin, 2001), hlm.771 menerjemahkan kata 'aqala ke dalam banyak makna, yakni to realize, understand, comprehend, graps, apprehend, conceive, dan perceive.
[9] Kata lain yang bersinonim dengan mind adalah intellect, brain, head, reason, intelligence, sense, understanding, dan mentality .
[10] Al-'Allamah Raghib al-Asfahani, Mu'jam Mufradat Alfadz al-Qur'an (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), hlm. 354.
[11] Syed Naguib al-Attas, Konsep Pendidikan Islam (Bandung: Mizan, 1986), hlm. 33.
[12] Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 2003). hlm. 35
[13] 'Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islami (Kairo: Dar al-Fikr a'-'Araby, 2002), hlm. 45-46
[14] Sa'id Isma'il 'Aly, Ushul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah (Kairo: Dar al-Salam, 2007), hlm. 124
[15]Harun Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1982) hlm. 39-48
[16] Abdullah Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam (Bandung: CV Diponegoro), hlm. 57-58
[17] Abdullah Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam (Bandung: CV Diponegoro), hlm. 57-58
[18] 'Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islâmi (Kairo: Dar al-Fikr al-'Arabi, 2002 hlm. 261-262
[19] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur'an (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Hlm. 143.
[20] Al-Attas (1986), A Commentary on The Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri, Kuala Lumpur: Ministry of Culture of Malaysia, 293.
[21] Lihat al-Attas (1999), The Concept of Education in Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, h. 39-45.
[22] Al-Attas, The Concept of Education, h. 40.

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com