Thursday, 16 January 2014

MAKALAH AL-QUR'AN DAN ALAM SEMESTA

MAKALAH TAFSIR TARBAWI

AL-QUR'AN DAN ALAM SEMESTA

D
I
S
U
S
U
N

OLEH:

NURUL HIDAYANI
(141100649)
                  
Jurusan / Prodi         :   Tarbiyah/ PBI
Semester / Unit          :   III / 1
DosenPembimbing    :   Drs. Legiman, M.Ag

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
ZAWIYAH COT KALA LANGSA

T.A 2012 / 2013





KATA  PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat  Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "AL-QUR’AN DAN ALAM SEMESTA" tepat pada waktunya. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Terima kasih yang sebesar – besarnya penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Makalah ini. Wassalam.


Langsa, 9 November 2012




Pemakalah








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................          i
DAFTAR ISI..........................................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................         1
A.    Latar Belakang.........................................................................................................        2
B.    Rumusan Masalah....................................................................................................         2
C.    Tujuan Penulisan......................................................................................................         2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................        3
A.    Alam Semesta Dalam Perspektif Klasik dan Modern...................................................      3
B.    Alam Semesta Perspektif Islam..................................................................................        5
C.    Ayat-ayat yang Berhubungan Dengan Alam Semesta................................. .................      7    
BAB III PENUTUP...............................................................................................       15
A.    Kesimpulan..................................................................................................       15
B.    Saran............................................................................................................       16
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Alam semesta merupakan realitas yang dihadapi oleh manusia, yang sampai kini baru sebagian kecil saja yang dapat diketahui dan diungkap oleh manusia. Bagi seorang ilmuwan akan menyadari bahwa manusia diciptakan bukanlah untuk menaklukkan seluruh alam semesta, akan tetapi menjadikannya sebagai fasilitas dan sarana ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan dari potensi manusia yang sudah ada saat ajali.
Proses pendidikan yang berlangsung di dalam interaksi yang pruralistis (antara subjek dengan lingkungan alamiah, sosial dan cultural) amat ditentukan oleh aspek manusianya. Sebab kedudukan manusia sebagai subyek didalam masyarakat, bahkan didalam alam semesta, memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi diri manusia. Manusia mengemban amanat untuk membimbing masyarakat, memelihara alam lingkungan hidup bersama. bahkan manusia terutama bertanggung jawab atas martabat kemanusiaannya (human dignity).
Di dalam perspektif Islam, alam semesta merupakan sesuatu selain Allah Swt. Oleh sebab itu, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, namun meliputi seluruh yang ada dan berada di antara keduanya. Bukan hanya itu, di dalam perspektif Islam alam semesta tidak saja mencakup hal-hal yang konkrit yang dapat diamati melalui panca indera manusia, tetapi alam semesta juga merupakan segala sesuatu yang keberadaaannya tidak dapat diamati oleh panca indera manusia.
Alam semesta merupakan ciptaaan Allah Swt yang diperuntukkan kepada manusia yang kemudian diamanahkan sebagai khalifah untuk menjaga dan memeliharaan alam semesta ini, selain itu alam semesta juga merupakan mediasi bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang terproses melalui pendidikan. Dari itulah pemakalah khusus membahas tentang Esensi Alam Semesta menurut Persfektif Filsafat Pendidikan Islam yang terdiri dari pengertian, proses penciptaan Alam Semesta, tujuan dan fungsi penciptaan Alam Semesta dan implikasi Alam Semesta terhadap pendidikan islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana tafsir surat Al-Baqarah ayat 2?
2.      Bagaimana tafsir surat Al-Mulk ayat 1-4?
3.      Bagaimana tafsir surat Al-A’raf ayat 54?
4.      Bagaimana tafsir surat Ali Imran ayat 190?
5.      Bagaimana tafsir surat Ibrahim ayat 32-34?

