Friday, 17 January 2014

MAKALAH HIKMAH TARBAWI DALAM SURAT AL-HASYR AYAT 22 MENGENAL ALLAH

MAKALAH TAFSIR TARBAWI

HIKMAH TARBAWI DALAM SURAT AL-HASYR AYAT 22 MENGENAL ALLAH


DISUSUN
OLEH
Nurul Hidayani
(141100649)

                        Jurusan / Prodi                     :   Tarbiyah / PBI

                        Semester / Unit                      :   III /1
                        Dosen Pengasuh                   : Drs. Legiman, M. Ag



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
 (STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA

2012




KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yangberjudul "HIKMAH TARBAWI DALAM SURAT AL-HASYR AYAT 22 MENGENAL ALLAH"

Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi positif dan bermakna dalam proses perkuliahan. Dari lubuk hati yang paling dalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.
Terakhir, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Selain itu, kami juga berterima kasih kepada para penulis yang tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan.






Langsa, 25 Oktober 2012

Pemakalah




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................... 1
A. Latar Belakang......................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................ 2
A. Pengertian Mengenal Allah...................................................................................................... 2
B. Cara Mengenal Allah................................................................................................................ 4
C. Manfaat Mengenal Allah.......................................................................................................... 5
D. Hikmah Tarbiyah Dari Mengenal Allah................................................................................... 6
BAB III PENUTUP.................................................................................................................... 8
A.    Kesimpulan....................................................................................................................... 8
B.     Saran................................................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk yang diberi akal yang sempurna, tatkala akal membawa kepada sesuatu yang diinginkan. Tetapi alangkah baiknya digunakan kepada sesuatu yang akan memberikan mampaat salah satunya untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Manusia akan hidup lurus apabila dia mampuh menggunakan akalya untuk mengetahui siapa dirinya. Yang akhirnya akan sampai kepada zat yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Inilah yang menjadi persoalan bahwa manusia kebanyakan lupa kepada dzat yang menciptakannya yaitu Allah SWT.
Penomena yang terjadi sekarang bahwa manusia hidup kebanyakan dengan moral yang kurang sempurna. Yaitu hal yang tidak sejalan dengan aturan Agama Islam. Ini dikarenakan kurang mengenal dirinya sendiri atau dengan kata lain tidak mengetahui jati dirinya sendiri. Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, belajar, pelayan masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang hanya waktu ibadah kepada Allah.
Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”
Bagaimana supaya kita mampuh mengenal Allah SWT ? Apakah sebuah kewajiban kita harus mengenal Allah SWT ? Maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai Mengenal Allah atau dengan kata lain ma’rifatullah.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan mengenal Allah SWT?
2. Bagaimana cara mengenal Allah SWT ?
3. Apakah manfaat mengenal Allah?
                4. Apa hikmah tarbiyah dari mengenal Allah SWT?



BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENGERTIAN MENGENAL ALLAH SWT
Mengenal Allah juga bisa disebut juga dengan Ma’rifatullah yaitu berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaranNya (ayat-ayatNya). Mengenal Allah merupakan tahapan penting perjalanan diri Manusia. Salah satu Hadis yang terkenal dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. adalah "Man 'Arofa nafsahu, Faqod Arofa Robbahu" Artinya "Barang siapa mengenal dirinya maka, ia akan mengenal Tuhannnya".Makna dari hadis ini, bersesuaian dengan ungkapan dalam Al-Qur'an"Wallaahu bi kulli Syai'in 'Aliima" Artinya "dan Allah mengetahui segala sesuatu". dari dua pernyataan ini, bisa kita pahami bahwa:
1.  Manusia Hidup di dunia ini harus memiliki panduan kehidupan agar dirinya tidak mengalami kebingungan.
2.  Panduan kehidupan yang harus dicari oleh manusia, terdapat dalam dirinya sendiri.
3.  Panduan yang dimaksud dalam poin kedua adalah panduan fitrah dan Suara Hati manusia
4.  Jika manusia mau mengerti dan memahami segala apa yang ada dalam dirinya adalah pemberian sang Maha Kuasa maka, seharusnya manusia harus berterima kasih pada sang pemberi itu (Allah SWT)
5.  Membuktikan kebenaran ilmu dan pemahaman yang dimiliki tentang sang Pencipta agar manusia tidak merasa ragu dan bingung dalam memahami kehidupan.
Allah SWT Berfirman dalam Qur’an Surat Al-Hasr : 22-24
uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw ts9Î) žwÎ) uqèd ( ÞOÎtã É=øtóø9$# Íoy»yg¤±9$#ur ( uqèd ßoH÷q§9$# ÞÏm§9$#ÇËËÈ uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw ts9Î) žwÎ) uqèd à7Î=yJø9$# â¨rà)ø9$# ãn=¡¡9$# ß`ÏB÷sßJø9$#ÚÆÏJøygßJø9$# âƒÍyèø9$# â‘$¬6yfø9$# çŽÉi9x6tGßJø9$# 4 zysö6ß «!$# $£Jtã šcqà2ÎŽô³ç„ÇËÌÈ uqèd ª!$# ß,Îyø9$# äÍ‘$t7ø9$# âÈhq|ÁßJø9$# ( ã&s! âä!$yJóF{$# 4Óo_ó¡ßsø9$# 4 ßxÎm7|¡ç ¼çms9 $tB ÎûÏNºuyJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( uqèdur âƒÍyèø9$# ÞÅ3ptø:$# ÇËÍÈ
(22). Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (23). Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(24). Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Didalam Firman Allah ini, kita dapat mengenal Allah melalui kekuasaannya,ciptaannya, dengan melihat kejadian alam, dan mensyukuri apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Kejadian adanya proses manusia lahir kemuka bumi ini menunjukan bahwa ada yang mengerjakannya yaitu Allah SWT, betapa besar kekuasaannya manusia yang berasal dari air mani yang bercampur dengan sel telur wanita setelah beberapa bulan kemudian lahir kemuka bumi. Kita harus senantiasa bertadabur dan bersyukur.
Ma’rifatullah (mengenal Allah) bukanlah mengenali dzat Allah, karena hal ini tidak mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Sebab bagaimana mungkin manusia yang terbatas ini mengenali sesuatu yang tidak terbatas? Menurut Ibn Al Qayyim : Ma’rifatullah yang dimaksudkan oleh ahlul ma’rifah (orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya”.Ma’rifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun ma’riaftullah dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.

B.       CARA- CARA UNTUK MENGENAL ALLAH SWT
Pertama, menggunakan fitrah insting beragama yang ada dalam setiap diri manusia. Di sana tertampung berbagai emosi manusia seperti rasa takut, harap, cemas, cinta, kesetiaan, pengagungan, penyucian, dan berbagai macam lainnya yang menghiasi jiwa manusia. 
Kedua, menggunakan potensi yang ada dalam manusia.[1]Unsur fitrah ketuhanan ini berasal dari pemberian Tuhan dengan cara yang khas. Atas dasr ini, maka pengenalan manusia Terhadap Tuhan karena Tuhan sendiri.
Ketiga, dengan mengenal nama-nama Tuhan dan memahami alam jagat raya.
Keempat, dengan pendekatan historis. Dengan pendekata historis, dapat diketahui adanya bangsa yang jaya dan bangsa yang hancur, ada yang kalah dan da yang benar.
Kelima, melalui pendekatan artistik (perasaan seni). Caranya dengan memperhatikan alam sekitar yang di dalamnya terdapat binatang yang beraneka ragam jenis, bentuk, warna, khasiat, dan lain sebagainya.
Keenam, melalui pendekatan sufistik, yaitu pendekatan yang menggunakan kekuatan rohaniah yang ada dalam diri manusia.[2]
Beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan untuk dapat mengenal Allah:
1. Menyadari bahwa diri kita adalah yang diciptakan
2. Kalau kita (manusia) diciptakan berarti ada yang menciptakan (Allah)
3. Kalau kita (manusia) diatur berarti ada yang mengatur (Allah)
4. Kalau kita diberi berarti ada yang memberi
5. karena kita diberi maka kita harus berterima kasih.
6. cara paling mudah dalam berterima kasih adalah selalu mengingat yang memberi
7. Cara paling mudah dalam mengingat adalah:
·         Membaca bismillah saat memulai kegiatan, dan alhamdulillah ketika selesai
·         Berdzikir laailaahailllallah di setiap waktu
·         Sholat tepat waktu
·         Bershadaqah
·         Jujur
·         Membaca al-Qur'an dan maknanya
Kita bisa pilih semua cara diatas atau pilih salah satu cara dan lakukan dengan rutin dan teratur, insya Allah semua akan menjadi lebih baik. Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya dan tidak tertipu oleh dunia . Ma’rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus difahami manusia. Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang tertinggi sebab jika difahami memberikan keyakinan mendalam. Memahami Ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang terang. Berilmu dengan ma’rifatullah sangat penting karena:
a. Berhubungan dengan obyeknya, yaitu Allah Sang Pencipta.
b. Berhubungan dengan manfaat yang diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, yang dengannya akan diperoleh keberuntungan.

