Thursday, 16 January 2014

MAKALAH KONSEP KHALIFAH DI MUKA BUMI

MAKALAH TAFSIR TARBAWI



KONSEP KHALIFAH DI MUKA BUMI



DI
S
U
S
U
N

OLEH


NURUL HIDAYANI
(141100649)

                 JURUSAN                          :      TARBIYAH
                 PRODI                              :      PBI
                 SEMESTER / UNIT          :      III (TIGA)/ 1
                 DOSEN PENGASUH         :      Drs. LEGIMAN, M. Ag
  




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA

T.A. 2012-2013

KATA  PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan. salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang telah membimbing manusia kepada cahaya Illahi, dan kepada keluarga, shahabat, dan orang-orang yang mengikuti ajarannya.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Tafsir Tarbawi yang sekaligus pengamalan ilmu tentang Konsep Khalifah Di Muka Bumi. Dan Alhamdulillah berkat Rahmat, Hidayah, dan Karunia Allah SWT serta do’a dan dorongan semua pihak, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Dari itu kami ucapkanterima kasih yang  sebesar-besarnya.
Karya ini kami persembahkan khusus untuk Dosen kami, dan umumnya untuk teman-teman semuanya. Semoga usaha yang amat sederhana ini dapat membawa manfaat bagi semuanya dan menjadi amal jariyah kami dan keluarga di Hari kemudian. Kritik dan saran selalu kami nantikan, demi perbaikan di masa yang akan datang. Karena manusia tidak ada yang sempurna, hanya Allah yang memiliki kesempurnaan dan Maha segalanya. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
                                                                                               



Langsa, 16 Desenber 2012




Pemakalah




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................          i
DAFTAR ISI..........................................................................................................         ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................         1
A.    Latar Belakang.............................................................................................         1
B.    Rumusan Masalah........................................................................................         1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................         2
A.    Pengertian Khalifah.....................................................................................         2
B.    Fungsi Khalifah............................................................................................         5
C.    Implikasi Konsep Khalifah Terhadap Pendidikan.......................................         7
BAB III PENUTUP...............................................................................................         8
A.    Kesimpulan..................................................................................................         8
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            ALLAH SWT menciptakan alam semesta dan menentukan fungsi-fungsi dari  setiap elemen alam ini. Mata hari punya fungsi, bumi punya fungsi, udara punya fungsi, begitulah seterusnya; bintang-bintang, awan, api, air, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya hingga makhluk yang paling kecil masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan. Pertanyaan kita adalah apa sebenarnya fungsi manusia dalam pentas kehidupan ini? Apakah sama fungsinya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan? atau mempunyai fungsi yang lebih istimewa ?
Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua predikat, yaitu sebagai hamba Allah (`abdullah) dan sebagai wakil Allah (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.