C.    Tujuan Penulisan
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir.

D.    Metode Penulisan
1.    Pengambilan data dari sumber-sumber bacaan.
2.    Mencari bahan dari internet.



















BAB II
PEMBAHASAN

A.    SURAT AL-BAQARAH AYAT 2


y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ  
Artinya: “ Kitab[1] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[2]”,

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 2

1). “7Ï9ºsŒ[3] adalah kata tunjuk jauh (isim isyārah lil ba’id), “itu”; “hādza” adalah kata tunjuk dekat (isim isyārah lil qaryb), “ini”. Yang menggelitik, kenapa Allah di sini menggunakan “Dzālika” dan bukan “hādza”? Bukan hanya di sini, tetapi semua surat yang diawali huruf muqattha’ah yang disusul oleh isim isyārah selalu menggunakan kata tunjuk jauh (lil ba’id). Bedanya, ada bentuk laki-laki (dzālika) ada bentuk perempuan (tilka)—misal pada S.10, S.12, S.13. Jawaban yang mungkin: Pertama, begitu terucap oleh Nabi dan tertulis dalam bentuk al-Kitab maka al-Qur’an ‘turun’ dari ‘langit’ menuju ke ‘bumi’. Konsekuensinya, selain harus menggunakan bahasa ‘bumi’, bahasa manusia, yaitu Bahasa Arab, juga harus menggunaan kata tunjuk jauh (dzālika, tilka). Karena serta-merta muncul ‘jarak’ antara Yang Mewahyukan (Allah) dan wahyu yang terbukukan (al-Kitab). Kedua, Allah dari ‘atas’ sana memenuhi permohonan kita di Surat al-Fatihah ayat 6 yang meminta PETUNJUK (hudan). Saat kita sedang ‘memegang’ al-Qur’an, Allah menjawab: “Itulah al-Kitab…… petunjuk (hudan) bagi orang-orang bertaqwa”. Sehingga, dengan begitu, petunjuk (hudan atau hidayah) bukanlah sesuatu yang misterius, yang datang ujug-ujug dan acak kepada sesorang.

2). y Ü=»tGÅ6ø9$# berasal dari kata ka-ta-ba, yak-tu-bu (to write, pen, compile, write down; to compose, draw up, draft; to predestine) yang sepadan dengan har-ra-ra (to edit) dan al-la-fa (to form, set up, establish; to constitute, make up). Dari semua itu, arti kitāb bisa disimpulkan sebagai “buku” (book), “kompilasi” (compolation), “surat” (letter), “catatan” (note), dan “risalah” (message). Kelima pengertian tersebut meniscayakan adanya “penyusun” atau “pengarang”. Ketika merujuk kepada al-Kitab, penyusun atau pengarang tersebut adalah Allah. Dan sebagaimana buku karangan yang lain yang mencerminkan pikiran pengarangnya, al-Kitab pun juga berisi pikiran Pengarangnya. Dan karena seluruh realitas merupakan jelmaan dari Rahman-Nya yang memancar dari ‘pikiran’-Nya, maka dapat dipastikan bahwa seluruh realitas itu sepadan dengan al-Qur’an. Sehingga bisa dibilang bahwa al-Kitab adalah al-Qur’an yang tertulis sementara seluruh realitas adalah al-Qur’an yang tercipta. Keduanya tidak mungkin saling bertentangan apalagi saling menegasikan. Karena keduanya mempunyai hakikat yang sama: ‘pikiran’ Allah. Sehingga baik membaca al-Qur’an ataupun membaca realitas (termasuk alam semesta ini) sama dengan membaca pikiran Allah. “Al-Rahman. Dia (yang) mengajarkan al-Qur’an. Dia (juga yang) menciptakan manusia. Dia (pula) yang mengajarkan penjelasan(nya).” (55:1-4).

3). Lā rayba fyhi (tidak ada keraguan di dalamnya). Lā rayba (tidak ada keraguan) adalah nama lain dari yaqyn (yakin). Jika masih ada sedikit saja—walau hanya sebesar zarah—keraguan, maka belum berhak disebut yakin. (Bolehkah kita meragukan pernyataan itu? Boleh, tapi argumennya nanti kita bangun saat membahas ayat 23). Allah ingin mengatakan, dalam al-Qur’an ini tidak tersisa sedikit pun celah sebagai pintu masuknya keraguan. Kalau kita ada keraguan padanya, maka masalahnya bukan pada yang dibaca tapi pada yang membaca. Inilah yang menjadi alasan kalau al-Qur’an untuk bisa berperan sebagai petunjuk (hudan), sebab syarat pertama yang mutlak dipenuhi oleh sesuatu yang akan menjadi petunjuk ialah meyakinkan. Manakala syarat ini gagal dipenuhi maka seribu satu syarat berikutnya tidak bernilai sama sekali.