C.      MANFAAT MENGENAL ALLAH
Sungguh pun Alquran berbicara tentang masalah aqidah dan tauhid seperti halnya mengenal Allah, namun Alquran bukanlah ilmu aqa’id atau ilmu tauhid, karena masalah-masalah aqidah dan tauhid tidak disusun secara sistematik sebagaimana halnya sebuah ilmu. Hal yang demikian sengaja dilakukan agar manusia bebas untuk mengembangkan nalarnya dalam mengenal Tuhan, dan Alquran dengan caranya yang demikian itu, yaitu bahwa yang terpenting adalah bagaimana pengaruh dari mengenal Tuhan itu terhadap tumbuhnya akhlak yang mulia, moralitas yang tinggi, amal shaleh, dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat dan terhadap Tuhan. Hal ini sejalan dengan prinsip ajaran Islam yang menjunjung tinggi moralitas yang tinfggi dan amal shaleh.
Pertama-tama kita beriman kepada Allah, Tuhan Ynag Maha Esa. Iman itu melahirkan tata nilai berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa (rabbaniyah), yaitu tata nilai yang wajib dijiwai oleh kesadaran bahwa hidup ini berasal dari Tuhan dan menuju kepada Tuhan (Inna Lillahi Wa inna Ilaihi Raji’un),  Sesunggnnuhnya kita berasal dari Tuhan dan kita akan kembali kepada-Nya.
Tuhan dalah pencipta semuan wujud yang lhir dan batin, dan Dia telah menciptakan manusia sebagai puncak ciptaan, untuk menjadi Khalifah-Nya di bumi. Karena itu,manusia harus berbuat sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan kepada-Nya, baik di dunia ini, maupun khususnya, kelak dalam pengadilan Illahi di akhirat. Orang muslim berpandangan hidup bahwa demi kesejahteraan dan keselamatan mereka sendiridi dunia sampai akhirat, mereka harus bersikap pasrah dirikepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berbuat baik kepada sesama manusia.[3]
Sikap berserah diri kepada Tuhan (berislam) secara keren mengandung konsekuensi. Pertama, konsekuensi dalam bentuk pengakuan yang tulus bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang serba mutlak. Pengakuan ini merupakan kelanjutan logis hakikat konsep Ke-Tuhanan. Yaitu bahwa Tuhan wujud mutlak yang menjadi sumber wujud yang lain. Maka semua wujud yang lain adalah nisbi belaka, sebandingan atau lawan dari wujud serta Hakikat atau Dzat, yang mutlak. Karena itu Tuhan bukan untuk diketahui, sebab “mengetahui Tuhan” adalah mustahil dalam ungkapan “mengetahui Tuhan” terdapat kontrdiksi in terminus, yaitu kontradiksi antara “mengetahui” yang mengisyaratkan penguasaan dan batasan, dan “Tuhan” yang mengisyaratkan kemutlakan, keadaan yang tak terbata dan tak terhingga.
Mengenal Tuhan melalui pemahaman terhadap sifat-sifat yang terdapat dalam konsep Asma Al-Husna sebagaimana disebutkan di atas, juga dimaksudkan agar manusi meniru sifat-sifat tersebut dan menampakkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ini dilakukan maka manusia telah mencoba acu diri untuk tampil sebagai makhluk yang senantiasa menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.[4]