B.     Rumusan Masalah
1.    Pengertian Khalifah
2.    Fungsi Khalifah
3.      Implikasi Konsep Khalifah Terhadap Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Khalifah
Kata khalifah dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam Al-Quran, yaitu dalam Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26. Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran, yaitu:
a.       Khalaif yang terulang sebanyak empat kali, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
b.      Khulafa' terulang sebanyak tiga kali pada surah-surah. Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata khulafa' yang pada mulanya
berarti "di belakang". Dari sini, kata khalifah seringkali diartikan sebagai "pengganti" (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya).
Pengertian khalifah jika dilihat dari akar katanya berasal dari kata khalafa, yang berarti di belakang atau menggantikan tempat seseorang sepeninggalnya (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya), karena itu kata khalif atau khalifah berarti seorang pengganti. Al-Raghib al-Isfahani menjelaskan bahwa menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya[1].  Lebih lanjut, Al-Isfahani menjelaskan bahwa kekhalifahan tersebut dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan. Kata al-khalifah juga
memiliki arti al-imârat yaitu kepemimpinan, atau alsulthân yaitu kekuasaan[2].
Dalam tafsir al-Razi diterangkan bahwa alkhalifah adalah orang yang menggantikan orang lain dan ia menempati tempat serta kedudukannya. Bentuk jamak al-khalifah ialah khala’if dan khulafa’. Seorang khalifah adalah orang yang menggantikan orang lain, menggantikan kedudukannya, kepemimpinannya atau kekuasaannya. al-Razi mencantumkan perbedaan pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan khalifah pada ayat tersebut. Ada yang menyatakan Adam berdasarkan informasi perusakan yang akan dilakukan (anak cucunya). Jadi yang akan merusak bukan Adam. Disamping itu, Adam juga khalifah karena menggantikan Allah dalam memutus hukum. Tetapi ada pula yang menyatakan yang dimaksud adalah anak cucu Adam, karena Adam menjadi khalifah bagi bangsa jin yang mendahuluinya. Disamping itu, yang dimaksud dengan khalifah
adalah anak cucu Adam yang menggantikan sesama mereka[3].
Pada dasarnya, berdasarkan QS. Al-Baqarah [2]: 30, kekhalifahan manusia mempunyai tiga unsur yang saling berhubungan satu sama lain, dan ditambahkan unsur keempat yang berada di luar namun sangat menentukan arti kekhalifahan menurut Al-Qur’an. 1) manusia, yang kemudian dinamai khalifah; 2) alam raya; 3) hubungan antara manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia[4]. Hubungan di antara ketiganya tidak akan berarti bila tidak disertai dengan yang berada di luar yaitu yang memberi penugasan, yakni Allah Swt. Dialah yang memberi penugasan itu dan dengan demikian yang ditugasi harus memperhatikan kehendak yang menugasinya[5].
Oleh karena itu, bila manusia sebagai khalifah menyadari arti kekhalifahannya sebagai yang ditugasi oleh Allah Swt, maka tidak perlu adanya kekuatiran terhadap perlakuan sewenang-wenang dari khalifah yang diangkat Tuhan itu. Karena, Tuhan sendiri memerintahkan kepada para khalifah-Nya untuk selalu bermusyawarah serta berlaku adil.
Mengutip pendapatnya Musa Asy’arie, menurutnya bahwa tugas seorang khalifah, sebagai pengganti yang memegang kepemimpinan dan kekuasaan, pada dasarnya mengandung implikasi moral, karena kepemimpinan dan kekuasaan yang dimiliki seorang khalifah dapat disalahgunakan untuk kepentingan mengejar kepuasan hawa nafsunya, atau sebaliknya juga dapat dipakai untuk kepentingan menciptakan kesejahteraan hidup bersama. Oleh karena itu, kepemimpinan dan kekuasaan manusia harus tetap diletakan dalam kerangka eksistensi manusia yang bersifat sementara, sehingga dapat dihindari dari kecenderungan pemutlakan kepemimpinan atau kekuasaan, yang akibatnya dapat merusak tatanan dan harmoni kehidupan[6].
Selain itu kekuasaan seorang khalifah pada dasarnya tidaklah bersifat mutlak, karena kekuasaannya dibatasi oleh pemberi mandat kekhalifahan, yaitu Tuhan. Dan sebagai pemegang mandat Tuhan, seorang khalifah tidak diperbolehkan melawan hukum hukum yang ditetapkan Tuhan.
Selanjutnya terdapat pula persyaratan yang bersifat teknis dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seseorang yang menjadi khalifah. Hal ini dapat dilihat dari isyarat yang terkandung dalam surat al Baqarah ayat 30 dan 31. Pada ayat ayat tersebut dijelaskan bahwa nabi Adam setelah di angkat sebagai khalifah dimuka bumi ia kemudian diberikan pengajaran. Ini mengisyaratkan bahwa seorang khalifah perlu memiliki pengetahuan, ketrampilan, mental yang dewasa serta pendidikan pada umumnya. Kemampuan lebih yang dimiliki nabi Adam yang digambarkan dengan kemampuanya menerima pelajaran tentang nama nama benda dan kemampuanya mengungkapkan nama-nama tersebut dihadapan malaikat, yang keseluruhannya ini dapat diartikan sebagai kemampuan yang bersifat konseptual, justru menjadi salah satu modal yang melandasi nabi Adam ‘alaihi al-salam sebagai khalifah. Dengan kata lain, karena nabi Adam AS. memiliki kemampuan yang bersifat konseptual yang dihasilkan melalui pendidikan itulah yang menjadi kunci kesuksesannya sebagai khalifah. Ini artinya bahwa sebagai seorang khalifah perlu memiliki pendidikan yang cukup.
Sejalan dengan uraian tersebut di atas, Hasan Langgulung mengatakan, bahwa manusia yang dianggap sebagai khalifah Allah tidak dapat memegang tanggungjawab sebagai khalifah kecuali kalau ia diperlengkapi dengan potensi-potensi yang membolehkannya berbuat demikian[7].
Lebih lanjut Langgulung mengatakan bahwa al-Qur’an menyatakan adanya beberapa ciri yang dimiliki manusia untuk mampu melaksanakan fungsi kekhalifahannya itu, ciri ciri tersebut antara lain dari segi fitrahnya yang baik dari sejak awal. Ia tidak mewarisi dosa karena Adam as. Meninggalkan surga. Ciri lainnya adalah yang bersifat fisik. Al- Qur’an mengakui kebutuhan-kebutuhan biologikal yang menuntut pemuasan. Hal ini pada tahap selanjutnya memerlukan penjelasan tentang syarat-syarat yang menyebabkan kebutuhan biologikal ini mungkin dapat berdampingan dengan fitrah yang baik itu. Keduanya tanpa menimbulkan masalah. Kedua hal inilah yang mendukung tugas kekhalifahan manusia.
Menurut Musa Asy’arie, tugas kekhalifahan yang diemban karena manusia dipandang mempunyai kemampuan konseptual dengan watak keharusan eksperimen berkesinambungan sampai menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup di muka bumi[8]. Dalam hal ini, Syahminan Zaini, menyatakan bahwa sebagai khalifah dan hamba Allah, manusia berkewajiban mensyukuri segala nikmat itu dengan kehendak Sang Pemberi Nikmat, yakni dengan berupaya kreatif, memakmurkan bumi, dan membudidayakan alam.[9]
Tugas manusia ini pada dasarnya secara implisit menggambarkan pandangan Islam yang memandang manusia dengan pandangan yang positif dan konstruktif.[10] Dalam Islam, manusia tidak hanya ditempatkan sebagai bagian sistematik dari realitas alam, lebih jauh Islam menuntut peran kreatif manusia untuk mengelola alam sebagai sumber daya material (material resource) sebagai pengejawantahan tugas kemanusiaannya di muka bumi.