4). Di sini disebut hudan lilmuttaqiyn (petunjuk untuk orang bertaqwa), sementara di tempat lain (2:185) disebut hudan linnāsi [petunjuk untuk (seluruh) manusia]. Bukankah ini bertentangan? Bukan. Tidak semua yang berbeda, secara otomatis bertentangan. Terma “umum” dan terma “khusus” bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya hanya menjelaskan strata inklusivitas (cakupan keterlibatan). Hudan linnāsi menjelaskan bahwa al-Qur’an cocok dan sesuai untuk seluruh manusia. Baik dalam pengertian isinya bisa difahami oleh seluruh manusia berakal, ataupun dalam pengertian bahwa hukum-hukum dan ajaran-ajarannya sejalan dengan akal pikiran manusia. Inilah sifat “umum” dari al-Qur’an. Kendati demikian, karena kitab ini merupakan ‘pikiran’ Tuhan, maka untuk memahaminya secara menyeluruh dan sempurna, syaratnya tidak boleh ada jedah antara pembaca dan pengarang. Pembaca, karenanya, mutlak mendekati pengarangnya. Keadaan mendekat kepada pengarang inilah yang disebut takwa. Kedekatan ini berproses sesuai dengan derajat kesucian jiwa. Hingga pada tingkat la yamassuhu illal muthahharun [tidak ada yang bisa menyentuhnya (secara sempurna dan menyeluruh) kecuali orang-orang yang tersucikan] (56:79).[4]
Makna Ayat Secara Keseluruhan 
Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Al-Quran yang diturunkanNya kepada hamba dan RasulNya adalah merupakan kitab yang sangat besar dan agung yang sama sekali tidak mengandung keraguan dan dugaan bahwa ia adalah bukan wahyu Allah dan kitabNya. Hal itu disebabkan ia adalah sebagai mukjizat, disamping petunjuk dan cahaya yang dibawanya bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa hal mana dengan keduanya (iman dan taqwa) dapat mengantarkan mereka kepada jalan-jalan kedamaian, kebahagiaan dan kesempurnaan.

B.     SURAT AL-MULK AYAT 1-4
x8t»t6s? Ï%©!$# ÍnÏuÎ/ à7ù=ßJø9$# uqèdur 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« 퍃Ïs% ÇÊÈ   Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âƒÍyèø9$# âqàÿtóø9$# ÇËÈ   Ï%©!$# t,n=y{ yìö7y ;Nºuq»yJy $]%$t7ÏÛ ( $¨B 3ts? Îû È,ù=yz Ç`»uH÷q§9$# `ÏB ;Nâq»xÿs? ( ÆìÅ_ö$$sù uŽ|Çt7ø9$# ö@yd 3ts? `ÏB 9qäÜèù ÇÌÈ   §NèO ÆìÅ_ö$# uŽ|Çt7ø9$# Èû÷üs?§x. ó=Î=s)Ztƒ y7øs9Î) çŽ|Çt7ø9$# $Y¥Å%s{ uqèdur ׎Å¡ym ÇÍÈ  
1. Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,
2. yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
3. yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?
4. kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah.[5]
Tafsir Surat Mulk Ayat 1-4
Al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat yang berbunyi “tabaaraka………….syin’in qadir”, maksudnya adalah bahwa di tangan (kekuasaan) Allah-lah kerajaan dunia dan akhirat. Selanjutnya potongan ayat “al-ladzi khalaqa al ma utu wal hayata”, maksudnya adalah Allah-lah yang menentukan hidup dan mati melalui batas-batas yang tidak dilampaui dan tidak pula diketahui, melainkan Dia saja yang dapat mengetahuinya. Dari penjelasan tersebut terlihat jelas bahwa materi pendidikan yang terkandung di dalamnya adalah berkaitan erat dengan posisi alam semesta dan segala isinya untuk di pelajari supaya manusia dapat mengambil manfaatnya, dan supaya manusia mengetahui segala apa yang ada di muka bumi ini adalah ciptaan dan kekuasan-Nya, sehingga manusia itu dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaanya.[6]