D.      HIKMAH TARBIYAH
Penjelasan tentang beriman kepada Allah sebagaimana diuraikan di atas, memiliki hubungan dengan pendidikan Islam, antara lain :
v  Dari segi kedudukannya, keimanan kepada Allah menjadi materi utama danmendasar dalam pendidikan Islam
v  Tujuan Pendidikan Islam dirumuskan harus berkaitan dengan keimanan danketaqwaan kepada Allah SWT.
v  Keimanan kepada Allah hendaknya juga menjadi dasar penyusunan kurikulumdan aspek-aspek pendidikan Islam lainnya.
v  Dari segi fungsinya, keimanan kepada Allah berfungsi mendorong bagi upayameningkatkan di bidang pengembangan ilmu pengetahuan.
v  Bahwa orang-orang yang beriman agar memperkuat keimanannya dengan dalil-dalil baik yang bersifat naqli maupun Aqli yang dibangun dari argumentasirasional.
v  Bahwa iman mendidik manusia untuk mempunyai komitmen kepada nilai-nilai luhur, dan ilmu memberi kecakapan teknis guna merealisasikannya. Iman dan Ilmu secara bersama akan membuat manusia menjadi orang baik dan sekaligus tahucara yang tepat untuk mewujudkan kebaikan dan kebenaran


BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Ma’rifatullah yaitu berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaranNya (ayat-ayatNya). Mengenal Allah merupakan tahapan penting perjalanan diri Manusia. Salah satu Hadis yang terkenal dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. adalah "Man 'Arofa nafsahu, Faqod Arofa Robbahu" Artinya "Barang siapa mengenal dirinya maka, ia akan mengenal Tuhannnya".
Beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan untuk dapat mengenal Allah adalah:
1. Menyadari bahwa diri kita adalah yang diciptakan
2. Kalau kita (manusia) diciptakan berarti ada yang menciptakan (Allah)
3. Kalau kita (manusia) diatur berarti ada yang mengatur (Allah)
4. Kalau kita diberi berarti ada yang memberi
5. Karena kita diberi maka kita harus berteima kasih.
6. Cara paling mudah dalam berterima kasih adalah selalu mengingat yang memberi.

      B.  SARAN
Melalui Makalah ini semoga dapat membantu memberikan Informasi kepada semua pembaca mengenai Ma’rifatullah / Mengenal Allah, dan supaya kita menjadi Manusia yang lebih baik dalam menjalankan roda kehidupan. Dan dalam pembuatan makalah ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan, Kritik dan saran yang membangun saya sangat harapkan dari segenap pembaca Makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Nata, Aduddin. 2007. Manajemen Pendidikan: Menagatasi Kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Nata, Aduddin. 2008. Manajemen Pendidikan: Menagatasi Kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.




[1] Adanya unsur lahut (ketuhanan) yang ada dalam diri manusia telah dibahas lebih mendalam dalam paham hulul yang dikembangkan oleh Husan Ibn Mansur al-Hallaj (858-922M).
[2] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2008), cet. 3, hlm. 276-282).
[3] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan peradaban (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), cet. II, hlm. 1-2.
[4] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), cet. 2, hlm. 290-291.


2 comments:

  1. Izin Copas yaa.. Alhamdulillah sedikit membantu, somoga bermanfaat untuk semua.

    ReplyDelete

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com