B.     Fungsi Khalifah
Pada  dasarnya,  akhlak  yang  diajarkan   Alquran   terhadap lingkungan bersumber dari fungi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan  menuntut  adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan  mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam  pandangan  akhlak Islam,  seseorang  tidak  dibenarkan mengambil  buah  sebelum  matang,  atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini  berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang sedang  terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga  ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.” Binatang, tumbuhan,  dan benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Karena itu dalam Alquran ditegaskan bahwa :
Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan  burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan  umat-umat (juga)  seperti manusia...”  (QS. Al-An’am  [6] : 38)
Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran  bahwa  apapun  yang  berada  di  dalam  genggaman tangannya,   tidak lain   kecuali    amanat    yang    harus dipertanggungjawabkan. “Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin yang berhembus di udara,  dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawabannya, manusia menyangkut pemeliharaan  dan pemanfaatannya”, demikian   kandungan  penjelasan  Nabi  Saw. tentang firman-Nya dalam Alquran
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kemikmatan (yang  kamu  peroleh).” (At-Takatsur, [102]:  8)
Dengan demikian  manusia bukan  saja  dituntut  agar tidak  alpa  dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik (Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.
Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antara keduanya, kecuali dengan (tujuan) yang hak dan pada waktu yang ditentukan” (QS Al-Ahqaf [46]: 3).
Pernyataan Allah ini mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan  kepentingan  diri  sendiri,  kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus  berpikir  dan bersikap  demi  kemaslahatan  semua pihak.  Ia  tidak  boleh bersikap  sebagai penakluk alam  atau  berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang,  istilah  penaklukan  alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari pandangan mitos Yunani  yang beranggapan bahwa  benda-benda  alam  merupakan dewa-dewa yang memusuhi  manusia sehingga harus ditaklukkan.
Yang menundukkan alam menurut Alquran adalah  Allah.  Manusia tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 13)
Jika demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya  tunduk  kepada  Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat. Aquran menekankan agar umat Islam meneladani Nabi Muhammad Saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Nabi Muhammad Saw. bahkan memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. “Nama” memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.
Ini berarti bahwa manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak  boleh  tunduk  dan merendahkan diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah untuknya, berapa pun harga benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak  oleh  benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak oleh benda-benda sehingga  mengorbankan kepentingannya sendiri. Manusia dalam hal ini dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apapun  asalkan yang diraihnya serta cara meraihnya tidak mengorbankan kepentingannya di akhirat kelak.