A.    SURAT AL-A’RAF AYAT 54
žcÎ) ãNä3­/u ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Îû Ïp­GÅ 5Q$­ƒr& §NèO 3uqtGó$# n?tã ĸóyêø9$# ÓÅ´øóムŸ@ø©9$# u$pk¨]9$# ¼çmç7è=ôÜtƒ $ZWÏWym }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur tPqàfZ9$#ur ¤Nºt¤|¡ãB ÿ¾Ín͐öDr'Î/ 3 Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 x8u$t6s? ª!$# >u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÎÍÈ  
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy[7]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.[8]
 Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 154
v  Menurut Sayyid Quthb: Akidah tauhid Islam tidak meninggalkan satu pun lapangan bagi manusia untuk merenungkan zat Allah Yang Maha Suci dan bagaimana ia berbuat, maka, Allah itu Maha Suci, tidak ada lapangan bagi manusia untuk menggambarkan dan melukiskan zat Allah. Adapun enam hari saat Allah menciptakan langit dan bumi, juga merupakan perkara ghaib yang tidak ada seorang makhlukpun menyaksikannya. Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini yaitu putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini. Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Pelindung, Pengendali dan Pengatur. Dia adalah Tuhan kalian yang memelihara kalian dengan manhaj-Nya, mempersatukan kalian dengan peraturan-Nya, membuat syariat bagi kalian dengan izin-Nya dan memutuskan perkara kalian dengan hukum-Nya. Dialah yang berhak menciptakan dan memerintah. Inilah persoalan yang menjadi sasaran pemaparan ini yaitu persoalan uluhiah, rububiyah dan hakimiyah, serta manunggalnya Allah SWT. Pada semuanya ini ia juga merupakan persoalan ubudiyah manusia di dalam syariat hidup mereka. Maka, ini pulalah tema yang dihadapkan konteks surat ini yang tercermin dalam masalah pakaian sebagaimana yang dihadapi surat Al-An’am dalam masalah binatang ternak, tanaman,nazar-nazar dan syiar-syiar.[9]
v  Menurut Thahir Ibnu Asyur: Bahwa hubungan surat ini sangat serasi. Ia memulai dengan menyebut al-Qur’an, perintah mengikutinya serta larangan mendekati apa yang bertentanngan dengannya. Selain itu juga memperingatkan ttentang apa yang menimpa umat-umat yang dahulu, yang enggan mengakui keesaan Allah serta mendurhakai rasul-rasul mereka . Setelah itu semua kumpulan ayat ini menjelaskan tentang tauhid beserta bukti kebenarannya dan mengajak untuk tunduk dan patuh kepadanNya.[10]
v  Menurut Al-Biqa’i: Bahwa tema pokok yang berkisar pada uraian al-Qur’an tentang tauhid, Nubullah (kenabian), hari kemudian, dan pengetahuan. Ayat ini juga menegaskan bahwa sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbing, serta yang menciptakan kamu dari tiada dan akan membangkitkan kamu ialah Allah Yang Maha Esa yang telah mneciptakan semua langit dan bumi yakni alam raya dalam enam hari (enam masa). Informasi tentang penciptaan alam dalam enam hari mengisyaratkan tentang qudrat, dan ilmu, serta hikmah Allah swt . Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia berkuasa dan mengatur segala yang diciptakan-Nya, sehingga berfungsi sebagaiman ynag ia kehendaki yaitu Dia menutupkan malam dengan kegelapannya kepada siang ataupun sebaliknya dan silih berganti dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang masing-masig tunduk kepada perintah-Nya, yakni alah menetapkan hukkum yang berlaku atasnnya dan benda-benda itu tidak dapat mengelak dari hokum-hukum yang ditetapkan Allah itu.
v  Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuny: Di dalam ayat ini Alah menyebutkan beberapa dalil dan bukti tentang keEsaanNya:
  1. Penciptaan langit tujuh tingkatan, yang merupakan bukti penciptaan dan kemukjizatan
  2. Arsy ar-Rahman yang tidak dapat dicakup oleh langit dan bumi, yang tak dapat dibayangkan oleh hayalan karena besarnya.
  3. Bintang, matahari, rembulan, dan berbagai planet, yang semua ada di bawah kekuasaan Allah.
Tujuan pemaparan ayat ini adalah jangan menjadikan kita lupa untuk
berhenti beberapa saat di depan pemandangan yang indah, hidup, bergerak
dan memberikan isyarat/kesan yang mengagumkan.[11]

E.     SURAT ALI IMRAN AYAT 190
¨žcÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tƒUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ  
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,[12]

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 190
v  Menurut Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi

¨žcÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur  
Yaitu yang ini dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam hamparannya, kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya berupa tanda-tanda yang dapat disaksikan lagi amat besar, seperti lautan gunung, pepohonan, hewan, tumbuhan, barang tambang serta berbagai macam manfaat yang beraneka warna, bermacam-macam rasa, bau dan kegunaannya.
É#»n=ÏF÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$pk¨]9$#ur  
Yaitu saling bergiliran dan mengurangi panjang dan pendeknya; ada kalanya yang ini panjang dan yang lain pendek, kemudian keduanya sama. Setelah itu yang ini mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya, yang sebelum itu pendek dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semuanya itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Karena itu dalam firman selanjutnya disebutkan:
;M»tƒUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$#  
Maksudnya yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya yang demikianlah yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing secara jelas dan gamblang.[13]
v  Menurut Sayyid Quthb terjemahan Aunur Rafiq Shaleh Thamhid dari Tafsir Fi Dzilalil Qur’an bahwa makna : Ulul albab yaitu orang-orang yang memiliki kesadaran yang benar, membuka mata hati mereka untuk menerima ayat-ayat kauniyah Allah tanpa memasang berbagi penghalang dan tidak menutup berbagai pintu yang menghubungkan antara diri mereka dan ayat-ayat tersebut. Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa kontek al-Quran disini menggambarkan secara cermat  tahap-tahap getaran jiwa yang ditumbuhkan oleh tatapan terhadap pemandangan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang didalam perasan ulul albab. Menjadikan kitab alam yang terbuka ini sebagai kitab penngetahuan bagi manusia dengan Tuhan dan ciptaannya. Kontek ini juga menggabungkan antara perenungan makhluk ciptaan tuhan dan ibadah kepadaNya, sehingga perenungan ini bernilai ibadah dan menjadikanya sebagai bagian dari manifestasi dzikir . Penggabungan tersebut mengisyaratkan dua hal penting yaitu perenungan tentang ciptaan Tuhan, pencermatan terhadap tangan Allah Yang Maha Pencipta, ketika  menggerakkan alam ini dan lembarankitab ini merupakan ibadah yang sejati kepada Alah dan dzikir yang utama kepadanya. Bahwa ayat-ayat Allah di alam ini tidak akan terlihat jelas sesuai hakikatnya yang sarat inspirasi, kecuali oleh hati ynag senantiasa beribadah dan berdzikir.[14]
Asbabun Nuzul Ali Imran Ayat 190
Ibnu Abbas mengatakan , bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kaunm Qurays yang suatu ketika mendatangi Rasulullah dan berkata, “berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami, agar bukit syafa berubah menjadi emas.” (H.R. Thabrani dan Ibnu Abu Hatim)[15]

F.     SURAT IBRAHIM AYAT 32-34
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur tAtRr&ur šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr'sù ¾ÏmÎ/ z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%øÍ öNä3©9 ( t¤yur ãNä3s9 šù=àÿø9$# y̍ôftGÏ9 Îû ̍óst7ø9$# ¾Ín̍øBr'Î/ ( t¤yur ãNä3s9 t»yg÷RF{$# ÇÌËÈ   t¤yur ãNä3s9 }§ôJ¤±9$# tyJs)ø9$#ur Èû÷üt7ͬ!#yŠ ( t¤yur ãNä3s9 Ÿ@ø©9$# u$pk¨]9$#ur ÇÌÌÈ   Nä39s?#uäur `ÏiB Èe@à2 $tB çnqßJçGø9r'y 4 bÎ)ur (#rãès? |MyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 žcÎ) z`»|¡SM}$# ×Pqè=sàs9 Ö$¤ÿŸ2 ÇÌÍÈ  
32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.
33. dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.
34. dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).[16]