C.    Implikasi Konsep Khalifah Terhadap Pendidikan
Masih berbicara khalifah, di samping manusia berfungsi sebagai khalifah, juga bertugas untuk mengabdi kepada Allah sebagaimana dalam surat  Az-Zariyatayat 56. Dengan demikian manusia itu mempunyai fungsi ganda, sebagai khalifah dan sekaligus sebagai ‘abd. Fungsi sebagai khalifah tertuju kepada pemegang amanah Allah untuk penguasaan, pemanfaatan, pemeliharaan, dan pelestarian alam raya yang berujung kepada pemakmurannya. Fungsi ‘abd bertuju kepada penghambaan diri semata-mata hanya kepada Allah.
Untuk terciptanya kedua fungsi tersebut yang terintegrasi dalam diri pribadi muslim, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai. Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir (ultimate aim) pendidikan Islam, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai.
Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir (ultimate aim) pendidikan Islam, maka suatu permasalahan pokok yang sangat perlu mendapat perhatian adalah penyusunan rancangan program pendidikan yang dijabarkan dalam kurikulum. Pengertian kurikulum adalah segala kegiatan dan pengalaman pendidikan yang dirancang dan diselenggarakannya oleh lembaga pendidikan bagi peserta didiknya, baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Berpedoman ruang lingkup pendidikan Islam yang ingin dicapai, maka kurikulum pendidikan Islam itu berorientasi kepada tiga hal, yaitu:
1.    Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah)
2.    Tercapainya tujuan hablum minannas (hubungan dengan manusia)
3.    Tercapainya tujuan hablum minal’alam (hubungan dengan alam)


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan ummat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Allah untuk manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Raghib al-Isfahani, Mufradat Gharîb al-Qur’ân, (Mesir: Al-Halabi, 1961),
Fakhr al-Din al-Razi, al-Tafsir al-Kabîr, (Mesir: Al-Mathba’ah al-Mishriyyah, 1985), Jilid I,
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1989),
Ibn Manzur, Lisân al-’Arab, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1969), Juz X
Muhammad Baqir al-Shadr dalam al-Sunan al-Tarîkhiyyat fi al-Qur’ân seperti dikutip M. Quraish Shihab,  Membumikan Al-Qur’an.,
Muhammad Rasyid Ridha, Tafsîr al-Manâr, (Beirut: Dar al- Ma’rifah, tth.), Jilid 1,
Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an, (Yogyakarta: LSIF, 1992),
Syahminan Zaini, Mengenal Manusia Lewat Al-Qur’an, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984),
Tobroni dan Samsul Arifin, Islam Pluralisme Budaya dan Politik, (Yogyakarta: SI Press, 1994), 


[1] Al-Raghib al-Isfahani, Mufradat Gharîb al-Qur’ân, (Mesir: Al-Halabi, 1961), h. 156-157
[2] Ibn Manzur, Lisân al-’Arab, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1969), Juz X, h. 430
[3] Fakhr al-Din al-Razi, al-Tafsir al-Kabîr, (Mesir: Al-Mathba’ah al-Mishriyyah, 1985), Jilid I, h.180-181
[4] Menarik pendapat al-Ustadz Muhammad ‘Abduh yang menganggap ayat-ayat yang berkaitan dengan kekhilafahan manusia khususnya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30 termasuk ke dalam ayat mutasyabihat yang tidak mungkin memahaminya berdasarkan zhahir ayat. Lihat Muhammad Rasyid Ridha, Tafsîr al-Manâr, (Beirut: Dar al- Ma’rifah, tth.), Jilid 1, h. 251
[5] Muhammad Baqir al-Shadr dalam al-Sunan al-Tarîkhiyyat fi al-Qur’ân seperti dikutip M. Quraish Shihab,  Membumikan Al-Qur’an.,h. 158
[6] Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an, (Yogyakarta: LSIF, 1992), h. 38
[7] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1989), h. 57.
[8] Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an, (Yogyakarta: LSIF, 1992), h. 43.
[9] Syahminan Zaini, Mengenal Manusia Lewat Al-Qur’an, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), h. 86.
[10] Tobroni dan Samsul Arifin, Islam Pluralisme Budaya dan Politik, (Yogyakarta: SI Press, 1994), h. 53

0 comments:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com