Tafsir Surat Ibrahim Ayat 32
Menurut Sayyid Quthb makna ayat:
 الله الذي خلق السموات والأرض وأنزل من السماء
 yaitu: Maksudnya adalah bahwasannya Allah menciptakan langit dan bumi untuk manusia. Langit diturunkan darinya air (hujan) dan bumi menerima
air hujan itu.
ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم
yaitu: Bahwa berbagai buah-buahan keluar dari keduanya (langit dan bumi). Tanaman-tanaman adalah sumber rizki yang pertama dan sumber kenikmatan yang nyata. Hujan dan penumbuhan keduanya mengikuti sunnah yang telah diciptakan padanya alam semesta ini. Juga mengikuti undang-undang yang menetapkan turunnya hujan, tumbuhnya tanaman-tanaman, dan itu berbicara tentang nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga. Halaman-halaman yang luas lagi besar menampilkan berbagai warna kenikmatan-kenikmatan itu sejauh mata memandang.
وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره
yaitu: Bahwa Allah menundukkannya dengan apa yang telah Dia titipkan pada berbagai unsur kekhususan-kekhususan yang dapat menjalankan bahtera pada permukaan air. Juga dengan apa yang telah Dia titipkan pada manusia berupa spesialisasi-spesialisasi yang berhasil ditemukan oleh hukum segala sesuatu. Semua itu ditundukkan dengan kehendak Allah.
وسخر لكم الأنهار
 yaitu: Sungai-sungai mengalir, maka mengalirlah kehidupan dengan membawa berbagai rizki. Air sungai melimpah, maka melimpahlah kebajikan, dengan membawa apa yang terkandung di dalamnya berupa ikan, rumput-rumputan, dan manfaat-manfaat lainnya. Semua itu untuk manusia dan untuk apa yang dipelihara dan didayagunakan manusia, yakni sebangsa burung dan hewan-hewan lainnya.[17]
Tafsir Surat Ibrahim Ayat 33
Menurut M. Quraisy Shihab makna ayat:
v  Kata سخر digunakan dalam arti menundukkan sesuatu agar mudah digunakan oleh pihak lain. Sesuatu yang ditundukkan Allah tidak lagi memiliki pilihan, dan dengan demikian, manusia yang mepelajari dan mengetahui sifat sesuatu itu akan merasa tenang menghadapinya karena yang ditundukkan tidak akan membangkang. Dari sini diperoleh kepastian hukum-hukum alam. Penundukkan bahtera adalah kemampuan manusia membuatnya sehingga dapat digunakan untuk berlayar dan mengangkut barang-barang menuju arah yang mereka kehendaki. Ayat ini menyatakan menundukkan bahtera bagi kamu supaya ia berlayar karena kontek ayat ini menyebut nikmat Tuhan sedang alat transportasi laut merupakan salah satu nikmat dari kelautan.
v  Kata دائبين yaitu: bentuk dual dari kata da’b. kata ini mengandung makna berkelanjutnya suatu aktifitas tertentu secara teratur dan terus menerus. Perurutan penyebutan anugerah Tuhan diatas sungguh serasi.[18]

Tafsir Surat Ibrahim Ayat 34
Menurut Sayyid Qutuhb makna ayat:
v  وءاتكم من كل ما سألتموه وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها
 yaitu: Inilah i’jaz yang di dalamnya serasi dan harmonis semua sentuhan, tulisan, warna dan bayangan dalam pagelaran alam semesta dan pertunjukkan kenikmatan-kenikmatan. Bahwasannya Allah telah memberikan segala nikmatnya kepada kita, yakni harta, keturunan, kesehatan, perhiasan dan kesenangan. Nikmat Allah itu lebih besar dan lebih banyak dari penghitungan  yang dilakukan oleh sekelompok manusia (seluruh manusia). Mereka semua terbatasi di antara dua batas waktu : permulaan dan penghabisan. Juga di antara batas-batas pengetahuan, mengikuti batas-batas waktu dan tempat. Nikmat-nikmat Allah itu mutlak sehingga pengetahuan dan pengamatan manusia tidak bisa melingkupinya.
v  إن الإنسان لظلوم كفار
yaitu: Setelah itu semua, mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu.  Bahkan semua itu pula, kamu tidak menyukuri nikmat Allah, tetapi justru menukarnya dengan kekafiran dan melakukan kedzaliman dalam takdir maupun dalam ibadah.[19]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

1.      Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesarannya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan perintah-Nya ,mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini. Yaitu, putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini. Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semula tunduk kepada perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pencipta dan Tuhan sekalian alam.
2.      Al-Qur’an telah menghubungkan semua pagelaran alam semesta dan seluruh getaran jiwa kepada akidah tauhid. Ia mengubah setiap kilatan sinar dalam lembaran alam semesta atau dalam batin manusia kepada sebuah dalil atau isyarat. Demikianlah alam semesta beserta segala isinya beralih rupa menjadi tempat pementasan ayat-ayat Allah yang dihiasi dengan keindahan oleh “tangan” kekuasaan dan bekas-bekasnya tampak nyata dalam setiap pagelaran dan pemandangan serta gambaran dan bayang-bayang didalamnya. Sehingga manusia diharuskan percaya dengan adanya alam semesta ini sebagai bukti dari kebesaran Tuhan.
3.      Alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia melainkan produk dari hasil pemikiranTuhan. Berdasarkan bukti yang kongkrit dan valid yang berupa ayat-ayat al-Qur’an seperti surat al-Baqoroh: 29, al-A’raf: 54, Ibrahim: 32-34, Fushilat: 9-11, al-Anbiya’: 31, ali-Imran:190-194 dan al-Mulk: 1-4 serta ayat-ayat yang lain dalam al-Qur’an. Perdebatan yang terjadi dikalangan Teolog Muslim menyangkut ungkapan-ungkapan al-Qur’an itu, tidak lain kecuali salah satu dampak buruk dari sekian dampak buruk filsafat Yahudi dan Nashrani yang bercampur dengan akal Islam yang murni. Tidaklah wajar bagi kita dewasa ini terjerumus dalam kesalahan tersebut sehingga memperburuk keindahan akidah Islam dan keindahan al-Qur’an.
4.      Allah menciptakan alam semsta ini dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah telah menjadikannya  baik, memerintahkan hamba-hambanya untuk memperbaikinya. Dalam ayat ini Tuhan menerangkan dalil-dalil yang terdapat dalam cakrawala yang menunjuk kepada kita agar mensyukuri Allah dan tetap mentaati-Nya.

B.     Saran
Kita sebagai umat Islam harus lebih mengembangkan pengetahuan kita akan alam ciptaan ALLAH 
yang sangat luas ini. Dan kita harus dapat pula membaca tanda-tanda kebesarannya melalui ciptaan
Nya. Sehingga kita dapat benar-benar menjadi hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya.




[1] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[2] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
[3] Departemen Agama RI, Al Hidayah Al-Quran Tafsir Perkata Tajwid Kode Angka, (Tangerang: Kalim, 2010), hlm. 3.
[5] Departemen Agama RI,  Op Cit, hlm.563.
[6]Al Maraghi, Ahmad Musthofa, penerjemah Bahrun Abubakar, Terjemah Tafsir Al Maraghi, (Semarang: PT. Karya Toha Putera, 1986), Cet. I.
[7] Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
[8] Departemen Agama RI,  Op Cit, hlm.152.

[9] Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, di Bawah Naungan al-Qur’an ( Surah al-An’am-Surah al-A’raf 137), (Jakarta: Gema Insani, 2002), 323-324.
[10] M. Quraish Shihab. TafsirAl- Misbah Pesan, Kesan  dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 111-117.
[11]Muhammad Ali Ash-Shabuny, Terjemahan Kathur Suhardi. Cahaya al-Qur’an Tafsir Tematik Surat al-a’raf-surat Yunus, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000), 37.
[12] Departemen Agama RI,  Op Cit, hlm.76.


[13] Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Terjemahan Bahrun Abu bakar L.C. Tafsir Ibnu Kasir Juz 4 (ali-Imron-an-Nisa’ 23), (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), 357-359.

[14] Sayyid Quthb, Terjemahan Aunur Rafiq Shaleh Thamhid L.C. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an; Dilengkapi Dengan Tarikh Hadits dan Indeks Tematik Jilid 2 Juz 3 dan 4, (Jakarta: Robbani Press, 2001), 575-576
[15] Departemen Agama RI,  Loc. Cit.

[16] Departemen Agama RI,  Op Cit, hlm.260-261.

[17] Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan al-Qur’an (Surat Yusuf 102-Surat Thahaa 56), Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani, 2003), 105-106
[18] M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an Volume 7 (Surah Ibrahim-Surah al-Isra’), (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 61-65
[19] Op. cit, 105

1 comment:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com